
Langkah kakiku belum terhenti di lapak tempatku berjualan biasanya, Bu Waluyo sudah meneriaki histeris.
"Ya Allah, Putri. Alhmdulillahi robbil 'alamiin." teriak Bu Waluyo.
Beliau berlari menghampiriku dan langsung memelukku begitu saja.
"Alhamdulillah, bu.. Putri sudah sehat sekarang." bisikku pada beliau.
Sebagai seseorang yang lebih muda, aku merasa seperti sedang dipeluk dengan tulus dan penuh kasih sayang oleh seorang ibu.
Pelukan hangat yang bahkan tidak sedikit pun menunjukkan sisi intimidasi selalu membuatku nyaman.
Dalam dekapannya, Bu Waluyo ternyata tiba-tiba meneteskan air mata.
Aku bertanya pada beliau, sembari mencoba melepas halus pelukannya.
"Bu Waluyo kenapa menangis?" tanyaku sambil tersenyum.
"Ibu itu merasa ada yang hilang, nduk, ketika kamu tidak berjualan. Meskipun ada Jaka, namun tetap saja obrolan ibu bisa lebih mengalir jika ada Putri." jelasnya pelan.
Hatiku merasa tersentuh mendengar jawaban yang baru saja Bu Waluyo utarakan.
Seperti jawaban dari seorang malaikat pelindung yang begitu tenang, menghanyutkan semua hati manusia yang mendengarnya.
Percakapanku dengan Bu Waluyo tidak berakhir begitu saja.
__ADS_1
Seusai aku menata lapak dan juga daganganku, Bu Waluyo pun mengajukan banyak sekali pertanyaan kepadaku.
Mulai dari ingin aku menjelaskan lebih detail tentang sakitku, karena sebelumnya jawaban yang diberikan Jaka hanya sebatas garis besarnya saja.
Lalu juga Bu Waluyo menanyakan bagaimana sekolah Jaka ketika ia harus izin atau entah dihitung membolos oleh sekolah karena harus menggantikan diriku untuk berjualan di pasar.
Hingga akhirnya aku menceritakan lebih banyak hal sampai terakhir yaitu pada bab Jaka harus berteriak akibat merasakan pahitnya jamu pemberian Bu Cokro.
Bu Waluyo pun yang mendengar ceritaku mendapatkan hampir semua emosi yang ada.
Merasa iba ketika aku harus menahan sakit, hingga beliau tertawa ketika mendengar cerita tentang Jaka.
Semua ekspresinya begitu tulus, tidak ada yang dibuat-buat hanya karena ingin menghiburku.
Hal yang sama kurasakan juga ketika melayani para pelanggan.
Aku, dalam hati benar-benar bersyukur karena ternyata tidak sedikit orang yang peduli kepadaku dan adikku.
Hingga ada satu pembeli asing, dilihat dari wajahnya seperti bukan wajah orang Malang atau bahkan orang Jawa.
Ketika ia mengatakan sesuatu, logat bicaranya pun juga semakin mendukung bahwa ia bukanlah orang Jawa.
"Enak." ucapnya sambil menunjukkan mimik wajah begitu menikmati masakanku.
"Terima kasih." balasku singkat sambil tersenyum.
__ADS_1
"Anda baru pertama kali ke daerah ini?" lanjut aku menanyakan hal itu kepadanya.
Acungan jempol aku dapatkan sebagai balasan dari pertanyaanku.
Yang membuat diriku bingung adalah, bagaimana cara ia menikmati masakanku.
Berbeda dengan orang-orang pada umumnya yang seperti tidak peduli pada tampilan masakanku.
Orang asing ini begitu memperhatikan setiap detail potongan lauk, dan juga beberapa rempah yang terpotong besar-besar.
"Masakanmu enak, kenapa tidak mencoba untuk ikut lomba memasak?" tanyanya.
Aku tercengang begitu saja mendengar pertanyaan singkat darinya.
"Jujur, layak untuk dihidangkan di depan juri." tambahnya bahkan sebelum aku menjawab pertanyaannya tadi.
"Lomba memasak?" tanyaku.
Aku merasa bahwa itu adalah pertanyaan yang paling bodoh. Tapi aku tidak bisa menahan pertanyaan itu untuk tidak keluar dari mulutku.
Ia tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku barusan.
"Tentu saja." jawabnya singkat sambil memberikan kartu nama miliknya.
— Rudy Gunawan, Head Chef Devide Hotel —
__ADS_1
Nama orang itu adalah Rudy Gunawan, dan dia adalah seorang kepala koki di salah satu hotel bintang lima di Malang.
Dan baru saja, aku mendapatkan pujian atas masakanku dari seorang kepala koki.