
GAIRAH PANAS, PACAR POSESIF-!!
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
WUSHH!
JLEEEEBB!
Sebuah belati Bram layangkan ke arah Samuel. Dan belati itu mendarat tepat di tangan kanan Samuel.
Samuel tak bergeming, ia memasang raut datar tanpa ekspresi.
"Jadi.. Kau telah meniduri anakku?" Tanya Bram, dengan hawa yang sudah berbeda. Bram memancarkan hawa yang dingin mencekam.
BRUKH!
Samuel menjatuhkan dirinya di depan Bram, ia berlutut dan berkata." Maaf aku telah meniduri putri mu, aku benar-benar mencintai nya. Aku tidak bisa hidup tanpa nya." Ucap Samuel, ia berlutut karena ia mengaku salah.
Bram menatap belati yang menancap di tangan Samuel. Pemuda di depan nya ini memang tidak memasang wajah kesakitan ataupun meringis sedikitpun.
Bahkan Bram bisa melihat jika tadi Samuel tidak menghindar dan membiarkan belatinya menusuk di tangan kanan nya. 'Benar-benar pemuda hebat! ' pikir Bram.
Prok ...
Prok ...
Prok ...
Suara tepuk tangan dari Bram. "Kau cukup pantas menjadi menantuku.. Samuel Ali Wirantara.. Ketua CIA ( Central Entelegence Agency ) Badan Inteligen paling terkenal di dunia.. Kau cukup kuat untuk melindungi anakku." Ucap Bram. Ia mengetahui rahasia Samuel yang paling rahasia.
Selain menjadi orang brandal pun, Samuel juga merupakan seorang Ketua dari CIA [ Central Entelegence Agency ] adalah perusahaan Intel terbesar di dunia terletak di Amerika Serikat. Ntah sejak kapan Samuel menjadi ketua di sana, namun darimana Bram tahu rahasia tentang Samuel?
Samuel menyunggingkan senyum nya tipis. " Anda cukup hebat mengetahui rahasia saya, Bram Maheswari. Ketua Gangster Bloods Gang yang paling di takuti orang-orang di Meksiko ini.. Tapi kenapa anda bisa ada di sini? Menjadi Ayah dari Adara Maheswari? "
Tanya Samuel, dengan gaya khas nya. Ia juga mengetahui siapa Ayah Adara, dan seberapa berbahaya nya dia. Namun rasa takut itu tak ada artinya di bandingkan dengan rasa takutnya untuk mendapatkan restu nya menikahi Adara.
"Hahahaha..."
Tawa menggelegar Bram memenuhi ruangan itu. "Kau memang pantas menjadi menantu ku nak, berdirilah!"
Samuel berdiri, ia sekarang sudah sangat lega dengan Ayah Adara yang menerimanya / merestui nya dengan Adara.
"Adara!" Panggil Bram.
Tak...
__ADS_1
Tak...
Tak...
Suara langkah kaki cepat Adara menuruni tangga, sedaritadi Adara sangat khawatir dengan Samuel. Ia takut Ayahnya melukai Samuel.
Dan benar saja, ketika Adara sampai di bawah. Ia di kejutkan dengan darah yang bercucuran di lantai, tentu saja darah itu milik Samuel. Bahkan belati nya saja masih menancap.
"Ayah!" Adara menatap Ayahnya. Padahal Ayahnya sudah berjanji.
"Ayah berjanji tidak membunuh nya, bukan tidak melukai nya. Kamu bantu obati dia, setelah itu Ayah tunggu di ruang makan."
Ucap Bram kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Astagah.. Tangan mu.." Adara menatap sedih dengan raut bersalah.
"Maafkan aku.."
"Tidak apa-apa Sweetie~
Ini hanya luka kecil, yang terpenting sekarang ayahmu merestui kita." Ucap Samuel dengan senyum mengembang. Tangan kirinya mengelus lembut surai kepala Adara.
Adara mengangguk, lalu ia berteriak memanggil bi Ntin.
"Bi!" Panggil Adara.
"Tolong bersihin ya bi. Jangan sampai Mama liat nanti." Ucap Adara, sembari menarik Samuel ke atas kamarnya.
"I, iya non.. "
-_-_-_-
Di kamar Adara.
Adara menarik Samuel untuk duduk di atas kasur berwarna pink itu. Lalu Adara melangkah kan kakinya mencari kotak obat di lacinya.
Samuel memperhatikan kamar tersebut, terdapat banyak sekali boneka. Serta foto-foto Adara di sana.
"Lucu.." gumam Samuel, menatap foto masa kecil Adara. Mata nya terus saja menyusuri foto-foto itu, hingga sebuah foto lain mengerutkan keningnya.
"Sam, sini obatin dulu tangannya. "
Ucap Adara setelah berhasil menemukan kotak obat itu. Sekarang ia duduk di sisi Samuel sembari menatap luka yang terus mengalirkan darah.
Dengan perlahan Adara menarik belati yang menancap di tangan Samuel, dengan sangat was-was dan khawatir. Tapi tak ada sedikitpun ringisan sakit dari Samuel. Malahan wajah Samuel terlihat datar.
__ADS_1
"Sam-- "
"Siapa laki-laki itu??"
Belum sempat Adara memanggil nama Samuel, tetapi Samuel langsung memotong nya dan bertanya mengenai sebuah foto.
Dimana terdapat foto Adara semasa kecil yang terlihat sangat akrab dengan seorang bocah laki-laki. Mereka berdua berpelukan, dan hal itu membuat Samuel cemburu.
"Hah? Maksud kamu apa? Laki-laki siapa?" Tanya Adara bingung.
Samuel tak menjawab, matanya menatap tajam pada foto itu. Adara pun mengikuti arah tatapan Samuel.
Lalu ekor matanya menangkap foto tersebut.
"Itu foto aku waktu kecil." Ucap Adara. Tangan nya mulai bekerja mengobati luka Samuel.
"Terus, laki-laki itu siapa?" Tanya Samuel yang kemudian sudah menatap Adara.
Adara mendongak, kemudian menjawab. "Dia Bara, dulu dia tetangga aku. Aku sama dia temenen waktu kecil." Ucap Adara memberi tahu. Matanya kembali fokus mengobati.
'Sial! kenapa tidak aku saja yang menjadi teman masa kecil Adara! ' Amuk Samuel dalam hatinya.
"Terus sekarang kamu masih temenan sama dia?" Tanya Samuel dengan bibir mengerucut sedih.
Adara tersenyum kecil melihat ekspresi sedih Samuel, ia tahu pasti Samuel sedang cemburu. "Nggak kok, sekarang aku sama dia udah nggak deket lagi." Jawab Adara, yang membuat Samuel langsung mengembangkan senyum cerahnya.
"Dia udah pindah pas aku SMP, jadi kami nggak berhubungan lagi deh. Nomor telepon nya juga udah gak aktif." Sambung Adara lagi, membuat senyum cerah itu hilang kembali dengan rautan Samuel yang bertanya dengan penuh rasa Cemburu dan posesif.
"Kamu masih inget sama dia?" Tanya Samuel, dan di angguki oleh Adara.
"Kamu suka sama Bara?!" Tanya Samuel lagi. Dan di angguki oleh Adara lagi.
'Eh...'
Adara terdiam, ia akhirnya sadar dengan anggukan nya itu. "Enggak Sam, maksud aku bukan gitu.. "
"Kamu suka sama dia?! Kan udah ada aku. Huwaa. " Tangis Samuel memeluk erat tubuh Adara.
Adara tak bisa menahan pelukan itu, dan berakhir dengan ia yang terjatuh.
Brugh!
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
**Tolong dukungan nya guy's...
__ADS_1
Ujian Author udah selsai, semoga author bisa update setiap hari 🙏
Berikan Like, Komentar, Pavorit, Vote dan Gif **