SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 029


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari aku tidak melakukan apa-apa dan hanya berbaring diatas tempat tidurku.


Beberapa hal kecil saja yang bisa aku lakukan, seperti membersihkan kasur milikku dan terkadang mencuci piring kotor.


Pekerjaan dan tumpuan utama yang biasanya aku lakukan, untuk sementara ini aku percayakan pada adikku, Jaka.


“Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Menyembuhkan dan hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui dari segala apa yang engkau berikan kepada hambamu berupa ujian ini.” gumamku dalam hati.


Aku pun melanjutkan doaku dengan setulus hatiku agar segera diberikan kesembuhan dan kekuatan untuk kembali melakukan aktivitasku.


Tidak lama aku berdoa, aku mendengar ada suara seseorang yang sedang berada di dapur entah sedang melakukan apa.


Dalam benakku, mungkin Jaka sedang memasak untuk makan malam atau mungkin saja ia sedang membuat camilan untuk teman belajarnya.


Hembusan nafasku berat, aku merasakan bahwa kali ini aku sedang berperan sebagai seorang adik dari Jaka.


Dirawat dengan baik, dan diperhatikan dengan penuh kasih sayang ternyata seperti inilah rasanya.


Sudah lama aku tidak mendapatkan hal ini sejak kepergian Ibu dan Ayah. Yang biasanya sehari-hari aku bisa bermanja pada Ibu dan sering mengadukan sesuatu yang remeh pada Ayah.

__ADS_1


Jika kehidupan adalah sebuah roda, kali ini aku bisa secara pribadi untuk memberikan validasi kepada hal itu.


Semuanya baru kurasakan saat ini. Sebelum-sebelumnya, jika aku sedang merasa sakit. Aku akan mencoba menyembunyikan kepada kedua adikku, Jaka dan Roni.


Dan biasanya, alam pun akan ikut mendukungku sehingga mereka juga akan membantuku sebisa mungkin dengan suasana yang bisa membuatku sembuh lebih cepat.


Namun, tampaknya tidak berlaku dengan sakit yang sedang kuderita sekarang ini.


Pun jika memang alam mengujiku, pasti ada hal baik dibaliknya yang sedang ingin disampaikan entah untukku, adikku, atau kepada orang yang ada di sekitarku.


Lamunanku buyar begitu saja ketika tiba-tiba Jaka memanggilku dengan cukup lantang dari area dapur.


“Iya, Jaka.” sahutku dengan lirih entah apakah adikku mendengarnya atau tidak, tetapi tetap aku mencoba segera bangkit.


Perjalananku menuju ruang makan terasa sangat berat diiringi dengan gaungan pusing yang berputar-putar di dalam kepalaku.


Malam ini, Jaka tidak memasak dan lebih memilih untuk membeli lauk dan hanya menanak nasi untuk makan malamku dan Jaka.


Kami berdua pun makan malam dengan nasi yang ditemani oleh ikan mujair goreng dan juga sambal tomat buatan Jaka yang selalu pedas menggugah selera.

__ADS_1


Ditengah-tengah aku dan adikku menyantap makan malam sederhana yang nikmat, tiba-tiba saja Jaka menghembuskan nafas panjang dan berkata sesuatu.


“Mbak, maaf ya jika Jaka masih belum bisa memberikan waktu sepenuhnya untuk merawat Mbak.” ucapnya lirih.


Air mataku menetes mendengar apa yang baru saja diutarakan oleh Jaka.


“Mbak, kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku barusan?” tanya Jaka sambil memegang tangan kiriku yang bahkan aku tidak sadar sejak kapan Jaka sudah berada di sampingku.


Kepalaku menggeleng menandakan bahwa tidak ada yang salah dari apa ucapannya.


“Tidak apa-apa kok.” balasku lirih.


“Kenapa Mbak menangis? Bukannya orang yang baik-baik saja tidak akan menangis?” tanyanya lagi.


Lagi-lagi, pertanyaan kedua dari Jaka yang sebenarnya cukup sederhana, namun bisa membuatku semakin sedih melihat ketulusan yang diberikan oleh Jaka.


Sepatah kata pun tidak aku lontarkan, aku lebih memilih untuk mencium tangan adikku.


Tangan yang benar-benar masih halus dan jarang bertabrakan dengan perabot dapur ini lah yang saat ini merawatku dengan kasih sayang tanpa mengharap apapun nantinya.

__ADS_1


“Jaka, terima kasih banyak.” ucapku dalam hati.


__ADS_2