
...π₯π₯π₯...
Sementara di salah satu kamar hotel, tampak seorang wanita tengah bersenandung senang, di bawah guyuran air shower. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, dari Yoga meski hanya sesaat.
"Lo emang paling bisa muasinnn gw, Yoga!" gumam Tissa.
Kini Tissa berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin, melihat tanda ke pemilikan yang di buat Yoga kemarin malam.
"Lo emang berhasil nikah sama Yoga, tapi saat ini, lo gak ada artinya lagi di mata Yoga. Karena hati Yoga cuma milik gw seorang! Cepat atau lambat, pernikahan kalian pasti akan hancur, Yoga akan tetap bersama dengan gw, jadiin gw satu satunya wanita yang pantes buat jadi istrinya." Tissa mengepalkan tangannya, dengan matanya yang menatap tajam seolah di hadapannya berdiri Pricil.
Di dalam kamar hotel lain, Yoga dan Pricil mendudukan diri mereka di tepian kasur. Yoga menatap Pricil penuh dengan ke sungguhan, menyembunyikan kemarahannya dari Pricil, menangkup wajah chabi Pricil yang memiliki hidung mancung, bibir tipis, mata coklat.
"Tidak pernah terbesit di benak ku untuk menghianati mu, Pricil!" kata dusta meluncur bebas di bibir Yoga, hati ku bukan lagi untuk mu, ada wanita lain yang mengisi relung hati ku.
"Sungguh? Apa aku bisa mempercayai mu, Yoga?" tanya Pricil dengan penuh selidik, mencari kebenaran atas perkataan Yoga.
Dengan penuh penekanan, ke dua mata yang menatap tajam, Yoga berujar, "Tentu saja, atau kau ingin aku mati dulu. Untuk membuat mu percaya pada ku? Selama ini kau tidak pernah meragukan cinta ku, kan?" sialannn Pricil pasti mulai terpengaruh dengan perkataan pria sialannn itu!
Grep.
Pricil memeluk erat tubuh Yoga, "Jangan katakan itu Yoga! Maaf jika sedikitnya hati ku meragukan mu. Karena yang aku tahu Alex tidak pernah berbohong pada ku, dan aku juga tau kamu sangat mencintai ku. Maaf, a- aku ---"
Yoga meraih pinggang Pricil, memberinya jarak dari tubuhnya, menatap marah wajah Pricil, Yoga menaikkan suaranya 1 oktaf, "Jika kau lebih percaya padanya, untuk apa aku berada di sini hem? Lebih baik aku pergi, menjadi seperti apa yang di katakan teman mu itu! Masuk ke dalam kamar hotel wanita lain? Masuk ke dalam toilet wanita? Apa lagi? Aku harus bercumbuuu dengan wanita lain?"
Pricil mengerutkan keningnya, dengan kepalanya yang menggeleng, matanya memanas dengan kelopak mata yang menganak sungai, dadanya seketika sesak, "Jangan katakan itu Yoga! Itu tidak akan mungkin kau lakukan pada ku kan?" Air mata Pricil luluh, menerobos membasahi pipinya yang chabi.
Yoga beranjak dari duduknya, tangannya mengepal, satu satunya cara biar Pricil berfikir seribu kali buat gak percaya sama gw! Emang dia pikir, dia siapa? Kalo bukan bantuan dari orang tua gw, dia dan keluarganya pasti udah jadi gembel.
Pricil ikut beranjak, meraih tangan Yoga yang masih mengepal, namun langsung di tepis oleh Yoga. Yoga membalikkan tubuhnya, menatap Pricil dengan marah.
"Aku butuh waktu Pricil, aku tidak menyangka dengan apa yang baru saja aku dengar! Ku pikir kau akan mempercayai ku, ternyata wajah polos mu hanya ke palsuan belaka!" bentak Yoga, kakinya hendak melangkah. Namun urung setelah mendengar dering telpon dari hape Pricil.
Dring dring dring dring.
__ADS_1
Yoga dan Pricil sama sama menatap ke benda pipih, yang tengah menjerit, meminta si empunya hape untuk menjawab panggilan teleponnya.
Grap.
Yoga meraih hape yang ada di atas kasur dekat Pricil berdiri. Menatap tajam, setelah tahu siapa yang menghubungi istrinya itu.
Mau apa lagi Alex menghuni Pricil? Sejak kapan mereka berhubungan? Sialll, Alex benar benar harus aku jauhkan dari Pricil.
Yoga mengarahkan layar hape Pricil ke wajah Pricil, "Kau lihat ini! Biang masalah dalam hubungan kita, mencoba menghubungi mu! Sejak kapan kau berhubungan dengannya? Dia pasti ingin bertanya pada mu, memastikan jika kita bertengkar hebat! Lalu kau akan mengadu padanya? Bersandar padanya? Jangan harap!"
Yoga menyimpan hape Pricil di saku celananya, setelah ia menonaktifkan hape Pricil.
Pricil mengejar Yoga yang melangkah ke arah pintu.
"Yoga kau mau ke mana? Jangan pergi Yoga! Yoga!"
Brak.
Yoga menghilang di balik pintu, setelah menutupnya dengan keras.
"Anggap ini pelajaran buat lo, Pricil!" Yoga membuang nafasnya dengan kasar, lalu melangkah dengan wajah setenang mungkin.
Di dalam kamar, Pricil berusaha membuka hendle pintu, dengan sesenggukan.
Ceklek ceklek ceklek.
"Kenapa kau mengunci ku Yoga, kita bisa bicarakan ini baik baik. Dengan sikap mu yang seperti ini, aku merasa tidak mengenal mu lagi, kemana Yoga ku yang selama ini aku kenal?" dengan kaki yang lemas, Pricil meluluhkan tubuhnya ke lantai dengan bersandar pada pintu.
Pricil kembali berseru, dengan telapak tangannya yang menggebrak gebrak pintu.
"Buka pintunya Yoga!"
Brak brak brak.
__ADS_1
βοΈDi lantai lain, kamar hotel lainβοΈ
Tissa bersandar manja pada Yoga, yang mendudukan diri mereka berdua di sofa ruang tamu kamar hotel.
Kamar hotel mewah, yang lengkap dengan fasilitasnya, bukan kamar hotel biasa, Tissa memesan kamar hotel untuk pasangan yang sedang berbulan madu.
"Kau tahu sayang, sepertinya kau sudah mulai pandai berdusta pada istri mu? Istri baru mu!" Tissa memainkan jemarinya di dada bidang Yoga.
"Aku tidak akan berdusta jika dia tidak memulainya, sayang!" ujar Yoga, dengan tangannya yang menelusuppp di balik baju belakang Tissa.
"Apa kau tidak kasihan padanya, sayang? Baru 2 hari kau menikah dengannya, kau sudah membuatnya menangis?" tanya Tissa dengan jemarinya, yang mulai melepasss satu persatu kancing kemeja pada tubuh Yoga.
"Untuk apa kasihan, dia pantas mendapatkannya!" Yoga berhasil melepasss pengait, pada bagian helai belakang tubuh Tissa.
"Kau juga pantas untuk mendapatkan tubuh ku, sayang! Hanya aku kan yang berhak untuk tubuh mu ini!" Tissa menyeringai.
Pasangan tidak tahu malu, pasangan yang bukan berstatus suami istri itu kembali bermain gila, menghabiskan hari mereka di atas ranjang.
...βοΈAlexβοΈ...
Sementara Alex sedang mondar mandir, bak teriskaan yang sedang menggosokkk kemeja lecekkk.
Terus mencoba menghubungi nomor telepon Pricil berkali kali, "Kenapa Pricil tidak menjawab panggilan ku? Apa yang sekarang sedang terjadi pada mereka? Apa setelah ke jadian di wahana permainan tadi, mereka bertengkar hebat? Sialll, harusnya aku bisa lebih bersabar lagi, membawa bukti penghianatan Yoga, baru aku bongkar semuanya di depan Pricil. Aku gegabah!" Alex merutuki kebodohannya, tangannya terus menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Aku harus bagai mana sekarang? Apa yang bisa aku lakukan untuk Pricil sekarang? Aaah sialll.
Bersambung...
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.
Kalo suka, lanjut baca π. Kalo gak suka, tinggalkan π
__ADS_1
Jangan lupa π bergerak