
Ethan dan Emile tengah membersihkan piring di atas meja milik Emile. Ketika Ethan hendak mencapai wastafel, dia mendengar ponselnya berdering keras. Tiba-tiba, Emile menyodorkan ponselnya pada Ethan.
"Your Dad," ucapnya.
Ethan segera meletakkan piring kotor di tangannya dan menerima ponselnya dari Emile. Dia menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan itu dengan cepat, "Halo, Dad?"
"Son, apakah kau masih di asrama?" tanya John dengan nada serius diseberang telepon.
"Iya, Dad, aku masih di sini. Ada apa, Dad?" tanya balik Ethan.
Emile memasang telinganya yang menguping percakapan Ethan dan Ayahnya, dia mencuci semua piring kotor dengan pergerakan lambat sebab Ethan telah duduk kembali di meja makan Emile yang tak jauh dari mini kitchen miliknya.
"Son, aku membutuhkanmu di rumah sakit segera. Saat ini, aku berada di ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," kata John dengan nada serius di ujung telepon sana, hal itu membuat Ethan merasa heran dan khawatir.
"Baiklah, Aku akan segera ke sana?" sahutnya dengan wajah bingung. Ethan mendengar bahwa sambungan telepon telah dimatikan oleh ayahnya, dan dia meletakkan handphone kembali di atas meja.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tampak serius?" tanya Emile sambil mengelap tangannya pada apron merah muda yang dia kenakan.
"Daddy menyuruhku pergi ke rumah sakit. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku, katanya" Jawabnya dengan pandangan yang rumit.
"Apakah kau tahu, Daddy mu akan membahas perihal apa?" tanya Emile lagi.
"Entahlah, beliau tidak mengatakannya. Aku sedikit khawatir." Ethan berucap sembari menundukkan kepalanya.
"Apakah ayahmu akan membahas perihal kejadian semalam, aku rasa itu bisa menjadi opsi yang kuat?" tebak Emile.
"Kejadian semalam?" Dahi Ethan sontak mengerut, "memangnya kejadian apa? Semalam aku kenapa?" Lanjut tanyanya dengan wajah bingung.
"Apakah kau tak ingat kejadian semalam?" tanya Emile dengan nada serius.
"Memangnya ada kejadian apa semalam? Apakah ada kejadian serius yang tak aku ingat?" tanya Ethan dengan nada polos.
"Bisa kau katakan, apa saja yang kau ingat dari kejadian semalam?" tanya Emile yang tak kalah seriusnya dari Ethan.
"Emmm," Ethan terlihat kembali mengerutkan dahinya, dia terlihat tengah menerawang ingatannya kembali, lalu dia melanjutkan ucapannya. "Yang aku ingat, kita bertemu, lalu kau menawarkan padaku untuk memakai kamarmu saja karena kamarku sangat berantakan. Dan aku menyetujuinya, lalu kita masuk ke dalam kamar dan kau memberiku sebotol air mineral. Sesudah itu, aku terbangun pagi ini."
__ADS_1
Penjelasan Ethan membuat Emile mengalihkan tatapannya pada sebotol air mineral yang ada di ujung meja mereka yang sudah tak berisi.
Pandangan Emile sedikit rumit, bahkan gadis itu ikut mengerutkan dahinya dengan sangat dalam, lalu kemudian dia menampilkan seulas senyuman diwajah cantiknya.
"Ada apa, Emi? Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan?" tanya Ethan penasaran, terutama saat dia melihat Emile tersenyum dengan botol mineral kosong di ujung meja.
"Tidak ada, semuanya benar."
"Lalu kenapa kau bertanya perihal kejadian semalam?" tanya Ethan penasaran.
"Aaa, baiklah, sepertinya aku memang tak bisa menutupi apa pun darimu." ujarnya yang ikutan mendudukkan dirinya tepat didepan Ethan.
Kata-kata Emile semakin membuat jiwa penasaran Ethan bergejolak, "katakan Emi, ada apa sebenarnya?" desaknya.
"Semalam, kamar adik junior kita disusupi oleh pencuri, dan pencuri itu mati tanpa sengaja dibunuh oleh adik junior kita. Kau tahu dia siapa?" tanya Emile, dan Ethan hanya menggelengkan kepala.
"Dia tinggal tepat disebelah kamarmu. Dia adalah anak koas di tahun kedua. Aku tak tahu namanya, yang jelas saat ini dia sudah berada di kantor polisi," terang Emile. "Mungkin saja Daddy mu ingin membahas perihal ini padamu karena dia mengkhawatirkan dirimu," sambungnya.
"Kenapa aku bisa tidak tahu jika ada kejadian sepenting itu semalam?" tanya Ethan dengan heran, dan Emile hanya tertawa melihat ekspresi bodoh yang ditampilkan oleh Ethan.
Sementara Ethan, dia masih menggali ingatannya lagi. Entah kenapa dia merasa cerita yang disampaikan Emile tak bisa dia percayai.
Namun, semua usaha Ethan sia-sia, sampai akhirnya dia memutuskan untuk tak mau memikirkan apa pun perihal yang terjadi semalam.
***
Sesampainya di rumah sakit, Emile tanpa ragu merangkul tangan Ethan seolah ingin menunjukkan bahwa Ethan adalah miliknya, dan tak ada yang boleh mengganggu hubungan mereka.
Sikapnya tersebut menarik perhatian perawat dan pasien yang berada di sana, bahkan beberapa dari mereka melihat dengan tatapan iri pada Emile.
Sementara Ethan, dia merasa risih dengan sikap Emile yang terlalu mesra di khalayak umum. "Emi, mungkin lebih baik kita berjalan tanpa harus bergandengan tangan. Ini rumah sakit, bukan tempat yang tepat untuk hal seperti ini," ujar Ethan dengan lembut sambil mencoba melepaskan tangan Emile.
Emile menanggapi ucapan dengan wajah tenangnya lalu dia mulai menimpali, "Aku tahu ini rumah sakit, tapi aku ingin menggandeng tanganmu seperti ini. Apakah kau tidak suka?" tanyanya.
"Bukan begitu, Emi, tapi mungkin kita tidak perlu menarik perhatian semua orang. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian." Ethan dengan lembut mencoba menjelaskan.
__ADS_1
“Ha ha ha, kau ini sangat lucu Ethan. Apakah kau tak sadar jika ketampananmu ini bisa menarik perhatian semua orang dan bukan hanya itu saja. Keterampilanmu itu bahkan sudah sangat gencar dibicarakan di dunia maya.” sindir Emile yang mana dia kembali melanjutkan tawanya.
Gadis itu seperti banteng yang tahan banting. Dia tetap menggandeng tangan Ethan tanpa risih dan tak memedulikan tatapan yang dilayangkan orang lain terhadapnya.
Sepertinya gadis ini memang suka bertindak semaunya. Ethan menggerutu dongkol dalam hati atas sikap Emile. Namun, Ethan memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya lebih lanjut sebab Dia tak ingin berkonfrontasi di tempat umum.
Ketika mereka hendak berjalan menuju lift, Ethan dengan cepat melepaskan tangan Emile yang sangat erat melingkar di tangannya ketika melihat Jade, seorang dokter anak yang disukainya, tengah menunggu lift disana.
“Hai, Jade,” Sapa Ethan. Namun, Emile hanya memutar bola matanya, dia bahkan melayangkan tatapan tak sukanya pada gadis berlesung pipi itu.
“Hai, Ethan.” Sambut Jade dengan senyuman ramah.
“Kau datang pagi sekali, apakah pagi ini jadwal praktik mu?” Ethan mulai bertanya untuk membuka percakapan.
“Tidak, Jadwalku sore hari. Tapi pagi ini, aku ada janji temu dengan salah satu Pasienku.” Jawabnya dengan nada yang ramah. “lalu bagaimana denganmu?” Lanjut tanya Jade.
“Jadwal Ethan sama denganmu, namun dia kesini hendak menemui ayahnya. Bukankah begitu Ethan,” Emile mengambil alih jawaban yang seharusnya Ethan lah yang berhak menjawabnya. Namun, Ethan bisa berkata apa jika Emile sudah ikut campur maka dia lebih memilih diam, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawabannya atas pertanyaan Emile.
Lift yang mereka tunggu akhirnya tiba, pintu lift itu terbuka lalu mereka bertiga masuk ke dalamnya. Lagi – lagi Emile menggandeng tangan Ethan, bahkan Emile dengan berani menautkan telapak tangannya dengan telapak tangan Ethan lalu gadis itu menguncinya dengan menggenggam erat sela – sela jari Ethan.
Apa yang dilakukan Emile membuat Ethan terkesiap. Bagaimana tidak, ketika kulit mereka bersentuhan, sistem hologram Emile muncul di hadapan Ethan, sontak saja hal itu sedikit membuatnya terperanjat sekaligus jantungnya berdetak lebih cepat.
Jade hanya tersenyum melihat wajah Ethan yang kaku, lalu tatapannya berpindah pada kemesraan yang ditampilkan oleh mereka berdua. Jade kembali tersenyum manis melihat kemesraan Ethan dan Emile sebab hal itu, mengingatkan dirinya pada kisah manisnya bersama sang kekasih, Chris.
Jade menekan tombol angka 2 lalu pintu besi itu mulai tertutup. Hingga akhirnya mereka bertiga sampai di lantai 2.
Emile melepaskan tautannya dari Ethan, “sampai ketemu nanti.”
Bisikan Emile membuat Ethan tersadar dari lamunannya. Lalu dia melihat kedua gadis cantik itu sudah pergi meninggalkan dirinya seorang diri di dalam kotak besi tersebut.
Ketika pintu lift tertutup, Ethan segera menekan tombol 5 untuk menuju kelantai berikutnya. Dia merasa lega saat lift bergerak, meninggalkan situasi yang membuatnya merasa canggung.
Ketika sampai, Ethan segera pergi ke ruangan ayahnya. Saat masuk, dia melihat ayahnya sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi.
"Siapa dia, Dad?" Tanya Ethan dengan wajah bingung.
__ADS_1
—tbc—