Sample 001

Sample 001
Flashback (2)


__ADS_3

Anna dan John terburu-buru tiba di IGD rumah sakit yang mana rumah sakit itu adalah tempat Jhon bekerja. Jhon mengambil alih anak itu dan membawanya masuk kedalam. Sementara Anna, dia menggendong Brie dan mengekor dibelakang Jhon.


Pada saat masuk ruangan IGD, Jhon dibuat terkesima dengan perubahan luka ditubuh anak didalam dekapannya itu. Semua lukanya ber–regenerasi bergerak menutup luka yang menganga sehingga pendarahan terhenti.


Wajah anak itu nampak pucat dan terlihat sangat lemas akan tetapi suhu tubuhnya perlahan menghangat dan hal itu bisa dirasakan dengan jelas oleh Jhon dan tak lama kemudian datang seorang perawat menyambut mereka didalam ruangan tersebut.


"Dokter Jhon, siapa anak ini?" Tanyanya.


"Bawa dia keruangan perawatan terlebih dahulu. Aku akan mengecek kondisinya," sahut Jhon seraya menyerahkan anak itu pada perawat kemudian dia menolehkan kepalanya pada Anna sebagai kode jika Anna harus menunggunya diluar ruang perawatan.


"Pastikan anak itu selamat." Kalimat itulah yang dibaca oleh Jhon dari gerak bibir Anna.


Jhon menganggukkan kepalanya dengan mantap kemudian dia berlalu meninggalkan Anna dan Brielle.


Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam bagi Anna, John selaku dokter akhirnya keluar dari bilik perawatan.


"Bagaimana anak itu?" Tanya Anna dengan wajah cemas.


"Ajaib. Anak itu ajaib Anna," sahutan Jhon membuat dahi Anna mengerut. Sungguh dia tak ingin mendengar jawaban itu dari mulut Jhon.


"Apa maksudmu, Jhon? Aku sungguh tak paham. Bagaimana kondisi anak itu?" Tanya Anna lagi.


Jhon yang melihat wajah Anna seketika dia memeluk istrinya itu yang mana gadis kecilnya pun sudah tertidur pulas di dalam pelukan Anna.


"Dia tidak apa - apa Anna. Kau bisa tenang saat ini. Anak itu adalah anak ajaib. Semua luka ditubuhnya sembuh dengan sendirinya walaupun ada beberapa luka tidak tertutup rapat dan aku masih mengambil tindakan untuk menjahitnya, tapi setidaknya pendarahan di tubuh anak itu berhenti total dan dia tak mengalami cidera yang serius. Ini sangat ajaib"


Anna merasa lega mendengar penjelasan dari Jhon. Namun dia masih penasaran akan jati diri anak itu dan ternyata bukan hanya Anna yang penasaran, Jhon pun demikian.


Jhon selaku dokter anak merasa takjub akan regenerasi luka pada anak itu. Dia berpikir jika anak itu adalah sejenis manusia mutan.


"Kita harus menunda keberangkatan kita, Anna." Ucapnya, "aku ingin melihat anak itu sampai sembuh dan ingin bertanya padanya siapa dia sebenarnya." Sambungnya.


Anna melihat wajah suaminya yang penuh akan rasa penasaran. Anna hanya mengangguk setuju perihal itu. Bukan dirimu saja Jhon yang penasaran, akupun demikian. Aku ingin tahu dari mana asal usul anak itu dan kenapa dia bisa berada di jalan itu. Ucap Anna dalam hatinya.


***

__ADS_1


Tiga hari telah berlalu sejak anak itu dirawat di rumah sakit, namun keadaannya masih membuat Anna dan John semakin cemas. Meskipun tidak ada luka serius di tubuhnya, mata kecil anak itu tetap tidak kunjung terbuka. Mereka merasa terjebak dalam rasa khawatir dan ketidakpastian yang mendalam.


Jhon selaku dokternya telah melakukan berbagai tes dan pemeriksaan, namun tak ada satupun yang dapat menjelaskan mengapa anak itu belum juga membuka matanya.


Semua hasil tes medis menunjukkan bahwa tubuh anak itu tidak memiliki luka serius bahkan beberapa luka sudah pulih, tetapi mata anak itu tetap terpejam, seperti tidur yang sangat dalam.


Anna dan John duduk di sekitar tempat tidur anak itu dengan perasaan beban yang semakin berat setiap harinya. Mereka menggenggam tangan satu sama lain dan berharap bahwa anak kecil mereka akan segera bangun dan pulih sebab Jhon tak bisa menunda lebih lama lagi kepindahannya ke ibukota California.


"Hai anak tampan, apakah sebegitu indahnya dunia mimpi sampai kau enggan membuka matamu." Ucap Anna.


Selama tiga hari terakhir Anna bolak balik ke rumah sakit hanya untuk memastikan kondisi anak itu, dia bahkan membacakan buku serta mengajaknya mengobrol guna menstimulasi agar si anak cepat membuka matanya.


Anna menyadari jika anak laki - laki dihadapannya itu sangat tampan dengan surai cokelat serta hidungnya yang begitu mancung di tambah dengan bibirnya yang imut.


"Kami ingin berkenalan denganmu anak tampan. Bahkan Brie sangat ingin bertemu denganmu. Kami tak bisa selamanya disini sebab ayah Brie harus pindah ke negara lain. Ayolah buka matamu dan kita berbincang." lanjut Anna berucap.


"Sayang sebaiknya kau kembali. Sebentar lagi Brie akan pulang dari sekolahnya," ujar Jhon mengingatkan.


"Kabari aku jika anak ini sudah bangun," ucap Anna seraya menganggukkan kepalanya. Namun ketika dia hendak berdiri tiba - tiba terdengar suara serak dan bahkan ada jari kecil yang sudah menggenggam tangan Anna.


Kalimat itulah yang membuat mata Anna dan Jhon terbelalak sempurna.


"Kau sudah bangun. Syukurlah," ucapnya lega dan dia kembali duduk. Tangan Anna menggenggam erat tangan anak itu bahkan matanya berkaca - kaca.


"Bu, aku haus." Ucap anak itu tanpa melepaskan genggamannya pada jemari Anna.


Jhon yang mendengar permintaan anak laki - laki itu, dengan sigap memberikan air putih untuknya. Mengubah posisi ranjang agar anak itu nyaman saat dia hendak minum.


Gluk, gluk, gluk! Air dalam gelas yang di isi oleh Jhon diminum hingga tandas.


"Aku dimana saat ini bu?" Tanya anak itu dengan maniknya telah mengedari ruangan tersebut.


"Kau dirumah sakit. Apakah kau ingat kejadian sebelumnya?" Tanya Jhon dengan perasaan gugup. akan tetapi kegugupan itu sirna ketika Jhon melihat anak itu menggelengkan kepalanya.


"Siapa namamu?" Tanya Anna dengan tatapan penuh selidik. Dia merasakan hal mengganjal dari anak itu.

__ADS_1


"Nama—"


Anak laki - laki itu termenung. Dia merapalkan berulang kata nama namun tak kunjung menyebutkan siapa namanya.


"Jhon—" Anna menatap manik milik Jhon dan tanpa pria itu menjawab diapun tahu makna akan panggilan itu.


Jhon dengan sigap memanggil para perawat kemudian mereka membawa anak itu untuk diperiksa lebih lanjut lalu sampailah pada kesimpulan jika anak itu mengalami Amnestic syndrome atau sering dikenal dengan sebutan Amnesia (lupa ingatan).


Anna tak begitu kaget akan hal itu sebab anak laki - laki itu pasti mengalami sebuah trauma dan cidera yang sangat parah karena saat tabrakan itu terjadi.


Jhon dan Anna berdiskusi perihal anak tersebut dan langkah apa yang mereka ambil kemudian sampailah pada sebuah keputusan dimana mereka akan mengadopsi anak itu dan memberi dia nama Ethan Goldaff lalu membawanya ikut ke kota San Diego, California.


Flashback Off


Ethan membenarkan posisi duduknya disisi Anna dengan mata penuh kekhawatiran. Hatinya berdebar kala matanya tertuju pada tampilan sistem informasi kesehatan Anna yang mengungkapkan bahwa penyakit Anna telah mencapai tahap di mana kehidupannya hanya tersisa 60%.


"Mom—"


"Jangan khawatir, kondisi mom baik - baik saja." Anna berucap seraya menarik lembut tangannya agar tak digenggam lagi oleh Ethan.


"Dad, Mom harus segera dioperasi. Aku tak mau tahu mom harus di operasi," Ethan berucap tak sabaran dan menggebu - gebu dengan ayahnya Jhon. Namun sang ayah hanya diam saja dan bahkan memasang wajah datarnya. "Dad—" Panggil Ethan dengan nada sedikit meninggi.


"Kau tahu bagaimana keras kepala mom mu itu, dad tak bisa berbuat banyak." Pungkas Jhon seraya berdiri dan berlalu meninggalkan ruang makan dan memilih duduk ditepi kolam.


"Ethan, mom tidak apa - apa. Mom baik - baik saja. Kau tak perlu khawatir berlebihan seperti itu," ucap Anna dengan suara lembutnya.


"Mom! jangan bohongi aku. Aku adalah dokter yang sangat tahu akan kondisi mom saat ini. Tingkat kehidupan mom sudah 60%, itu sangat turun drastis dari hasil yang aku cek tiga bulan lalu. Mom, please. Untuk kali ini dengarkan aku. Mom harus dioperasi." Kekeh Ethan dengan pendapatnya, dia bahkan tak menghiraukan penolakan dari Anna.


"Sayang, mom baik - baik saja." Timpal Anna tak kalah keras kepala dari Ethan.


"Mom, mana ada orang terkena kanker baik - baik saja. Walaupun kanker perut itu menjalar lambat, namun kanker tetaplah kanker. Itu adalah penyakit yang mematikan mom. Please mom, jangan keras kepala."


Anna hanya menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan akan keputusan Ethan. Dia tetap kekeh dengan pendiriannya. Namun pria bersurai cokelat itu tak kehabisan akal, dia tahu kunci kelemahan sang ibu dan itu menjadi kunci utama untuk Ethan agar sang ibu bisa luluh.


—tbc—

__ADS_1


__ADS_2