
GAIRAH PANAS, PACAR POSESIF-!!
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Beberapa jam lalu.
Seorang gadis berseragam SMA menatap kaca jendela kamar mandi. Saat ini ia berada di toilet sekolah yang berada di lantai enam.
Lantai enam, berarti untuk kelas tiga.
Sorotan kosong gadis itu terpancar dari matanya. Terlihat pandangan matanya sangat kosong menatap jendela kamar mandi itu.
Bisikan halus menjelajahi pikiran kosong nya, sebuah pikiran gila muncul di otaknya.
Perlahan kakinya mulai melangkah menuju jendela itu, di bukanya jendela itu laku di tatap nya bawahnya jalanan.
" Apakah aku akan mati jika melompat dari sini?...," gumamnya.
" Jika aku mati ... Masalah hidupku juga akan ikut mati.. Aku tidak akan merasakan penderitaan ini.. Aku... "
Pikiran gadis itu begitu kosong, stress akan masalah hidupnya. Tak bisa keluar dari masalah hidupnya. Tak ada orang yang menjadi tempatnya bersandar karena dirinya sudah di buang oleh orang-orang yang di sayanginya. Masa depannya yang hancur.
Tak ada jalan keluar lagi selain pergi ke rahmatullah. Apalagi dengan mental dan hati yang lemah.
Gadis itu menatap sebuah kertas cek kosong yang tadi di dapatnya. Ia menggengam kertas itu membuat kertas itu rusak... Matanya memancarkan dendam yang dalam.
"Samuel Ali Wirantara... Semoga kamu mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan!
Semoga kehidupan mu menjadi lebih menyedihkan dari diriku!
Semoga kau pun merasakan dirimu jatuh dan memohon akan cinta seseorang!
Aku, dan anakku mengutukmu!! "
Ucap gadis itu, dan yeah! Dia adalah Laura, Laura Santoso. Gadis yang hamil anak Samuel dan di buang dengan tragis nya oleh orang-orang tersayang nya.
Tangan Laura mengelus perutnya pelan, ia tidak tega membuat anaknya ikut terbunuh. Namun keadaan nya sudah tidak sanggup untuk hidup. " Maafkan aku nak.. Maafkan mama.. "
Tanpa menunggu waktu lagi, ia melompat dari jendela itu. Melompat! Ia benar-benar melompat!
________***________
[ Sedikit kata-kata untuk menggambarkan kehidupan Laura ]
Sudah dua hari yang lalu
Berita tentang gadis yang lompat bunuh diri menyebar
Kemeja sekolah penuh darah fitnah bertebaran
Tempat inipun menjadi makanan warga internet
"Di sini bahaya. Tolong mundur sedikit. "
Kalimat yang makin mengundang perhatian
Kerumunan bodoh penuh antusias mengambil potret
Darah merahnya yang mengalir di atas dinginnya aspal
Tampak mempesona, begitu indah
Aku pun menangis
__ADS_1
Sungguh meratapi
Mereka di depan layar TV yang tak mengerti kebenaran
Dia pernah hidup, hidup, hidup
hidup, hidup, hidup juga, 'kan
Teriak perpisahan terakhir nya bukan 'tuk siapa pun
Tetapi untuk dirinya sendiri
Tetes air mata terakhirnya
Darah merah bukti hidupnya
Di hapus dalam 2 detik oleh para orang dewasa yang tak memahaminya
Di bentangkan garis kuning melarang lewat
" Baru kali ini melihat yang bukan sinetron. "
Yang terucap dari kerumunan itu
Kiranya apa yang 'kan ia pikirkan setelah mendengar itu
Dari tempat jauh nan amat jauh
Aku ingin menangis
Sungguh ingin menangis
Hari-hari panjang, yang seharusnya panjang, kini telah usai
Beberapa menit telah berlalu dan sekarang tiba saatnya jam istirahat berbunyi.
Orang-orang mulai keluar, istirahat menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Termasuk dengan Adara yang yang tengah siap-siap untuk istirahat bersama teman nya Alena.
" Al, yuk ke kantin. " Ajak Adara, ia sudah selsai merapikan bukunya. Dan Alen menjawab dengan anggukan.
Mereka mulai berjalan beriringan keluar dari dari kelas. Sedikit info, Alena adalah teman dekat Adara satu-satunya yang agak bar-bar.
" Selamat pagi ibu ratu! "
Seorang laki-laki terlihat menunggu di depan kelas itu. Kemudian menyapa Adara yang baru saja keluar.
Adara yang merasa di sapa dengan panggilan ibu ratu pun bingung. Ia menengok ke kanan dan ke kiri.
" Itu pacar kamu Al? " Tanya Adara pada Alena. Alena yang mendapatkan pertanyaan itu spontan menggeleng. Tapi jelas Alena mengetahui siapa laki-laki di depannya ini.
" Dia itu Shin, temennya Samuel. Aku rasa dia nyapa kamu deh. Dan juga kayaknya di nungguin kamu. " Bisik Alena pelan namun dapat di dengar oleh Shin.
" Khem! "
Deheman Shin agak keras, membuat Alena berhenti berbisik dan menatap canggung pada orang yang sama berbahaya nya dengan Samuel.
" Samuel udah nungguin lama, dia nyuruh gue buat jemput lo kesana. " Ucap Shin dengan muka datar.
" Emm.. Bisa bilang ke Samuel supaya dia aja yang datang ke kantin gak? Soalnya... "
" Gak bisa! "
Ucapan Adara yang ragu-ragu untuk meminta makan siang bersama Samuel di kantin sahaja. Namun dengan ucapan datarnya Shin langsung menolak. Ia tidak mau bolak-balik jalan hanya untuk menyampaikan perintah kedua pasangan ini.
__ADS_1
Adara menghelai nafasnya pelan, sebenarnya ia belum pernah ke tempat markas Samuel di sekolah. Karena yang Adara dengar dari murid-murid lain jika tempat itu penuh dengan berandalan, asap rokok yang terus mengepul dan tempat untuk para murid brandal dengan murid lon** bersama. Ntah itu pelukan, ciuman ataupun ******n yang pastinya tidak sampai dengan JLEEB!
" Oke Ra, gue permisi ya. " Ucap Alena yang menyadari situasi. Terlihat juga di belakang Shin masih ada beberapa orang dengan antek-antek brandal lainnya.
" Eh, Al! Lo ikut ya.. " Melas Adara, menatap penuh harap kepada teman satu-satunya di sekolah ini untuk ikut bersama nya.
" Sorry ra, gue lebih baik makan di kan--"
" Temen lo ikut kok, lo tenang aja! " Ucap Shin menyela ucapan Alena. Tangan Shin secara otomatis menggenggam tangan Alena. Membuat mata Alena melotot seketika.
" Udah, sekarang lo cepet jalan duluan! " Perintah Shin lagi masih dengan nada datar nya.
Mau tak mau Adara pun mengikuti perintah Shin. Ia berjalan duluan dengan beberapa antek Shin lainnya menuntun jalan.
Sementara Alena berada di sisi Shin. Tangan nya masih di genggam erat oleh Shin. Ntah Shin sadar atau tidak, dan sengaja ataupun ntahlah.
"Emm.. " Alena bingung harus bicara apa.
"Apa? " Ucap Shin masih dengan nada datar nya melirik Alena.
"Bisa lepasin tangan nya gak kak? " Ucap Alena sopan. Dan OMG, sejak kapan Alena belajar buat bicara sopan sam orang. Sama kakaknya saja dia bicara nying, nyet. Dan dengan Shin bicara 'Kakak? '
" Gak bisa! Lo diem aja! " Ucap Shin, ia berucap dengan tangannya semakin menggenggam erat tangan Alena.
' Sumpah ya anjirr! Gue nyesel temenan sama Adara..., kenapa harus berurusan sama orang ini coba. '
-_-_-_-_-_-_-_-_-
Selama di perjalanan menuju Rooftop, Adara dan lainnya menjadi sorotan. Namun banyak nya mereka hanya menunduk tak berani menatap mereka.
Tau lah ya, takut sama Shin the antek-antek.
Di sekolah itu terdapat lift khusus yang di gunakan orang-orang khusus dan kakak-kakak kelas yang memiliki kekuasaan tinggi.
Ada dua lift tepatnya, satu lift khusus mereka seperti anak dari donatur, orang kaya papan atas di kota itu. Dan satu lift lagi, lift khusus tiga tuan muda. Yaitu Samuel, Jay dan Shin.
Shin beserta Adara dan Alena memasuki lift khusus tiga tuan muda.
Sementara antek-antek nya Shin memakai lift satunya lagi.
Di dalam lift itu, Adara masih saja kepikiran dengan kejadian dimana seorang teman kelasnya menyebutkan Samuel sebagai penyebab kakak kelasnya yang bernama Laura itu meninggal.
Sementara Alena sangat di risihkan oleh tingkah Shin yang tak ingin melepaskan tangannya. Tangan nya terus di genggam erat oleh Shin. Seolah-olah Alena tak boleh menjauh.
Ting!
Kini pintu lift terbuka, tepatnya di lantai enam pintu itu terbuka. Mereka keluar beserta antek-antek Shin lainnya.
___________
** Tolong berikan Like dan **komentar beserta yang Pavorit kan Gif dan Vote nya~
Btw maaf kemarin author gak update
Soalnya author buka lapak lain
Mampir ya..
" Obsesi, Gila Daddy Gila " Chat Story
" Tuan CEO Itu, Sangat POSESIF-!! " Novel
Mampir ya **
__ADS_1
Vote Senin~ 😓**