Saranghae!

Saranghae!
Ep. 7


__ADS_3

"Selamat pagi puteri, ini tehnya." ucap dayang Bong


"Terima kasih dayang Bong, oh iya apakah surat yang ditujukan untuk pangeran Ryeon sudah sampai?" tanya Nara penasaran


"Sudah puteri, sesuai arahan puteri." ucap dayang Bong


Tok..tok..


"Puteri, maaf mengganggu. kepala Hae menitipkan pesan." ucap dayang Na


"Masuklah.." ucap Nara


Nara segera memeriksa pesan dari kepala Hae. Dan segera Nara bersiap-siap karena raja ingin bertemu. Nara berlari kecil agar tidak telat datang ke ruang rapat, karena tidak biasanya raja Haneul memanggil ke ruang rapat.


"Puteri Nara akan memasuki ruangan." ucap kepala Hae


Nara memberi senyuman kepada pamannya kepala Hae.


Ketika pintu dibuka, Nara terlihat kaget karena melihat para pangeran berkumpul. Nara segera menyapa dan duduk menunggu pembahasan apa yang mau dibahas raja dengan para pangeran.


"Jangan-jangan Ryeon setuju lalu ingin mengajukan kepada raja untuk membatalkan soal mengajar." ucap Nara dalam hatinya.


"Baik, karena semua sudah berkumpul. Silahkan apa yang ingin disampaikan sampai para pangeran ini bertemu raja dan puteri?" tanya kepala Hae


"Jangan bilang kalian ingin membatalkan soal mengajar puteri Nara?" tanya raja Haneul


Ryeon menatap Nara yang terlihat santai dan berharap bahwa apa yang disampaikan dalam surat itu terjadi. Ryeon tersenyum lalu segera memberi kode ke Ye-Jun untuk menjelaskan kepada raja Haneul.


"Terima kasih atas kesediaan waktu yang diberikan yang mulia raja, dan tuan puteri. Kami berempat datang kesini ingin memberitahu bahwa kami bersedia untuk mengajar puteri dengan waktu yang ditentukan raja dan kami bersedia untuk bergantian untuk datang ke istana. Demikian secara resmi kami sampaikan kesiapan kami memenuhi keinginan tuan puteri." ucap Ye-Jun


Seketika Nara terbatuk mendengar ucapan Ye-Jun lalu menatap ke arah Ryeon, seakan menanyakan maksud ucapan dari Ye-Jun


"Syukurlah, saya sangat senang. Kalian menyampaikan ulang dengan resmi. saya berterima kasih dan tolong bimbing puteri Nara." ucap raja Haneul terlihat senang.


Nara hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa mengucapkan apapun.


"Bagaimana perasaanmu puteri?" tanya raja Haneul.


"Terima kasih raja, perasaan saya.. Sangat senang." ucap Nara sambil menatap ke arah Ryeon.


"Baiklah, sisanya kalian atur dengan puteri." ucap raja Haneul


"Puteri Nara, izinkan saya menjelaskan jadwal dari kami berempat ya." ucap Eunji.


Nara hanya mengganggukan kepala


"Baik, dalam 7 hari puteri pilih sendiri mau libur hari apa ya? Dan kami akan bergantian untuk datang ke istana." ucap Eunji.


"Satu lagi puteri, libur puteri hanya 1 hari, dan dalam 5 hari akan ada 2 kali pertemuan dengan salah satu dari kami ya puteri." jelas MinHo


Nara hanya merespon dengan menganggukan kepalanya. Nara masih bingung dengan situasi ini. Kenapa mereka datang untuk mempertegas kalo mereka siap untuk mengajarnya, bukan datang untuk menolak untuk mengajar Nara.


"Puteri, maaf.. Apakah ada yang ingin ditanyakan?" tanya pangeran Eunji

__ADS_1


"Tidak, aku ikuti dan untuk hari liburnya aku pilih diakhir pekan." ucap Nara


Raja terlihat senang dengan jawaban puteri Nara, sedangkan Nara masih terlihat diam dan berusaha untuk tidak kaget.


"Oh iya puteri, untuk besok lusa hari Senin yang akan memulai mengajar adalah saya, dan pelajarannya adalah perekonomian kerajaan." ucap Eunji


"Yang akan mengajar soal sejarah dan hubungan antar kerajaan adalah pangeran Ye-Jun, lalu yang mengajar tentang kebudayaan dan seni bela diri adalah pangeran Min-Ho, dan yang mengajar soal sosial dan lingkungan masyarakat adalah pangeran Ryeon. Untuk lainnya kita sambil jalan ya." jelas Eunji


Sekali lagi Nara hanya menganggukan kepalanya tanpa mengucapkan sesuatu.


Para pangeran berpamitan kepada raja lalu meninggalkan istana. Sedangkan Nara sedang duduk di taman favoritnya dan memikirkan kejadian di ruang rapat tadi.


"Apakah aku salah menulis pesan untuknya? Sepertinya tidak, aku menulis... tidak, tidak.. Aku harus pastikan isi surat itu." ucap Nara dalam hatinya.


Keesokan harinya seperti biasa di akhir pekan Nara akan keluar istana untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat lingkungan luar bersama dayang Bong dan tentu saja bersama pengawal keamanan.


"Itu.. Itu kan Ryeon. Aku harus bicara dengannya!" ucap Nara


"Nona, mau kemana?" tanya dayang Bong


"Aku.. Aku mau ke toko bunga, dayang Bong tolong beli beberapa hal yang kubutuhkan dan tolong pengawal jaga jarak seperti biasa ya." ucap Nara


Lalu Nara segera mengikuti Ryeon dan berusaha tidak terlihat mencurigakan.


"Lho, dia mau kemana?" tanya Nara sambil tetap mengikuti Ryeon


Ryeon menyadari ada yang mengikutinya, Ryeon mencari jalan yang sepi lalu menghilang. Nara terlihat bingung karena kehilangan jejak. Dan tiba-tiba saja seseorang menarik tangan Nara.


"Aaahh..." Nara berteriak kaget


Nara segera melihat siapa orang yang menyuruhnya diam dan ternyata itu Ryeon. jantung Nara berdetak sangat kencang, entah karena kaget atau karena berdiri terlalu dekat dengan Ryeon.


Ryeon melepas tangannya yang menutup mulut Nara dan melepas tangannya.


"Kamu... Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Nara


Ryeon menatap Nara dengan kening mengerut lalu bertanya kembali pada Nara.


"Yang harusnya bertanya itu harusnya aku! kamu sedang apa disini?" tanya Ryeon


"Aku..aku sedang mengikutimu!" ucap Nara


"Mengikutiku? Untuk apa??" tanya Ryeon kembali


"Hmm.. Aku ingin menanyakan soal surat yang kukirim untukmu itu." ucap Nara


Wajah Ryeon yang tegang tiba-tiba tersenyum setelah mendengar ucapannya, lalu Ryeon menatap wajah Nara.


"Ikut aku!" ucap Ryeon sambil mengandeng tangan Nara.


Wajah Nara yang dari tadi kesal terlihat begitu senang saat melihat hamparan bunga indah.


"Wuaahh.. Indahnya!!!" ucap Nara bersemangat

__ADS_1


"Wuahh, ini benar-benar cantik, kenapa baru sekarang kamu mengajakku kesini?" tanya Nara


Ryeon tersenyum..


"Sudah ya, jangan cemberut terus dan sebagai gantinya lusa kami akan tetap mengajar." ucap Ryeon lembut


Nara menarik nafas panjang..


"Hmm.. Baiklah.." ucap Nara


"Tapi.. Apakah kalian itu tidak sibuk? apakah kalian masih punya waktu luang untuk mengajarku?" tanya Nara


"Tenang saja, puteri!" ucap Ryeon


"Justru karena aku penasaran denganmu makanya aku memutuskan untuk mengajarmu." ucap Ryeon dalam hatinya sambil menatap Nara yang sedang bersemangat berkeliling melihat bunga-bunga.


"Oh iya, pangeran Ryeon.. Aku ingin menanyakan ini taman bunga siapa?" tanya Nara


"Ini milik nenek Jung dan beberapa petani bunga." ucap Ryeon


Ryeon diam-diam memetik beberapa bunga yang dari tadi dipegang dan diamati Nara


"Senang bisa lihat ini semua. Bisakah bantu aku untuk ke toko nenek Jung?" tanya Nara


"Mari ku antar." ucap Ryeon lalu mengantarnya ke arah toko nenek Jung


"Puteri..!!" panggil Ryeon


Nara menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Ryeon. Lalu Ryeon mendekat ke arah Nara dan memberikan beberapa tangkai bunga untuk Nara.


"Ini untukmu, jangan bilang nenek Jung ya." ucap Ryeon lalu pamit pergi dan cepat sekali menghilang.


"Tunggu.., terima kasih!" ucap Nara


Di pasar..


"Puteri.. Dari mana saja?" tanya dayang Bong


Nara hanya tersenyum lalu mengajak dayang Bong dan pengawalnya pulang. Sepanjang jalan Nara hanya diam dan menatap bunga pemberian Ryeon.


"Kenapa?? Kok tiba-tiba orang itu jadi baik? Atau.. Ah sudahlah.." ucap Nara dalam hati


Sedangkan di toko nenek Jung.


"Tuan muda tampan, sepertinya kau mencuri bunga milikku!" ucap nenek Jung


"Tidak, bukan begitu maksudku nek." ucap Ryeon lalu segera mengeluarkan uang untuk membayar bunga yang diambilnya.


Nenek Jung tertawa lepas melihat sikap Ryeon.


"Pangeran, sepertinya kau diterima oleh gadis itu." ucap nenek Jung


"Hah? Diterima? Maksudnya apa nek?" tanya Ryeon kembali

__ADS_1


"Iyaa, nona muda cantik yang sering beli bunga itu terlihat bahagia saat mendapat pemberian bunga darimu. dia terlihat tersenyum cantik." ucap nenek Jung.


"Syukurlah.. Aku senang kalo dia senang." ucap Ryeon pelan


__ADS_2