SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 022


__ADS_3

Baru saja aku datang di lapak tempatku berdagang, sudah terdengar keributan yang terjadi di dalam pasar.


Aku menoleh ke arah Bu Suryo, tatapanku menyiratkan sebuah pertanyaan tentang keributan itu.


“Kenapa, nduk?” tanya Bu Suryo.


“Ada ribut-ribut apa bu di dalam?”


Bu Suryo menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya secara bersamaan.


Mungkin Bu Suryo juga masih belum mengetahui akar permasalahan dari keributan itu, sehingga tidak berani menjawab pertanyaanku.


Bagi beliau, daripada memberikan jawaban yang masih menggantung, lebih baik untuk diam terlebih dahulu.


Teriakan antara dua orang itu benar-benar keras, namun tidak terlalu jelas apa kalimat yang mereka katakan.


Namun, aku bisa memastikan bahwa itu adalah teriakan yang berasal dari dua orang.


Satu suara teriakan laki-laki dan satu lagi suara teriakan. Aku yang sedang menata daganganku, tidak bisa terlepas dari pikiran keributan itu.


Aku menduga, yang pasti ada kesalah pahaman antara dua orang itu jika yang saling berteriak adalah seorang pedagang dan pembeli.


Namun jika ternyata keributan itu disebabkan oleh sesama pedagang, aku tidak tahu-menahu lagi.


Terlalu banyak faktor dan kemungkinan yang bisa menyebabkan gesekan antara dua orang pedagang.


Belum lagi, jika nantinya kedua orang itu sama-sama memiliki kubu atau ibaratnya seperti organisasi sendiri, maka masalah akan lebih rumit dan tidak mudah diselesaikan.


Selesai sudah daganganku tertata dengan rapi dan siap untuk melayani pelanggan, lagi dan lagi suara teriakan itu masih terdengar meskipun sempat ada jeda diam di antara kedua orang tua itu.

__ADS_1


Aku beristighfar dan memohon perlindungan kepada Allah.


“Astaghfirullahal’adzim. Ya Allah berikanlah keselamatan pada kedua orang yang sedang bertengkar dan berikanlah keselamatan kepada kami semua yang mendengarnya.”


“Aamiin.” ucap Bu Suryo.


Ternyata suara lirihku barusan didengar oleh Bu Suryo. Aku pun berterima kasih kepadanya karena telah ikut mengaminkan.


“Nduk, kamu orang yang baik.” sahut Bu Suryo.


Perkataan itu membuatku tersenyum tipis. Karena Bu Suryo lebih lama dariku berdagang disini, bahkan beliau sudah berdagang ketika Ibu masih berbelanja di pasar ini dengan nenek.


Bu Suryo adalah seseorang yang tulus dan tidak terlalu banyak mengharap pada seseorang.


Yang aku kagumi dari beliau adalah kesabarannya yang begitu hebat dan perkataannya yang sangat lembut.


"Bu, Jaka kemarin juara 1 lomba desain."


"Ya Allah, alhamdulillah." sahutnya.


Obrolan kami mengalir begitu saja, aku menceritakan kebanggaanku pada Jaka. Bu Suryo pun juga menceritakan tentang putranya.


Putra Bu Suryo bernama Agung Probohusodo. Sebuah nama yang sangat kental dengan bahasa Jawa.


Jika diartikan perkata, Agung memiliki makna besar. Probo berarti sinar, dan husodo berarti mendatangkan uang.


Bu Suryo sendiri pernah mengatakan kepadaku jika harapannya dengan anak yang memiliki nama seperti itu adalah, kelak anaknya bisa menyinari tempat disekitarnya dengan hal yang baik dan juga bersamaan mendatangkan rezeki yang berlimpah.


Aku kala itu baru menyadari bahwa sebuah nama tidak hanya mengartikan sebuah doa. Namun terdapat harapan-harapan dari orang tua untuk anak tercintanya.

__ADS_1


Bahkan ketika Bu Suryo sedang mengandung Agung, Bu Suryo banyak sekali mengisi waktu luangnya untuk membaca buku tentang motivasi yang diberikan oleh orang-orang besar.


Sekarang ini, putra Bu Suryo sedang menempuh kuliah S2 di Jakarta dengan bermodalkan beasiswa yang didapatkan. Bu Suryo bercerita jika Agung kala itu berjuang mati-matian demi bisa mendapatkan beasiswa yang ia inginkan.


Banyak sekali ikhtiar ibadah yang dilakukan, dan juga sering sekali menangis untuk meminta maaf kepada Bu Suryo dan suaminya ketika saling bertukar kabar melalui telepon.


Sejenak ketika mendengarkan Bu Suryo bercerita, aku melamun dan berpikir jika sebentar lagi aku menginjak usia yang ideal untuk menikah.


Namun, bahkan hingga saat ini aku masih sering kebingungan untuk mencukupi kebutuhan hidupku pribadi dan adikku.


Beberapa dari teman laki-lakiku juga sudah ada yang pernah menemui Ayah untuk meminta ijin agar bisa lebih dekat denganku, namun Ayah selalu saja memberikanku kebebasan untuk menjawabnya.


Dan ketika itu, aku benar-benar masih tidak memikirkan hal yang semacam ini sebelumnya.


Di tengah lamunanku yang sebentar itu, aku sama sekali tidak menyangka jika Bu Suryo memperhatikanku sedari tadi.


“Nduk, kepikiran apa hayoo?” tanya Bu Suryo sambil tertawa.


Lamunanku buyar ketika mendengar cletukan Bu Suryo.


“Oh, tidak apa-apa kok Bu.” balasku.


Lantas Bu Suryo pun melanjutkan ceritanya sedikit lagi, dan juga memberiku sebuah nasihat.


Beliau mengatakan, jika memang tidak ada desakan untuk menikah maka sebaiknya aku tidak terlalu terburu-buru.


Yang paling penting dalam penuturan beliau adalah, tetap menjaga diri sebagaimana mestinya. Melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk sekarang ini.


Perihal jodoh dan lelaki siapa yang akan mendampingi, Bu Suryo berkata semua akan ada waktu yang tepat untuk bertemu.

__ADS_1


__ADS_2