Saranghae!

Saranghae!
Ep. 6


__ADS_3

Beberapa hari setelah kunjungan Nara ke kediamannya Ryeon, mereka sudah tidak bertemu lagi, ditambah kesibukan para pangeran untuk mengurus wilayah dan negara sehingga membuat para pangeran semakin sibuk.


"Puteriku, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya raja Haneul


"Salam baginda raja." ucap Nara sambil membungkukan badannya memberi hormat kepada raja


"Duduklah, Nak." ucap raja Haneul


"Ayah perhatikan minggu ini tidak meminta izin untuk keluar istana, apakah ada masalah?" tanya raja Haneul cemas


"Tidak yang mulia, aku sedang ada kegiatan merangkai bunga, dan ini untuk ditaruh di kamar tidur A...maksudku yang mulia." ucap Nara


Raja Haneul tersenyum senang dan mengusap kepala Nara dengan lembut.


"Apapun yang ingin kamu lakukan dan itu semua untuk kebaikanmu dan membuatmu bahagia, ayah akan mendukungmu. Jadi jangan takut untuk mengungkapkannya atau setidaknya berbagilah kesedihanmu saja pada ayah." ucap raja Haneul


"Yang mulia jangan cemas." ucap Nara tersenyum


"Ayah mengandalkanmu, puteri." ucap raja Haneul lalu pergi ke ruangan kerjanya.


"Dayang Bong, apakah mukaku terlihat sedih?" tanya Nara


"Hmm.. Sepertinya bukan sedih puteri tapi seperti sedang merindukan sesuatu." ucap dayang Bong


"Apa?? Rindu? dengan siapa?" tanya Nara kaget


"Maaf tuan puteri, hamba lancang." ucap dayang Bong


"Tidak apa-apa dayang Bong." ucap Nara tersenyum.


"Oh iya, hari ini aku ingin jalan-jalan di taman, dan tolong siapkan vas bunga terbaik karena aku ingin merangkainya untuk di ruang kerja baginda raja." ucap Nara


"Baik tuan puteri." ucap dayang Bong lalu segera menyiapkan semua permintaan Nara.


Nara sangat senang dengan bunga sehingga dikala merasa bosan Nara pasti menghabiskan waktunya untuk merangkai bunga atau merawat tanaman kesayangannya.


"Wah.. Puteri ini indah sekali." ucap dayang Bong


"Terima kasih, ini akan ku taruh di ruang kerja ayah, kamar tidur ayah dan ruang rapat." ucap Nara bersemangat


"Kebetulan sekali puteri hari ini akan ada rapat negara semua pejabat serta para pangeran di undang raja ke istana." ucap dayang Bong


"Oh begitu ya, baiklah.. tolong bawakan vas bunga ini dan biar aku yang meletakannya." ucap Nara


"Tapi puteri, apakah baiknya berganti pakaian dahulu?" tanya dayang Bong.


"Oh iya, hampir saja aku lupa. Terima kasih dayang Bong." ucap Nara


Setelah berganti pakaian Nara menaruh setiap vas bunga yang di rangkainya dan yang terakhir akan ditaruh di ruang rapat besar istana. Beberapa para pejabat dan meteri sudah hadir di istana dan begitu juga dengan para pangeran.


"Hmm.. Wangi ini, seperti yang ada di jasmu Ryeon." ucap Eunji


"Ssstt.. Jaga bicaramu, kita sudah di istana." ucap MinHo


Ryeon memastikan dan memang ini wangi seperti milik Nara.

__ADS_1


Semua para tamu undangan memasuki ruang rapat dan menikmati minuman yang dihidangkan serta beberapa dari mereka ada yang sedang berbincang.


"Yang Mulia Raja Haneul memasuk ruangan." ucap kelapa Hae


Semua para tamu undangan berdiri dan memberi hormat.


"Terima kasih untuk semua yang hadir. Sebelum kita mulai rapat ini, silahkan nikmati minuman dan makanan yang sudah dihidangkan." ucap Raja


Tuan Nam membisikan kepala Hae kalo puteri ada di luar, dan kepala Hae memberi tahu raja dan raja segera mengizinkan Nara untuk masuk ke ruang rapat itu.


"Tuan puteri Nara akan memasuki ruangan." ucap tuan Nam


Semua bangkit berdiri dan memberi hormat.


Nara masuk dengan anggun dan membalas semua penghormatan yang diberikan kepadanya dengan senyuman terbaiknya.


"Apa kabar puteri?" sapa salah satu pejabat


"Kabarku sangat baik. Dan aku harap pejabat Han dan keluarga juga baik-baik saja." ucap Nara


"Terima kasih atas perhatian puteri." ucap pejabat Han


Semua mata tertuju pada Nara dan tentu para pangeran juga. Nara menatap ke arah Ryeon, dan Ryeon membalas tatapan Nara, tidak biasanya Ryeon seperti itu.


Setelah para dayang meletakan vas bunga itu semua memuji karena mereka tau itu adalah karya puteri Nara


"Wahh.. rapat hari ini akan terlihat menyenangkan karena hasil karya puteri menemani kita." ucap pejabat Kim


Nara hanya tersenyum lalu segera berpamitan dan meninggalkan ruang rapat itu.


"Kali ini aku sependapat dan tidak menyuruhmu diam." ucap MinHo


"Yeppeuda." ucap Ryeon dan Ye-Jun dalam hati mereka


Rapat berakhir dengan tenang dan semua segera berpamitan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Saat para pangeran ingin meninggalkan istana, mereka berpapasan dengan puteri Nara.


"Ohh.. Kita bertemu lagi, selamat sore puteri." ucap Eunji dan MinHo.


"Ooh, Hai.. Kalian sudah mau pulang?" tanya Nara ramah


Ryeon melihat Eunji dan MinHo hanya tersenyum memandangi puteri Nara.


"Iya kami izin pulang puteri, sampai bertemu kembali." ucap Ryeon lalu menarik tangan Eunji.


"Maaf puteri, maaf bukan tidak sopan, kecantikan puteri sangat mengalihkanku. Maafkan aku puteri." ucap Eunji dan MinHo.


"Hmm.. Aku tidak akan memaafkan." ucap Nara dan itu membuat para pangeran terlihat kaget.


"Sebagai gantinya setiap kalian harus mengajariku beberapa hal kemampuan kalian." ucap Nara


Para pangeran saling pandang mendengar ucapan Nara.


"Tapi puteri.. Apakah raja mengizinkannya?" tanya Ye-Jun


"Tentu pangeran Ye-Jun, aku mengizinkan anakku belajar hal yang baik dari kalian. Jadi aku harap kalian bisa membimbingnya." ucap Raja Haneul

__ADS_1


Semua langsung memberi hormat dan mengiyakan ucapan raja.


"Terima kasih atas kepercayaan raja kepada kami dan terima kasih juga puteri memilih kami untuk belajar bersama." ucap pangeran Ye-Jun


Para pangeran berpamitan lalu meninggalkan istana.


Nara segera menemui raja Haneul.


"Ayahh.. Tadi itu tidak serius, aku hanya ingin mengganggu para pangeran." ucap Nara


"Tenang anakku, dari pada kau mengganggu mereka kenapa tidak kau belajar sesuatu yang baru dari mereka, toh nanti diantara mereka akan ada yang menjadi pasanganmu." ucap raja Haneul tersenyum


"Tapi ayah..." rengek Nara mencoba memohon agar raja menarik ucapannya.


"Apakah puteri ayah akan menyerah dan tidak memegang ucapannya?" tanya raja Haneul.


"Tapi.. Tapi kalo mereka tidak ada waktu bagaimana?" tanya Nara


"Kalo memang urusan negara terhalang dan mereka benar-benar sampaikan ke ayah tidak sanggup, kamu tidak perlu belajar sama mereka." ucap raja Haneul


Nara manganggukan kepalanya lalu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sudahlah nak, mereka kan sudah bersedia dan ingat ucapanmu harus tetap dipertahankan lho." ucap raja Haneul.


"Baiklah yang mulia." ucap Nara tanpa mengeluh lagi.


Nara berpamitan dan kembali ke kamarnya


"Hmm.. Tenang saja Nara, kau hanya belajar dan kau harus mempertahankan ucapanmu di depan para pangeran itu." ucap Nara mencoba menenangkan dirinya.


Sedangkan di kediaman Ryeon


Ryeon terlihat tersenyum saat mengingat ucapan Nara di istana tadi.


"Aku tau, kau hanya bergurau.. sayangnya raja berpikir lain, puteri yang unik." ucap Ryeon tersenyum


"Siapa yang unik oppa?" tanya Ae Ri


"Hmm.. Biasakan ketuk pintu dulu Ae Ri." ucap Ryeon


"Maaf oppa, aku perhatikan kau terlihat senyum-senyum, seperti orang yang sedang jatuh cinta." ucap Ae Ri


"Apa? Asal bicara saja. Lalu apa tujuanmu kesini?" tanya Ryeon


"Ini lho, aku diminta untuk membawakan hadiah dari para puteri di luar sana dan yang satu itu sangat asing dan wangi sekali." ucap Ae Ri sambil menunjuk surat itu lalu segera mengambilnya dari Ae Ri.


"Terima kasih adik sepupu yang cantik, sekarang silahkan pergi." ucap Ryeon


Ae Ri lalu pamit dan keluar dari kamar Ryeon dan Ryeon segera memeriksa surat yang dimaksud Ae Ri.


Salam hangat,


"Hai.. maaf mengganggumu, sebenarnya aku ingin kau berdiskusi dengan teman-temanmu dan kalian membatalkan soal untuk mengajarku. maaf aku hanya bergurau tadi, jadi tolong bantu aku dan sampaikan ke raja kalo kalian belum siap. Bisa kah? Bisa ya pangeran Ryeon? Kalo pangeran Ryeon setuju datanglah besok ke istana, dan sampaikan ke ayahku ya. Aku tunggu!"


Nara

__ADS_1


"Enak saja, aku gak akan biarkan itu terjadi. Jadi tunggulah aku, puteri Nara!" ucap Ryeon tersenyum


__ADS_2