Sandaran Penuh Dusta

Sandaran Penuh Dusta
Teman ku yang bodoh


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


[ "Dasarrr sayang, pasti istri bodohhh mu itu sedang bersama dengan mu kan?" ]


Prayoga menatap Pricil yang tengah memicingkan ke dua matanya padanya, bisa kacau kalo sampe Pricil curiga, lebih baik aku akhiri saja pembicaraan ku dengan Stella.


"Iya pak, kalo begitu sampai berjumpa lagi di pertemuan selanjutnya ya, pak!"


[ "Dasarrr kau, sayang jangan begitu lah pada ku! Aku masih merindu kan mu!" ]


"Besok pak, iya sebelum makan siang. Selamat bersenang senang pak!"


Prayoga langsung menutup panggilan teleponnya, dan menyimpannya di atas nakas.


"Apa besok, kau tidak makan siang dengan ku... Yoga?" Tanya Pricil yang melangkah ke arah lemari pakaian dan mengambil sebuah dress serta kain segi tiga pengamannn nya dari dalam sana.


Prayoga beranjak mendekati Pricil. "Tidak sayang, aku ada pertemuan dengan rekan bisnis ku, kami akan makan siang bersama.


Prayoga memeluk tubuh Pricil yang berbalut handuk. Mencium aroma tubuhnya dengan mengendus bahu serta leher Pricil.


Pricil menggerakkan kepalanya, "Geli sayang!" Ucap Pricil di iringi dengan desahannn, saat hembusan nafas hangat ke luar dari bibir Prayoga.


Tangan Prayoga merekat pada pinggang Pricil, ia membalikkan tubuh Pricil, hingga ke duanya saling berhadapan. Prayoga menatap intensss bola mata Pricil yang tampak jernih.


Prayoga mendaratkan bibirnya pada bibir Pricil, melumattt bibir bawah Pricil dengan perlahan, membuat Pricil memejamkan ke dua matanya, menikmatiii sentuhan yang di berikan Prayoga.


Sayangnya ciumannn yang di lakukan ke duanya tidak berlangsung lama, karena suara ketukan di pintu menyadarkan ke duanya.


Tok tok tok tok.


Pricil mendorong dada bidang Prayoga, dan berlari ke arah kamar mandi, dengan pakaian yang berada di tangannya.


Prayoga memukul angin, sialll... kenapa di saat aku akan menyentuhnya, aku selalu gagal.


Suara ketukan pintu terdengar lagi.


Tok tok tok tok.


Prayoga menatap ke arah pintu, "Iya, tunggu sebentar! Siapa lagi nih, pagi pagi sudah mengacau!" Ia melangkah kan kakinya ke arah pintu.


Prayoga melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya, lewat lubang kecil yang terdapat di pintu.


Ia mengerutkan keningnya saat mendapati wanita berparas cantik, salah satu teman kencannya tengah berdiri menghadap ke depan pintu.

__ADS_1


Ceklek.


Prayoga menoleh ke belakang, lalu menatap khawatir pada wanita yang ada di hadapannya.


"Mau apa kau datang ke sini, Bella? Pricil ada di dalam!" Gumam Prayoga.


"Biar saja, aku tahu Pricil ada di dalam." Bella menerobos masuk melewati tubuh Prayoga.


Grap.


"Akkhhh." Pekik Bella.


Prayoga menggenggammm pergelangan tangan Bella dan menariknya, membuat Bella menubruk tubuh Prayoga, dengan satu tangannya yang mendarat sempurna di bahu pria yang ia rindukan. Pria yang mampu memberikan ke hangatannn pada ranjangnya, pria yang mampu membuatnya menghianati sahabat nya sendiri.


"Kau jangan gila, Bella! Untuk apa kau ke sini? Apa kau ingin membuat Pricil menyadari akan hubungan kita?" Prayoga menatap tajam Bella.


Jemari Bella terulur menyentuh dan merabaaa wajah tampan, Prayoga, Bella berjinjit kecil untuk menggapai telinga Prayoga, lalu ia berkata dengan suara yang mendayu dayu.


"Kau tenang saja sayang, teman ku yang bodoh itu, tidak akan tahu hubungan kita ini! Aku hanya merindukan kalian berdua. Kalian pasti belum sarapan, aku ingin mengajak kalian untuk sarapan bersama!"


Ceklek.


Pinta kamar mandi terbuka, sedang kan Bella dan Prayoga kini sudah berjarak namun wajah Prayoga tampak tegang.


"Bella? Sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Pricil yang menyambut hangat sahabatnya.


"Baru saja, oh oya Pricil... kalian pasti belum sarapan, kita turun ke lantai bawah bersama yuk, aku canggung untuk sarapan seorang sendiri." Keluh Bella dengan mendaratkan bobot tubuhnya di sofa yang terdapat di kamar itu.


Prayoga membuang nafasnya lega, gw pikir Pricil bakal curiga, tapi ternyata dia ngak menaruh curiga, aman gw.


Prayoga mengeluarkan jaket berwarna hitam dari dalam lemari. Lalu ia kenakan di tubuhnya yang tegap.


"Kau mau pergi, Yoga?" Tanya Pricil yang sudah selesai dengan makeup tipis di wajahnya.


Yoga menghampiri Pricil, dengan tangannya yang membawa sepatu flat.


Prayoga mencondong kan tubuhnya, meletakkan sepasang sepatu flat hitam di depan kaki Pricil.


"Tentu saja, apa kau hanya ingin sarapan dan kembali ke kamar? Menghabiskan waktu seharian dengan ku di kamar ini?" Ucap Prayoga dengan mengerlingkan matanya.


"Apa sih kamu! Gak lah, aku ingin kita jalan jalan. Sayang loh pemandangan di hotel ini bagus, tapi kita gak nikmatin." Ujar Pricil yang kini mengenakan sepatu flat di kakinya.


Ia mengenakan tas selempangnya yang bergambar hello Kitty di bahu.

__ADS_1


Cup cup.


Prayoga mendaratkan kecupan di kening dan di bibir Pricil. Tangan nya merekat di pinggul Pricil, dengan tubuh yang saling menempel. Ke duanya berjalan bersama bak pasangan yang tidak bisa terpisahkan.


Bella beranjak dari duduknya, "Bagus ya kalian! Gak malu apa ada gw di sini! Gw udah berasa kaya nyamuk, tau gak!" Ucap Bella dengan sinis, dengan tatapan yang kesal pada Prayoga.


"Gw gak beranggapan kalo lo itu nyamuk ko Bel!" Pricil tersenyum menanggapi ocehan Bella.


Baginya Bella hanya bercanda, karena selama ini Pricil dan Bella sahabat baik.


"Makanya lo buru nikah, biar ada yang perlakuin lo mesra, kaya gw perlakuin Pricil!" Ledek Prayoga.


Tangan Pricil meraih dan menggenggammm jemari Bella, ke tiganya ke luar dari kamar hotel.


"Karena itu, ayo dong Pricil... lo harus cariin gw pasangan, yang seperti laki lo ini buat gw! Biar gw gak ngiri lagi sama lo!" Oceh Bella dengan mengerucutkan bibirnya.


Prayoga mengunci kamar hotelnya. Dan dengan tidak tahu malunya ia merangkul bahu Pricil di tangan kanannya, dan bahu Bella di tangan kirinya.


"Sudah jangan iri lagi! Lebih baik kita isi perut kita ini lebih dulu, setelah itu baru kita hang out." Ujar Prayoga dengan kerlingan mata pada Bella.


"Apa gw gak ganggu acara kalian, kalo gw ikut hang out?" Tanya Bella saat ke tiganya kini ada di dalam lift, kotak besi yang akan membawa ke tiganya menuju restoran yang ada di hotel itu.


Ke tiganya sarapan bersama di meja yang sama, dengan di iringi obrolan ringan dan canda tawa.


"Jadi, kalian akan pergi bulan madu ke mana? Terus kapan? Siapa aja yang akan ikut? Kalian akan pergi berapa lama?" Cecar Bella pada ke duanya.


"Kau ini Bella, udah kaya petugas sensus aja." Ujar Pricil.


"Masih aku rahasiakan, Pricil aja gak tau akan aku bawa ke mana. Masa aku harus mengatakannya pada mu?" Ledek Prayoga.


Bella yang kesal mendengar perkataan Prayoga pun, langsung menginjak kaki Prayoga yang ada di bawah meja. Membuat Prayoga meringis terkena tajamnya ujung high heels Bella.


"Awhhhh." Rintih Prayoga dengan tangan kanannya, yang segera mengusappp bagian kakinya, dengan tubuh tingginya yang condong.


"Kau kenapa, sayang?" Tanya Pricil mendapati tingkah aneh suaminya.


"Ehem ehem." Suara deheman dari jarak yang tidak jauh, mengusik ke tiganya, ke tiganya pun menoleh ke arah asal suara.


"Boleh aku bergabung dengan kalian?" Suara bariton dengan berat, menatap lembut Pricil, dengan senyum tipisnya.


Bersambung...


...🔥🔥🔥🔥...

__ADS_1


Bermula dari ke gabutan menjadi tulisan.


Jangan lupa like dan komen 🤭


__ADS_2