Sample 001

Sample 001
Project Penelitian


__ADS_3

Tok tok tok, Ethan dan Emi telah berdiri didepan pintu masuk ruangan Dokter Robert.


Ceklek! "Permisi dok, saya dan dan Ethan datang untuk menghadap," kata Emi sembari membuka pintu ruangan.


"Masuklah," Robert mempersilahkan kedua juniornya itu untuk duduk di sofa ruangannya.


Robert Hag, usia 61 tahun merupakan seorang kepala rumah sakit yang terkenal akan prestasinya dalam dunia medis. Ruangan miliknya itu dikelilingi oleh rak buku berisi literatur medis dan penghargaan yang pernah diraih olehnya.


Robert melihat serius ke arah mereka berdua sebelum dirinya bersuara. "Dokter Ethan," ucap Robert dengan serius, "saya ingin mengundang anda datang kesini untuk menawarkan sebuah project penelitian pada anda. Project penelitian ini adalah gabungan dari rumah sakit GCHospital dengan salah satu laboraturium farmasi yang ada di ibu kota moskow," lanjut ucapnya tanpa basa basi.


"Gaya bicara anda membuat saya takut dok. Bicaralah seperti biasanya dan tak perlu seserius itu," ujar Ethan.


Robert hanya tersenyum mendengar sahutan dari Ethan. "Apakah aku tidak bisa berbicara serius padamu Ethan. Oh ayolah bung. Aku hanya berusaha untuk berbicara serius padamu agar aku terlihat seperti kepala rumah sakit yang menyeramkan, ho ho ho" Suara tawa Robert menggelegar mengisi ruangan. "Bagaimana penawaran tadi apakah kau setuju?" Tanyanya.


"Kenapa harus saya dok? Banyak dokter yang lebih senior dari pada saya, yang saya rasa mereka sangat berkompeten dan lebih pantas untuk mendapatkan penawaran ini?" Tanya Ethan dengan wajah serius.


"Hm, tidak ada yang pantas selain dirimu Ethan. Kau adalah putra sulung dari Jhon dan kelak kau akan mewarisi rumah sakit ini. Jadi hanya kaulah yang pantas untuk aku kirimkan kesana." Tekannya.


"Apa nama Lab itu," tanya Ethan lagi.


"HNPharmacies"


Ethan yang duduk di hadapan Robert itu merenung sejenak. Dia merasa sangat familiar dengan nama lab tersebut. Ethan memutar memorinya mengingat ingat kapan dia melihat nama lab itu.


Aku tak bisa mengingatnya. Tapi kenapa nama itu tak asing di telingaku? – monolognya dalam hati.


"Bisakah saya meminta waktu untuk menjawab ini dok, saya masih ingin berdiskusi lagi dengan ay—" Ucapan Ethan tergantung saat telepon darurat di sakunya berdering dengan keras. Dia segera mengangkatnya dan menjawab dengan cepat.


"Maaf, Dok," ucap Ethan, "saya mendapat panggilan darurat dari IGD. Saya harus segera pergi."

__ADS_1


Robert mengangguk dan memahami bahwa situasi darurat memerlukan perhatian segera. Kemudian Robert berpaling ke Emi yang duduk di samping Dr. Ethan.


"Emi," katanya, "saya juga ingin Anda bergabung dalam project ini, untuk mendampingi Ethan."


Emi dengan senyum hangat seraya menjawab, "Saya bersedia mendampinginya dok. Kita akan berbicara lebih lanjut setelah Ethan kembali."


Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan kerja Robert dengan meninggalkan pertimbangan penting akan masa depan mereka.


***


Ethan tiba dengan cepat di ruang IGD, dia telah mengenakan seragam putihnya dengan lambang rumah sakit yang terpampang di dadanya yang menandakan bahwa dia adalah seseorang dokter yang dapat diandalkan dalam situasi kritis.


Saat Ethan memasuki ruangan, perawat bernama Bella dengan cekatan menghampirinya. Bella adalah salah satu perawat berpengalaman di rumah sakit itu yang mana dia selalu siap bertindak dalam situasi darurat.


"Dokter Ethan," ucap Bella dengan tenang, "kami menerima panggilan darurat. Ada kecelakaan beruntun di jalan raya kota San Diego. Kemungkinan akan ada pasien yang datang dengan kondisi yang serius."


Ethan menganggukkan kepala kemudian segera berkoordinasi dengan Bella serta tim medis lainnya di ruang IGD.


Tak berselang lama, Mobil ambulans datang dengan dering sirene berwarna merah. Bella dengan sigap membuka lebar pintu darurat IGD. Suasana di ruang IGD langsung dipenuhi dengan ketegangan namun keterampilan medis tetap bergerak dengan cepat.


Pasien pertama yang datang adalah seorang pria dewasa dengan luka serius di kepala. Bella dengan tenang segera mengarahkan pasien untuk diletakkan di salah satu tempat tidur darurat kemudian tim medis langsung memulai prosedur penanganan darurat.


Mobil ambulans kedua pun tiba dengan membawa seorang wanita yang tampaknya mengalami luka punggung yang cukup parah. Sehingga Dokter dan perawat lainnya segera melakukan pemeriksaan dengan teliti dan memutuskan langkah-langkah berikutnya.


Proses ini terus berlanjut dengan kedatangan pasien-pasien selanjutnya, termasuk seorang anak yang tampak sangat ketakutan.


Tim medis dengan penuh keahlian dan kepedulian merespons setiap kasus dengan maksimal, mereka semua bekerja keras untuk memberikan perawatan terbaik bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.


Di tengah kekacauan ruang IGD, Ethan dan perawat Bella tetap berusaha tenang seraya memberikan arahan dan bantuan ketika diperlukan. Mereka berdua memang tim yang solid jika bersatu dalam menghadapi situasi darurat.

__ADS_1


Namun tiba - tiba, situasi menjadi serius saat mereka kedatangan Mobil ambulans berikutnya yang datang dengan kecepatan tinggi.


Mobil itu membawa seorang pasien pria dengan luka tusuk yang mengerikan. Sebuah besi tampak menembus perutnya, dan darah keluar dengan cepat.


Ethan dan Bella saling bertukar pandang lalu mereka berdua dengan cekatan menerima pasien tersebut.


"Nama," kata Ethan dengan wajah seriusnya. Namun tenaga medis yang datang bersama pasien hanya diam saja sehingga Bella yang paham maksud dari Ethan segera memeriksa identitas pria tersebut.


"Edward Cullin, 23 tahun." Sahut Bella.


Edward Cullin, 23 tahun. Ethan merapalkan empat kata itu dalam hatinya seraya menyentuhkan telapak tangannya pada kulit tangan pria itu.


Sengatan kecil pada tangan Ethan menimbulkan Efek perubahan pada warna matanya sehingga visual hologram diagnosa kesehatan pasien muncul tepat dihadapannya.


Dari visual hologram yang telah berubah bentuk menyerupai tubuh Edward itu, Ethan bisa melihat grafik dan sistem kesehatan serta tingkat kehidupan Edward.


"40%" Ujar Ethan yang mana tatapannya berubah kearah Bella.


Wanita itu dengan cepat membawa tubuh Edward keruangan operasi dimana tim medis lainnya telah mempersiapkan peralatan dan bahan medis yang diperlukan. Mereka secara bersama berhati-hati meletakkan tubuh pasien tersebut di meja operasi darurat.


"Dokter Ethan," ucap salah seorang perawat sambil memberikan sarung tangan medis kepada Ethan.


Ethan melihat Pasien itu mengerang kesakitan dengan wajah kebingungan. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk Anda, jangan khawatir," kata Ethan sambil memandang ke arah perawat-perawat yang telah siap untuk membantunya.


Prosedur pembedahan dimulai dan dilakukan dengan cermat apa lagi Ethan terhubung dengan sistem hologramnya sehingga Ethan tak mengalami kesulitan berlebih apalagi tingkat kehidupan pasien cukup tinggi. Dengan gerakan yang hati-hati, Ethan dan tim medisnya berhasil mengeluarkan besi yang menancap dalam perut pasien. Pendarahan telah dihentikan dan luka sudah dijahit dan tertutup rapi. walaupun situasinya sangat genting tapi tim medis telah bekerja dengan keahlian yang luar biasa.


"Kerja bagus," puji Ethan seperti biasa. Pria tampan itu akan selalu mengatakan kata keramatnya itu ketika mereka berhasil menyelamatkan satu nyawa manusia.


Setelah prosedur selesai, pasien tersebut dipindahkan ke ruang pemulihan. Ethan dan tim medis lainnya bisa bernapas lega.

__ADS_1


—tbc—


__ADS_2