Sample 001

Sample 001
Entahlah, aku pun tak tahu.


__ADS_3

Keesokan pagi, Ethan perlahan membuka tirai matanya, dia melihat sebuah tangan tengah melingkar di perutnya, dia menatap sang pemilik tangan yakni Emile.


Ethan sedikit terperanjat melihat Emile tidur disisinya. Bahkan posisi mereka terlihat sangatlah intim. Ethan berusaha menyingkirkan tangan Emile. Sampai sang Empu pun ikut membuka matanya.


"Hai, pagi. Bagaimana dengan tidurmu?" Tanya emile dengan senyum lembut diwajahnya. Gadis itu bahkan menggeliat dan kembali memeluk Ethan.


"Pagi Emi, tidurku sangat nyenyak." Ethan menjawab dengan menyingkirkan tangan Emile yang melingkar di perutnya.


"Syukurlah. Padahal aku sudah bersusah payah memasak untukmu tapi kau malah tertidur," Seru Emile.


"Aa, maafkan aku. Mungkin aku kelelahan sampai aku tak sadar jika aku sudah tertidur." Ethan berucap dengan mengerutkan dahinya. Dia mencoba mengingat kejadian sebelum dia tertidur. Hal terakhir yang Ethan ingat, saat dia minum air mineral yang diberikan Emile, sampai rasa kantuknya mendera dan dia tak ingat apapun lagi.


"Tak masalah, aku akan membuatkan sesuatu untuk kita sarapan," ucap Emile bergegas ke mini kitchen nya.


Ethan mengekor dibelakang Emile dan ikut membantu Emile berkutat didapur. "aku tak tahu jika kau akan tidur disini. Jika aku tahu aku akan kembali ke dalam kamarku," Ujar Ethan.


"Apakah kau risih, aku tidur disisimu?" Emile bertanya tanpa menatap Ethan dengan tangannya sibuk memotong bawang sebab Emile tengah membuat omelette untuk sarapan mereka berdua.


"Tidak, aku takut jika kau yang risih ada aku di kamarmu." Sanggah Ethan


"hahaha, aku tidak akan risih Ethan. Aku malah senang kau ada didalam kamarku, jadi kita berdua bisa menghabiskan waktu berdua," goda Emile dengan mengedipkan satu matanya.


"Sepertinya aku salah berbicara, sebaiknya aku diam saja dari tadi," Ethan berucap dengan menggelengkan kepalanya.


"Kau jangan lupa jika aku menyukaimu Ethan. Untung saja semalam kau tidak aku telanjangi,"


Ethan yang mendengar timpalan dari Emile mendadak bergidik bahkan pria polos nan tampan itu menutup kedua dadanya dengan tangan menyilang. Sontak saja, Emile tertawa terbahak - bahak melihat tingkah Ethan.


"Kau sangat polos anak tampan, itu sebabnya aku menyukaimu." kata Emile dengan tangannya yang sibuk mengocok telur. "Duduklah, sebentar lagi sarapan kita jadi," lanjut titah Emile yang di anggukkan oleh Ethan.


Pria bersurai cokelat alami itu menatap belakang punggung Emile. kedua sudut bibirnya naik keatas. Dari dulu gadis ini tidak berubah. Dari awal bertemu dia selalu mengatakan hal yang sama padaku 'aku menyukaimu' itulah kata yang diucapkannya pertama kali bertemu denganku. ucapnya dalam hati.


Akhirnya, omelette buatan Emile jadi lalu mereka berdua sarapan bersama dengan beberapa guyonan yang dilontarkan oleh Emile untuk Ethan sampai tawa renyah pria itu memenuhi ruang kamar mereka.

__ADS_1


pagi itu Ethan bangun seolah dirinya tak mengalami kejadian buruk dimalam sebelumnya. Ethan melupakan kejadian semalam itu begitu cepat dan tak ada trauma apapun yang ditunjukkan oleh Ethan.


***


"Apakah kau tidur disini Brie?" Tanya seorang pria keheranan melihat Brielle masih tertidur diatas meja kerjanya.


"Hoam!" Brielle menguap sangat lebar dan meregangkan tubuhnya. Dia menatap seisi ruangan yang sudah terisi penuh oleh teman sejawatnya. "Tubuhku sakit semua," keluh Brielle dan dia kembali duduk di kursi miliknya.


"Kau terlalu bersemangat, Brie." Ujar pria yang duduk di sebelahnya, pria itu adalah Sam.


"Hm, aku tahu. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan sakit sebelum menemukan orang iseng yang menyusup kedalam sistem kita."


Sam melihat kobaran semangat didalam diri Brielle, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman sejawatnya itu. "Jangan terlalu bersemangat, lebih baik kau mandi terlebih dahulu. Apakah kau tak sadar jika wajahmu— iuhhh buruk!" Sam menampilkan wajah jijik untuk Brielle.


"Apakah wajahku seburuk itu?" Tanyanya tak percaya.


Sam, mengambil cermin di dalam lacinya lalu dia menyodorkan cermin yang cukup lebar itu pada Brielle, dan hal itu membuat Brielle terkejut melihat wajahnya yang berantakan bahkan ada sedikit bekas air liur mengering dipipinya.


"Kau terkejut?" tanya Sam dengan nada mengejek. "Lebih baik kau mandi. Sebelum pria yang kau sukai melihat wujudmu seperti ini," ujar Sam.


"Selamat pagi, Elle." Sapa Nuel. Iya pria yang disukai oleh Brielle memanggilnya dengan nama kecil yang sangat gadis itu sukai.


Pria itu, Emanuel Filliberto yang berasal dari negara Rusia. Nuel merupakan staff sementara di San Diego. Dia terpaksa datang ke San Diego karena pertukaran tim untuk memecahkan kasus Cyber.


Brielle sudah menyukai Nuel saat pertama mereka bertemu, pria yang memiliki perawakan kekar itu menarik perhatiannya Brielle, lagi - lagi parasnya yang sangat tampan dengan bola mata berwarna hijau danau ditambah dengan jambang tipis menghiasi garis rahang yang tegas.


"Selamat pagi, Nuel." Sahut Brielle dengan menutup kepalanya secara sempurna dengan handuk kecilnya.


"Kau tidur lagi di kantor?" tanyanya.


"Eum, sebab banyak berkas yang harus aku selesaikan." Jawabnya dengan suara yang terdengar aneh. Bagaimana tidak aneh? Brielle membekap mulutnya dengan handuk jadi suaranya terdengar sengau.


"Oh begitu," kata Nuel.

__ADS_1


Brielle bisa melihat senyuman manis dari Nuel. Hal itu membuatnya terpana dan secara tak sadar membuka tutup kepala dengan mulut yang sedikit mengangap.


"Tutup sedikit mulutmu, nanti ada serangga yang masuk." Goda Nuel dengan jari telunjuknya menoel dagu Brielle agar dia bisa menutupkan mulut Brielle yang mengangap.


Perlakuan Nuel membuat Brielle tersentak dan bangun dari keterpakuannya. Dia yang sadar telah menampakkan penampilan yang memalukan itu dengan cepat bergegas pergi meninggalkan Nuel, yang mana pria itu telah menggelengkan kepala dan tersenyum kecil karena tingkah Brielle yang menurutnya lucu.


"Astaga, itu sangat memalukan." Seru Sam yang telah menyaksikan perilaku teman sejawatnya itu. Sam adalah pria bertulang lunak penyuka sesama pria. Dia bahkan menganggap Brielle sebagai rivalnya karena diapun menyukai Nuel.


Sungguh pesona yang di miliki oleh Nuel, mampu menarik kaum wanita dan juga pria seperti Sam. pandangan Sam tak terputus dari Nuel. Dia bahkan tanpa malu, mencuri - curi pandang pada Nuel yang sudah duduk di ruangannya.


***


Drrt, drrtt, drrttt!


Getaran ponsel milik Jhon terlihat diatas meja makan. Jhon meletakan iPad nya dan menggapai ponselnya untuk menghentikan getaran benda tersebut. Namun, pada saat Jhon melihat sebuah notif pesan masuk, rasa ingin tahunya tergelitik untuk mengecek siapa yang mengirim pesan untuknya di pagi hari itu.


"Kau sedang apa, sayang? Apa yang kau lihat sampai wajahmu terlihat begitu serius?" tanya Anna penasaran.


"Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal, dan itu —" kata - kata Jhon terputus ketika Anne menyerobot ponsel dari tangan sang suami.


Napas Anna mendadak terengah-engah dengan bola mata yang berkaca - kaca. "Ini— ini tidak mungkin, bukan? Bagaimana bisa ada penyusup di kamar asrama rumah sakit? Apakah Ethan dalam bahaya?" Anna mencecar Jhon dengan berbagai pertanyaan, dia tak percaya jika kamar putranya di susupi oleh penjahat bahkan air mata Anna sudah membasahi pipinya.


"Sayang tenanglah," Jhon memeluk tubuh sang istri yang sudah bergetar. "Sebaiknya kita tenang dan jangan panik, okey." Sambungnya dengan mengeratkan pelukannya pada Anna.


"Tapi, Jhon?" Anna melerai pelukannya dan menatap wajah suaminya.


"Selama Ethan tak memberi tahu kejadian ini, bisa disimpulkan Ethan baik - baik saja. Kita juga tak bisa memberitahu hal ini pada Ethan. Bisa - bisa dia menjadi curiga." Jhon menatap dengan serius pada wajah Anna bahkan wajahnya terlihat sangat tenang, dan Anna hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya.


"kita juga harus berpura - pura untuk tidak mengetahui kejadian ini. Kita harus tetap tenang dan aku harap kau bisa bersikap seolah - olah tidak terjadi apapun. Kita anggap saja jika pesan ini, tak pernah kita terima."


Anna hanya mengangguk paham, "apakah mereka sudah mengetahui perihal Ethan, Jhon?" tanyanya.


"Entahlah, aku pun tak tahu." Jawab Jhon dengan tatapan rumit.

__ADS_1


—tbc—


__ADS_2