
kenapa?"
Sontak aku menghentikan kegiatanku. Tangan kiriku menumpu badan atasku di meja makan. Aku terduduk, dan meneteskan air mata.
Aku memikirkan bagaimana kondisi tubuhku saat ini. Memikirkan bagaimana nantinya jika adikku, Jaka harus memikul semua beban seorang diri.
Tetesan air mataku masih terus mengalir, tidak menyadari bahwa Jaka saat ini sudah berada di depanku.
"Mbak, kalau memang masih sakit. Biar Jaka yang ijin tidak ikut sekolah menggantikan Mbak berjualan di pasar." ucapnya lirih.
"Kamu harus tetap sekolah, adikku harus bisa menggapai cita-citanya. Itu juga cita-cita Mbak, Jaka." sahutku dengan merintih kesakitan.
Tiba-tiba saja Jaka berdiri dan memelukku dari belakang.
"Mbak, semuanya tidak perlu dipaksakan. Berusaha lebih itu boleh, asal tidak memaksa." ucap Jaka kepadaku.
Sebuah kalimat manis yang tidak pernah kuduga akan keluar dari mulut seorang Jaka. Kalimat yang memberikan pesan mendalam tanpa menimbulkan kesan arogan.
Masih tidak bisa kulepaskan begitu saja kata-kata yang diucapkan oleh adikku.
Hingga akhirnya Jaka kembali ke tempat duduk di depanku.
"Mbak istirahat dulu, biar Jaka yang handle semuanya."
Adikku satu-satunya, mengatakan hal seperti itu. Seolah ia adalah superhero yang bisa melakukan banyak sekali hal-hal tidak terduga.
Namun, mau bagaimana lagi. Saat ini, dia adalah pahlawan untukku. Hanya Jaka yang bisa membantuku.
Aku tersenyum tipis dalam tetesan air mata yang masih saja mengalir.
"Ya sudah, kamu sudah tahu apa yang biasa Mbak lakukan di pagi hari. Mbak, percaya kamu bisa. Maafkan Mbak, ya Jaka."
Jaka tertawa dan mengacungkan jari jempolnya kepadaku, dan segera pergi ke dapur begitu saja.
Kini, aku harus merawat dan mengurus diriku sendiri.
Tidak mungkin aku yang sudah memasrahkan semuanya pada Jaka juga harus meminta bantuannya untuk merawatku.
__ADS_1
"Tidak, tidak, semakin manja, aku akan semakin terjebak dalam sakit yang bisa saja hanya sepele ini." batinku dalam hati.
Langkahku bergerak perlahan. Menyusuri dinginnya lantai rumah.
Hingga suara benturan dari lututku dan ranjang kayu terdengar cukup keras.
Tanpa melihat pun, aku segera merebahkan badan dan mencoba mencari kenyamanan berharap kesembuhan.
Keputusanku untuk beristirahat sejenak di hari ini, sepertinya keputusan yang cukup tepat.
Tidak bisa kusangka lagi, apa jadinya jika aku tetap memaksakan untuk pergi berdagang.
Saat ini jam dinding yang setia menempel pada dinding kamarku telah menunjukkan pukul 11.00
Badanku terasa sangat berat sekali. Tangan kananku susah untuk digerakkan, hanya bermodalkan tangan kiri saja aku memutar tasbihku.
Kepalaku bersandar pada lemari kayu tua yang berisi pakaianku dan beberapa pakaian bekas ibu.
"Ya Allah, hanya Engkaulah yang mengetahui batas kemampuan hamba-Mu. Dan hanya Engkaulah yang menentukan kesembuhan dari penyakit setiap hamba-Mu."
Hatiku merasa tenang, bulu kuduk milikku berdiri serentak karena merasa terenyuh dengan asma itu.
Asma yang hanya dimiliki oleh Allah, yang tidak ada satupun makhluk bisa mendapatkannya.
Meskipun tangan kananku susah digerakkan, dan seluruh tubuhku terasa berat.
Mataku terpejam, menanggalkan penglihatan yang ada di sekelilingku.
Namun aku tidak tahu mengapa, saat ini aku merasa sangat nyaman.
Seolah-olah aku sedang dibawa menuju ke suatu tempat.
Nafas yang awalnya aku rasakan dan lakukan secara sadar, kini mulai menghilang perlahan.
Aku tidak lagi mengingat hitunganku dalam menyebut asma-Nya. Bibirku tetap bergerak, mengikuti naluri untuk berdzikir kepada-Nya.
Tidak ada lagi yang bisa aku rasakan dari setiap indra yang aku punya.
__ADS_1
"Mbak.. Mbak.."
Aku tersadar dan menghirup napas panjang. Kata Jaka, aku pingsan dan tidak sadar ketika ia sampai di rumah sepulang berdagang di pasar.
Benar saja, ketika mataku perlahan mulai terbuka, pandanganku kabur dan tidak jelas seolah sedang tertutup genangan air mata yaNg sangat banyak.
Beberapa saat aku tidak bisa menjawab panggilan yang dilontarkan oleh adikku.
Namun, aku tahu jika adikku itu sedang berusaha melakukan sesuatu kepadaku.
Aku mencoba untuk memanggilnya, namun bibirku tidak bisa bergerak.
Hingga Jaka menyuguhkan air putih hangat kepadaku dan menggenggamkan tanganku pada gelas itu, aku mulai merasakan sensasi hangat.
Berangsur-angsur pulih kesadaranku, respon dari suhu hangat itu menetralkan apa yang baru saja aku alami.
Aku pribadi sendiri, tidak mengetahui apakah baru saja aku pingsan atau ada hal lain.
Yang paling penting, saat ini aku tersadar kembali. Bahu kananku sedikit mulai berkurang rasa sakitnya.
"Terima kasih." ucapku pada Jaka.
Jaka mengangguk dan memegang keningku, mengecek apakah suhu tubuhku normal atau tidak.
"Nggak panas kok, mbak." ujar Jaka.
"Alhamdulillah." batinku di dalam hati.
Jaka pun kemudian membantuku untuk kembali ke kasur. Lalu ia mengambil makanan yang sudah ia beli sepulang dari berdagang dan memberikannya kepadaku.
Hari ini, Jaka menceritakan banyak hal terkait dengan hari pertamanya berjualan.
Mulai dari dirinya yang dipuji-puji oleh banyak orang karena sudah berusaha hidup mandiri di pasar di usia sekarang ini.
Ada juga yang menyindir Jaka, karena menganggap Jaka memiliki cita-cita yang dangkal, namun dianggap sebagai angin lalu begitu saja oleh Jaka.
Aku merasa bersyukur, Jaka tidak mengalami kendala yang berarti untuk pengalamannya berdagang pertama kali seorang diri.
__ADS_1