
30 menit sebelum penyerangan terhadap Ethan. Getaran handphone diatas meja terdengar. Layarnya terlihat kelap kelip menandakan jika ada panggilan masuk disana. Dengan gerakan cepat, seseorang menjawab panggilan tersebut.
"Tuan, semuanya sudah disiapkan dengan baik," ucap pria itu dengan suara yang tenang, tetapi penuh dengan rasa tekad.
"Apa kau yakin akan berhasil?" tanya pria lain di seberang panggilan telepon.
"Tentu saja. Penyerangan terhadap dokter muda itu akan menjadi peringatan bagi mereka. Mereka akan merasa terancam dan tunduk pada tekanan kita." Pria itu menjawab dengan tegas.
"Baiklah. Aku menunggu kabar baik darimu," tutur pria itu di seberang telepon. Lalu dia mematikan telepon itu secara sepihak.
***
Ethan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencari tahu lebih banyak tentang penyusup itu. Dia menekan penyusup itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan mencoba memahami siapa dia dan apa motifnya.
Sementara penyusup tersebut, mau bagaimanapun Ethan menekannya, dia tetap tidak memberikan jawaban apa pun. Sampai tiba - tiba Ethan melihat pergerakan dari dalam mulutnya dan tindakan tersebut begitu cepat sehingga Ethan tidak bisa mencegahnya dan belum memahami situasi.
Ethan kembali mencoba bertanya lagi. Namun, mata penyusup itu terlihat terbelalak keatas menampilkan mata yang memutih dengan tubuh mengalami reaksi aneh. Ethan melihat nafas penyusup itu tersengal bahkan dia mengeluarkan suara gemetar.
Ethan mencoba mencari tahu, dan dia memiliki firasat aneh saat memaksa penyusup itu untuk membuka mulutnya dan benar saja mulutnya sudah berbusa.
"Racun—" Serunya terkejut dan panik.
Ethan berusaha mencari cara untuk membantu penyusup itu agar memuntahkan racun dalam perutnya tetapi sudah terlambat. Kondisi penyusup itu semakin memburuk dan racun sudah mulai menyebar didalam pembuluh darahnya.
"F*ck," upatnya.
Tubuh Ethan mendadak lemas, dia terduduk disisi penyusup sampai petugas polisi tiba di tempat kejadian.
Kejadian itu meninggalkan sejumlah pertanyaan tanpa jawaban. Setelah serangan penyusup secara misterius terjadi, Ethan dibawa ke kantor polisi untuk berkolaborasi dengan pihak berwenang dalam usaha mengungkap misteri di balik insiden tersebut dan memberikan kesaksian mengenai kematian penyusup yang mengakhiri hidupnya sendiri dengan racun.
Masih didalam ruangan interogasi penyidik. Emile tiba - tiba datang ke kantor polisi dengan napas terengah - engah. Langkahnya terlihat cepat dan langsung menuju keruangan dimana Ethan di interogasi.
Sesudah Ethan diinterogasi, dia disambut oleh Emile yang berdiri tak jauh dari pintu dengan gelisah.
__ADS_1
"Ethan! kau baik - baik saja?" tanya Emile dengan nada khawatir.
"Heum, aku baik - baik saja." Jawabnya.
Emile melepaskan nafas lega saat mendengar jawaban dari Ethan. Namun, rasa kekhawatiran masih terlihat di matanya.
"Ethan, aku sangat khawatir. Apa yang mereka tanyakan padamu?" kata Emile, mencoba mengendalikan gelisah–nya.
"Emi tenanglah. Mereka hanya menanyakan hal-hal biasa terkait dengan kasus ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ethan menjawab dengan suara tenang.
"Apakah kau tak tahu jika hal seperti ini bisa merugikan dirimu? seharusnya kau mempertimbangkan untuk mengajukan pengacara? Emile masih merasa cemas dan mulai mencecar Ethan dengan pertanyaan lebih lanjut. Namun pertanyaan itu tidak berkaitan dengan Ethan dan penyusup melainkan pertanyaan untuk Ethan dan penyidik.
"Aku tak berpikir kesana, yang aku tahu jika aku harus tetap tenang. Aku yakin, aku bisa mengatasi ini. Tidak ada alasan untuk panik." Ethan mencoba memberikan jaminan yang menyakinkan pada Emile.
Tiba - tiba Ethan teringat sesuatu, dahinya terlihat mengerut dalam. Ethan menatap Emile dengan ekspresi curiga dan menilik gadis itu dengan tatapan tajam.
"Emile, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku sudah di kantor polisi? Selidiknya, "Aku sangat yakin jika aku belum memberi tahu siapa pun tentang kejadian ini." Ethan lanjut berucap dengan suara yang penuh curiga.
"Aah itu, sebelumnya aku mencoba menghubungimu, karena aku ingin membahas perihal ajakan dari dr. Robert sebelumnya. Akan tetapi, nomor teleponmu sangatlah sibuk sampai aku berinisiatif untuk menelpon dr. Jhon dan beliau mengatakan jika kau tak ada dirumah dan dia mengatakan jika kau tidur di asrama. Ketika aku tahu kau disana, aku mencoba menyusulmu. Akan tetapi disaat aku sampai, aku mendapatkan informasi dari adik junior sebelah asrama mu jika kau dibawa ke kantor polisi untuk di interogasi karena asramamu disusupi. Oleh sebab itu, aku tahu kau berada disini." Terang Emile.
"Aa, begitu." Ethan hanya menyahuti dengan singkat sebab Ethan masih terlihat skeptis.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, apakah kau tak percaya padaku?" Selidik Emile, "jika kau tak percaya, kau bisa menelpon ayahmu. Aku tidak berbohong." tukasnya.
"Maaf Emi, aku tak bermaksud menuduh hanya saja kejadian ini cukup mengejutkanku. Dan juga sangat aneh ketika penyusup itu memilih untuk masuk kedalam ruanganku. Seolah dia sangat tahu jika aku akan tinggal disana malam ini. Dan hal yang lebih gila lagi dia bahkan tanpa segan menelan racun yang aku sendiri tak tahu dari mana racun itu berasal," tuturnya.
"Tak masalah, aku mengerti. Sebaiknya kita pulang sekarang. Kau membutuhkan istirahat saat ini." Pungkas Emile yang dianggukkan oleh Ethan.
Kini mereka berdua sudah berada didalam mobil milik Emile. Mereka berdua kembali ke asrama rumah sakit sementara Ethan mulai berangsur - angsur mempercayai Emile kembali.
Sesampainya di asrama, Saat Ethan hendak membuka ruangan kamarnya. Emile tiba - tiba menghentikan gerak tangan Ethan.
"Sebaiknya kau tinggal di kamarku saja. Kau bisa memakainya malam ini," Ujar Emile dengan menarik tangan Ethan. Mereka berdua menuju ke kamar asrama milik Emile dilantai yang sama, hanya saja kamar Emile berada di pojok kiri dari kamar Ethan.
__ADS_1
Sesampainya mereka didalam kamar Emile. Ethan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur Emile tanpa sungkan. Pikiran Ethan terlalu penat dengan tubuh yang sangat lelah.
"Minumlah dulu," Emile memberikan sebotol air mineral kepada Ethan dan pria tampan itu menerima minuman itu dalam posisi tiduran. "Apakah kau sudah makan?" Lanjut tanya Emile.
"Belum, tapi aku tak lapar." Sahutnya, "oh iya, jangan katakan pada siapapun atas kejadian ini. Termasuk pada orang tuaku,"
Emile terlihat terperanjat, dia terkejut dengan permintaan yang diutarakan oleh Ethan. Sebab kejadian yang menimpa pria itu menurut Emile cukuplah serius. Namun Emile tak bisa berbuat banyak, sampai dia menganggukkan kepalanya sebagai pernyataan jika dia setuju untuk menutup rapat mulutnya.
Ethan mendudukkan tubuhnya, lalu dia membuka botol air mineral yang diberikan Emile sebelumnya. Sementara Emile, terlihat tengah berkutat di mini kitchen di dalam ruangan tersebut.
***
Ditempat lain, ada seorang pria tengah gelisah karena usahanya telah gagal. Sampai akhirnya ponselnya kembali bergetar.
Pria itu ragu - ragu untuk menjawab, akan tetapi mau tak mau dia harus bergegas menjawabnya sebelum pria di seberang telepon itu murka padanya.
""Hallo, tuan," Ucap pria itu ketika dia menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Tak perlu basa-basi, bagaimana? apakah berhasil?" Tanya pria lain diujung telepon dengan nada dingin.
"Maafkan saya, tuan, rencana kita gagal," jawabnya dengan nada yang penuh ketakutan. Bahkan Pria yang memberikan laporan itu harus menelan ludah dengan berat.
"Apa?! Bagaimana bisa kau gagal dalam tugas ini?" Teriaknya dengan suara yang semakin meningkat, suara diseberang sana tampaknya sangat marah.
"Maaf tuan, ternyata ada gangguan tak terduga dan diluar prediksi. Dokter muda itu mendapat pertolongan tepat waktu. Kami akan mencoba lagi, tuan. Saya berjanji lain kali akan berhasil." Kilahnya. Pria itu terpaksa berbohong sebab dia tahu konsekuensi dari kegagalannya itu bisa saja di bayar dengan nyawanya bahkan dahinya mengeluarkan keringat.
"Kesempatan terakhir. Jika gagal lagi maka nyawamu yang akan melayang." pungkasnya dengan mematikan telepon sepihak. Sementara pria itu menelan salivanya dengan kasar.
Pria itu harus memutar otaknya dan dia harus menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Sampai terbesit dikepalanya dan mulai mencari nomor telepon di dalam benda pipih yang ada ditangannya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara nada telepon masuk, dan akhirnya suara seorang perempuan terdengar di ujung sana.
—tbc—
__ADS_1