Sample 001

Sample 001
Kantin Rumah Sakit


__ADS_3

Di kantin rumah sakit yang sibuk, suasana tenang seketika terganggu ketika Ethan memasuki antrian untuk mendapatkan makan siangnya. Sorotan mata dari berbagai kalangan segera mengikuti setiap langkahnya.


Ethan adalah dokter yang tak hanya dikenal karena keahliannya, tetapi juga karena pesonanya yang menawan.


Dokter tampan itu telah menjelma menjadi idola di kalangan para pasien yang telah dirawatnya, mereka tak akan sungkan memberikan senyuman hangat saat melihatnya. Mereka tahu bahwa Ethan selalu memberikan perhatian ekstra dan kepedulian yang tulus pada setiap pasien.


Tidak hanya pasien saja, Para perawat yang bekerja di rumah sakit itu juga tak bisa menahan senyuman saat Ethan melewati mereka. Mereka tahu bahwa Ethan adalah rekan yang selalu siap membantu dan memberikan dukungan.


Begitupun dengan rekan - rekan sejawatnya, baik dokter maupun tenaga medis lainnya, selalu merasa beruntung memiliki Ethan di tim mereka. Kepintarannya dalam mendiagnosis dan merawat pasien tak terbantahkan. Namun, yang membuat Ethan begitu istimewa adalah kemampuannya untuk menjalin hubungan baik dengan semua orang di sekitarnya.


"Hari ini apa yang akan Anda pesan, Dokter Ethan?" Tegur seorang perawat saat Ethan akhirnya sampai di kasir untuk memesan makanan.


"Saya akan memesan hidangan favorit saya," sahutnya, kemudian makanan yang dia pesan pun datang. Terima kasih." lanjut ucapnya.


"Permisi," pamit Ethan dengan tersenyum hangat.


Kehadiran Ethan didalam kantin itu selalu meninggalkan kesan positif pada semua orang. Bahkan perawat yang menyapanya itu tak melepaskan untaian senyuman saat Ethan sudah menjauh darinya.


Di tengah hiruk-pikuk kantin rumah sakit, mata Ethan mengedar mencari tempat duduk dengan piring makanannya yang sudah diisi penuh.


Siang itu, sepertinya nasib baik tengah tersenyum kepadanya. Di meja pojok, Ethan melihat Jade tengah duduk sendiri seraya menyuap makanannya. Hati Ethan berdebar keras, dia memutuskan untuk mendekati Jade.


"Hai, Jade. Boleh aku bergabung denganmu?" Ethan bertanya dengan hati-hati.


Jade, yang tengah menikmati makan siangnya sendiri, melihat ke atas dan tersenyum ramah. "Tentu saja, Silakan duduk."


Ethan merasa kebahagiaan meliputi hatinya saat dia duduk di samping Jade. Mereka mulai berbincang-bincang tentang pekerjaan sembari menikmati hidangan dihadapan mereka. Percakapan mereka berjalan begitu lancar, dan Ethan merasa sangat senang bisa berbagi waktu dengan Jade.


Di tengah - tengah perbincangan yang hangat antara Ethan dan Jade. Tak terduga, sosok Emile muncul. Dia membawa piring berisi makanan dan tanpa basa-basi, duduk di antara Ethan dan Jade.


Tiba - tiba, Ethan merasa atmosfer di sekitar meja itu berubah. Terdapat keheningan yang mencolok, seperti sebuah awan gelap yang tiba - tiba menutupi matahari. Emile, yang sebelumnya selalu diam-diam mencintai Ethan, kini membuat hadirnya terasa begitu kentara. Emile cemburu melihat Ethan dan Jade menjadi akrab dan Ethan menyadari kecemburuan Emile.


"Tumben sekali kau makan di kantin?" tanya Ethan untuk memecah atmosfir gelap itu.

__ADS_1


"Sedang ingin saja. Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru. aku tidak mengganggu kalian bukan?" Ujarnya.


"Tentu tidak," sahut Jade cepat yang menyadari jika antara Emile dan Ethan ada hubungan khusus. Sementara Emile, dia berusaha tersenyum ramah pada Jade.


"Oh iya kalian tengah membahas apa?" tanya Emile lagi.


"Kami hanya membahas masalah pekerjaan saja, tidak ada yang penting. Bukankah begitu dokter Ethan?" Sahut Jade dengan canggung. Bahkan dirinya memanggil Ethan dengan sebutan dokter.


"Hm, kami hanya membahas masalah pekerjaan saja."


"Oh begitu," sahut Emile cuek seraya menyuap makanan kedalam mulutnya.


Di tengah ketegangan yang melanda meja mereka, tiba - tiba Ethan teringat sesuatu yang membuatnya penasaran.


Sebelumnya, Ethan melihat jika Emile sedang berbincang dengan pasiennya bernama Black dan ada sesuatu yang tampaknya menarik perhatian Emile pada saat itu.


Ethan memutuskan untuk meredakan ketegangan dengan mencoba mengalihkan perhatian ke topik yang lebih netral.


"Emi, tadi aku melihatmu sedang berbicara dengan seorang pasienku, dia bernama Black dan orang itu memiliki luka bakar diwajah. aku lihat sepertinya kalian sangat dekat?"


Aku tak mengira Ethan menyadari kedekatanku antara Black. Sialan!— "Ah itu, aku tak sengaja bertemu dengannya. Aku lihat dia tengah termenung. Sebagai seorang dokter, jiwa keingintahuanku akan kondisi pasien meronta. Lalu aku mencoba mendekati dia dan bertanya perihal masalahnya dan kau tahu apa yang dikatakannya?" tanya Emile pada Ethan, namun dokter tampan itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Dia sangat kesal padamu. Dia bilang kau tak bisa mendiagnosa penyakit yang dia derita dan aku cukup terkejut mendengar hal itu," Sambung Emile menjelaskan.


Ethan yang mendengar penjelasan Emile hanya bisa tersenyum. Akan tetapi tidak dengan Jade, dokter bersurai hitam itu hanya terperangah, sebab dia tahu jika Ethan tak pernah salah dalam mendiagnosa pasiennya.


"Aku menyuruhnya untuk cek lab agar aku bisa lebih mengetahui penyakitnya sebab aku tak bisa menarik kesimpulan perihal penyakit yang diderita olehnya."


Terkejut—


Wajah Emile menampakkan keterkejutan yang sangat ketara. Bahkan wanita cantik itu mengerutkan dahinya sangat dalam. Akan tetapi secepat kilat Emile menetralkan ekspresinya kembali.


"Kenapa kau bisa berkata demikian? Apakah kemampuanmu dalam mendiagnosa telah hilang?" Tanya Emile yang di anggukkan oleh Jade. Dokter cantik yang sangat disukai anak - anak itu juga sama penasarannya seperti Emile.

__ADS_1


"Aku tak menemukan penyakitnya. Tapi pasien kekeh jika dia sakit. Aku harus apa jika pasienku meyakini dirinya menderita penyakit dan jalan satu - satunya, yah cek lab." Timpal Ethan.


"Tindakanmu sudah benar, akupun akan melakukan hal yang sama jika aku mendapat pasien seperti itu," Ujar Jade setuju dengan Ethan.


Saat mereka bertiga sedang berbincang masalah pasien bernama Black, tiba - tiba suasana kembali berubah drastis saat kedatangan seorang pria dengan pakaian jas yang rapi tiba - tiba muncul membawa buket mawar besar yang indah.


Pria tampan itu tiba - tiba bersikap penuh penghormatan dan bersujud di hadapan Jade dengan senyum bahagia di wajahnya.


Ethan yang sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang hubungan Jade hanya bisa memandang pria itu dengan satu alis terangkat.


Siapa pria ini? Sebuah pertanyaan besar muncul dalam benaknya saat dia mencoba mencerna kejadian yang mengejutkan tersebut.


Jade tampak terkejut sekaligus bahagia melihat kedatangan pria itu. Dia tak lepas memasang wajah senyumnya.


"Ini untukmu," katanya sambil memberikan buket mawar besar tersebut.


"Astaga Chris, kapan kau kembali?" Tanya Jade dengan wajah berseri. "Terima kasih, Chris," ucapnya dengan tangan terulur menerima buket tersebut.


"Aku baru sampai dan merindukan dirimu, Honey." Chris menggapai tangan Jade dan mengecup punggung tangannya.


"Siapa dia Dokter Jade?" tanya Emile dengan. raut penasaran.


"Ah, maafkan aku. Perkenalkan, dia Chris Rustoff. Dia adalah calon suamiku,"


"Uhukk!" Ethan tersedak salivanya sendiri dan dengan sigap Emile memberikan air minumnya pada Ethan.


"Tunangan?" Ucap Ethan dengan wajah tak percaya.


"Hai semua, saya Chris. Saya tunangan Jade." Chris berkata penuh percaya diri seraya mengangkat tangan Jade dan dirinya untuk menunjukkan cincin yang tersemat di jari manis masing - masing.


Ethan membulatkan kedua bola matanya namun tidak dengan Emile. "Wah selamat atas pertunangan kalian." Serunya.


f*ck! Upat Ethan dalam hati.

__ADS_1


—tbc—


__ADS_2