Sample 001

Sample 001
Mimpi


__ADS_3

Sebuah bayangan tembus pandang yang sedang melayang dengan pandangan sedikit buram itu tengah terpaku di lorong kaca yang cukup familiar baginya.


Hosh hosh hosh, terdengar suara napas yang bersumber dari seorang gadis kecil dengan napas terengah - engah yang berlari melewati tubuhnya.


"Kakak."


Panggilan gadis berseragam putih yang berusia 7 tahun itu membuat langkah seorang anak laki - laki yang berumur 10 tahun menghentikan langkahnya.


"Apakah kakak akan pergi latihan?" Gadis itu bertanya seraya menundukkan kepalanya karena dia takut akan ke 3 pria bertubuh besar berwajah menyeramkan dimana ke 3 pria itu mengapit anak lelaki yang tengah dia sapa.


"Iya," anak lelaki itu menjawab dengan singkat.


"Kenapa kakak tidak mengajakku? Apakah kakak tak ingin mengajakku latihan bersama?" Tanya gadis kecil itu lagi.


"Bukan seperti itu, kakak akan ke laboratorium terlebih dahulu karena ibu sudah menunggu kakak disana. Sebaiknya kau kembali ke lapangan dan berlatih, nanti kakak akan menyusul," sahutnya.


"Baiklah," ucapnya seraya berbalik lalu berlalu meninggalkan anak lelaki itu.


Bayangan itu ditarik paksa sampai dirinya sudah berada didalam satu ruangan yang dipenuhi dengan kaca.


Tit tit tit! suara alat editor tanda vital sangat nyaring terdengar yang mana disisinya terdapat seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang sebelumnya tengah terbaring sembari memejamkan mata dengan semua alat yang menempel ditubuhnya.


"Tuan, operasi berjalan lancar dan chipnya sudah tertanam di otaknya. Akan tetapi, sudah 24 jam 001 belum juga membuka mata. Apa yang harus kita lakukan, tuan?"


Bayangan itu menajamkan telinganya dan berjalan kearah keluar ruangan lalu dia melihat seorang pria berkaca mata bulat dengan pakaian dokter tengah menghadap serta melapor pada pria bertubuh gempal sembari menatap lurus kearah kaca.


Hal itu diikuti oleh sang bayangan sampai dia bisa melihat sosok anak kecil berusia 10 tahun itu terbaring disana dengan mata yang menutup rapat seolah dirinya enggan bangun.


"Beri waktu dia 12 jam lagi. Jika belum juga bangun maka buang saja!" titahnya.


Tubuh bayangan itu bergetar kemudian dirinya ditarik paksa lagi menuju sebuah lorong dimana disana sudah terdapat dua dokter yang tengah berbincang.


"Dok, tuan sudah mengizinkan kita untuk mengeksekusi anak itu. uji coba telah gagal," ujar salah satu dokter disana.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan melepas semua peralatan."


Bayangan itu tengah melihat dokter yang memakai kaca mata bulat itu masuk kedalam ruangan dan melepaskan semua alat bantu pada anak laki - laki tersebut.


"Jangan lakukan hal itu, itu perbuatan kejam dan menyalahi kode etik kedokteran!" Teriak sang bayangan tanpa sadar jika dirinya tak bisa didengar.


"Sudah 36 jam, namun kau masih tetap setia menutup mata. Sangat disayangkan jika kau harus kami singkirkan, 001. Ck, sayang sekali! Padahal kau adalah sampel yang sempurna untuk diuji coba." Bisik pria berkaca mata itu namun dengan jelas didengar oleh bayangan itu.


001, Gumamnya dalam hati.


Kemudian datang 4 pria berpakaian rapi dengan kantung mayat ditangan salah satu dari mereka.


"Hei siapa kalian? Apa yang kalian lakukan? Mau kalian bawa kemana anak ini?" Bayangan itu bertanya lagi, akan tetapi hal itu hanya ke sia - siaan saja. Sebab suaranya tak akan didengar.


Anak laki - laki itu dipindahkan kedalam kantung mayat, kemudian ia dibawa kesebuah lahan yang luas dengan tumpukan sampah menggunung disana dan semua itu dilihat oleh si bayangan.


"Hei! Apa yang kalian lakukan disini? Apakah kalian akan membuang anak itu disini? Dia masih hidup, kenapa kalian tega melakukan itu padanya?"


Pertanyaan sang bayangan lagi dan lagi tak digubris. Ke 4 pria itu malah melempar kantung tersebut tanpa perasaan.


***


"Ethan, bangun! Dad, Mom sudah menunggu dimeja makan."


Seorang gadis cantik yang berumur 25 tahun tengah membangunkan kakaknya dengan satu kakinya sembari memasang raut wajah jijik. Namun dahi gadis itu mengernyit ketika dia melihat kakaknya bukannya bangun malah tampak gelisah dengan keringat membasahi wajahnya seraya berteriak menyerukan kata 'Tidak.'


"Bangun, Ethan! Buka matamu, Hoi!" Sergah gadis itu tepat ditelinga Ethan sehingga si Ethan tersentak dan membuka matanya dengan lebar diiringi napas terengah - engah.


"Mimpi buruk lagi?" Gadis itu melontarkan kalimatnya dengan menatap wajah Ethan penuh selidik, dia bahkan sudah duduk dibibir ranjang milik Ethan.


"Sejak kapan kamu disini, Brie?" Ethan bertanya dengan mendudukkan tubuhnya. Dia menatap lekat gadis bermanik abu - abu itu.


"Cukup lama sampai aku bisa melihat tidurmu yang gusar," sahutnya. "Keluarlah, mom dad sudah menunggumu dimeja makan." Sambungnya berlalu meninggalkan Ethan yang masih termenung.

__ADS_1


Pria bermanik biru yang tengah duduk diatas ranjang itu bernama Ethan Goldaff, dia adalah seorang dokter genius yang bekerja di rumah sakit milik sang Ayah, Jhon Goldaff.


Sementara Brielle Goldaff atau disapa Brie adalah adik dari pria yang bernama Ethan, usia mereka hanya berjarak tiga tahun namun Brie tak pernah sekalipun memanggil Ethan dengan sebutan kakak karena bagi Brie sapaan itu sangat memalukan.


***


"Morning mom dad," sapa penuh keceriaan yang dilontarkan oleh Ethan membuat mereka yang tengah duduk di meja makan sontak menolehkan kepala mereka.


"Ini kau bilang pagi, ck." Brie bersuara dengan sedikit mengejek.


"Brie, bicara yang sopan pada kakakmu." Tegur Anna selaku ibu. Namun Brie hanya membuang muka.


Sedangkan Ethan, dia tak menghiraukan ejekan dari sang adik, dia bahkan sudah menarik kursi miliknya seraya melayangkan cengiran tampannya dan mulai duduk dikursi kesayangannya yang sudah dia duduki selama 18 tahun, tepatnya semenjak Ethan masuk menjadi keluarga Goldaff.


"Mom dengar dari Brie kau bermimpi buruk lagi, Ethan?" Tanya Anna.


"Heum, mom jangan cemas. Aku bisa mengatasinya sendiri." Ethan menyahut dengan cepat sebab dirinya tak ingin sang ibu khawatir dan mengganggu kesehatan yang sudah menurun semenjak 3 tahun terakhir.


"Sayang, jika kau ingin bercerita perihal mimpimu, mom siap mendengarkan. Kau tidak lupa jika mom adalah dokter psikiater bukan," Timpal Anna.


"Iya mom. Terima kasih. Tapi kali ini Ethan mau menghadapinya sendiri, mom tak perlu khawatir." Ethan menjawab dengan melemparkan senyuman manis pada Anna. Dia berharap ucapannya bisa meyakinkan Anna.


18 tahun sudah Ethan dihampiri oleh mimpi aneh, bahkan dirinya sudah terbiasa meskipun dia sedikit penasaran dan disertai rasa takut akan mimpinya sendiri. Namun Ethan yakin dia cukup kuat jika hanya untuk mengatasi sebuah mimpi.


Ethan mengedarkan pandangannya, dia menatap satu persatu wajah keluarganya dengan senyuman manis diwajahnya. Ethan tahu jika saat ini keluarganya tengah khawatir akan mentalnya meskipun hanya sang ibu saja yang selalu menunjukkan kekhawatiran itu secara jelas tanpa dibalut dengan wajah datar seperti ayah dan adiknya.


"Mom sudah dengar bukan. Jadi stop khawatir dengan Ethan. Dia adalah seorang dokter dan dia bisa menjaga dirinya sendiri. Okey! Sebaiknya mom khawatirkan saja kondisi mom."


Kalimat ketus yang dilontarkan Brie membuat sang ibu menggelengkan kepalanya apalagi dia melihat sang suami hanya memasang wajah datar saja.


"Huh! Baiklah," jawab Anna.


Akan tetapi Brie mencuri pandangan pada Ethan setelah dia berucap pada sang ibu. Brie sejatinya begitu khawatir akan kondisi kesehatan mental kakaknya itu.

__ADS_1


Namun, kenyataan waktu membuat Brie tak bisa berlarut - larut dalam perasaan kekhawatiran sebab dia harus bergegas kembali ketempat kerja karena dia masih menyandang status staff di Cyber Crime FBI, San Diego. California.


—tbc—


__ADS_2