Sandaran Penuh Dusta

Sandaran Penuh Dusta
Pricil membohongi ku!


__ADS_3

...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


Aku harus bagai mana sekarang? Apa yang bisa aku lakukan untuk Pricil sekarang? Aaah sialll.


Alex melangkah ke luar dari kamarnya, berniat untuk bertanya pada petugas resepsionis, nomor berapa Pricil dan Yoga tempat.


Alex menutup pintu kamar hotel yang ia tempati. Pandangan matanya langsung tertuju pada kamar hotel yang berada di depannya.


"Apa mungkin Yoga sedang berada di dalam sini? Atau Yoga sedang bersama dengan Pricil?" gumam Alex yang akhirnya tanpa ragu lagi, melangkah ke arah lift.


Saat di dalam lift, pikirannya kembali berubah.


"Mana mungkin pihak resepsionis mau memberi tahu, pihak lain yang menanyakan kamar tamunya sendiri, itu kan sangat rahasia."


Alex menghubungi nomor Bella, ingin menanyakan secara langsung di kamar berapa Pricil dan Yoga menginap.


[ "Ada apa ganteng, apa kau merindukan aku?" ] tanya Bella dengan percaya dirinya yang tinggi, saat ia sudah menjawab telponnya.


"Dasarrr bodoh, mana mungkin aku merindukan mu!" ujar Alex yang kini sudah berada di lantai 1, lobby utama hotel, namun Alex hanya berdiri di depan lift, enggan untuk melangkah ke meja resepsionis.


[ "Jika kau tidak merindukan aku, untuk apa kau menghubungi ku, Alex?" ] cicit Bella.


Tidak bisa di pungkiri Bella, jika Alex kini menjadi incarannya. Setelah ia gagal mendapatkan Yoga, pria yang lebih memilih wanita yang tidak jauh adalah sahabatnya. Kini Bella mencoba untuk mendekati Alex.


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan pada mu, di kamar berapa Pricil dan Yoga menginap di hotel ini!" Alex langsung mengatakan tujuannya menghubungi Bella.


[ "Ada di kamar sweet room, khusus paket pernikahan. Ada apa memangnya? Apa kau ingin ke sana, Alex ?" ] tanya Bella.


"Aku harus mengecek ke adaan Pricil. Aku takut terjadi hal buruk padanya."


[ "Hal buruk apa maksud mu, Alex?" ]


Bukannya menjawab pertanyaan Bella, Alex justru menanyakan lantai berapa dan nomor berapa kamar Pricil.


"Kamar sweet room, lantai berapa itu Bella?"


[ "Lantai 5, nomor 2." ] terang Bella.


Setelah mendapatkan hal yang ia inginkan, justru Alex langsung mematikan sambungan teleponnya.


Alex kembali memasuki lift, menuju lantai 5 dengan mencoba kembali menghubungi nomor telepon Pricil. Namun hasilnya masih sama. Nomor telepon Pricil tidak akhir.


"Pricil tidak pernah menonaktifkan hapenya, ini pasti ada yang tidak beres." gumam Alex.

__ADS_1


Ting.


Lift berhenti dan terbuka di lantai 5, Dengan langkah kaki yang lebar, Alex mempercepat langkah kakinya menuju kamar nomor 2, tempat di mana Pricil berada.


Alex langsung mengetuk sambil berseru di depan pintu kamar hotel.


Tok tok tok tok.


"Pricil, apa kau dapat mendengar ku?"


Sementara di dalam kamar hotel, Pricil yang mendengar suara Alex langsung menjawab suara Alex, setelah ia menyapu jejak air matanya di pipi.


"Alex, ini aku Alex." ucap Pricil dengan telapak tangannya yang memukulll mukulll pintu.


"Apa yang terjadi Pricil? Apa kau baik baik saja di dalam sana?" tanya Alex dengan bernafas lega setelah mendengar suara Pricil.


"A- aku aku baik baik saja Alex, a- aku hanya ingin berada di dalam kamar. Kau pergi lah Alex, aku tidak apa apa." Pricil membohongi Alex, dengan tidak mengatakan hal yang tidak sebenarnya.


Alex mengerutkan keningnya, ini ada yang aneh, Pricil tidak harus merasa gugup jika ia baik baik saja, Pricil sedang membohingi ku! Tapi untuk apa Pricil membohingi ku?


Alex yang pernah menjadi orang terdekat Pricil pun, tahu betul jika pricil sedang berbohong, Pricil akan gugup saat bicara. Di saat Pricil berbohong pula, ada yang sedang ia lindungi.


"Buka pintunya Pricil, biarkan aku masuk. Aku ingin melihat ke adaan mu!" ujar Alex.


"Ma- maaf Alex, a- aku tidak bisa membiarkan mu masuk. Di dalam sedang tidak ada Yoga, aku tidak bisa membiarkan mu masuk. Maaf kan aku Alex, bisa kan kau tinggalkan aku? Jauhi diri ku!" terang Pricil.


"Apa? Aku tidak mungkin bisa meninggalkan mu, Pricil. Katakan pada ku, Yoga kan yang meminta mu untuk aku menjauhi mu? Katakan yang sejujurnya Pricil?"


"Maaf Alex, aku sudah menikah. Aku harus mematuhi apa yang menjadi keinginan suami ku, demi kelanggengan rumah tangga ku, Alex... ku mohon."


"Baik jika itu ke inginan mu."


Pricil tidak lagi mendengar suara Alex, dengan langkah kaki yang gontai, Pricil berjalan ke arah sofa panjang yang terdapat di ruang depan, ia mendudukan dirinya di sofa itu, dengan ke dua kaki yang berada di atas sofa. Pricil meringkukkk kan tubuhnya di atas sofa, berharap Yoga akan segera kembali ke kamar hotel itu.


"Yoga, kau ke mana saja? Kenapa kau tinggalkan aku? Aku harap setelah kau kembali, semuanya akan baik baik saja. Aku menyayangi mu! Kau lah satu satunya pria yang kini ada di dalam hati ku, setelah Alex." gumam Pricil yang memejamkan ke dua matanya setelah lama menangis.


Sementara Alex melangkah gontai meninggalkan kamar hotel Pricil. Alex kembali ke kamar hotelnya, namun kembali ia membelalakkan ke dua matanya, saat mendapati pandangan yang sangat sulit untuk ia terima.


Di balik dinding, Alex mengarahkan kamera hapenya pada pandangan yang seronok, adegan yang cukup untuk di jadikan bukti betapa bejatnya prilaku pria yang ia kenal.


Alex menyeringi, kali ini aku mendapatkan biktinya. Ku pastikan kau akan melepaskan Pricil, akan ku dapatkan kembali Pricil yang pernah lepasss dari genggamannn ku!


Alex terus mengarahkan kameranya pada dua sosok manusia beda jenis, hingga berakhir dengan pria yang meninggal kan kamar hotel itu, dan si wanita menutup pintu kamar hotelnya.

__ADS_1


Alex langsung menyembunyikan dirinya, dengan memunggungi di saat Yoga tengah nemasuki lift.


Alex melangkah masuk ke dalam kamar hotelnya, ia langsung mencari tahu, akan perusahaan yang sedang di tangani oleh Yoga lewat laptop yang kini berada di atas pangkuannya.


"Prayoga, kita lihat apa kau bisa membuat ku menjauh dari Pricil. Atau aku akan semakin dekat dengan Pricil setelah kerja sama kita ini berlangsung." gumam Alex.


Alex mengirimkan email pada pihak perusahaan yang di pimpin Yoga, mengajukan kerja sama dengan perusahaannya dengan ke untungan yang di dapat dari kerja sama itu.


...☘️Kamar hotel Pricil☘️...


Setelah beberapa jam, Yoga kembali ke lantai 5, nomor 2. kamar yang ia habiskan untuk bersama dengan Pricil. Wanita yang baru 2 hari ia nikahi.


Ceklek.


Yoga mendapati Pricil yang tengah tertidur di sofa dengan ke adaan meringkuk.


"Hai, bangun Pricil! Jika ingin tidur. Tidur lah di temlat tidur!" seru Yoga dengan mengguncang bahu Pricil.


Pricil yang merasa tidurnya terusik pun mengerjapkan ke dua matanya, menatap pria yang berdiri di sampingnya.


Pricil beranjak dari tidurnya, dengan mendudukan dirinya, Pricil mengadahkan wajahnya pada Yoga.


"Kau sudah kembali, Yoga? Kau dari mana saja, Yoga?" tanya Pricil setelah menatap tajam Yoga, apa ini? Ini seperti wangi parfum, tapi ini bukan parfum ku, Yoga juga tidak memakai parfum ini, terus ini harum siapa dong?


Yoga membuang nafasnya dengan kasar, ia membalik tubuhnya berjalan tanpa dosa, tanpa mengucapkan kata maaf pada Pricil.


Yoga memasuki kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air shower. Mendinginkan hati dan kepalanya.


"Gw harus bisa buat Pricil hamil, biar harta yang di milikinya bisa jatuh ke tangan gw! Setelah itu, gw bisa minta pisah darinya atas tuduhan perselingkuhan."


Beberapa saat ke mudian, Yoga ke luar dari dalam kamar mandi, dengan menggunakan handuk yang melilittt dan menutupi bagian bawah tubuhnya.


Yoga menatap pakaian yang sudah di siapkan Pricil, di tepian tempat tidur mereka, meletakkan pakaian yang akan di gunakan Yoga.


Tanpa berkata apa apa lagi, Yoga langsung mengenakan pakaian yang sudah di siapkan oleh Pricil.


"Kau mau ke mana lagi, Yoga?" tanya Pricil.


Bersambung...


...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


Bermula dari ke gabutan, menjadi tulisan.

__ADS_1


Kalo suka, lanjut baca 😊. Kalo gak suka, tinggalkan 😊


Jangan lupa πŸ‘ bergerak


__ADS_2