Sample 001

Sample 001
Keanehan


__ADS_3

Dalam perjalanan mereka menuju poliklinik rumah sakit, Emile menyadari wajah datar Ethan. "Kenapa dengan wajahmu, Ethan? Jangan bilang kau patah hati karena Jade sudah memiliki tunangan."


"Jangan bicara sembarang, aku tak ingin orang lain mendengarnya dan menjadi salah paham," Kilahnya.


"Lalu, kenapa dengan wajahmu buruk. Kalau bukan karena patah hati lalu apa namanya?" Tekan Emile.


"Aku tidak patah hati. Lagi pula ada hal lain yang kini tengah aku pikirkan." Ethan menjawab dengan tegas.


"kau sedang memikirkan apa?" Emile yang penasaran bertanya lebih lanjut.


"Entah kenapa aku merasa pernah melihat wajah tunangan Jade. Namun aku lupa aku melihatnya dimana." Terlihat Ethan menghela nafas dalam penjelasannya.


Pikiran Ethan kembali ke saat dia berada di kantin, mengingat bagaimana dia tidak bisa membaca diagnosa tunangan Jade sama seperti yang terjadi dengan Black.


"Tunggu sebentar," kata Ethan tiba-tiba, menghentikan langkah Emile.


Dia meraih tangan Emile dan mulai merapalkan nama lengkap Emile kemudian muncullah diagnosa hologram dari Emile yang sangat jelas dihadapan Ethan.


Kenapa hologram ini tak muncul ketika aku menjabat tangan atau bersentuhan kulit pada Chris dan juga Black? Ethan terdiam sejenak, matanya menatap tajam hologram tersebut. Dia mulai merenung. Pikirannya melayang dalam pertanyaan yang membingungkan. Apakah nama mereka memang benar itu? tanyanya dalam hati, sambil mencoba merangkai potongan-potongan teka-teki yang semakin rumit.


Ketidakpastian semakin membelit pikiran Ethan, dia terus merenung seraya menggandeng tangan Emile tanpa sadar saat mereka berjalan menuju poliklinik rumah sakit. Tapi tiba - tiba, panggilan lembut dari Emile memecah keheningan itu.


"Ethan," seru Emile sembari menarik tangannya, seketika menggoyangkan Ethan dari lamunannya.


Ethan tersentak dan segera menjawab, "Em."


"Kau kenapa? Kau nyaris membuat jantungku berhenti ketika kau meraih tanganku begitu tiba-tiba." Emile tersenyum sembari meledek ketika arah pandangan Ethan sudah pada dirinya.


"Aa, maafkan aku, Emile." Ujar Ethan


Jantung Emile masih berdebar dengan kencang bahkan dia merasakan pipinya bersemu merah karena insiden yang tak terduga itu.


Tetapi di tengah semua ketidakpastian yang ada, momen tersebut memberikan sedikit sentuhan kehangatan di antara keduanya. Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju poliklinik rumah sakit dengan perbincangan ringan.

__ADS_1


Saat Ethan tiba di ruangannya, keheningan ruangan hanya dipecah oleh gemericik peralatan medis yang dia letakan diatas meja. Namun, tiba-tiba, ponsel Ethan berbunyi dengan nada notifikasi yang begitu nyaring.


Ada satu pesan masuk, Ethan meletakkan ponselnya tanpa tertarik untuk melihat apa isi pesan tersebut sampai rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan ketidak–tarikannya itu.


Ethan membuka pesan tersebut lalu seketika dahinya mengerut dalam saat membaca pesannya.


[Jangan percaya pada siapapun, kecuali dirimu sendiri.]


Ethan memandangi nomor yang asing di layar ponselnya dengan pandangan curiga. "Dasar tidak jelas!" gerutunya seraya merasa frustrasi.


Tanpa ragu, Ethan segera menghapus pesan tersebut, dia mencoba mengabaikan isinya yang membuatnya semakin bingung.


***


Waktu berlalu dengan cepat dan Ethan baru saja menyelesaikan jam prakteknya saat jam 10 malam. Tubuhnya terasa lelah dan dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah orang tuanya dan memilih untuk kembali ke asrama di rumah sakit yang letaknya tak jauh dari tempatnya berkerja.


Malam itu, Ethan memutuskan untuk berjalan pulang ke asrama rumah sakit setelah menyelesaikan jam prakteknya. Angin malam yang sejuk membelai wajahnya dan dia menikmati momen kedamaian di bawah langit berbintang. Matanya terarah pada gemerlap bintang-bintang yang bersinar begitu terang.


Namun, ketika Ethan hendak mampir ke minimarket terdekat, keheningan malam tiba-tiba terganggu oleh kehadiran seorang pria yang bertubuh kekar yang terlihat sangat mabuk berat.


Ethan tercengang oleh perkataan pria asing itu. Dia hanya bisa memandang pria itu pergi dengan kebingungan yang melanda pikirannya. Sementara pria itu berlalu dimana Ethan masih terpaku pada punggungnya yang semakin menjauh.


"Mengapa semuanya menjadi begitu aneh hari ini?" gumam Ethan dengan nada frustasi, dia menggelengkan kepalanya dalam upaya mengusir pikiran yang mendadak menjadi kacau.


Ethan memasuki minimarket dengan daftar belanjaan yang sudah disusun dalam benaknya. Dia mulai memilih barang - barang yang diperlukan lalu dia mulai berjalan menuju kasir ketika semua kebutuhan yang dia inginkan telah masuk dalam keranjang belanjaannya.


Di saat, Ethan hendak membayar di kasir, tiba-tiba, seorang pria paruh baya mendekatinya.


"Nak, bisakah sayang membayar terlebih dahulu?" Pria tersebut meminta dengan nada lemah.


Ethan menatap pria tua yang memegang satu - satunya barang belanjaan dengan ekspresi ramah dan tanpa ragu, Ethan melangkah mundur untuk mengalah.


"Silakan, tuan." Ujarnya tersenyum ramah.

__ADS_1


Pria paruh baya itu mulai membayar barang belanjaannya dengan hati - hati, lalu dengan tulus dia mengucapkan terima kasih pada Ethan yang telah bermurah hati membantunya.


Ethan hanya membalas ucapan itu dengan senyuman ramah kembali, dia merasa senang jika dia bisa memberikan bantuan kecil tersebut.


Setelah selesai membayar barang belanjaannya, Ethan melanjutkan perjalanannya menuju asrama rumah sakit. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat pria paruh baya sebelumnya tengah berdiri di pinggir jalan dengan langkah yang ragu-ragu, pria itu mencoba untuk menyeberang jalan.


Jiwa penolong Ethan tergerak dan tanpa pikir panjang, dia mendekati pria tua tersebut. "Tuan, apakah Anda ingin menyebrang?" tanya Ethan dengan sopan.


Pria paruh baya itu hanya menganggukkan kepala dengan tatapan mata kosong sehingga Ethan dengan sigap menuntun pria tersebut menyeberang jalan dengan aman.


Namun, ketika mereka kulit mereka bersentuhan, tiba - tiba saja hologram diagnosa kesehatan milik pria paruh baya itu muncul dengan jelas dihadapan Ethan. Hal itu membuat Ethan terkejut dan langkahnya terhenti sejenak.


Ethan terkejut melihat bahwa hologram diagnosa kesehatan yang muncul itu mengungkapkan jika pria paruh baya disisinya itu tengah menderita penyakit Demensia Alzheimer, suatu jenis demensia yang disebabkan oleh mutasi gen yang diwariskan atau pembentukan plak atau gumpalan protein di dalam otak.


Pria paruh baya itu memperhatikan ekspresi terkejut Ethan apa lagi mereka berhenti di tengah jalan.


"Ada apa, nak?" Tanya pria tuan itu, ucapannya menarik Ethan dari lamunannya.


"Tidak ada apa-apa, tuan." Ethan mencoba menjawab dengan ringan sambil berusaha meredakan ketidaknyamanannya. Mereka melanjutkan langkah mereka.


Begitu mereka tiba di sisi lain jalan, Ethan kembali bersuara. Kali ini dia bersuara dengan kehati-hatian. "Tuan, apakah Anda ingat di mana rumah Anda?"Tanyanya.


Pria paruh baya itu memandangi wajah Ethan dia dapat melihat wajah penuh ketulus disana.


"Tentu saja saya ingat, terima kasih karena sudah berbaik hati mengantarkan saya ke seberang," jawabnya dengan senyum yang hangat.


Ethan merasa terenyuh melihat pria tua itu. Ada kelegaan di hati Ethan.


Meskipun kakek ini harus berjuang dengan penyakit yang memengaruhi ingatannya.Tapi dia tetap terlihat mandiri diusia senjanya.


Ethan hanya bisa tersenyum ramah sebagai balasannya, dia menyadari bahwa sejatinya tidak ada yang aneh dalam tindakannya. Jiwa penolongnya sudah tumbuh sedari dulu bahkan di tengah ketidakpastian yang semakin membingungkan dalam hidupnya.


Malam yang semula penuh misterius ditutup dengan kelegaan, dimana Ethan selalu merasa bahagia setelah menaburkan sebuah kebaikan.

__ADS_1


—tbc—


__ADS_2