Sandaran Penuh Dusta

Sandaran Penuh Dusta
Mobilnya terperosok


__ADS_3

...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


"Tunggu sebentar lagi, kita habiskan dulu makanan kita ini, oke!" Tissa menyuapkan makanannya ke mulut Yoga.


"Baik lah." Pricil pasti bisa menunggu ku sebentar lagi.


Tissa memperhatikan wajah Yoga yang mulai tidak tenang, enak aja. Kalo kita balik ke hotel sekarang. Yang ada lo kembali lagi ke wanita sialannn itu, waktu lo harus lebih lama sama gw, Yoga!


Dreeet dreeet dreeet.


Notifikasi pesan masuk ke hape Yoga berbunyi lagi.


Wajah Yoga mulai bertambah tegang, setelah membaca pesan yang di kirim Pricil padanya.


"Yoga, kau sudah gila! Perut ku sakit! Kau mau kembali atau aku yang akan menghubungi pihak resepsionis, untuk membukakan pintu kamar untuk ku!"


Yoga menyimpan hapenya di dalam saku celananya, mengelap mulutnya dengan tisu yang ada di atas meja, menenggak minumannya yang ada di hadapannya.


"Jika kau ingin tinggal lebih lama di sini, tinggal lah. Tapi aku akan kembali ke hotel sekarang juga!" Yoga beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Tissa menuju kasir.


"Yoga! Apa apaan sih kamu ini! Kau sedang bersama dengan ku, Yoga!" Tissa meraih beberapa paper bag belanjaan dari atas kursi, dan membawanya serta.


Sialannn Yoga ini, saat bersama ku, masih saja perduli dengan Pricil. Aku hanya nomor 2 di mata mu, Yoga!


Setelah Tissa berhasil menyamai langkah kaki Yoga, ke duanya melangkah bersama menuju mobil yang terparkir di area mall.


"Memang apa sih yang membuat mu terburu buru, Yoga? Kan kau sendiri yang bilang sebentar lagi, ini namanya bukan sebentar Yoga!" Tissa terus mengeluh pada Yoga.


Dengan nada yang cukup tinggi, Yoga berseru, "Sudah jangan banyak bicara, Tissa. Aku pusing mendengar mu terus mengoceh!" Yoga membuka pintu mobilnya, dan langsung mendudukan dirinya di kursi belakang kemudi.


Tissa membuka pintu belakang mobil, dan menyimpan semua belanjaannya di kursi belakang, pintu pun ia tutup setelah belanjaannya tertata di kursi belakang.


Tissa mendudukan dirinya di kursi samping, sebelah kemudi, menatap Yoga dengan jengkel.


"Tidak usah menatap ku seperti itu, sayang! Lain kali kita bisa jalan dan shopping lagi kan!" bujuk Yoga dengan meraih jemari Tissa, menggenggammmnya dan mengecupppnya.


"Benar ya! Awas saja jika kau tidak menepati perkataan mu ini!" sungut Tissa.


Yoga hanya tersenyum mendengar ocehan Tissa. Sementara hatinya memikirkan Pricil, wanita yang kini menjadi istrinya. Dengan satu tangan yang fokus pada setir kemudi. Yoga melajukan dengan kencang kendaraannya, ingin cepat sampai di hotel.


Semoga kau tidak berbuat gila Pricil, tunggu aku. Aku akan segera kembali.


Jalan semakin berliku dan berkelok serta terjal, dengan penerangan yang cukup minim. Tak ayal sering terjadi kecelakaan, karena ulah pengemudi yang kurang berhati hati, saat melintasi jalan yang terdapat jurang di sisi kirinya yang sedang di lalui Yoga saat ini.

__ADS_1


"Pelan pelan Yoga! Kita bisa kecelakaan kalo kau mengemudikan seperti itu! Wanita sialannn itu pasti bisa menunggu mu!" Tissa berpegangan pada samping mobil.


Dengan percaya dirinya, Yoga berkata sambil sesekali memandang Tissa, yang sudah berwajah pias karena ke takutan dengan cara Yoga mengemudi.


"Jangan ribut terus, apa kau tidak lihat. Kita baik baik saja bukan? Jika orang lain yang mengemudikan seperti ini, kemungkin besar akan kecelakaan, tapi tidak dengan ku, kita tidak akan mengalami kecelakaan."


"Tapi Yoga, pelankan kecepatan mu, lihat itu di depan ada tikungan tajam." seru Tissa dengan menunjuk jari telunjuk kanannya, ke arah depan.


Di saat Yoga belok pada tikungan tajam, dari arah lawan ada bus pariwisata yang membuat Yoga tidak bisa menghindar. Dia mencoba untuk membantinggg setir ke sisi kiri, tapi dia lupa jika sisi kiri adalah jurang yang terjal, sehingga mobilnya terperosok masuk ke jurang tersebut.


Tissa berteriak dengan sekencang kencangnya, saat mobil yang di tumpanginya masuk ke dalam jurang.


"Aaaaaaaaaah."


Gubrak gubruk brak kreek.


Di belakang kemudi, tubuh Yoga tidak sadarkan diri dengan terkulai lemah, sedangkan Tissa. Tubuhnya terpental dari dalam mobil, karena dirinya lupa mengenakan sabuk pengamannn.


Beberapa orang yang melihat ke jadian, langsung menghubungi ambulan dan pihak ke polisian. Bahkan dari mereka, ada pula yang memberanikan diri untuk turun ke bawah jurang, untuk mengecek ke adaan penumpang mobil yang naas masuk ke dalam jurang.


...☘️Di hotel☘️...


Pricil yang memiliki riwayat mag, karena dirinya juga sudah merasa lemas, tidak bisa lagi menahan sakit pada perutnya. Langsung menghubungi pihak resepsionis hotel untuk meminta bantuin, membukakan pintu kamarnya.


"Apa kau dengar itu, ada seorang wanita yang terkunci di kamarnya!"


"Iya, yang aku tahu salah satu penghuni sweet room hotel ini."


"Jangan jangan, yang baru menikah 2 hari yang lalu di hotel ini."


"Astaga tega sekali, siapa yang melakukan ini padanya."


Alex yang mendengarnya langsung menghampiri petugas hotel, yang tengah bergosip itu.


"Maaf mas, jika saya tidak salah dengar. Mas ini sedang membicarakan tamu hotel yang sedang terkunci, itu lantai dan nomor berapa ya, kalo saya boleh tau!" tanya Alex dengan tatapan matanya yang menyelidik.


"Wah kalo itu kita kurang tahu pasti, pak." petugas hotel menatap Alex dengan tatapan mencurigakan.


"Saya ada teman yang menempati kamar sweet room, sampai saat ini saya belum bertemu dengannya, saya takut kalo itu benar dia, teman saya." jelas Alex.


"Owwhhh, bapak ikuti bapak itu saja, pak manajer pasti mau ke kamar hotel itu!" dengan menunjuk salah seorang pria berjas hitam, dengan seorang wanita petugas resepsionis, yang baru saja melewati ke tiganya.


"Kalo begitu terima kasih ya, mas!" Alex langsung menyamakan langkah kakinya, mengejar manajer dan petuga resepsionis hotel.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ke tiganya ke luar dari dalam lift, menuju kamar hotel yang baru saja meminta bantuan pada pihak resepsionis.


Jantung Alex berdetak sangat kencang saat mengetahui kenyataan, jika Pricil lah wanita yang saat ini terkunci di dalam kamar hotel.


Kenapa kau menolak bantuan ku, Pricil? Kenapa kau tidak menjawab telpon ku, tidak membaca pesan ku, kemana suami mu? Kenapa dia tega berbuat seperti ini pada mu, Pricil!


Manajer hotel membuka kunci kamar hotel tempat Pricil menginap, dengan kunci cadangan.


Alex menatap pintu kamar dengan cemas, semoga tidak terjadi apa apa dengan mu, Pricil.


Ceklek.


Pintu berhasil di buka.


Tampak Pricil berdiri dengan menyandar pada dinding yang ada di dekat pintu.


Pandangan Pricil, langsung tertuju pada pria yang berdiri di belakang pria berjas hitam. Pria yang berusaha ia hindari, sedang berdiri dengan wajah cemas menatapnya.


"Apa Nona tidak apa apa?" tanya manajer hotel.


"Tidak, pak. Terima kasih karena kalian sudah mau membantu ku!" ucap Pricil, berusaha melangkah menghampiri ke tiganya, penyelamatnya.


Tubuhnya yang lemas, karena belum mendapatkan asupan. Membuatnya oleng namun dengan cepat tubuhnya di rengkuh oleh Alex.


"Yakin, kau tidak apa apa, Pricil?" tanya Alex di saat tubuh Pricil kini berdiri menyandar dengan tubuhnya, tanyan Alex merekat pada pinggang ramping Pricil.


Pricil mengadahkan wajahnya, menatap tampang rupawan Alex, sahabatnya dulu, pria yang menggetarkan hatnya di kala masih memakai seragam putih abu.


"A- aku..."


Belum selesai Pricil menjawab pertanyaan Alex, hapenya yang ada di dalam tas selempangnya berdering.


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Bersambung...


...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.


Kalo suka, lanjut baca 😊. Kalo gak suka, tinggalkan 😊


Jangan lupa πŸ‘ bergerak

__ADS_1


__ADS_2