
Pagi ini Nara meminta untuk membatalkan sesi belajar bersama para pangeran karena hari ini Nara merasa sangat lelah dan badannya terlihat kurang sehat.
"Puteri, kami sudah kirim surat ke para pangeran kalo untuk minggu ini setiap sesi belajar ditunda." ucap dayang Bong
"Iya.. Terima kasih dayang Bong." ucap Nara
"Hmm.. Dayang Bong, tolong hari ini jangan ada yang menggangguku." ucap Nara kembali
"Baik tuan puteri." ucap dayang Bong
Nara merebahkan tubuhnya dan menarik nafas panjang jika mengingat kejadian semalam.
"Mwo?? Awal kembali dekat? Jadi kejadian yang di kereta itu cuma hal biasa??" keluh Nara dalam hatinya
Di kediaman pangeran Eunji..
"Hmm.. Hari ini jadwalku bertemu puteri ditunda. Sedih sekali." ucap Eunji
"Bukan kau saja, aku dan yang lain juga." ucap Min-Ho
"Apakah puteri bosan atau sedang sakit ya?" tanya Eunji
"Sudahlah.. Biarkan puteri istirahat." ucap Ye-Jun
Setelah Ryeon membaca surat itu dan mendengar pembicaraan teman-temannya soal Nara segara Ryeon pamit dan pergi meninggalkan kediaman rumah pangeran Eunji.
"Ngomong-ngomong, Ryeon kemana, tiba-tiba pergi tanpa bicara?!" tanya Eunji
"Kau kaya gak kenal Ryeon aja, mungkin ada hal yang mau dikerjakan." ucap Min-Ho dengan santai
Tetapi Ye-Jun tau, sepertinya Ryeon ingin melakukan sesuatu untuk Nara.
Di istana pangeran Ryeon..
"Kasim Go, tolong siapkan racikan herbal yang biasa aku minum dan taruh di kamarku ya." ucap Ryeon
"Baik pangeran, maaf kalo boleh tau pangeran mau pergi kemana?" tanya kasim Go
"Aku ada urusan. sekalian ingin menengok nenek Jung." ucap Ryeon
"Baik pangeran, akan saya siapkan semua yang pangeran minta." ucap kasim Go
"Sebenarnya apa terjadi pada puteri Nara? Apakah sakitnya parah sampai sesi belajar ditiadakan selama 1 minggu??" tanya Ryeon
Tok..tok..
"Pangeran mohon izin, racikannya sudah siap dan nona muda Ae Ri ingin menemui pangeran." ucap kasim Go
"Suruh dia masuk." ucap Ryeon
"Selamat Siang kaa, pangeran." sapa Ae Ri tersenyum menggoda
Ryeon memberi kode untuk kasim Go agar meninggalkan ruangan Ryeon.
"Eung.. Ada apa Ae Ri?" tanya Ryeon sambil memasukan rasikan herbal ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Anniyo.., oh iya ka, gimana kabarnya puteri Nara?" tanya Ae Ri
"Hmm.. Tidak tau." ucap Ryeon
"Lho, kok gak tau. Tapi aku dengar sesi belajar diliburkan selama seminggu ini ya ka?" tanya Ae Ri
"Eung.." jawab
"Kenapa ka? Apakah puteri sakit? Aku boleh ikut menjenguk?" tanya Ae Ri
"Anniyo.. Nanti kau merepot...kan.." ucapan Ryeon terhenti melihat Ae Ri tersenyum menggoda
"Yaa...Ya.. Kau mengerjaiku ya??!" tanya Ryeon
"Hahaha.. Ka Ryeon, selain polos tapi juga sedikit.. Hmm sudahlah. Ka Ryeon mau jenguk puteri Nara?" tanya Ae Ri
"Eung.. Wae?" tanya Ryeon
"Hmm, waktu antar puteri pulang tidak ada hal aneh yang ka Ryeon lakukan dengan puteri kan?" tanya Ae Ri
"Yaaa.. Maksudmu apa?? Aku cuma minta maaf dan setelah itu dia seperti kesal." ucap Ryeon
"Kesal?? Karena hal apa?" tanya Ae Ri
"Karena ada hal yang terjadi antara aku dan puteri lalu aku bilang lupakan dan kita kembali dari awal untuk dekat kembali, lalu dia menjelaskan sesuatu dan terlihat kesal." ucap Ryeon
"Hmm.. Pasti puteri menjelaskan kalo apa yang terjadi waktu itu gak mau dianggap suatu kesalahan dan dilupakan. Tapi kayanya pangeran kita ini.. Ahh mola!!!" ucap Ae Ri
"Yaa, kau tidak sopan dengan kakakmu ya Ae Ri!!" ucap Ryeon
"Maafkan aku kak Ryeon. Tapi saranku baiknya pangeran Ryeon segera minta maaf dan memperbaiki hubungan pangeran dengan puteri. Kalo tidak, pangeran lain akan segera mencuri hati puteri." ucap Ae Ri tersenyum.
Ryeon segera bersiap dan membawa berkas yang harus diberikan cap kerajaan pusat. Ryeon pun tiba di istana dan menyelesaikan beberapa tugas disana. Setelah semua selesai, pangeran Ryeon dipersilahkan untuk beristirahat sebelum meninggalkan istana. Ryeon melihat dayang Bong sedang sibuk mondar mandir membawakan makanan ke arah taman. Ryeon segera keluar dari ruangan itu lalu memanggil dayang Bong.
"Dayang Bong, tunggu!" ucap Ryeon
Dayang Bong menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Ryeon dan segera memberikan penghormatan.
"Maaf yang mulia pangeran, saya tidak melihat ada pangeran." ucap dayang Bong
"Tidak apa-apa dayang Bong. Oh iya, apakah tuan puteri sedang beristirahat?" tanya Ryeon
"Puteri sedang berada di taman, dari pagi puteri terlihat lesu dan tidak mau makan. makanya pangeran pasti sudah lihat saya mondar mandir membawa makanan." ucap dayang Bong
"Baiklah.. Tolong buatkan teh herbal ini dan antar ke tuan puteri." ucap Ryeon sambil memberi kode ke kasim Go untuk menyerahkan teh herbal tersebut
Ryeon berjalan ke arah taman dan melihat Nara sedang duduk merapikan bunga-bunga ke dalam vas.
"Selamat sore puteri!" sapa Ryeon
Nara kenal sekali dengan suara itu tapi Nara tidak merespon karena tidak mungkin Ryeon ada di istana.
"Puteri, awas jarimu.." ucap Ryeon sambil menarik tangan Nara jauh dari bunga berduri dan akhirnya duri itu menusuk tangan Ryeon.
"Mian, mianhaeyo.." ucap Nara panik sambil membantu Ryeon untuk duduk dan meminta dayang Bong mengambilkan obat.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan pangeran, duri itu kan sangat tajam dan lihat, tanganmu terluka kan!!" ucap Nara cemas
Ryeon tidak merespon dan hanya menatap Nara yang sedang terlihat cemas melihat tangan Ryeon yang terluka.
"Mianhaeyo.. Maaf puteri, karena sudah membuatmu cemas dan kesal." ucap Ryeon
"Sudah.. Sekarang fokus pada lukamu, sini aku bersihkan." ucap Nara lalu menarik tangan Ryeon dan mengobati lukanya.
Nara meniup jari Ryeon yang terluka, dan Ryeon terdiam menatap Nara. setelah selesai mengobati jari pangeran Ryeon, Nara menyadari bahwa Ryeon sedang menatapnya lalu Nara segera menjauhkan wajahnya dan menatap yang lain.
"Tunggu disini pangeran, aku akan.." ucapan Nara terhenti karena tiba-tiba Ryeon menarik tangan Nara lalu memeluknya dengan erat.
"Bogo sipeoyo.." ucap Ryeon dengan lembut
Saat itu Nara terlihat kaget dan bingung dengan sikap Ryeon dan ucapannya. Ryeon segera sadar kalau saat ini sedang di istana lalu melepas pelukannya dan tersenyum kepada Nara. Tetapi Nara masih terlihat kaget dengan apa yang terjadi.
"Baegopheuda.." ucap Nara lalu pergi meninggalkan Ryeon sendiri di taman.
Ryeon yang mendengar ucapan Nara terlihat menahan tawa dan Nara kembali ke arah Ryeon dengan wajah penuh pertanyaan.
"Pangeran Ryeon, aku tidak lapar jadi aku kembali lagi dan.. Dan yang tadi kamu lakukan dan ucapanmu itu.." ucapan Nara terhenti karena melihat Ryeon terlihat melangkah semakin dekat ke arahnya.
"Puteri.. Silahkan duduk." ucap Ryeon
"Aku minta maaf untuk yang tadi dan maaf untuk perkataanku atau sikapku yang membuatmu sedih dan kesal. Aku hanya tidak ingin membuat puteri menjaga jarak denganku dan maaf karena aku merindukan puteri, dan maaf.. aku menyukaimu!" ucap Ryeon
Nara terdiam hanya mendengar ucapan Ryeon dan menatapnya.
"Maafkan kalo aku sudah lancang kepada puteri, karena membuat puteri.." ucapan Ryeon terhenti karena Nara bangun dari tempat duduknya dan memalingkan wajahnya.
"Rindu dan menyukaiku?? Tapi kamu memintaku untuk melupakan kejadian di kereta dan lagi.." ucapan Nara henti karena mengingat soal wanita yang selalu menempel dengan Ryeon
"Maaf puteri, aku berkata seperti itu karena merasa malu dan aku tidak menginginkan puteri menjauh dariku." ucap Ryeon kembali
"Tidak perlu minta maaf pangeran.. Maaf karena sikapku membuat pangeran jadi salah paham." ucap Nara
"Tapi.. kalo aku boleh tau, siapa wanita yang menempel denganmu di acara pangeran Eunji waktu itu??" tanya Nara
"Ooh nona Mina, dia adalah temanku dan salah satu anak pejabat di kerajaanku. Ada apa dengannya?" tanya Ryeon
"Apa? Temannya?? Aku bersikap seperti ini terhadap Ryeon dan ternyata dia hanya temannya. Nara.. Tolong kenapa kau bodoh sekali!!" ucap Nara dalam hati
"Ada apa puteri??" tanya Ryeon kembali
"Tidak.. Tidak ada apa-apa, dan syukurlah kalo hanya berteman sa..ja.." ucapan Nara terbatah-batah karena mengingat omongan apa yang baru saja diucapkannya.
Ryeon tersenyum..
"Apakah puteri cemburu?" tanya Ryeon
"Apa? Cemburu?? Tidak mungkin!!" ucap Nara
"Lalu kenapa kalo nona Mina dekat denganku?" tanya Ryeon sedikit menggoda
tiba -tiba hujan turun dan Nara mencoba mengalihkan pembicaraan dan Ryeon mendekati Nara dari belakang lalu menarik tangannya lalu memeluknya kembali
__ADS_1
"Maaf puteri atas sikapku, tapi aku sangat merindukanmu, maaf membuatmu salah paham dan aku menyukaimu." ucap Ryeon lalu mencium puteri dengan lembut
Hujan turun dan angin yang berhembus dengan lembut seakan mendukung ungkapan perasaan dari pangeran Ryeon. Dan para dayang dan kasim tidak berani mengganggu hanya saling melirik dan tersenyum melihat pemandangan indah di tengah hujan malam ini..