
"Puteri, istirahatlah. maafkan paman, puteri jadi sakit lagi." ucap kepala Hae.
"Tidak apa-apa, paman. Jangan bilang ke ayah ya paman. Kalo ayah tau pasti ayah akan melarang dan tidak mengizinkanku lagi untuk pergi keluar atau ikut kegiatan kerajaan, aku mohon paman.!!!" ucap Nara
"Baik puteri. Sekarang, istirahatlah. Besok adalah akhir pekan jadi puteri bisa beristirahat untuk persiapan belajar kembali minggu depan." ucap kepala Hae lalu pamit meninggalkan kamar puteri Nara
Nara menghela nafas panjang..
"Apa yang aku lakukan tadi? ucapanku bahkan sikapku sangat menyebalkan!! Aahh.. Molla.. Molla!!" ucap Nara kesal
"Siapa wanita yang terus-terusan menempel padanya? terserah! Apa urusanku. Aduhhh.. Kepalaku!!! Hmm.. lebih baik aku tidur." ucap Nara
Malam ini Nara akhirnya tertidur setelah diberi minuman herbal oleh dayang Bong.
Esok paginya..
"Selamat pagi puteri!!" sapa dayang Bong
"Selamat pagi dayang Bong, hari ini aku ingin jalan-jalan, sepertinya aku butuh menghirup udara segar." ucap Nara
"Tapi puteri.." jawab dayang Bong
Nara tersenyum..
"Tenang dayang Bong, kepalaku sudah tidak sakit, aku benar-benar ingin jalan-jalan. Aku akan minta izin kepada raja." ucap Nara mencoba menenangkan dayang Bong
"Baiklah puteri. saya akan menyiapkan beberapa hal untuk dibawa." ucap dayang Bong
Setelah bersiap-siap Nara mengunjungi ruang kerja raja Haneul
Tok..tok..
"Yang mulia raja, puteri Nara ingin bertemu dengan yang mulia." ucap kepala kasim Gang
"Suruh dia masuk." ucap raja Haneul
"Selamat pagi yang mulia raja." sapa Nara dengan hormat
"Selamat pagi anakku. Bagaimana keadaanmu?" tanya raja cemas
"Ooh, aku baik-baik saja, raja jangan cemas." ucap Nara tersenyum
"Bagaimana ayah tidak cemas, puteriku sakit karena ayah yang memintamu untuk belajar dan mengurus beberapa urusan kerajaan." ucap raja Haneul
"Tidak ayah, aku suka bisa membantu dan belajar. jadi ayah tenang saja. puterimu bisa diandalkan." ucap Nara mencoba menenangkan raja
"Baiklah.. Ayah percaya padamu." ucap raja kembali
"Jadi adakah yang ingin kau sampaikan? Oh iya, bagaimana para pangeran. Apakah diantara mereka ada yang membuatmu nyaman?" tanya raja Haneul
"Hmm.. Yang pertama yang mulia raja, hari ini izinkanku untuk pergi jalan-jalan untuk menghirup udara segar ya. Dan yang kedua soal para pangeran, mereka semua baik." ucap Nara
"Baiklah.. Kau diizinkan, dengan satu syarat, ajak beberapa pengawal jangan hanya satu ya." ucap raja Haneul
"Baik yang mulia raja. Terima kasih." ucap Nara semangat
__ADS_1
"Anakku.. Ayah harap kau bisa memilih dari antara para pangeran yang membuatmu nyaman dan jadi dirimu sendiri. Ayah ingin kau bahagia, puteri Nara." ucap raja Haneul menghentikan langkah Nara
Nara membalikan badannya dan membungkuk di hadapan raja Haneul.
"Terima kasih atas perhatian raja." ucap Nara lalu pamit keluar dari ruangan raja
"Kenapa ayah bilang seperti itu? Apakah ayah gak tau kalo diantara para pangeran sudah memilik teman dekat? Apakah aku harus kasih tau ayah atau?? Ahh sudahlah.. aku males memikirkan hal itu." ucap Nara dalam hati
Dayang Bong serta beberapa pengawal mengikuti Nara yang ingin pergi jalan-jalan. Nara suka sekali ke desa Dasom. Selain pemandangan yang indah, suasananya sangat menenangkan.
"Akhirnya aku bisa kesini lagi!!" ucap Nara bersemangat
"Syukurlah.. Sepertinya puteri sudah membaik." ucap dayang Bong
"Iyaa.. Aku senang melihatnya kembali ceria." ucap pengawal Dong
Nara menikmati suasana di desa Dasom, sesekali Nara menyapa dan mengobrol dengan penduduk sekitar. Setelah selesai menikmati suasana disana. Nara memutuskan untuk menengok ke desa yang mengalami gagal panen. Nara membeli sesuatu di pasar untuk dibagikan di desa itu.
Sesampai disana Nara melihat seseorang sudah melakukan hal yang ingin dilakukannya. Dan ternyata Ryeon.
"Kenapa harus bertemu disini?" ucap Nara dalam hati dan buru-buru untuk pergi tetapi dayang Bong sudah menyapa pangeran Ryeon.
"Selamat siang puteri!" sapa Ryeon
"Selamat siang pangeran." ucap Nara
"Puteri, maaf kalo boleh tau, sedang apa datang kesini?" tanya Ryeon
"Hmm.. hari ini adalah hari liburku dan setelah dari desa Dasom aku kepikiran soal rapat waktu itu tentang desa ini, maka aku membawa makanan dll untuk diberikan kepada mereka. Dimana aku bisa menyerahkan ini?" tanya Nara
Nara menganggukan kepalanya dan hanya tersenyum.
"Puteri, maaf. Sebelumnya hanya pangeran dan beberapa pejabat yang berkunjung dan kemungkinan kehadiran puteri akan menyita perhatian..." Ryeon belum selesai menjelaskan Nara sudah berbicara
"Arasseoyo.. Aku hanya ingin melihat susana disini dan cukup panggil aku Nona Nara. Agar tidak mengganggu kalian bekerja." ucap Nara
"Terima kasih puteri." ucap Ryeon
Mereka mulai membagikan bantuan dari kerajaan, Ryeon sesekali terlihat sedang berbicara dengan beberapa warga dan sesekali terlihat memberikan perhatian. Pangeran Ryeon terlihat sangat berbeda, pangeran Ryeon sangat ramah dan perhatian.
Nara hanya memperhatikan apa yang dilakukan Ryeon dan tiba-tiba seorang anak kecil menyapa Nara.
"Nona.. Hmm, nona apakah nona teman dekat pangeran Ryeon?" tanya anak perempuan itu
Nara hanya tersenyum lalu mengusap kepala anak itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Nara ramah
"Hmm.. tidak apa-apa nona, aku hanya berpikir kalo nona teman dekat pangeran, karena pangeran sering melihat ke arah nona cantik." ucap anak perempuan itu.
"ooh begitu ya, Wahh.. Anak manis ini akan jadi seseorang yang berguna untuk kerajaan." ucap Nara sambil mengusap kepala anak perempuan itu
"Kenapa, kok melihat ke arah rambutku?" tanya Nara
"Yeppeuda.." ucap anak itu sambil menunjuk jepit rambut Nara
__ADS_1
"I geu?" tanya Nara sambil melepas jepitan dari rambutnya.
anak perempuan itu menganggukan kepalanya, Nara tersenyum lalu memberikan jepitannya kepada anak itu
"Sini biar aku pakaikan jepitannya." ucap Nara
Anak perempuan itu mendekat dan terlihat sangat senang.
"Yeppeuda. disimpan ya." ucap Nara
"Wuuahh.. Jinjjayo onnie, wuahh.. Kamsahamnida onnie." ucap anak itu lalu pamit dan pergi dengan senang.
Ryeon yang memperhatikan sikap Nara yang lembut dan ceria semakin membuat Ryeon untuk terus memperhatikannya.
"Haii.. Sepertinya, warga desa ini sangat menyukaimu." ucap Ryeon
"Hmm, syukurlah.. setidaknya kehadiranku tidak mengganggu dan aku senang bisa datang kesini." ucap Nara
Setelah pekerjaan disana selesai Ryeon segera menghampiri Nara.
"Puteri, biar kami antar pulang. dan tolong jangan menolak." ucap Ryeon
"Ne!" jawab Nara
"Puteri, hmm.. apakah tidak apa-apa puteri jalan-jalan sampai sini dan lagi kondisi kesehatan puteri kurang baik." ucap Ryeon
"Tidak apa-apa, aku sudah sehat kok." ucap Nara
"Syukurlah.." ucap Ryeon
Suasana dalam kereta yang ditumpangi Nara dan Ryeon terlihat tenang, dan Nara terlihat menghindar untuk berbicara dengan Ryeon.
"Puteri.. Maaf, apakah ada hal yang membuat puteri kesal?" tanya Ryeon
Nara terlihat kaget dengan pertanyaan Ryeon dan Nara hanya menggelengkan kepalanya
"Kalo begitu mengapa menghindariku??!" tanya Ryeon
Nara hanya diam..
"Aduuh.. Kenapa pangeran bertanya seperti itu, aku harus jawab apa??" ucap Nara dalam hati
Dan tiba-tiba kereta yang ditumpangi Nara dan Ryeon berhenti mendadak, sehingga terjadi sesuatu.
Nara terdorong ke arah Ryeon dan bibir mereka bersentuhan. Nara yang jatuh dipelukan Ryeon dan bibir mereka bersentuhan membuat Nara kaget dan menarik tubuhnya menjauh dari Ryeon, dan terlihat dengan jelas kalo mereka terlihat kaget dengan kejadian itu.
"Maaf!!" ucap Nara terlihat malu dan tidak berani menatap Ryeon
"Anniyo.. saya yang harus minta maaf karena.." Ryeon belum selesai berbicara tiba-tiba Nara turun dari kereta dan meminta untuk kembali ke istana tanpa diantar.
Ryeon yang masih kaget dengan kejadian tadi hanya diam melihat kepergian Nara. Detak jatung mereka berdebar dengan cepat dan wajah mereka terlihat memerah.
"Nara.. Nara.. Apa yang kamu lakukan tadi!!! kenapa harus aku yang jatuh di depannya dan bibirku.. aku gak akan mampu untuk ketemu dengannya." ucap Nara dalam hati
"Ryeon.. Sadarlah, sadar.. Aku benar-benar tidak bisa berpikir." ucap Ryeon dalam hatinya
__ADS_1
Dan mereka kembali ke istana masing-masing dan beristirahat dalam kegelisahan karena kejadian di kereta tadi.