
Banyak orang yang pernah mengatakan jika jumlah tetesan keringat yang dikeluarkan untuk bertahan hidup, akan dibalas berkah dan rezeki dengan jumlah yang sama.
Aku hanya bisa mempercayai sesuatu yang baik, dan tidak terlalu pusing untuk memikirkannya.
Permasalahan dapur kini sudah kuserahkan kepada kedua adikku, aku yakin bahwa mereka semua akan bisa melakukannya dengan baik pekerjaan semudah itu.
Kuputuskan untuk meninggalkan mereka, dan segera menuju ke kamarku. Kamar yang saat ini menjadi istanaku hanya berukuran seluas dua kali dua setengah meter sudah penuh diselimuti oleh debu.
Lemari pakaian peninggalan kakekku yang dibuat dengan hasil ukirannya sendiri pun kini sudah sedikit demi sedikit digerogoti rayap.
Aku menatap ke arah genteng-genteng juga ternyata sudah ada yang menjadikannya tempat tinggal. Tampak sarang laba-laba melintas horizontal dan vertikal secara acak.
Pakaianku juga kupikir masih layak untuk dikenakan meskipun jika dilihat, modelnya sudah ketinggalan zaman.
Aku mengambil baju berwarna krem dan kupasangkan dengan rok berwarna abu-abu, lalu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Seluruh badanku terguyur. Air yang berasal dari sumur tua itu terasa dingin. Membasahi seluruh tubuhku tanpa terkecuali.
Rasa dingin aku rasakan merambat perlahan dari tulang kakiku hingga tengkorak kepalaku.
Rangkaian tulang yang masih tergolong muda ternyata juga membutuhkan treatment semacam ini.
Memori saraf-saraf yang terasa tegang karena banyak aktivitas yang baru kulakukan juga dengan pelan mulai terasa rileks.
Perpaduan antara tulang, otot dan sarafku yang setiap hari kupaksakan untuk banting tulang agar bisa memenuhi semua kebutuhan hidupku dan kedua adik laki-lakiku kini sedang merasakan kenyamanan.
Setiap guyuran air yang ditumpahkan dari sebuah gayung yang terbuat dari kayu itu aku nikmati sebelum beranjak untuk bertarung dengan dunia luar.
Terlihat tepat di sebelahku saat baru saja melangkahkan salah satu kakiku, ada ember besar berwarna hitam yang terisi dengan baju kotor milikku, dan tentu saja milik Roni dan Jaka.
Kulemparkan baju kotor yang dari kemarin kugunakan ke dalam ember itu, berpikiran semoga selalu diberi kekuatan untuk menjalani hari yang berbeda.
__ADS_1
Aku terkejut, ketika sedang berjalan menuju kamar. Bagaimana tidak, tampak kondisi dapur rumah ini sudah begitu bersih dan rapi.
Perabotan yang tadi ia gunakan untuk memasak juga sekarang sudah menggantung di rak dengan bersih dan tertata.
Sisa minyak yang usai digunakan biasanya dibiarkan begitu saja tetap di atas penggorengan, kini sudah tidak ada.
Wajan penggorengan juga sudah tampak tengkurap tenang menghadap wastafel rumahku.
Di atas meja makan pun juga sudah ada rombongan nasi, potongan dada ayam, sambal bawang, tahu dan tempe yang ditata dengan begitu mewahnya menggunakan alat makan seadanya.
Dalam langkahku menuju kamar aku berucap dalam hati dan memuji Roni dan Jaka. “Terima kasih, hanya kalian berdua yang bisa memahami Mbak dan hanya kalian berdua yang bisa Mbak andalkan.”
“Roni.. Jaka.. kalian dimana?” aku berteriak memanggil mereka berdua khawatir mereka tertidur karena capek.
“Iya mbak, ada apa? sahut Roni sambil melangkah keluar kamar dengan membawa pakaian dan alat mandi miliknya.
__ADS_1
“Semuanya sudah siap kenapa kok nggak langsung sarapan aja?” tanyaku.
“Aku mau mandi dulu, Mbak. Sarapan masih bisa ditunda kok, lagian juga sekarang masih belum terlalu lapar.” jawab Roni sambil menggaruk kepalanya.