Sandaran Penuh Dusta

Sandaran Penuh Dusta
Yoga cukup licik


__ADS_3

...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


Tanpa berkata apa apa lagi, Yoga langsung mengenakan pakaian yang sudah di siapkan oleh Pricil.


"Kau mau ke mana lagi, Yoga?" tanya Pricil.


"Bukan urusan, mu!" seru Yoga dingin.


"Kenapa aku merasa seakan kau menyalahkan aku atas masalah kita ini, Yoga? Apa kau benar benar menyalahkan aku? Bukan kah ini juga ke salahan mu?" Pricil berdiri, menghampiri Yoga yang kini duduk di tepian kasur, dengan membungkukkan badan, tengah mengenakan sepatunya.


"Kau sendiri kan yang memperkeruh keadaan, siapa suruh kau tidak percaya pada ku! "


"Kembalikan hape ku, Yoga!" Pricil mengulurkan tangan kanannya di depan Yoga.


Yoga mengerutkan keningnya, menatap Pricil dengan tajam, "Apa kau sudah merindukan mantan teman sekolah mu itu? Hingga meminta ku untuk mengembalikan hape mu kembali?" tebak Yoga dengan asumsinya.


"Apa sepicik itu pemikiran mu pada ku, Yoga? Dengan hape itu, aku bisa mengerjakan pekerjaan ku, dengan hape itu aku bisa berkomunikasi dengan orang tua ku!" terang Pricil.


Dengan kesal, Yoga menyerahkan hape Pricil, "Mantan teman mu terus menghubungi mu! Mungkin dia merindukan mu!" Yoga berlalu meninggalkan Pricil di dalam kamar, ia bahkan mengunci kembali pintu kamar hotelnya, tanpa memperdulikan Pricil.


Di depan kamar hotel, dengan kunci yang ada di hadapannya. Yoga menatap kunci itu dengan tatapan tajam.


"Kau pikir aku ini bodoh, membiarkan mu bertemu dengan mantan teman dekat mu itu? Membiarkan mu merajut kembali hubungan kalian berdua? Aku tidak sebodoh itu, Pricil!" Yoga menyimpan kunci kamar hotel di dalam saku kemejanya, menyeringai pada pintu yang kini terkunci dari luar.


Dring dring dring dring.


Hape Yoga yang ada di saku celananya berdering.


Senyum tersungging di bibirnya, saat pandangannya tertuju pada layar hapenya, dengan nama kontak Tissa.


"Ada apa, sayang?" tanya Yoga dengan lembut.


[ "Kau lama sekali sih! Aku sudah bosan menunggu mu! Kau jadi tidak sih menemani ku, sayang!" ] rengekan Tissa terdengar manja di telinga Yoga dari sebrang sana.


"Iya jadi, ini aku lagi jalan ke tempat mu! Tunggu lah sebentar ya sayang!" Yoga langsung melangkah ke kamar hotel Tissa, tanpa memperdulikan Pricil yang ia tinggalkan di dalam kamar.


Di dalam kamar hotel, Pricil yang sudah mengaktifkan kembali hapenya, kini membalas satu persatu pesan yang masuk ke dalam hapenya. Melihat beberapa panggilan telepon yang tidak di jawab.


Pricil mengabaikan pesan dari Alex.


Pricil membaca pesan dari Bella, "Lo di mana? Alex khawatir sama lo. Emang lo kenapa lagi sama Yoga? Kalian baik baik aja kan?"

__ADS_1


"Pricil, are you oke? Gw bakal selalu ada buat lo."


Purnomo sang ayah, turut mengirim kabar pada putrinya lewat pesan singkat.


"Nak, kalian bersenang senang lah. Ayah, ibu dan saudari mu Mawar, akan kembali ke Bogor. Jaga diri mu baik baik ya sayang! Jangan lupa kunjungi ayah dan ibu."


Bulir bening kembali menetes dari pelupuk mata Pricil, "Andai ayah tau, baru sehari menikah... Yoga memperlakukan aku seperti ini! Yoga seolah menjelma menjadi sosok lain, sosok yang tidak aku kenal."


Tidak berapa lama, hape Pricil berdering dengan nama kontak Alex.


Dreeet dreeet dreeet.


Pricil merijek panggilan telepon dari Alex.


"Sudah cukup masalah yang aku hadapi karena mu, Alex. Aku harus bisa menjauhi mu." gumam Pricil.


Pricil berdiam diri di dalam kabar, berharap Yoga akan kembali. Menyibukkan dirinya dengan hapenya, menulis novel online dan juga mengurusi toko online yang ia miliki.


Hingga beberapa jam telah berlalu, matahari yang cerah kini berganti dengan langit sore, langit senja menyinari langit dengan rona orange yang terkesan indah.


Tanpa terasa Pricil melewatkan makan siangnya, dan kini perutnya melai berdemo minta di beri asupan makanan.


"Maaf ya, aku lupa untuk mengisi mu hehe." Pricil tersenyum getir.


Pricil melirikkan matanya pada jam tangan, yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 5 sore.


Rasa laper yang menyeruak dan tidak dapat di tahan lagi, membuat Pricil beranjak dari tempatnya, melangkah kan kakinya untuk ke restoran yang ada di lantai 2 hotel.


Dengan menggunakan dress sepanjang lutut, lengan pendek berenda, Pricil mengenakan tas selempangnya di bahu.


Ceklek ceklek ceklek ceklek.


Hendle pintu yang ia genggam, tidak membuat pintu terbuka sedikit pun. Terang saja tidak terbuka, pintu kamar di kunci dari luar oleh Yoga.


"Kenapa Yoga melakukan ini pada ku?" gumam Pricil.


Pricil menghubungi nomor telepon Yoga. Namun panggilan Pricil di abaikan oleh Yoga, berkali kali menghubungi, hasilnya tetap sama.


"Aku ingin ke luar, Yoga! Kau di mana? Buka pintunya, aku lapar, sangat lapar!" pesan terkirim ke nomor Yoga.


...☘️Di sebuah mall☘️...

__ADS_1


Sementara di sebuah mall yang cukup di tempuh satu jam dari hotel.


Yoga dan Tissa sedang menikmati film di bioskop, dengan gendre romantis. Membuat Yoga dan Tissa terbawa suasana, bermesraan di dalam ruang yang gelap, tangan Yoga terkeliaran meremasss salah satu gundukan kembar Tissa, dengan sesekali bibir mereka saling bertautan.


Hingga film yang di putar berakhir, ke duanya ke luar dari gedung bioskop dengan tangan Yoga yang merekat di pinggang Tissa.


"Sayang, sampai kapan kau akan mempertahankan Pricil sebagai istri mu?" tanya Tissa dengan manja.


"Sabar ya sayang, tunggu sampai aku mempunyai anak darinya, baru setelah itu aku bisa berpisah dengannya." terang Yoga.


"Kenapa kau harus menunggu sampai Pricil melahirkan anak untuk mu? Aku juga bisa memberikan anak untuk mu, sayang!" ucap Tissa.


Ke duanya melangkah, memasuki sebuah restoran cepat saji yang ada di dalam mall itu.


"Jika aku melepaskannya saat ini, sayang dong... keluarga ku sudah mengeluarkan banyak uang untuk keluarganya. Sebagai gantinya, ia harus memberikan ku seorang anak, dan anak itu nantinya yang akan mewarisi harta kekayaan ayah mertua ku, Purnomo." Yoga menyeringai.


Tissa menyeringai, ternyata Yoga cukup licik juga ya. Jika gw berhasil memilikinya, gw bisa semakin tambah kaya dengan menguras kekayaan yang di milikinya. Gak percuma gw jadi pelariannya, justru pelariannya ini yang bisa menguasai hati dan hartanya.


Dreeet dreeet dreeet.


"Pasti Pricil lagi yang menghubungi mu!" Tissa tampak mengerucutkan bibirnya.


Yoga mengerdikkan bahunya, karena apa yang di ucapkan Tissa itu benar adanya, Pricil lah yang menghubungi dirinya.


Yoga hanya melirikkan matanya sesaat pada layar hapenya, tanpa berniat menjawab panggilan telpon dari Pricil. Hingga pesan yang di kirim Pricil baru membuat ke dua matanya membola.


Tissa menggenggammm jemari Yoga dengan kening mengkerut, "Ada apa, sayang?"


"Kita harus kembali, aku sudah terlalu lama menemani mu, meninggalkan Pricil di kamar hotel." terang Yoga dengan tersenyum getir.


"Tunggu sebentar lagi, kita habiskan dulu makanan kita ini, oke!" Tissa menyuapkan makanannya ke mulut Yoga.


Bersambung...


...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.


Kalo suka, lanjut baca 😊. Kalo gak suka, tinggalkan 😊


Jangan lupa πŸ‘ bergerak

__ADS_1


__ADS_2