Sandaran Penuh Dusta

Sandaran Penuh Dusta
Jatuh terpuruk


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


"Jangan pernah menunggu ku, Alex. Karena bagai mana pun, apa pun yang terjadi. Aku pasti akan tetap bertahan di sisi Yoga." ucap Pricil dengan tegas, beranjak dari duduknya, meninggalkan Alex begitu saja.


Alex menatap ke pergian Pricil, membiarkan Pricil dengan ke sendiriannya, memberikan waktu untuk wanita yang kini di landa duka dan ke bimbangan.


Alex mengepalkan tangannya, sampai kapan pun... aku akan tetap menunggu mu Pricil. Aku yakin kau akan menjadi milik ku, ke bahagiaan mu ada bersama dengan ku.


🌅🌅🌅


Beberapa hari ke mudian.


Media di hebohkan dengan berita kecelakaan, yang di alami oleh Prayoga, anak dari seorang pengusaha tersukses di kota Medan. Yang semakin membuat publik bertanya tanya, adalah sosok wanita yang ikut menjadi korban bersama dengan Prayoga.


Hingga berita kecelakaan menjadi viral di media online dan media lainnya. Rumah sakit pun di jaga ketat, oleh orang orang dari pihak keluarga Prayoga.


Beberapa berita yang menjadi trending di media online, azab pengantin baru yang berselingkuh, tikungan maut pengantin pria, tikungan maut pembawa duka, hasil menghianati istri, dan masih ada beberapa judul lainnya.


Keluarga Prayoga memindahkan Yoga ke rumah sakit besar di kota ternama, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik, dengan peralatan serta tenaga medis yang lebih mumpuni.


Sementara Tissa, dengan pertimbangan dari dokter dan keluarga. Di larikan ke rumah sakit yang berada di luar negeri, untuk menjalani pencangkokan jantung.


Sebelum Tissa di bawa ke luar negeri, untuk mendapatkan perawatan. Pricil lebih dulu menemui Tissa, berbicara padanya meski Pricil tahu, tidak akan mendapatkan jawaban dari wanita yang menjadi korban kecelakaan bersama dengan suaminya.


"Tissa, nama mu sangat lah bagus, cantik... secantik wajah mu saat sebelum mengalami kecelakaan, entah apa yang sudah kalian perbuat. Hingga kalian bisa berada di lokasi yang sama, saat kecelakaan itu berlangsung. Dalam benak ku, dalam pemikiran ku, aku selalu bertanya tanya, ada hubungan apa antara kau dengan suami ku, Yoga. Aku hanya berharap kau segera pulih, bisa menjelaskan pada ku, apa yang sebenarnya terjadi." Pricil menatap wajah Tissa, dengan tatapan yang sulit di artikan, namun ke dua matanya mengembun.


Seperti mimpi, Tissa menggenggammm jemari Pricil yang ada di dekat jemarinya.


Dalam keadaan mata yang terbuka, Tissa mengatakan dengan perlahan dan terputus putus, meski Pricil mencoba untuk memahami apa yang Tissa katakan, dengan mendekatkan telinganya di mulut Tissa.


"Ma- af... a- ku su- dah ja- hat pa- da- mu... a- ku i- ingin ber- sa- ma de- ngan su- a- mi mu. Yo- ga, ke- ka- sih ku."


Pricil yang tidak mengerti dengan perkataan Tissa pun mencoba membujuk Tissa, untuk mengulangi perkataannya.


"Maaf Tissa, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan." ucap Pricil dengan wajah kecewa, karena tidak mampu mengerti akan berkataan Tissa.


"A- ku min- ta ma- af, a- ku i- ngin ber- sa- ma de- ngan Yo- ga. Di- a mi- lik ku." ucap Tissa dengan nafas yang tersengal sengal dan monitor yang ada di dekat ranjangnya berbunyi nyaring.


Niiiiiiiiiit.

__ADS_1


Menjadi pertemuan pertama dan terakhir bagi Pricil untuk bertemu dengan Tissa, karena setelah itu. Tissa di larikan ke luar negeri.


🌅


Satu minggu berikutnya.


Seperti biasanya, pada pagi dan sore hari, Pricil akan menyeka tubuh Yoga sambil mengajak Yoga bicara, meski Yoga belum pulih seperti sedia kala. Tapi Yoga sudah mampu merespon dengan gerakan jarinya.


Pricil berdiri di sisi ranjang Yoga, tangannya dengan cekatan dan hati hati menyeka tubuh Yoga, dengan handuk kecil yang sudah di basahi air hangat.


"Kau tahu Yoga, aku selalu berharap, dan bermimpi kita bisa berkeliling kota bersama. Aku takut bermimpi dan menghayal terlalu muluk, jika pada kenyataannya aku harus jatuh terpuruk, dengan kenyataan pahit yang harus aku hadapi. Kenyataan aku sangat berharap kau bisa pulih, bisa menjawab setiap pertanyaan ku, aku sangat penasaran Yoga, siapa itu Tissa? Kau tahu, setelah aku desak... Bayu mengatakan jika kalian menjalin hubungan, aku tidak ingin mempercayainya Yoga, ku tutup mata dan telinga, aku hanya akan mendengar dan mempercayai apa yang akan kau katakan pada ku, aku yakin... suami ku yang sangat aku cintai. Tidak akan mungkin menghianati ku." ucap Pricil dengan tersenyum getir, bulir bening merembasss lagi dari pelupuk mata Pricil.


Entah sudah berapa banyak, air mata yang menetes dari ke dua mata Pricil, menangisi Yoga yang belum juga pulih dari kondisinya.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tanpa terasa sudah genap 2 bulan, setelah kejadian kecelakaan yang membawa Yoga pada kondisi saat ini.


Pricil yang merupakan seorang arsitek muda, di perusahaan yang Yoga pimpin. Sedangkan selama Yoga sakit, perusahaan di pimpin kembali oleh orang tua Yoga.


Pricil melakukan pekerjaannya secara online, mengirimkan hasil disein yang ia buat lewat email. Beberapa tender pun di tangani oleh Pricil dengan hasil diseinnya.


"Yoga memang tidak salah memilih mu sebagai pendampingnya, nak! Kalian berdua bisa saling melengkapi." puji sang ayah mertua, melalui video zoom yang di lakukannya saat selesai dengan rapat yang di lakukan secara virtual.


"Bagai mana dengan keadaan Yoga, apa sudah ada perkembangan?" tanya sang ayah mertua pada Pricil.


"Yoga baru bisa merespon dengan gerakan jarinya yah, mudah mudahan dalam waktu dekat, Yoga bisa pulih seperti sedia kala, yah!" terang Pricil.


"Kau yang sabar ya, nak! Ayah yakin, dengan ke sabaran mu... Yoga pasti akan segera pulih dari kondisinya." terang sang ayah mertua.


"Semoga yah." meski hati ini sudah mencapai putus asa, aku hanya bisa berharap ada mukjizat dari mu ya Allah. Sang maha pencipta.


Pricil kembali menemai Yoga di ruang rawat, mengajaknya bicara dengan sesekali Bayu dan Bowo ikut berkunjung menemui Yoga. Ikut serta mengajak Yoga bicara, meski mereka merasakan hal yang sama, tidak mendapat jawaban secara langsung dari Yoga, selain gerakan jemari Yoga yang merespon.


Di sore yang cerah itu, Pricil menyeka kembali tubuh Yoga, dengan air hangat menggunakan handuk kecil.


"Sayang, apa kau tidak lelah terus berbaring seperti ini? Aku rindu jalan jalan bersama dengan mu. Aku rindu saat kita menghabiskan waktu bersama, apa kau tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan ku kembali? Apa kau tidak merindukan masa masa kita bersama? Aku merindukan mu, Yoga. Dalam setiap sujud ku, ku selipkan doa untuk ke sembuhan mu. Buka lah mata mu Yoga, aku menantikan kehadiran mu, menantikan imam ku, menantikan canda tawa mu." terang Pricil.


Namun tanpa Pricil sadari, bulir bening menetes dari sudut mata Yoga. Ke dua matanya mulai mengerjap. Seolah mengerti dengan perasaan yang kini tengah Pricil rasakan.


Pricil menyimpan baskom kecil dan handuk, yang ia gunakan untuk menyeka tubuh Yoga, di atas meja kecil yang ada di sudut ruang.

__ADS_1


Yoga berujar dengan pelan, bahkan suaranya tidak terdengar oleh Pricil, "Pricil."


Pricil yang merasa jika di panggil namanya pun, hendak menolehkan wajahnya ke arah ranjang rawat Yoga, namun di luar dinding kaca rawat. Alex melambaikan tangannya, memanggil Pricil untuk menghampiri dirinya.


"Tunggu!" seru Pricil menatap Alex.


Pricil menghampiri Yoga, melihat ada yang aneh pada sudut mata Yoga, Pricil mengerutkan keningnya, di hatinya ada rasa bahagia dengan perkembangan baru dari diri Yoga.


"Yoga, kau menangis?" Pricil menghapus jejak air mata, yang membasahi wajah Yoga, Pricil menggenggammm jemari Yoga, "Ada aku di sini, kau harus sadar Yoga! Aku menanti mu kembali bersama dengan ku!" Pricil menekan tombol darurat, yang ada di ruang rawat Yoga.


Alex yang berada di luar ruang rawat merasa heran dengan apa yang di lakukan Pricil, ada apa dengan Yoga? Apa bajingannn itu masih di beri ke sempatan untuk hidup yang ke dua?


Dokter dan suster hendak memasukiii ruang ICU, tempat di mana Yoga berada.


"Ada apa sus, dok?" tanya Alex saat dokter dan suster, berada di depan pintu hendak masuk ke dalam ruang rawat ICU.


"Kami sendiri belum tahu apa yang terjadi di dalam, pak... berharap saja akan ada kabar baik." jawab dokter dengan masuk ke dalam ruang rawat ICU, dengan di ikuti oleh suster yang bejalan di belakangnya.


Alex melihat ke dalam ruang ICU, melihat wajah bahagia penuh haru dari Pricil, kabar baik? Jika kabar baik itu adalah ke matian Yoga, aku jauh akan lebih bahagia. Dan tidak akan pernah aku sia siakan diri mu, Pricil.


"Dok, Yoga... Yoga menangis dok, dia, dia menitikan air mata!" terang Pricil dengan haru.


"Biarkan dokter memeriksakan keadaan pak Yoga... ibu tunggu di luar dulu ya!" sister menggiring Pricil ke luar dari ruang rawat ICU.


"Ada apa Pricil? Ada apa dengan Yoga?" tanya Alex dengan menatap Pricil dengan penuh tanya.


"Alex!"


Grap.


Bersambung...


...🔥🔥🔥🔥🔥...


Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.


Kalo suka, lanjut baca 😊. Kalo gak suka, tinggalkan 😊


Jangan lupa 👍 bergerak

__ADS_1


__ADS_2