SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
035


__ADS_3

Dena, meneteskan air mata sesaat setelah aku menyudahi cerita tentang apa yang dialami oleh Ayah dan Ibu.


Aku juga tidak bisa menyembunyikan rasa kerinduanku kepada mereka.


Memang, sudah beberapa tahun berlalu. Aku sudah seharusnya untuk tidak sesedih ini, namun kali ini di hadapan Dena, aku menyerah.


"Maaf ya, Put. Aku nggak tahu harus bilang apa selain minta maaf." ucap Dena sambil mengusap air matanya.


“Nggak apa-apa kok Dena. Aku juga maaf ya, sebelumnya nggak pernah cerita ke kamu tentang Ayah sama Ibu.” balasku.


“Semua orang waktu proses buat menerimanya beda-beda kan?” ucap Dena sambil meraih tanganku.


Dena adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menuntutku untuk melakukan sesuatu.


Ia tahu kapan harus memberikan saran, kapan hanya mendengarkan. Yang kusukai dari sosok Dena adalah dia akan membiarkanku bercerita sampai selesai tanpa memotongnya sedikitpun.


Begitupun dengan lawan bicaranya yang lain, entah Dena suka atau tidak dengan topik obrolannya, Dena selalu mendengarkan terlebih dahulu.


Obrolan kami mengalir begitu saja menceritakan banyak hal yang sudah dilewati.

__ADS_1


Tidak terasa, tiba-tiba bapak-bapak yang bertugas untuk jaga pos ronda malam ini sudah berkeliling sambil berteriak memperingatkan para warga agar memasukkan barang berharganya yang masih tergeletak di luar rumah.


Dena mendengar bapak itu, langsung memohon ijin padaku untuk berpamitan.


“Putri, terima kasih ya buat waktunya hari ini. Terima kasih juga buat Jaka sama Roni. Ini aku ada sedikit rezeki, diterima ya.” ucap Dena.


Aku terkejut dan merasa sungkan pada Dena, karena ia sering sekali memberikan aku ataupun kedua adikku entah itu pesangon atau barang yang bermanfaat bagi kami.


Belum terucap dari mulutku untuk menolak, jari kelingking Dena sudah berdiri tegap di depan mulutku dan mengunci mulutku agar tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Dena pun pergi dan pulang kembali menuju rumahnya.


Meja yang berantakan dengan dua cangkir teh segera aku bersihkan agar bisa melanjutkan aktivitasku yang lain.


“Jaka, Roni, sini ke ruang tamu sebentar.” teriakku.


“Iya, Mbak.” sahut mereka berdua secara bersamaan.


Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka menemuiku di ruang tamu, aku ingin memberikan uang saku yang baru saja diberikan oleh Dena.


“Tadi pagi, kalian lupa ya belum ambil uang saku buat sekolah di dompetnya Mbak?” tanyaku.

__ADS_1


Jaka dan Roni tidak menjawab, tetapi malah menundukkan wajah mereka.


“Jaka, Roni, maaf ya kalau Mbak belum bisa kasih uang saku banyak seperti teman-teman yang lain.” ucapku melihat mereka menunduk.


“Mbak..” ucap Roni.


Roni menyodorkan uang di atas meja. Aku terkejut, ada apa dengan kedua adikku saat ini.


“Ini uang sakunya, Roni sama Jaka kembaliin.”


“Loh, Ya Allah kenapa kok nggak dibelikan jajan? Kan ini memang buat Jaka sama Roni?”


Roni pun menjelaskan bahwa ia dan Jaka sudah sepakat untuk mengambil uang saku setiap dua hari sekali saja tanpa ada perubahan nominal.


Roni mengatakan kepadaku, bahwa ia sepulang sekolah melihat berita yang ada di tv yang terletak di pos satpam bahwa harga beras akan naik.


“Nggak apa-apa kok, Mbak. Kita juga waktu istirahat belum laper.” sahut Jaka.


Aku terenyuh dengan sikap kedua adikku, dalam hati aku sangat bersyukur karena memiliki adik yang sangat perhatian.

__ADS_1


__ADS_2