SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 028


__ADS_3

Di kampungku, tidak ada yang lebih baik dari semua orang. Semua warga disini dipandang sama rata, namun terkadang tetap saja ada yang tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh orang lain.


Seperti tetangga sebelahku, yang dari dulu berjualan beras. Jika dilihat dengan baik, maka apa yang ia lakukan tidak ada salahnya.


Apalagi ia berjualan juga tidak dengan menjatuhkan orang lain. Pasangan suami istri yang baru pindah ke desa ini sekitar empat tahun yang lalu itu masih tetap melakukan hal itu meskipun ada beberapa tetangga yang mencibirnya.


Sesekali aku pernah mendengar ketika berjalan sepulang dari mushola. Beberapa ibu-ibu mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu cukup aneh.


Bagaimana tidak, menurut ibu-ibu itu, seharusnya seseorang yang berjualan beras juga menjual bahan sembako yang lainnya seperti minyak, telur, dan lain-lain.


Namun berbeda dengan pasangan suami istri itu, benar-benar hanya menjual beras.


Dari depan rumahnya, juga tidak nampak ada gudang besar yang berisikan banyak sekali beras.

__ADS_1


Ibu-ibu yang berjalan di depanku itu juga mengatakan bahwa mungkin jika ada gudang itu, masih masuk akal apa yang dilakukan oleh pasutri itu. Berarti memang mereka berdua memiliki bisnis yang besar di sektor pangan terutama beras.


Dari situ, aku pun teringat pada adikku, Jaka. Ia baru saja memulai pengalaman pertamanya sebagai pedagang di pasar.


Pasti akan ada banyak sekali cibiran yang tersurat secara langsung, maupun cibiran yang terbungkus oleh pujian.


Dalam benakku, sebenarnya aku sangat ingin sekali untuk menanyakan secara detail tentang pengalaman berjualannya Jaka.


Namun, kembali lagi jika aku pikirkan secara mendalam, aku pun memiliki keinginan agar adikku siap untuk hidup mandiri menghadapi banyak masalah yang masih menunggu di masa depannya.


Dalam lamunanku, aku juga memikirkan bagaimana keadaan diriku saat ini. Kondisi tubuh yang tidak kunjung membaik, membuatku semakin khawatir.


Sudah beberapa kali Jaka mengatakan ingin mengantarku untuk periksa ke klinik, namun aku tolak begitu saja.

__ADS_1


Aku menolak bukannya tanpa alasan, namun, aku memikirkan lebih banyak hal yang lain seperti keuangan, dan juga waktu untuk yang akan lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat jika harus mematuhi apa yang dokter katakan.


Biasanya, aku tidak memanjakan semua sisi tubuh dan otot yang menyangga tubuhku jika sedang sakit.


Memaksa semuanya untuk tidak manja pada keadaan adalah salah satu metodeku untuk bisa bangkit dan sembuh seperti semula.


Tapi, mengapa sakit yang aku derita kali ini terasa berbeda. Bahkan, beberapa pil obat yang sudah dibelikan oleh Jaka juga seakan tidak memberikan dampak apapun pada kondisiku sekarang ini.


Ingin sekali aku meringis dan merasakan pelukan Ibu lagi, ingin sekali aku mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Ayahku dengan semua perjuangannya yang bahkan hanya menyuapi diriku dengan roti yang dicelupkan pada susu.


Menangis, kata Ibu adalah hal yang sangat wajar dilakukan oleh semua orang jika sedang dalam keadaan yang sulit.


Namun, Ayah kala itu menambahkan apa yang Ibu ucapkan. Menurut Ayah, menangis juga hal yang wajar jika disertai dengan rasa optimis untuk bisa segera menyelesaikan semua masalah yang sedang ditangisi.

__ADS_1


Dan kali ini, aku harus membuat Ayah dan Ibu bangga dengan melakukan apa yang pernah mereka berdua katakan.


__ADS_2