
...π₯π₯π₯...
Alex mengerutkan keningnya, mendengar ocehan Bayu dan Bowo, "Jadi kalian sudah tau, apa yang Yoga lakukan di belakang Pricil?" tanya Alex dengan tatapan yang menyelidik.
Bowo menyenggol lengan Bayu dengan sikunya, "Lo sih, pake ngoceh! Gak tau apa kita di sini gak cuma berdua, masih ada orang laen!" sungut Bowo.
"Jika yang kalian bicarakan orang lain itu adalah gw, kalian salah. Harusnya kalian tidak hanya diam saja sebagai sahabat Yoga, kalian bisa saja menasehati Yoga untuk menjauhi wanita itu! Menyadarkannya jika dirinya kini sudah beristri!" gerutu Alex.
"Udah deh, gak usah bahas itu sekarang! Gak liet apa, Pricil pasti syok ngadepin ini semua!" gumam Bayu.
Alex melihat ke dalam ruang rawat dari dinding kaca, ia melihat ke sedihan yang terpancar di mata Pricil.
Alex mengepalkan tangannya, andai aku datang lebih awal, ku pastikan kau tidak akan berada di posisi yang sulit seperti ini Pricil.
π₯π₯π₯
Pricil terus menemani Yoga yang saat ini masih berada di ruang ICU, dengan berbagai alat yang terpasang pada tubuhnya. Ruang yang hanya terdengar bunyi, dengan nada yang sama. Bunyi yang berasal dari mesin monitor, yang menunjukkan grafik antara hidup dan mati
Pricil mendudukan dirinya di kursi, yang ada di dekat ranjang rawat Yoga, ke dua mata Pricil kembali mengembun.
Pricil mengajak bicara Yoga, berharap Yoga bisa mendengarkan suaranya, dan dapat kembali sadar dari tidurnya, yang entah kapan ia akan membuka kembali ke dua matanya.
Pricil menggenggammm jemari Yoga, "Aku tidak menyangka Yoga, baru tadi pagi kita menghabiskan waktu bersama, siang kita bertengkar. Hingga dalam jangka waktu dekat, kau kunci aku di dalam kamar hotel sebanyak 2 kali dalam hitungan jam. Aku tidak menyangka Yoga, kau suami ku, bisa tega meninggalkan aku di dalam kamar hotel, dan aku dapat kabar kau bersama dengan wanita lain dalam ke adaan kecelakaan. Sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan di belakang ku, Yoga?" Pricil menahan tangisnya, menatap Yoga dengan hati yang penuh tanda tanya.
"Apa kau tau Yoga, aku mencintai mu, sangat sangat mencintai mu. Aku harap setelah kau sadar nanti, aku dapat mendengar kenyataan jika kalian... kau dan wanita itu tidak memiliki hubungan. Hati dan jiwa ku tidak akan sanggup, jika kalian benar benar memiliki hubungan. Cukup sekali aku ke hilangan cinta pertama, tapi untuk kali ini, aku tidak ingin ke hilangan mu, meski kau bukan cinta pertama untuk ku."
"Kau tahu Yoga, aku sangat beruntung bisa memiliki mu, selama bersama mu, kau selalu membuat hari ku selalu berwarna. Meski berkali kali dalam menjalin hubungan, kau suka menghilang entah ke mana, entah apa yang kau lakukan. Tapi meski begitu kau akan tetap kembali pada ku. Cepat lah bangun Yoga, kita bina rumah tangga kita yang baru kemarin. Kau dan aku memasuki gerbang pernikahan. Kita bina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah, menempati apartemen milik mu, kita habiskan waktu bersama, membesarkan anak anak kita kelak. Jangan buat aku hidup dalam hayalan penuh ke palsuan Yoga! Bangun lah Yoga, buat hayalan yang sudah kita bangun bersama, menjadi sebuah kenyataan." air mata Pricil tumpah juga, dengan sesak di dada, ia menangis sesenggukan menutup mulutnya dengan tangannya.
Pricil ke luar dari ruang rawat Yoga, setelah melepas baju steril yang ia kenakan.
__ADS_1
"Kau baik baik saja, Pricil?" Alex langsung menghampiri Pricil, yang sudah ke luar dari ruang ICU.
"Maaf, Alex. Aku butuh sendiri." Pricil berjalan melewati Alex, Bayu dan Bowo.
"Biar ku temani diri mu!" Alex langsung mengikuti langkah kaki Pricil, berjalan di belakang wanita yang hatinya sedang rapuh.
Sementara Bayu dan Bowo, kini leluasa untuk membahas Yoga dan Tissa.
"Sepertinya salah satu di antara kita harus ada yang berani bertanya ke dokter, mengenai keadaan Tissa." usul Bowo.
"Kau benar, lagi pula bagai mana dengan keluarganya, apa pihak rumah sakit sudah mengabari keluarga Tissa?" Bayu yang sependapat dengan Bowo.
"Lo aja gih sana, yang tanya!" usul Bowo.
"Sialannn, gw pikir lo yang bakal tanyain ini ke dokter. Kenapa jadi gw?" sungut Bayu.
"Kan idenya dateng dari gw, jadi lo yang harus maju berhadapan dengan dokter. Jangan cuma di saat berhadapan para wanita, lo berani maju ya!" Bowo menyeringai.
Bowo beranjak dari duduknya, menarik tangan Bayu, "Gak ada alasan buat lo nolak, ayo sana jalan!" Bowo mendorong punggung Bayu.
"Ah kampretttt lo, mimpi apa gw punya temen kampretttt kaya lo!" sungut Bowo.
πΈπΈπΈ
Pricil ke luar dari rumah sakit, pergelangan tangan kirinya langsung di tarik oleh Alex.
"Alex, apa yang kau lakukan? Aku bisa jalan sendiri, Alex!" Pricil mencoba melepas kan tangannya dari genggamannn Alex.
Alex terus menuntun Pricil dengan terus mengoceh, dan membawanya ke taman rumah sakit, "Kau bisa jalan sendiri, tapi kau butuh pegangan untuk kau berjalan di jalan yang gelap! Kau butuh bersandar di saat hati mu rapuh. Aku yang akan memberikan itu semua untuk mu, Pricil!"
__ADS_1
Pricil berdiri di depan Alex, saling berhadapan, dengan ke dua mata yang saling menatap satu sama lain, dengan pemikiran mereka masing masing.
Pricil mengerutkan keningnya, apa maksud perkataan Alex? Apa yang sebenarnya sedang ia katakan?
Alex menatap Pricil dengan tatapan yang meneduhkan, dengan rasa percaya diri di hatinya, aku yakin Pricil akan mengerti dengan semua perkataan ku, dengan apa yang baru aku katakan.
"A- apa maksud mu, Alex?" tanya Pricil dengan tergagap, degup jantungnya kembali berdetak dengan kencang, setelah lama tidak pernah ia rasakan kembali.
"Aku mencintai mu Pricil, dari dulu. Dari saat kita masih di bangku sekolah. Apa pun yang aku lakukan, itu semua demi kamu. Aku mencintai mu, Pricil. Kau cinta pertama ku, cinta pandangan pertama ku!" Alex mengutarakan perasaan yang terpendam selama ini pada Pricil.
Jeger.
Bak tersambar petir di tengah malam, langit gelap menjadi saksi bisu, ungkapan perasaan yang di miliki Alex pada Pricil.
Pricil luluh ke atas tanah yang ia pijak, dengan terduduk lemas, dengan tatapannya yang seolah tidak percaya dengan Alex.
Rasa yang aku miliki pada Alex, ternyata terbalaskan. Perasaan ku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi saat ini, perasaan yang ku miliki untuknya, sudah berakhir dengan janji yang sudah aku ucapkan bersama dengan Yoga. Saat ini aku adalah istri Yoga, Prayoga.
Alex menyamakan tingginya dengan Pricil, menekuk satu kakinya di depan Pricil, Alex berlutut dengan satu tangannya, terulur menghapus jejak air mata yang meluncur bebas di pipi Pricil.
"Maaf Pricil, jika aku baru mengatakannya, aku hanya ingin membangun kerajaan bisnis ku dulu, baru setelah itu aku berniat untuk meminang mu. Menjadikan mu satu satunya ratu dalam hidup ku. Namun sayangnya aku terlambat, kau sudah memutuskan untuk menikah dengan Yoga. Mendampingi Yoga, tapi kau tenang saja Pricil. Aku akan selalu mendukung apa pun yang kau lakukan, tapi di saat kau tidak lagi mau bertahan dengan rumah tangga mu, pintu hati ku akan selalu terbuka untuk mu." ujar Alex dengan panjang lebar.
"Jangan pernah menunggu ku, Alex. Karena bagai mana pun, apa pun yang terjadi. Aku pasti akan tetap bertahan di sisi Yoga." ucap Pricil dengan tegas, beranjak dari duduknya, meninggalkan Alex begitu saja.
Bersambung...
...π₯π₯π₯π₯π₯...
Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.
__ADS_1
Kalo suka, lanjut baca π. Kalo gak suka, tinggalkan π
Jangan lupa π bergerak