SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 030


__ADS_3

"Mbak, bangun, adzan subuh." ucap Jaka.


Aku yang merasa tidak mendengar apapun, bertanya kepada Jaka diantara ketidaksadaranku.


"Belum ada yang adzan. Telingaku selalu tergugah ketika mendengar adzan." responku begitu.


"Astaghfirullah, sudah kak." sahutnya dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Jaka pun menarik telinga kananku, sehingga memaksa mataku harus terbuka karena reflek menerima rasa sakit.


"Kalau udah melek gini pasti bisa denger."


Dan ternyata benar, adzan masih berkumandang sampai pada bait "hayya ala sholat."


Tubuhku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur, kakiku mencoba untuk melangkah segera mengambil air wudhu.


Aku merasa heran, pagi ini ada yang terasa berbeda dari biasanya. Seluruh susunan otot dan tulangku terasa begitu ringan.


Bukan lagi kamarku yang sebelumnya kujadikan tempat sembahyang, kini aku memutuskan untuk kembali mengunjungi musholla di desaku.


Seusai sholat, banyak tetangga yang menanyakan bagaimana keadaanku. Ada beberapa warga juga yang tiba-tiba mengajakku untuk datang ke rumah mereka untuk mengambil kue.


Aku pun sebenarnya juga tidak mengetahui apa maksud dari sikap mereka yang seperti itu.

__ADS_1


Mencoba untuk tetap berpikir positif, aku pun mengiyakan ajakan mereka.


Bu Wahyu, yang rumahnya memang berdempetan dengan musholla itu, memberikan satu mangkok puding buatannya.


Bu Cokro, yang rumahnya berada di pojok pertigaan yang selalu dilewati warga ketika pergi ke mushola, memberiku satu botol minuman herbal yang katanya bisa membantu menjaga daya tahan tubuh.


Terima kasih kuucapkan kepada mereka berdua dengan setulus hati, rupa kasih sayang mereka memang seperti ini dan aku tidak bisa menyangkalnya.


Hingga akhirnya aku sampai di rumah, disambut dengan sebuah pernyataan yang keluar dari mulut Jaka.


"Alhamdulillah, memang Mbak ini membawa berkah. Baru saja sembuh, sudah dapat jajanan." ucapnya sambil sedikit tertawa.


Aku pun juga ikut tersenyum lebar ketika mendengar hal itu.


Puding dan minuman yang tadi aku terima dari Bu Wahyu dan Bu Cokro pun kuhidangkan di atas meja.


"Ini, puding dari Bu Wahyu. Sedangkan minuman ini, dari Bu Cokro." ucapku sambil menunjuk keduanya.


Tidak butuh waktu lama sepertinya untuk Jaka menentukan apa yang harus dilakukannya dengan kedua hidangan itu.


Ia segera mengambil sendok, lepek, dan satu buah cangkir kecil dari stainless favoritnya.


Dipotongnya kecil-kecil puding itu dan Jaka langsung melahapnya.

__ADS_1


Apalagi puding yang kubawa sepertinya memang baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Terlihat beberapa lapisan es tipis di atasnya ketika aku tadi menerima itu dari Bu Wahyu.


Dalam batinku, aku merasa sangat bahagia sekali melihat Jaka bisa menikmati puding sederhana itu.


Tinggal menunggu waktu sampai ia meneguk minuman herbal buatan Bu Cokro. Benar-benar sudah tidak sabar aku untuk melihat bagaimana reaksinya.


"Mbak, ini jamu apa?" tanyanya sambil mengecap puding.


"Tidak tahu, tadi Bu Cokro juga tidak bilang. Cuma sekedar bilang kalau itu bagus buat imun tubuh." sahutku.


"Aku minum boleh nggak, Mbak?"


Tanpa mengeluarkan jawaban apapun, aku hanya mengangguk.


Langsung saja Jaka menuangkan jamu itu ke dalam cangkir dan meneguknya.


Tegukan pertama, mukanya langsung berubah seakan memberi sinyal pada semua orang bahwa Jamu itu memiliki rasa yang tidak umum.


Rasa yang memang bukan untuk sebuah minuman penghilang dahaga.


"Mbak, pahitt.." teriaknya dengan muka konyol.


Aku pun tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa meskipun aku merasa kasihan pada adikku tetapi tetap saja aku tidak bisa menahan tawaku.

__ADS_1


__ADS_2