
...🔥🔥🔥...
"Waaaah Yoga, ini sangat indah sekali, ya ampuuuuun, mimpi apa aku, bisa di ajak ke tempat sebagus ini dengan mu, Yoga!" Ujar Pricil yang di buat takjub dengan bunga yang sedang bermekaran.
"Ini bukan mimpi, Pricil. Tapi nyata." Yoga terkekeh di buatnya.
Pricil dengan riang berjalan ke sana dan ke mari, menikmati indahnya bunga yang sedang bermekaran. Dengar warna warni serta bentuk yang berbeda. Semakin cantik dengan taman yang di bentuk sedemikian rupa.
"Apa kau ingin menaiki wahananya, sayang!" Tanya Yoga dengan menyusul dan mengimbangi langkah kaki Pricil.
"Pasti dong... tapi bukannya kamu takut ke tinggian, Yoga?" Tanya Pricil dengan menatap lekat wajah Yoga.
"Aku bisa mendampingi mu naik itu!" Yoga menunjuk wahana permainan kemidi putar yang banyak di taiki oleh anak anak dengan di dampingi orang tuanya.
"Boleh juga."
"Kau tunggu di sini, biar aku yang beli tiketnya." Yoga meminta Pricil untuk menunggunya, selama iya mengantri untuk membeli tiket.
"Oke."
Pandangan Pricil mengarah pada biang lala, perahu kora kora, dan beberapa permainan lainnya yang menantang adrenalinnn.
Tidak berapa lama, Yoga kembali menghampiri Pricil, dengan 2 tiket di tangannya.
"Ayo sayang!" Yoga menggenggammm jemari Pricil, dan membawanya memasuki area permainan, menyerahkan tiketnya pada penjaganya.
Pricil dan Yoga, sama sama mendudukan diri mereka di wahana yang berbentuk kuda.
"Bagai mana, apa kau suka?" Tanya Yoga yang melihat Pricil tampak menikmatinya.
"Tentu saja, ini mengingatkan ku pada saat dulu, saat aku masih..." Pricil menjeda perkataannya menatap lekat wajah Yoga, menimbang apa yang akan ia ucapkan, saat itu aku dan Alex bermain di bazar malam, ada banyak permainan, hampir semua permainan itu aku dan Alex menaikinya. "Apa kau ingin naik itu, Yoga?" Pricil mengurungkan niatnya untuk berkata, dan memilih untuk mengalihkan perhatiannya dengan permainan yang lain.
Yoga mengerutkan keningnya, sebenarnya apa yang ingin Pricil katakan tadi ya?
Pricil menepuk nepuk bahu Yoga yang ada di sisinya, "Yoga! Apa kau ingin naik itu?" Tanya Pricil lagi dengan menunjuk jari telunjuk kanannya pada wahana biang lala.
__ADS_1
Yoga menatap ke arah yang di tunjuk Pricil, ia langsung membola, "A- apa? Ki- kincir angin? Aku tidak mau! Yang benar saja, tidak ada permainan yang lain apa... yang bisa kita naiki bersama!" Gerutu Yoga dengan tangannya yang mengepal.
Pricil tergelak mendengar perkataan Yoga, dengan satu tangan memegangi perutnya, sementara kemidi yang mereka taiki terus berputar dengan kecepatan sedang.
"Ahahhaha yang benar saja Yoga, itu bukan kincir angin, itu namanya biang lala, mana ada kincir angin bisa di taikin. Kau ini, ada ada saja Yoga!" Ucap Pricil setelah menghentikan tawanya.
"I- iya apa pun itu namanya, aku tidak bisa menaiki itu, kita cari saja permainan yang lain. Yang bisa aku dan kau taiki." Yoga enggan menaiki wahana permainan biang lala.
"Tapi aku ingin menaiki itu, sayang!" Pricil memasang wajah memelas, dengan ke dua tangan yang mengatup di depan wajahnya, ke dua mata ia pejamkan, "Aku saja kalo kau tidak bisa menaikinya, please Yoga!" Imbuhnya lagi.
Yoga menatap jengkel Pricil, benar benar tidak pengertian, sudah tau aku takut ke tinggian, tapi Pricil malah merengek minta naik kincir angin yang di sebut biang lala itu, yang benar saja.
Pricil membuka satu persatu matanya, lalu memainkan satu alisnya, naik turun, "Boleh kan aku menaikinya, tanpa mu sayang ku! Manis ku! Cinta ku! Laki laki yang baru kemarin menikahi ku!" Ujar Pricil dengan manja, tangannya menggelayut manja di lengan kekar Yoga.
Yoga membuang nafasnya dengan kasar.
"Baik lah." Yoga mengalah.
Pricil memeluk tubuh Yoga dengan wajah senang, "Terima kasih, my husband."
Pricil mengecup pipi Yoga.
Bahana permainan yang di naiki Yoga dan Pricil pun berhenti. Ke duanya turun dari wahana itu, Pricil berjalan dengan semangat ke arah wahana biang lala, dengan tangannya yang menarik Yoga.
"Ayo dong Yoga, aku udah gak sabar nih pengen naikin biang lala." Ucap Pricil.
"Kau tunggu di sini. Aku akan belikan tiket untuk mu." Ucap Yoga.
Pricil mengangguk patuh, melihat ke arah biang lala yang berputar searah dengan jarum jam.
Sementara di tempat lain, Alex dan Bella belum juga menemukan Yoga dan Pricil. Meski mereka sudah berada di tempat yang sama, taman bunga, namun dengan banyaknya pengunjung, mempersulit mereka untuk menemukan ke beradaan Pricil dan Yoga.
"Ini semua gara gara kamu tahu gak! Coba aja tadi gak pake muter jalan dulu, sekarang di mana lagi itu Yoga!" Gerutu Bella.
"Siapa suruh kau tidak ikut mengawasi mobil mereka berbiluk ke mana, pasti tidak akan seperti ini hasilnya." Alex menggulung lengan kemeja yang ia kenakan.
__ADS_1
"Apa mungkin kalo Pricil dan Yoga ada di wahana taman bermain?" Tebak Bella.
Sepasang mata elang, langsung menatap tajam pada Bella, "Dasarrr wanita bodoh! Kenapa baru sekarang kau katakan!" Sungut Alex, Pricil pasti ada di wahana permainan, dia kan sangat senang dengan permainan.
"Aku kan baru ingat kalo taman ini juga memikili wahana permainan yang menantang adrenalinnn, gak kalah seru dengan taman mini, ada kemidinya gitu." Celetuk Bella yang jalan dengan santai di belakang Alex. Bahkan Bella jauh tertinggal dari langkah Alex.
Alex menoleh ke belakang, "Kalo kau jalan seperti itu, yang ada kita akan kehilangan jejak mereka lagi! Kau mau itu terjadi?" Ucap Alex dengan ketus.
"Iya juga ya, apa yang kau katakan." Bella berlari kecil untuk menyamai langkah kaki Alex.
Di saat Bella berlari, ia tidak memperhatikan sekitarnya, dan hanya fokus ke depan. Membuatnya menubruk seorang gadis kecil, yang tengah memegang es krim.
Bugh.
"Awhhhh." Pekik Bella.
"Hiks hiks hoaaaa sakit, es krim aku jatoh hoaaaaa."
Anak kecil dengan kuncir dua di kepalanya itu menangis seja jadinya.
Bukannya meminta maaf pada anak kecil itu, Bella justru memarahi anak kecil yang menangis itu dengan suara tinggi.
"Heh dasar bocah! Baju ku ini lihat, karena kau kurang hati hati, baju ku jadi kena es krim mu kan! Aiihhs baju ku jadi kotor." Bella menyalahkan anak kecil itu, dan memarahinya.
Seorang wanita dengan kaca mata menengger di hidungnya, dengan topi menghiasi kepalanya, membangunkan anak kecil itu.
Ia mengeluarkan tisu dari tasnya, mengelapnya pada tangan kotor si anak kecil, sambil berkata dengan lembut, "Ada apa sayang?"
Anak kecil itu berkata dengan sesenggukan, mengadu pada wanita yang tidak lain adalah ibunya.
"Tante jahat itu menubruk ku, mom. Tante jahat itu juga sudah menjatuhkan es krim ku!" Ucapnya dengan menunjuk jari telunjuk kanannya pada Bella.
Bella beranjak dari duduknya, "Enak aja kalo ngomong, setan kecil! Kau yang jalan tidak punya mata!" Omel Bella.
"Bukan anak kecil ini yang salah!" Suara bariton dari belakang tubuh Bella, membuat Bella bergidik ngeri.
__ADS_1