
Hujan gerimis turun perlahan membasahi semua yang ada dalam jangkauannya.
Aku adalah seorang pluviophile. Sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti pecinta hujan.
Entah mengapa, aku sangat senang sekali ketika hujan turun. Kaki memiliki refleks khusus ketika air mulai bersalaman dengan tanah secara serentak.
Melangkah ke depan dan membuka pintu seolah tidak ada yang memerintahkannya.
Perpaduan aroma tanah dan air hujan menjadi salah satu elemen yang paling aku sukai diantara semua elemen yang ada.
Di dalam rintik hujan, ada air yang mengandung keberkahan dan siap untuk menyemai semua yang ada di bumi.
Ada pula angin yang membantunya untuk memberikan keadilan pada hamparan tanah luas.
__ADS_1
Selain itu, ada ornamen lain seperti suara gemuruh awan dan juga terkadang kilatan petir yang menampakkan kegagahannya.
Sejak kecil, aku sudah menyukai hujan. Bahkan, Ibu pernah mengatakan kepadaku jika aku ketika masih duduk di bangku TK selalu memaksa untuk keluar dan bermain hujan.
Hingga akhirnya, mau tidak mau Ayah lah yang menjadi temanku bermain kala itu.
Kata Ibu, pada mulanya Ayah merasa terpaksa karena harus menemaniku untuk bermain hujan di depan rumah.
Namun, lama-kelamaan pada akhirnya Ayah lah yang lebih sering bertanya kepada Ibu bolehkah untuk mengajakku bermain hujan di lapangan yang dulu terletak di sebelah rumah Pak Sugeng.
Pada akhirnya, lapangan itu tertutup oleh rumput yang sangat tinggi dan hanya digunakan sebagai tempat orang melepaskan sapi atau kambing milik mereka untuk membiarkan mencari makanan sendiri.
Cukup disayangkan jika dipikir-pikir, karena lapangan itu cukup luas dan jika bisa dirawat dengan baik maka pasti akan menjadi tempat untuk berkumpulnya para warga jika ada acara hajat milik desa ini.
__ADS_1
Aku teringat bahwa ketika kecil sering bermain lompat tali disana. Dahulu di lapangan itu masih ada dua buah gawang yang terbuat dari kayu dan biasa digunakan anak laki-laki untuk bermain bola.
Sedangkan di sisi kiri tanah lapang itu, ada sebuah petak yang cukup untuk bermain mini voli. Dahulu juga ada warga yang rela untuk membayar iuran demi membeli net dan juga tiang untuk bermain voli.
Tetapi pada kenyataannya saat ini, status kepemilikan tanah yang tidak jelas membuat semua warga yang rumahnya ada di sekitar lapangan itu ogah-ogahan untuk mengurus tanah lapangan.
Dari beberapa berita yang aku dengar, kebanyakan dari mereka terlalu takut jika dituduh melakukan pengambilalihan tanah secara halus.
Karena sebelumnya, ada satu orang warga yang rumahnya tepat di sebelah rumah Pak Sugeng memiliki inisiatif untuk merawat tanah lapan itu ketika Pak Sugeng sudah wafat.
Bukannya rasa terima kasih yang didapatkan, namun malah ada seseorang yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Pak Sugeng menuduh jika warga itu ingin mengambil tanah miliknya.
Kejadian yang singkat itu sangat cepat menyebar ke seluruh warga desa, hingga akhirnya membuat warga desa lebih memilih untuk membiarkannya begitu saja.
__ADS_1
Ketua RT setempat pun juga merasa bahwa kerabat yang dimiliki oleh Pak Sugeng hanya mengharapkan hal-hal materiil yang dimiliki oleh almarhum.
Memang Pak Sugeng sudah hidup sendiri sejak umur 40 tahun, karena istrinya meninggal dunia di usia yang terbilang cukup muda, yaitu 30 tahun.