SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 021


__ADS_3

Tengkleng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama dari tulang kambing. Tengkleng sendiri merupakan masakan khas Kota Solo.


Sejarahnya, ketika zaman dahulu yang boleh menikmati daging kambing hanyalah para bangsawan dan juga kolonial Belanda. Sedangkan para pekerja dan juga tukang masak hanya mendapatkan kepala, kaki dan tulangnya saja.


Tidak kurangnya akal dari sang juru masak, akhirnya tulang pun bersama sisa daging yang masih menempel dimasak sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah masakan bernama tengkleng.


Dapur yang sudah rapi, juga telah siap menyambutku dengan semua bahan masakan yang aku bawa.


Aku sendiri sejatinya bukanlah seseorang yang sangat ahli dalam bidang masak-memasak. Namun, aku seringkali diajak untuk mengobrol tentang berbagai jenis makanan ketika di pasar.


Entah itu pelanggan ibu-ibu yang menceritakan tentang suatu makanan, atau bahkan terkadang Bu Suryo yang berbagi pengalamannya dalam memasak.


Hal itulah yang membuatku sedikit tahu dan mengerti tentang tengkleng. Bu Suryo pernah mengatakan kepadaku jika tengkleng sebenarnya hampir mirip dengan gulai kambing.


Namun, perbedaan diantara kedua masakan itu adalah jika gulai kambing dimasak dengan menggunakan santan, sedangkan tengkleng tidak.


Maka dari itu, menurut pengalaman Bu Suryo banyak orang di sekitarnya yang menganggap tengkleng adalah gulai kambing versi ringan. Karena dianggap lebih rendah kolesterol.


Segera aku ambil panci besar berisi air untuk kudidihkan yang nantinya akan aku gunakan untuk merebus iga kambing.


Sembari menunggu air mendidih, aku menyiapkan bumbu halus yang nantinya dimasukkan ke dalam rebusan iga yang kedua.

__ADS_1


Serai dan lengkuas aku putuskan untuk digeprek secara bersamaan agar lebih menghemat waktu.


Ada beberapa bawang putih dan bawang merah juga. Namun, dari sekian banyak rempah-rempah, baru kali ini aku menggunakan bunga pekak.


Nama yang asing namun terngiang dalam kepalaku ketika bunga itu dikatakan oleh Bu Suryo. Namun itulah salah satu rempah kunci untuk membuat tengkleng.


Jaka tiba-tiba datang menghampiri ketika aku sedang sibuk menyiapkan bumbu-bumbu halus yang dibutuhkan.


"Mbak, biar Jaka bantuin." ucapnya.


"Eh, nggak usah Jaka. Kamu duduk aja tunggu masakannya jadi ya. Kali ini biar mbak yang madak sendiri."


"Mbak, ini airnya sudah mendidih. Di mana iga kambingnya?"


Aku pasrah tidak ingin memaksanya untuk berdiam diri saja. Jaka apabila sudah seperti itu, mau bagaimanapun aku menceramahinya tetap akan ia abaikan.


"Di atas kulkas itu." sahutku.


Ia pun langsung bergerak cepat untuk mengambil iga dan memasukkannya ke dalam panci.


Sementara itu, aku masih tetap melanjutkan untuk menyiapkan bumbu halusnya.

__ADS_1


Kami berdua fokus memasak bersama hingga ketika Jaka mengeluarkan cetukan.


"Roni yang biasanya paling nggak suka diganggu kalau lagi masak ya, Mbak."


Mendengar ucapan itu, aku juga tiba-tiba merasa rindu pada Roni.


Memang biasanya ketika Roni berada di dapur, ia akan sangat fokus agar bisa segera menyelesaikan tugasnya.


Setelah itu, ia akan membantuku atau membantu Jaka. Tak jarang juga, ia memilih berduduk dan berlagak seperti seorang mandor yang membuat kami berdua tertawa.


Kami larut dalam kenangan bersama Roni, seseorang yang bisa membuat kami tertawa dengan tingkah seriusnya.


Waktu memasak yang sebenarnya terbilang cukup lama pun selesai begitu saja.


Aku menyiapkan piring dan wadah untuk memasukkan tengkleng yang sudah selesai dimasak.


Jaka pun juga bergegas untuk membuat teh hangat di dalam teko besi tua berwarna perak itu.


Kami berdua pun duduk bersama di ruang makan dan menikmati tengkleng yang begitu pekat rasa rempahnya.


Obrolan yang tidak menentu diselingi canda dan tawa diantara aku dan Jaka semakin membuat suasana makan malam kali ini terasa hangat dan begitu nikmat.

__ADS_1


__ADS_2