Sandaran Penuh Dusta

Sandaran Penuh Dusta
Sandaran penuh dusta


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


Belum selesai Pricil menjawab pertanyaan Alex, hapenya yang ada di dalam tas selempangnya berdering.


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


"Maaf!" Pricil mencoba melepaskan diri dari sandaran Alex. Tapi sayangnya Alex tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang Pricil.


"Kalo begitu kami permisi, Nona!" seru menajer hotel.


"Sekali lagi terima kasih ya, pak!" Seru Alex yang mewakili Pricil.


"Sama sama, Tuan!" ucap wanita berseragam resepsionis, dengan tersenyum ramah.


Pricil melihat layar hapenya, kemana saja kamu Yoga, kenapa baru menghubungi ku!


Alex membantu Pricil berjalan ke arah sofa, "Kau duduk dulu lah!"


Setelah Pricil mendudukan dirinya di sofa, Alex berjalan ke arahh meja yang terdapat dispenser, ia membawakan segelas air untuk Pricil.


Pricil menjawab telponnya, mengira jika orang yang menelponnya adalah Yoga, "Kau kemana saja Yoga? Apa kau lupa dengan ke beradaan ku?"


[ "Maaf Nona, orang yang memiliki hape ini, mobilnya terperosok ke dalam jurang. Di sini ada petugas yang sedang mengevakuasi ke dua korban penumpang mobil." ]


Bak tersambar petir di malam hari, baru saja terbebas dari kamar hotel yang terkunci, sekarang ia harus mendengar kabar, jika mobil yang di kendarai sang suami terperosok ke dalam jurang.


Pricil terperangah, "A- a- apa yang bapak katakan itu benar? Mobil suami saya terperosok ke dalam jurang?"


[ "Benar Nona, suami Nona di temukan di dalam mobil dengan tidak sadarkan diri, sedangkan teman wanitanya. Terpental ke luar dari dalam mobil karena tidak menggunakan sabuk pengamannn." ]


Air mata Pricil meluncur bebas membasahi ke dua pipinya, siapa wanita yang bersama dengan Yoga? Apa yang sedang mereka lakukan?


"Bagi mana dengan ke adaan suami saya, pak?"


[ "Masih dalam evakuasi Nona, kaki si pengemudi terjepit badan mobil. Nona bisa ke sini sekarang, biar saya share lokasinya." ]


Setelah mendapatkan lokasi ke jadian, dengan di temani Alex. Pricil langsung ke tempat di mana Yoga mengalami kecelakaan.


Alex terus memperhatikan wajah Pricil yang menangis tanpa bersuara. Hanya terdengar isak tangisannya, sesekali Pricil menyeka air matanya yang terus ke luar tanpa bisa di bendung lagi.


"Jika kau ingin menangis, menangis lah Pricil. Tidak perlu kau tahan lagi. Aku rasa wanita yang sedang bersamanya adalah wanita yang sama, wanita yang pernah aku temui tempo hari." terang Alex yang langsung mendapat tatapan tajam dari Pricil.


Pricil membatin, apa mungkin yang di katakan Alex? Wanita yang sama... itu artinya Yoga dan wanita yang saat ini sedang bersamanya ada hubungannya? Hubungan? Sejauh apa hubungan ke duanya, sampai Yoga tega mengunci ku di kamar hotel, sebenarnya mereka dari mana dan mau ke mana?


Pricil dan Alex turun dari dalam mobil, tubuh Pricil yang lemas seketika menjadi bertenaga. Ke duanya menghampiri polisi yang berjaga, memberi garis apa pada area lokasi.


"Pak, bagai mana dengan ke adaan suami saya?" tanya Pricil.


"Nona ini salah satu keluarga korban?" tanya petugas polisi.


Petugas polisi memandang ke arah Alex dan Pricil secara bergantian.


"Saya istrinya, pak!" jawab Pricil lagi.

__ADS_1


"Saya temannya, biarkan saya mendampinginya!" sungut Alex, yang menatap Pricil dengan rasa khawatir.


Alex dan Pricil di perbolehkan melewati garis polisi, namun ke duanya tidak di perbolehkan turun ke jurang, mengingat kondisi yang sudah larut, melihat medan yang terjal, ke duanya hanya bisa melihat dari atas jalan.


Polisi meminta keterangan dari saksi mata yang berada di lokasi kejadian, Pricil juga bertanya pada pria yang menghampirinya, memberikan hape Yoga pada Pricil.


"Tadi suami Nona mengemudi dengan kencang, menuju arah puncak. Namun di saat tikungan tajam, supir hilang kendali dan membanting setir ke jurang." tetang si bapak.


"Maaf pak, kata bapak ada korban wanita yang ada di dalam mobil yang sama, lalu di mana korban wanita itu pak?" tany Alex.


"Sudah di larikan ke rumah sakit terdekat, pak. Kondisinya sangat parah dan memprihatinkan." terang si bapak dengan tangan mengurut dadanya.


"Apa suami saya separah itu pak, sampai belum bisa di ke luarkan dari dalam mobil?" tanya Pricil dengan pandangan yang terus ke jurang.


Pricil di mintai keterangan oleh seorang polisi, beberapa saat ke mudian tubuh Yoga berhasil di ke luarkan dari dalam mobil, dan tubuhnya di tarik ke atas dengan tali yang melilittt tubuhnya. Untuk mempermudah membawa tubhh Yoga ke atas.


Pricil di dalam mobil ambulans, bersama dengan Yoga yang kini di pasang beberapa alat bantu, selang menancap pada tubuh Yoga.


Sedangkan Alex mengikuti mobil ambulans dari belakang, semoga kau sadar Yoga, Pricil bukan untuk di khianati, tapi untuk di cintai dengan sepenuh hati. Bukan sandaran penuh dusta yang kau berikan pada Pricil.


Pricil menggenggammm jemari Yoga, "Kau harus selamat Yoga! Kau harus hidup, kau sudah berjanji pada ku... akan menjaga ku, memberikan kebahagiaan pada ku! Kau harus tepati itu Yoga!" ucap Pricil.


Air mata Pricil menetes di jemari Yoga, Pricil juga menggapai dan menyentuh luka yang ada di wajah Yoga, luka bekas serpihan kaca, ada beberapa kaca yang menancap pada wajah Yoga.


"P- ri- cil." gumam Yoga pelan dengan ke dua mata yang terpejam.


"A- aku di sini Yoga, aku di sini!" Pricil mendekatkan wajahnya pada Yoga, entah rasa senang atau sedih yang ia rasa.


"Kau tidak perlu berkata apa apa Yoga, kau jangan banyak bicara, kau masih harus mendapatkan perawatan."


Yoga membuka matanya, menatap Pricil dengan penyesalan, maaf aku sudah menghianati mu, aku sudah menyakiti mu, aku bukan laki laki yang pantas menerima cinta mu, maaf Pricil. Apa kau akan memafkan dan menerima ku kembali, setelah tahu penghianatan yang sudah aku lakukan pada mu?


Yoga langsung di serang sesak nafas, nafasnya tersengal sengal, membuat Pricil yang melihatnya semakin terisak. Pihak medis yang melihatnya, langsung memasangkan alat bantu nafas di hidung Yoga. Dan memberikan suntikan pada lengan Yoga, membuat Yoga dalam hitungan detik langsung terpejam dengan tenang.


Sampai di rumah sakit, Yoga langsung mendapat tindakan medis, Pricil dan Alex menunggu di ruang tunggu, menatap ruang tindakan yang kini tertutup rapat.


"Terima kasih, karena kau sudah mau membantu ku mengurus masalah administrasi, Alex!" ucap Pricil.


"Jangan ucapkan terima kasih terus pada ku, Pricil." Alex langsung menggenggammm pergelangan tangan Pricil, membuat wanita itu beranjak dari duduknya saat Alex menariknyaaa.


"Kau mau apa, Alex?" tanya Pricil.


Alex berjalan dengan pasti, menuntun Pricil yang menatap ke belakang ruang tindakan.


"Kau kan belum makan, kita ke kantin dulu! Suami payah mu... tidak akan bisa lari dengan selingkuhannya lagi!"


"Tapi Alex! Kenapa kau yakin sekali jika Yoga berselingkuh?" tanya Pricil.


"Nanti juga kau akan tau sendiri, Pricil. Biarkan waktu yang menjawabnya. Waktu yang akan membuat mata mu terbuka, betapa buruknya suami mu itu!" terang Alex dengan senyum di bibirnya.


Alex memesankan makanan serta minuman, untuk Pricil dan dirinya di kantin rumah sakit.


Sesekali Alex memaksakan untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut Pricil, yang tidak bisa di pungkiri. Jika wanita yang ada di hadapannya kini, mengalami syok.

__ADS_1


Wanita mana yang akan sanggup mendapati suaminya berselingkuh, dan di pertemukan dengan selingkuhannya, dalam keadaan tragis yang seperti ini.


Dreeet dreeet dreeet.


Hape Yoga yang ada di dalam tas Pricil berdering.


Dreeet dreeet dreeet.


Pricil menjawabnya, saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


[ "Halo Yoga, berita yang gw liet di media online. Itu bukan lo kan? Itu hoax kan?" ] cecar Bayu, saat panggilan teleponnya di jawab oleh orang yang ia pikir adalah Yoga.


"Sayangnya itu benar, Yoga sedang di dalam ruang tindakan." ucap Pricil.


[ "A- apa? Ja- jadi itu bukan hoax, Pricil?" ]


"Bukan... meski pun aku sangat ingin itu adalah hoax, tapi itu lah kenyataannya." ucap Pricil dengan berusaha tegar.


[ "Berikan alamat rumah sakitnya, biar aku dan Bowo menyusul mu!" ] terang Bayu.


Alex menggenggammm jemari Pricil, "Kau tidak sendirian Pricil, ada aku. Ada aku yang akan selalu mendukung mu, ada aku yang akan selalu bersama mu!" ujar Alex.


Pricil dan Alex berada di ruang dokter yang menangai Yoga.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, setelah melewati serangkaian tes, city scan dan lainnya. Pak Yoga tidak bisa lagi menggunakan kaki kirinya, dengan kata lain harus di amputasi." terang dokter muda berkaca mata tipis.


Pricil menelan ludahnya dengan sulit, "A- amputasi?"


"Bagai mana dengan wanita yang bersama dengan teman saya, dok?" tanya Alex.


'Nona Tissa mengalami ke rusakan hati, gagal ginjal, ke rusakan jantung karena benturan keras pada perutnya saat terlempar dari dalam mobil. Itu yang menyebabkan keadaannya jauh lebih memprihatinkan dari pak Yoga." ujar dokter menjelaskan bagai mana kondisi Tissa.


"Apa kami bisa menemuinya, dok?" tanya Pricil.


Setelah mendapat persetujuan dari dokter, Pricil bisa menemui Tissa yang dalam perawatan intensif.


Alex, Bayu dan Bowo kini berada di luar, ruang tunggu. Melihat dari luar, betapa tegarnya seorang Pricil.


"Apa lo yakin, Pricil akan tetap bertahan sama Yoga. Setelah tau apa yang udah Yoga lakuin di belakangnya?" tanya Bayu pada Bowo.


"Coba lo tanya sendiri!" oceh Bowo.


Alex mengerutkan keningnya, mendengar ocehan Bayu dan Bowo, "Jadi kalian sudah tau, apa yang Yoga lakukan di belakang Pricil?" tanya Alex dengan tatapan yang menyelidik.


Bersambung...


...🔥🔥🔥🔥🔥...


Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.


Kalo suka, lanjut baca 😊. Kalo gak suka, tinggalkan 😊


Jangan lupa 👍 bergerak

__ADS_1


__ADS_2