Sample 001

Sample 001
Penyusup


__ADS_3

Sesampainya di asrama, Ethan meletakkan barang - barang belanjaannya di atas meja kecil di dekat ranjang bertingkat. Ruangan yang Ethan huni itu sangatlah sunyi dan terasa pengap.


Ethan berjalan tiga langkah dari ranjang untuk menggeser pintu menuju teras, membiarkan udara segar masuk untuk mengurangi bau pengapnya.


Ethan berdiri di atas pembatas teras, merenung dan bayangan berbagai orang yang telah ia temui sebelumnya terus menghantuinya.


Chris, Black, pria mabuk dan bahkan pesan misterius yang telah dia terima semuanya tercampur dalam pikirannya.


"Ada apa dengan hari ini?" gumamnya sambil melipat tangannya di dadanya. "Kenapa semuanya terasa begitu aneh?" lanjutnya dengan mengusap dagu.


Ethan mengigit bibir bawahnya dengan dahi mengerut, sampai tiba - tiba ponselnya berdering di dalam saku celananya. Dia segera mengambilnya dan melihat nama


"My Mom" terpampang di layar ponselnya. Itu adalah panggilan dari ibunya, dan sontak saja Ethan baru menyadari bahwa dia lupa memberi kabar pada kedua orang tuanya jika dia tidak pulang kerumah malam itu.


Keluarga Ethan adalah keluarga yang memegang teguh tradisi dan nilai-nilai keluarga. Ayahnya yang memiliki darah Asia sangat konservatif dan memiliki pandangan bahwa anak-anak harus tinggal bersama orang tua mereka sampai waktu yang tepat.


"Hallo, Mom," Ethan menjawab panggilan itu dengan nada lembut.


Sementara suara di ujung telepon, Ethan mendengar suara seorang pria, sontak saja hal itu membuat Ethan sedikit terkejut. Dia menatap layar ponselnya dan melihat nama ibunya yang tertera di sana.


"Dad, apakah itu kau?" tanyanya dengan nada heran.


Yes. Ini aku," jawab sang ayah. "Apakah kau tidak pulang malam ini?"


"Iya, Dad. Aku akan tidur di asrama rumah sakit malam ini. Aku merasa sangat lelah dan malas membawa mobil untuk pulang." Ethan menjawab dan menjelaskan situasinya.

__ADS_1


"Ah, begitu." Sang ayah merespons, kemudian di bergumam pelan. "Kalian berdua sangat kompak. Jadi hanya ada Mom dan Daddy saja malam ini di rumah."


"Apakah Brie juga tidak pulang, Dad?" Ethan bertanya dengan raut penasaran.


"Hm, dia mengatakan bahwa sistem mereka hampir diretas dan dia sedang mengejar peretas itu, sehingga tidak sempat pulang kerumah." Sang ayah memberikan informasi dengan nada khawatir, "lebih baik kau beristirahat. Daddy tutup teleponnya." sambungnya.


"Selamat malam, Dad." Ucap Ethan sebelum menutup teleponnya.


Setelah berbicara dengan ayahnya, Ethan merasa ingin menghubungi adiknya, Brie, untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Dia mencari nomor telepon adiknya dan segera menekan panggilan.


Setelah beberapa kali nada dering, akhirnya seseorang menjawab telepon. Suara Brie terdengar di ujung sana, "Halo, siapa ini?" tanyanya.


"Halo, Brie, ini aku, Ethan." Tanpa sadar, Ethan tersenyum mendengar suara adiknya.


"Aku tadi bicara dengan Dad dan dia bilang kau sedang sibuk mengejar peretas?" tanya Ethan.


Brie mengernyitkan dahinya, "Ya, ada beberapa masalah keamanan juga yang tengah aku tangani. Jadi aku harus membantu menyelesaikannya dan ini bukan serta merta karena mengejar peretas." Jawab Brie seraya menjelaskan situasinya.


"Oh begitu, Aku merasa sedikit cemas setelah mendengar cerita Dad." Ethan masih asyik berbicara dengan Brie, dia sama sekali tidak menyadari jika kamar asramanya telah dimasuki diam - diam oleh seorang penyusup dengan pisau kecil ditangannya.


"Baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya." Ucap Ethan ingin mengakhir obrolan mereka.


Brie hanya bisa tersenyum mendengar ucapan kakaknya. "Selamat malam, kak!" serunya mematikan telepon dengan mengetuk 2 kali earphone ditelinganya.


Ethan terperanjat mendengar adiknya memanggilnya dengan sebutan 'Kakak', hati Ethan sangat senang dan dia memutuskan untuk kembali masuk kedalam ruangan.

__ADS_1


Saat satu langkah kakinya masuk kedalam ruang itu, Ethan merasa ruangan asrama yang semula tenang tiba-tiba dipenuhi oleh ketegangan yang mencekam. Hatinya merasa gelisah, namun dia tak paham makna kegelisahan itu.


Ethan menatap sekitarnya dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Perasaan aneh kian merayapi dirinya. Dia mulai memeriksa ruangan dengan hati-hati, mencoba mencari tahu apa yang mungkin telah terjadi selama ia sibuk berbicara di telepon.


Mata Ethan tiba-tiba terperangkap pada sebuah kejanggalan. Ada bayangan yang tersembunyi di sudut gelap ruangan asramanya dan sosok tersebut jelas membawa sebuah senjata tajam yang berkilat.


Ethan menelan Saliva nya secara kasar. Namun belum sempat mengambil tindak apapun, dia sudah di serangan secara tiba - tiba.


Atas dasar naluri agar bisa bertahan hidup, Ethan melompat ke samping dan berhasil menghindari serangan pertama penyusup tersebut. Serangan bertubi selanjutnya tak terelakkan.


Ethan dan juga penyusup itu bergulat dalam kegelapan dengan senjata tajam yang berbahaya di tangan penyusup.


Meskipun dalam keadaan terdesak, Ethan mampu menggunakan keterampilan fisiknya untuk melawan penyusup tersebut.


Pertarungan itu berlangsung cepat dan intens, hingga akhirnya Ethan berhasil melumpuhkan penyusup dengan kekuatannya yang secara tak sadar kekuatan itu muncul seolah tubuhnya sudah terbiasa.


Dalam situasi penuh ketegangan, Ethan duduk dengan napas terengah-engah. Dia dengan sigap mengikat penyusup dan mengambil senjata tajam itu untuk dia singkirkan.


Ethan mengangkat kedua tangannya, lagi - lagi sistem Hologram diagnosanya tidak muncul ketika dia menyentuh kulit penyusup itu, hal tersebut membuat Ethan keheranan sebab sebelumnya saat dia menolong pria tua menyeberang jalan, hologram itu muncul meskipun Ethan tak tahu siapa nama pria tua itu.


"Ada apa ini?" Tanyanya dengan lirih. Namun Ethan tak lupa untuk segera melaporkan kejadian yang menimpanya itu kepada pihak berwenang yakni kepolisian. Dan sebelum kepolisian itu datang, Ethan menekan penyusup itu dengan berbagai pertanyaan.


"Siapa kau sebenarnya?"


—tbc—

__ADS_1


__ADS_2