
"Sudah selesai, nduk." ucap Bu Suryo begitu aku tiba di lapak tempatku berdagang biasanya.
"Apanya bu yang sudah selesai?"
"Sudah habis masanya Pak Purnomo." jawab Bu Suryo.
Aku terkejut ketika mendengar apa yang baru saja Bu Suryo utarakan. Ternyata, Bu Suryo menceritakan tentang bagaimana dampak dari keributan yang ditimbulkan oleh Pak Purnomo sendiri.
Dalam hati, aku hanya bisa berdoa kepada Allah semoga tidak ditimpakan musibah atau ujian yang sama.
Sepulang aku berdagang di pasar, Jaka yang sudah di rumah ternyata sudah menanak nasi untuk makan malam.
“Mbak, mau makan malam apa hari ini?” tanya Jaka.
“Memangnya sebanyak apa bahan yang kamu beli Jaka?” tanyaku sambil tertawa seolah di rumah banyak sekali bahan makanan yang siap untuk dipilih dan dimasak kapanpun.
“Hehehe, tadi Jaka cuma beli tempe, kecambah, sama kacang panjang sih, Mbak.” ujarnya dengan malu.
“Ya kan berarti pilihannya cuma satu aja toh. Oseng kecap manis tempe.”
Jaka pun mengangguk mengiyakan jawaban yang aku berikan. Kami berdua tidak pernah neko-neko dalam hal makanan.
Semua jenis masakan bisa kami makan tanpa ada rasa mengeluh sedikitpun. Jika memang ada satu hari kami mendapat kiriman masakan dari tetangga yang sedang memiliki hajat, kami pun bersyukur karena bisa memakan makanan yang mahal dan enak.
__ADS_1
Namun, jika memang tidak ada apa-apa dan kami dalam kondisi keuangan yang memburuk, bahkan kami dengan santainya akan sekedar memasak serundeng dari kelapa ditemani dengan kerupuk bawang.
Makanan sederhana seperti itu pun bisa terasa sangat nikmat apabila dimakan dengan rasa syukur.
Obrolan hangat pun bisa menjadi penyedap masakan sederhana menjadi lebih kaya akan cita rasa.
Malam ini, aku membiarkan Jaka untuk memasak sendiri. Dalam pikirku, memang sesekali ada baiknya untuk membiarkan seorang laki-laki yang kelak harus memimpin rumah tangga belajar sedikit demi sedikit.
Aku tidak harus selalu memberikan instruksi untuk melakukan sesuatu, kesalahan-kesalahan kecil maupun kesalahan fatal nantinya akan berdampak pada sikapnya di masa depan.
Yang bisa harus kupastikan untuk saat ini, adalah Jaka tidak mengalami trauma atau ketakutan ketika baru saja melakukan kesalahan.
Sebagai kakaknya, aku harus menjaga kepercayaan dirinya dan membuat kesalahan menjadi pembelajarannya di masa yang akan datang.
Jaka yang masih sibuk memasak, sedangkan aku duduk di kamar menghitung hasil penjualan untuk hari ini.
Aku jadi memikirkan sesuatu. Apakah para pelanggan tidak merasa keberatan jika harga daganganku sedikit kunaikkan lagi.
Mengingat, sebelumnya aku terlalu takut untuk mengambil keputusan dalam menaikkan harga. Maka dari itu, harga daganganku lebih murah daripada yang pedagang lain yang sejenis.
Masih bimbang diantara jawaban ya dan tidak, tiba-tiba Jaka memanggilku.
“Mbak, sudah siap.” teriaknya dari ruang tengah.
__ADS_1
“Ya, sebentar.”
Aku segera melihat kembali buku catatanku yang disana sudah kutuliskan jumlah keuntungan untuk hari ini dan segera mengemasi uang serta buku catatanku.
Perlahan aku berjalan menyusuri setiap kotak lantai sembari memikirkan keputusanku tadi. Sampai aku tidak sadar bahwa aku salah berjalan yang seharusnya berhenti di ruang tengah, aku malah berhenti di dapur.
“Mbak, mau ngapain di dapur?” tanya Jaka sambil menertawakanku.
Mendengar tawa itu, lamunanku buyar dan aku segera berlari dan menuju ruang tengah untuk makan malam.
Uap panas mengepul dari oseng tempe kecap manis yang baru saja matang. Berlomba untuk menuju ke puncak tertinggi dengan uap nasi sebagai rivalnya.
Tercium aroma sedap yang membuat perutku berteriak ingin segera ******* apa yang akan hadir.
“Mau aku ambilkan, Mbak?” tanya Jaka.
Aku mengangguk dan tersenyum kepada adikku. Sudah lama sekali aku tidak mendengar pertanyaan semacam itu sejak kepergian Roni.
Biasanya, salah satu dari mereka akan saling bergantian untuk mengambilkan makananku. Terkadang, perbedaan porsi dari apa yang diambil Jaka ataupun Roni menjadi candaan kami bertiga.
Ketika hanya aku dan Jaka yang tinggal di rumah ini. Kami berdua terlalu sibuk untuk mengurusi diri sendiri pada hal-hal yang bersifat pribadi seperti makan.
Aku pun terkadang merasa capek, sehingga lebih memilih untuk mengambil porsi sesuai dengan mood-ku. Agar bisa menyelesaikan makanku dengan lebih cepat.
__ADS_1
Pun begitu juga dengan Jaka. Ia terkadang memilih untuk makan malam lebih akhir karena masih sibuk untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Tidak ada yang merasa bahwa hal itu harus dipermasalahkan, namun ketika aku mendengar tawaran yang diajukan oleh Jaka barusan, membuatku teringat bahwa ada hal lain yang harus kujaga selain aktivitasku pribadi, yaitu kehangatan dengan saudaraku sendiri.