
Drtt drtt drtt! ... benda pipih di dalam saku Brie bergetar dan terlihat jelas dilayar siapa yang tengah memanggilnya. Kenapa Sam menelpon tumben sekali. "Hallo—" ucapan Brie terpotong.
"Dimana kamu?!" Tanya pria diujung telepon tanpa basa basi.
"Depan lobi. Ada apa?" Tanyanya
"Cepatlah! sistem kita diretas." Kata Sam yang terdengar panik.
Tanpa menjawab Brie memutuskan teleponnya kemudian dia berlari kencang menuju keruangan. Disaat dia sampai, dirinya disambut dengan wajah tegang para teman sejawatnya.
Tanpa banyak bicara, Brie duduk di depan komputernya dengan ekspresi serius. Sistem keamanan cyber FBI telah disusupi oleh orang asing yang sangat terampil.
Brie adalah salah satu dari sedikit ahli keamanan yang dipercayakan untuk melindungi informasi rahasia negara. Dia tidak bisa membiarkan para penjahat itu mengendalikan jaringan FBI. Dengan tekad yang kuat, dia mulai menyusun rencana.
Jari lentik Brie mulai menari diatas keyboard. Dia mulai mengidentifikasi jejak digital penjahat tersebut sampai lima menit kemudian wajah seriusnya itu berganti dengan senyuman yang amat lebar.
"Pak, saya rasa ini hanya jebakan!" Teriak gadis itu pada atasan yang tak jauh berdiri disisi Sam selaku teman sejawatnya.
"Apa maksudmu Brie?"
"Bapak lihat, orang ini hanya meretas beberapa akses pribadi melalui sistem kita. Sepertinya dia tengah mencari seseorang disini. Mungkin ada penjahat yang tengah dia incar."
Jari lentiknya mulai menari lagi lalu dia menekan tombol enter sampai layar komputernya beralih ke layar hologram ditengah ruangan dan Brie mulai menjelaskan satu persatu temuannya disana.
"Tapi kenapa dia sampai repot - repot meretas sistem kita? Jika ingin informasi pribadi seseorang bukan sistem disini yang harus dia retas."
"Sepertinya dia ingin bermain dengan kita pak, dia sengaja ingin bertukar sapa dengan kita. Mungkin saat ini dia tengah tertawa."
pandangan Brie beralih pada CCTV ruangan. Lalu sebuah simbol L muncul disetiap layar komputer kemudian disusul kata 'sorry' sehingga semua orang tercengang menatap kearah Brie.
Menarik! Aku akan menemukanmu. aku ingin lihat siapa kau sebenarnya, seru Brie dalam hati dengan seringai terpasang diwajahnya.
Sementara di tempat lain, Ethan tiba dirumah sakit GCHospital dengan perasaan campur aduk. Dirinya bimbang akan keputusan yang ingin dia buat, apakah keputusan ini adalah hal yang benar untuk aku lakukan? Bagaimana jika ini keputusan yang salah? Ucapnya dalam hati.
Saat Ethan tengah duduk di ruang kerja dengan ponsel yang ada di genggamannya, kemudian dia mulai menekan layar ponsel disana, tetapi dia takut. Sampai akhirnya, Ethan mengurungkan niatnya untuk menelpon seseorang. Begitu banyak yang ingin Ethan katakan, tetapi kata-kata itu terasa sulit untuk keluar.
__ADS_1
Ethan menatap keluar jendela, matahari bersinar terang, tetapi hatinya terasa gelap. Dia merasa perlu untuk berbicara dengan Brie. Iya Brie, adiknya. Hanya Brie seorang lah yang bisa memutar kiblat hati ibunya, tapi hati Ethan kembali ragu-ragu.
Cukup lama Ethan termenung sampai tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Ethan melihat sebuah kepala menyembul disana.
"Dokter Emi," ucap Ethan setelah menetralkan raut wajahnya. Sedangkan Emi yang mendengar sapaan Ethan, dia tersenyum manis sekaligus melambaikan tangannya.
Emile Bruck atau sering disapa Emi yang berusia 30 tahun itu adalah salah satu sahabat sekaligus kolega Ethan dirumah sakit GCHospital. Emi menjabat sebagai dokter ortopedi dan sangat sering berkomunikasi dengan Ethan selaku dokter ahli bedah.
"Hari ini adalah hari yang cerah, bukan?" Ujarnya seraya menatap ke luar jendela.
Ethan mengangguk, meskipun hatinya masih terganggu perihal ibunya. Emi yang selalu peka dapat melihat perubahan ekspresi dari wajah Ethan yang penuh kekhawatiran.
"Apa yang mengganggu pikiranmu, Ethan?" Emi bertanya seraya menarik kursi didepan meja Ethan. Gadis bersurai hitam itu memangku dagunya dengan menatap lekat wajah sahabatnya.
Ethan terdiam sejenak ketika dipandangi oleh Emi. Hatinya sedikit tergelitik melihat Emi mulai mengerutkan hidungnya sebagai tanda jika Emi tengah penasaran terhadap kekhawatiran yang tengah Ethan hadapi.
"Aku bingung harus memulainya dari mana," sahut Ethan.
"Oh ayolah Ethan, jangan sungkan," Emi menimpalinya.
Emi mendengarkan dengan sabar seraya menganggukkan kepalanya. Setelah Ethan selesai bercerita, Emi pun kembali bersuara. "Terkadang, berbicara dengan seseorang yang anda percayai bisa meringankan beban yang anda pikul." Ucapnya, "saranku sebaiknya kau menghubungi adikmu itu. Toh dia juga harus tahu perihal kesehatan ibu kalian dan dia juga harus ikut andil dalam keputusan itu." Tuturnya.
Ethan menganggukkan kepalanya lagi. ada kelegaan yang dia rasakan, dan kembali memantapkan hati untuk memberi tahu Brie perihal penyakit yang diderita sang ibu.
Pada saat Ethan hendak menghubungi Brie, tiba - tiba Emi kembali bersuara. "Oh astaga. Aku melupakan hal penting," ucapnya seraya menepuk dahi.
Ethan kembali meletakkan ponselnya diatas meja. "Ada apa?" tanyanya.
"Ethan, kedatanganku kesini karena aku mau menyampaikan pesan dari dokter Robert. Beliau saat ini sudah menunggumu didalam ruangannya?" Terang Emi.
"Dokter Robert. Ada apa pria tua itu memanggilku? Lalu kenapa dia tak sampaikan langsung padaku? Kenapa harus melalui dirimu?"
"Aku tak sengaja bertemu dengan beliau tadi pagi. Dia baru saja mengunjungi ruangan mu tapi kau belum datang saat itu. Jadi beliau menitipkan pesan ini padaku." Jelas Emi, "jaga ucapanmu itu Ethan. Meskipun dia begitu, dia tetaplah kepala rumah sakit. Walaupun aku tahu jika rumah sakit ini milik ayahmu!" Lanjut tegur Emi.
Akan tetapi Ethan melengos saja. Bahkan pria tampan itu melupakan niatnya untuk menelpon Brie. Pikiran Ethan sudah dipenuhi oleh Robert yang memang setiap hari selalu mengganggu ketenangan Ethan.
__ADS_1
"Ayo kita temui dokter Robert," ajak Emi. Wanita bersurai hitam itu mengulurkan tangannya pada Ethan. Namun Ethan mengabaikan hal itu sehingga Emi terpaksa menarik tangan Ethan.
Pada saat berada di lorong rumah sakit secara kebetulan Ethan bertemu dengan Jade saat dia hendak menuju ke ruangan dokter Robert. Jantung Ethan seketika berdetak kencang, dan matanya melekat pada kecantikan Jade.
"Ethan jika nanti dokter Robert ternyata hanya iseng saja padamu, kau —" ucapan Emi terputus ketika dia melihat Ethan tak berada disisinya. Emi menolehkan kepalanya dan melihat Ethan tengah terpaku dengan wajah tersenyum.
Emi mengikuti arah tatapan Ethan dan dia melihat ada Jade yang tengah asyik bercengkerama bersama perawat lainnya di lobi ujung lorong. Dengan ekspresi tak terbaca, Emile menghampiri Ethan yang masih menatap lekat kearah Jade.
"Ethan, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Emi bertanya pada Ethan sekaligus mengaitkan tangannya pada bahu Ethan.
Ethan yang terkejut menjawab dengan ragu, "Sepertinya aku melupakan sesuatu." Jawab asalnya.
Tetapi Emi menatap wajah Ethan dengan heran, kemudian dia memutuskan untuk bertanya lebih lanjut sebab dia tahu alasan Ethan menghentikan langkahnya.
"Ethan, apakah kamu menyukai Jade?" Tanyanya.
Ethan yang merasa tertangkap basah, sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menjawab dengan tegas, "Tidak. Aku hanya mengagumi profesionalismenya dalam pekerjaan."
Sahutan Ethan membuat Emi tertawa terbahak - bahak sampai wajahnya memerah. Bahkan Jade yang diujung lorong pun di buatnya menoleh oleh suara keras Emi. Sedangkan Ethan menatap heran sahabatnya itu.
"Kau serius tidak menyukainya?" Tanya Emi sekali lagi setelah dia berhenti tertawa.
"Heum aku serius," jawab Ethan dengan mantap sekali lagi.
Emi tahu jika Ethan berbohong sebab Ethan menyukai Jade yang periang. Namun entah kenapa hati Emi bahagia ketika mendengar jawaban Ethan karena Emi juga sudah menaruh hati sejak lama dengan Ethan.
"Heum aku percaya dan aku harap kau terus bersikap begitu sehingga aku bisa menyukaimu sampai akhir hayatku." Tutur Emi seraya menarik lengan Ethan.
"Emi kau tahu bukan jika kau adalah temanku. Dan itu tak akan berubah sebab aku tak bisa menaruh hatiku ini pada siapapun" Sahut Ethan. Dia tahu jika Emi punya perasaan padanya namun Ethan tak mau merusak persahabatannya itu hanya karena perasaan semu belaka dan karena alasan itu pula membuat Ethan tak mengatakan perasaannya pada Jade.
"Ha Ha Ha, kita lihat saja nanti. Yang jelas aku sudah menyukaimu lebih dulu ketimbang kau menyukai dokter anak itu (Jade)."
Pungkasan kalimat dari Emi membuat Ethan memutar kedua bola matanya. Sebab dia tahu betul jika dirinyalah yang bertemu lebih awal beberapa hari dengan Jade daripada Emi. Akan tetapi Ethan tak menyadari rahasia lain dibalik ucapan Emi.
—tbc—
__ADS_1