
"Mom dad, Aku berangkat terlebih dahulu." Brie berdiri dan mencium pipi kedua orang tuanya sehingga membuat semua orang disana hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Brie.
"Kau selalu saja terburu - buru. Ingat hati - hati dalam berkendara!" Pesan Anna dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Yes mom. Bye semua," Brie berucap seraya berjalan mundur dengan melambaikan tangannya.
Selepas kepergian Brie, Ethan duduk mendekati tubuh sang ibu karena diapun sudah menyelesaikan makan paginya kemudian tangannya meraih tangan Anna.
"Apakah kau akan memeriksa kondisi ibumu ini, Ethan?" Anna bertanya seraya menepis tangan Ethan sebab dia tak ingin diperiksa perihal kesehatan oleh putranya. Akan tetapi, bukan Ethan namanya jika dia tidak bisa memaksa sang ibu agar dirinya bisa mengecek kesehatan sang ibu.
"Aku hanya memastikan, apa semua yang ibu lakukan selama ini berjalan dengan baik sebab ibu tak ingin operasi. Apakah ibu ingin melihat ayah bersedih lagi?" Tatapan Ethan tertuju pada wajah Jhon yang datar, namun matanya terlihat sendu. Jelas sekali jika Jhon bersedih melihat kondisi istrinya.
Tangan Ethan menggenggam tangan Anna, sentuhan kulit keduanya terasa seperti sengatan kecil dari aliran listrik yang disertai dengan perubahan warna bola matanya. Seketika dihadapan Ethan muncul visual layar hologram terpampang dihadapannya.
Ethan adalah seorang dokter yang memiliki hubungan pada akses sistem berbentuk hologram terkini yang bisa memprediksi kondisi pasien dengan akurasi tinggi. Semua infomasi kesehatan serta gambaran kerangka manusia dengan struktur organ tergambar dan tertulis dengan nyata dan jelas.
Ethan bisa melihat denyut jantung Anna berdetak berapa kali per detiknya, tidak hanya itu dia bisa melihat gambaran akan penyakit yang diderita oleh Anna.
Kanker lambung atau sering disebut dengan Stomach Cancer (kanker perut) itulah penyakit yang diderita Anna dan diketahui oleh Ethan tiga tahun yang lalu.
Penyakit Anna diketahui oleh Ethan tanpa di sengaja, saat itu Anna merasa sesak napas dan diiringi rasa mual ketika mereka sedang makan malam bersama di tahun 2020, tepatnya dihari perayaan hari jadi pernikahan Anna dan Jhon yang ke 22 tahun.
Anna mengira jika dirinya hanya menderita penyakit Gastroesophageal reflux disease atau sering disebut GERD karena gejala yang hadapinya sama persis. Namun siapa yang menduga ketika Ethan menggenggam tangan Anna, sebuah sistem informasi kesehatan diagnosa muncul terpampang nyata didepan wajah Ethan.
Apakah sistem informasi kesehatan itu bisa dilihat oleh orang lain? Jawabannya tidak. Hanya Ethan sendiri yang bisa melihat itu. Bahkan dia bisa melihat itu sedari usia 10 tahun tepatnya ketika dia terbangun dirumah sakit dan pertama kali bertemu dengan Jhon beserta kedua anggota keluarganya yakni Anna dan Brielle.
Flashback On
Moskow, Rusia tahun 2005.
Mobil mercedez bens berwarna abu - abu tengah melaju lambat karena tengah melewati jalanan berkerikil dan berlubang.
"Honey, apakah jalan yang kita tempuh ini sudah benar?" Anna bertanya pada Jhon. Dia tak percaya akan melewati jalan berbatu hanya untuk menuju ke villa milik teman Jhon.
"Benar. percayalah padaku." Sahut pria itu dengan wajah datar.
__ADS_1
"Kenapa aku meragu? Apakah kau yakin jalan ini sudah benar?" Anna bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya serta suaminya.
"Huem aku yakin. Kau tenang saja. Kita tidak sedang tersesat saat ini," jhon menjawab dengan mantap namun tak membuat Anne merasa lega. Dia tetap meragukan jalan yang sedang mereka tempuh dan meyakini jika mereka tengah tersesat.
Arah pandangan Anna mengedar kearah sekeliling jalan. Akan tetapi dia hanya bisa melihat pepohonan menjulang tinggi dengan bantuan cahaya dari mobil.
"Mom, apakah kita besok akan pindah rumah?" Brie kecil yang berusia 7 tahun bertanya pada Anna sehingga suara kecil gadis itu membuyarkan keraguan dihati Anna.
"Iya, apakah Brie keberatan jika kita pindah rumah?" Anna bertanya dengan hati - hati seraya menolehkan kepalanya kearah jok belakang yang mana Brie sedang duduk di car seat miliknya.
"Tidak bisakah kita tetap disini, Mom?" tanyanya dengan raut wajah sendu dan tertunduk.
"Daddy akan pindah tugas ke kota California dan kita harus ikut kemana Daddy akan pergi. Bukankah Brie tak ingin jauh dari Daddy?" Anna bertanya seraya tersenyum lembut pada putrinya.
"Iya, Brie tak ingin jauh dari daddy namun Brie juga tak ingin jauh dari teman Brie disini." Jawabnya dengan wajah masih tertunduk.
"Sayang, bagaimana jika besok kita mengadakan pesta perpisahan dengan teman - teman Brie, sekaligus kalian bisa membuat kenang - kenangan terakhir bersama?" Bujuk Anna.
"Apakah perlu begitu?" Tanya Brie.
"Aku mau mom dad, aku mau pesta perpisahan." Ucapnya dengan mata berbinar.
"Baik—ah...!" Teriakan menyentak telinga ketika Anna merasakan mobil di rem secara mendadak oleh Jhon.
Brakk!
"Honey, apa yang terjadi?" Sergah Anna.
"Maafkan aku," jawab Jhon dengan menatap wajah anak dan istrinya. Keringat seketika luruh di dahinya. "Aku menabrak seseorang honey," sambungnya.
Anna hanya terdiam, dia terkesiap mendengar ucapan Jhon seketika kepalanya menatap wajah putrinya yang sudah memasang wajah ketakutan.
"It's okey, sayang. Jangan takut," ucap Jhon dengan suara lembut, dia menyadari jika sang buah hati tengah ketakutan.
"Sayang tunggu disini, mommy dan daddy akan keluar." Ujar Anna.
__ADS_1
"Mom, Brie takut."
"Sebentar saja ya sayang, tunggu disini. Mom dad akan kembali dengan cepat."
Brie kecil hanya mengangguk patuh dan tak lama kemudian dia mendengar suara kabin tertutup serta melihat kedua orang tuanya telah keluar dari mobil, Brie hanya bisa menatap punggung kedua orang tuanya dari balik pintu mobil.
"Astaga Jhon," ucap Anna dengan mata terbelalak. Sedangkan Jhon dia sudah melebarkan langkahnya menuju sosok anak kecil yang bersimbah darah dihadapan mereka.
"Dia masih hidup Ann," Jhon berkata seraya mengecek nadi anak tersebut. Sementara Anna yang mendengar ucapan Jhon, dia berlari kecil menuju suaminya dan anak kecil yang tergeletak tak berdaya.
"Ann..." Jhon berucap dengan mata bergetar karena keterkejutannya.
Tak jauh berbeda dengan Jhon, Anna pun demikian bahkan dia sudah menutup mulutnya sendiri dengan ujung jari - jarinya bahkan mata Anna tak berkedip sedikitpun ketika dia melihat suatu keajaiban yang tengah terjadi didepan matanya.
"Kau lihat itu Ann?" Tanya Jhon seraya menatap wajah istrinya.
"Huem, aku melihatnya sangat jelas. Bagaimana bisa lukanya tertutup sendiri," sahut Anna dengan mata keduanya saling bertaut.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Anna.
Jhon nampak berpikir, kemudian pandangannya menatap tubuh mungil tak berdaya dengan tubuh bersimbah darah. "Bawa dia," titahnya.
Seolah paham pemikiran sang suami, Anna tanpa basa basi menggendong anak kecil itu dan Jhon dengan sigap membantu Anna dengan membuka pintu kabin mobilnya agar mempermudah sang istri duduk di kursinya.
"kita kerumah sakit sekarang juga!" Titah Anna ketika sang suami sudah masuk kedalam mobil.
Jhon langsung memutar setirnya untuk memutar haluan perjalanan mereka. Kini tujuan mereka berubah dan tidak jadi ke villa teman Jhon, melainkan menuju ke rumah sakit di ibukota Moskow dimana Jhon berkerja.
"Mom, siapa dia? Kenapa mom menggendongnya?" Tanya Brie penasaran sekaligus terselip nada tak suka.
"kita kerumah sakit dulu ya sayang. Nanti mom jelaskan padamu." Anna menimpali ucapan putrinya dengan cepat agar jiwa keingintahuan putri kecilnya itu tidak kumat.
"Baik mom," Brie mengatup kedua bibirnya, dia menahan diri untuk tak bertanya kembali walaupun ada jiwa yang tengah meronta dan ingin dipuaskan hasrat keingintahuan itu.
—tbc—
__ADS_1