
Dokter Ethan dengan langkah lelah melintasi lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangannya setelah menyelesaikan tugasnya di IGD. Dia merasa lega setelah menangani pasien dengan cepat dan efisien.
Namun, hari yang panjang itu seakan lenyap ketika dia secara tak terduga bertemu dengan seorang wanita muda bersurai hitam, wanita cantik yang selalu dikaguminya selama tiga tahun terakhir dan dia adalah Jade West si dokter anak.
"Halo, dokter Jade! Apa kabar?" Sapa Ethan dengan rama dengan detak jantung bertalu - talu.
Dokter Jade yang sedang sibuk membuat catatan di layar komputer hanya tersenyum saat dia mendengar suara Ethan.
"Halo, dokter Ethan! Kabarku baik. Bagaimana denganmu?" sambut Jade dengan berbalik bertanya.
"Hari ini cukup padat di IGD. aku dan tim medis disana cukup kewalahan karena kami mendapatkan pasien kecelakan beruntun di jalan raya San Diego bahkan aku mendapatkan beberapa kasus yang cukup serius dan harus masuk ke ruang operasi. Bagaimana denganmu, apakah ada yang menarik di unit anak-anak?" tanya Ethan yang sekuat tenaga menahan debaran didadanya. Apalagi pada saat Jade tersenyum dan menampakan kedua lesung pipinya. Kesan manis itu menambah debaran didada Ethan.
"Ya, tadi ada seorang balita dengan demam tinggi. Aku khawatir dia mungkin terkena infeksi, jadi aku akan melakukan serangkaian tes untuknya. Semoga hasilnya baik-baik saja." Harap Jade.
"Semoga saja. Kamu selalu sangat peduli terhadap pasien anak-anak. Itu luar biasa."
"Terima kasih, Ethan. Itu adalah bagian dari pekerjaan kami. Tapi kamu juga melakukan pekerjaan yang luar biasa di IGD. Maafkan aku tak bisa menyusul atau membantu kalian di IGD sebab pasien di poliklinik sangat padat hari ini," Ucap Jade tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Jade. Aku tahu bahwa poliklinik juga memiliki tugas yang mendesak. Kami di IGD punya tanggung jawab sendiri." Sahut Ethan.
"Terima kasih atas pengertianmu. Aku harap pekerjaanmu di IGD berjalan lancar." Ujar Jade dengan tulus.
"Sama-sama, Jade. Semoga juga kamu bisa menangani pasien dengan baik di poli. aku selalu siap membantu jika diperlukan."
"Baiklah, aku tak akan sungkan menghubungimu nanti. Aah! maaf aku, aku kembali ke poli. Sampai ketemu di kantin Ethan," Ucap Jade seraya berlari dan melambaikan tangan pada Ethan.
Hal itu tentu membuat Ethan merasa senang dan dia tanpa sadar tersenyum lebar seraya memegang dada kirinya.
Jantungku seakan ingin lepas setiap melihat dia tersenyum. Dia sangat cantik. Kagum Ethan dalam hati.
"Apa yang membuatmu tersenyum lebar seperti itu?" Tiba - tiba dari arah belakang ethan mendengar suara Emile sontak saja itu membuat Ethan terkejut dan bahkan sedikit melompat.
"Emi. Kau membuatku terkejut!"
"Ah maafkan aku. Aku hanya heran, apa yang menyebabkan kau bisa tersenyum lebar seperti itu?" Tanya Emile penasaran.
__ADS_1
"Kau tak perlu tahu!" hardik Ethan.
"hemmm!" Emile memasang wajah cemberutnya.
"Apakah kau lagi bersantai?" Tanya Ethan.
"Oh iya, ada hal yang ingin aku bahas denganmu?" ujarnya.
"apa?" Kata ethan singkat.
"Aku ingin membicarakan lagi perihal rencana kolaborasi antara rumah sakit kita dengan laboratorium farmasi yang Dokter Robert tadi sebutkan sebutkan sebelumnya." Sahut Emile.
"Lalu?" Ethan menaikan satu alis tebalnya.
"Aku ingin tahu apakah pendapatmu, apakah kau setuju untuk menjadi perwakilan dari rumah sakit dalam proyek ini." Tanyanya.
"Emm entahlah. Aku masih memikirkan itu. Aku tahu project ini akan menguntungkan diriku dimasa depan. Tapi entah kenapa hatiku mengatakan jika aku harus menolaknya,"
Sahutan Ethan membuat otak jenius Emile berpikir keras. Ayo berpikir otak, aku harus berhasil membawa Ethan ke Moskow agar penelitian itu bisa berjalan lancar. Emile bergumam didalam hatinya.
"Jika itu memungkinkan dan kau bisa mengusahakannya maka akan aku pertimbangkan," timpal Ethan tak dengan memasang wajah tengilnya.
"Kau harus memegang janjimu, berjanjilah! Jika aku bisa mengajak Jade maka kamu harus ikut dalam project ini." Emile mengulurkan jari kelingkingnya pada Ethan dan dengan malasnya Ethan mengait jari itu dengan jari kelingkingnya.
Jika hanya Jade, sangat mudah untukku mendapatkan persetujuan.Yes! Sorak Jade dalam hatinya. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
Tiba - tiba Ponselnya berdering, dan panggilan itu berasal dari nomor poli miliknya.
"Iya,"
"Dok, diruangan anda sudah ada 1 pasien menunggu. Saya sudah mengatakan jika anda sedang di IGD namun beliau kekeh untuk menemui anda dan sudah masuk kedalam ruangan anda." Lapor suster Elle.
"Baiklah, aku akan segera kesana!" Ethan menutup ponselnya. "maafkan aku Emi, aku harus kembali ke poli-ku." lanjut ucapnya yang sudah teralih pada Emile.
"Segeralah kesana. Siapa tahu urgent," timpalnya. "Aku tunggu kau di kantin," lanjut kata Emile dengan mengerlingkan satu matanya.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Ethan meninggalkan emile. Dengan langkah cepat dia kembali kelantai dua dimana ruangan poliklinik berada.
"Apakah kau mengenal siapa tamuku?" tanya Ethan kala dirinya bertemu dengan suster Elle .
"Tidak dok. Tapi beliau mengatakan jika beliau adalah teman dokter Robert," Jawabnya.
"Siapa namanya?" Tanya Ethan.
"Black, usia 28 tahun." Jawab Elle.
Black, 28 tahun. Ethan merapalkan nama itu dalam hatinya. Ethan mulai merasa penasaran, siapa orang yang ingin menemuinya.
Aku tak memiliki janji bertemu dengan pasien siang ini, kecuali jam buka praktek nanti sore. Siapa yang ingin bertemu dengan ku. Ethan mulai berpikir dan menebak siapa tamunya itu.
kemudian dia mengotak atik benda pipih miliknya dan menekan serial nomor disana lalu tertera nama dokter Robert dilayar.
"Halo dok. Apakah anda menyuruh seseorang pasien untuk datang menemuiku?" tanyanya pada orang diujung telepon.
[tidak]
Sahutan dari Robert membuat dahi Ethan mengerut. "Tapi ada seseorang yang ingin bertemu denganku dengan mengatasnamakan dirimu. Jika dia pasien VVIP maka bukan disini kami harus bertemu. Lalu siapa dia?" tanyanya.
[kau temui saja, maka kau akan tahu siapa orang nya]
Ethan menutup teleponnya dan mengajak suster Elle untuk ikut dengannya kedalam ruangan. Entah kenapa jantung Ethan terasa berdegup dengan cepat. Seketika perasaan tak enak menggelenyar dihatinya.
Ketika Ethan membuka pintu ruangannya. dia sangat terkejut melihat wajah Black yang separuh sudah rusak akibat luka bakar.
"Selamat siang tuan," sapa Ethan dengan ramah seraya mengulurkan tangannya.
"Selamat siang," Jawab Black membalas uluran tangan Ethan akan tetapi ada hal menganjal, Ethan tak bisa melihat hologram dari Black bahkan pria itu tak merasakan aliran listrik dari tangannya.
Siapa dia sebenarnya–
—tbc—
__ADS_1