SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 007


__ADS_3

“Alhamdulillah Ya Allah.” ucapku dalam hati.


Daganganku hari ini laku habis meskipun aku harus pulang lebih sore daripada pedagang yang lainnya.


Petak Bu Suryo juga sudah bersih. Aku segera membersihkan semua peralatan daganganku.


Kuambil sepeda yang saat ini sedang terparkir sendirian, dan tetap setia menungguku.


Tidak ada yang lebih melegakan bagi seorang pedagang selain melihat dagangannya habis terjual.


Sesaat setelah selesai kunaikkan semua daganganku di atas sepeda ontelku. Ada seseorang yang bertanya kepadaku dari belakang.


“Sudah mau pulang, mbak?” tanya orang itu.


“Sudah, bu.” jawabku sambil menoleh.


Tidak pernah kusangka bahwa yang saat ini berada di depanku adalah Dena. Teman sekelasku ketika di SMA.


Sudah lama sekali sejak kelulusan SMA aku tidak pernah lagi menemuinya. Kehidupan kami yang berbeda lah yang menyebabkan hal itu.


Saat ini, Dena sedang melanjutkan kuliahnya di ibukota. Ia mengejar impiannya untuk menjadi seorang perancang busana. Impian yang tetap sama ketika ia masih duduk sebangku denganku.


“Ya Allah, Dena. Sudah lama nggak ketemu ya.”


“Gimana kabarnya, Put?” tanya Dena dengan senyuman manisnya.


“Alhamdulillah, daganganku habis hari ini.” sahutku dengan membalas senyumannya.


“Joko, Raka sehat?” tanya Dena lagi.


“Kamu masih inget adekku ya?”


“Masih dong.” ujarnya.


Dena memang pernah berkunjung ke rumahku. Kala itu, aku mengajaknya ketika ada syukuran untuk aqiqahnya Jaka.


Ia juga sudah mengenal baik dengan keluargaku, begitu juga aku yang pernah diajak untuk bermain di rumahnya.


“Kamu gimana kabarnya?”

__ADS_1


“Alhamdulillah, kuliahku juga lancar kok. Aku tadi ke rumahmu, ternyata masih tidak ada orang. Lalu aku tanya ke tetangga, katanya kamu berjualan di pasar ini.” jawab Dena.


“Iya, aku berjualan nasi sekarang.”


“Lalu, Ayah sama Ibu?


Pertanyaan yang membuatku bersedih, namun tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Dena belum mengetahui kecelakaan yang menimpa Ayah dan Ibuku. Aku tidak pernah menceritakan kepada Dena tentang musibah ini.


Bukannya aku tidak mau bercerita, namun aku tahu bahwa Dena sangat mudah sekali tersentuh hatinya.


Aku lebih takut apabila ia mendengar ceritaku, ia akan pergi dan rela untuk membolos kuliahnya hanya demi menemuiku.


Tidak ingin aku membuat pikirannya terbebani dan juga kuliahnya dalam masalah, aku pun memutuskan untuk menceritakan jika kami sedang bertemu.


Dan kini, Dena sudah berada di depanku.


“Ayah, Ibu insyaAllah baik.” jawabku.


“InsyaAllah?” tanyanya penasaaran.


“Mau mampir ke rumah? Sudah lama kita nggak ngobrol kan?”


Dena mengiyakan, namun ia harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu setelah itu baru akan menuju rumahku.


“Baiklah, aku tunggu di rumah ya. Nanti kubuatkan teh hitam kesukaanmu.” sahutku bahagia melihat sahabatku akan berkunjung.


Setelah percakapan sore itu, Dena pun pergi meninggalkanku. Aku kembali melanjutkan merapikan daganganku di atas sepeda ontel.


Kurasa semua sudah rapi dan seimbang.


“Bismillahirrahmanirrahim.” ucapku dalam hati.


Sepeda ontel kukayuh melewati jalan kampung yang masih beralaskan tanah. Dalam perjalanan, aku melihat ada bapak dan ibu petani yang juga sudah mulai berkemas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Pohon bambu di kiri dan kanan jalan membuat sinar matahari yang menyentuh kulitku terasa dingin.


Mereka bergoyang hembusan angin yang diberikan oleh hamparan sawah. Tidak ada perjalanan yang menyenangkan bagi semua orang selain perjalanan pulang.


Batu kerikil yang renta tiba-tiba membuat sepedaku tidak stabil. Aku terjatuh bersamaan dengan tempat nasi dan beberapa wadah lauk milikku.

__ADS_1


“Ya Allah, memang ada saja caramu untuk menguji hambamu.” batinku dalam hati sambil tersenyum.


Ujian bisa datang kapanpun, namun ikhtiar harus tetap kulaksanakan. Emosiku tidak boleh menjadi buruk karena di rumah aku harus tetap tersenyum di hadapan kedua adikku.


Terlebih lagi, setelah ini Dena juga akan menghampiri rumahku yang nyaman itu.


Aku segera bangkit dan meletakkan semua barang yang terjatuh seperti semula. Untung saja, yang tergores luka hanyalah siku dan lututku.


Sepeda ontelku masih bisa menerima kecelakaan minor barusan dan tidak menanggung kendala yang serius.


Kulanjutkan kembali perjalanan pulang menyusuri sungai kecil yang beberapa kali menemaniku di perjalanan dengan gemericik airnya yang menenangkan.


Sesampainya di rumah, aku disambut oleh Jaka.


“Mbak, kok tumben baru pulang?” tanya Jaka yang sedang menyapu halaman.


“Iya, hari ini baru habis agak sore. Juga tadi Mbak ngobrol dulu sama temennya Mbak.”


“Temen siapa, Mbak?” tanyanya penasaran.


“Kamu pasti kenal kok. Temen deketnya Mbak.” jawabku mengunggah penasaran Jaka.


“Oh, Mbak Dena ya?”


“Iya, Mbak Dena nanti mau kesini.”


Jaka terlihat sumringah mendengar nama Dena. Bagaimana tidak, ketika acara aqiqah Jaka, Dena memberikan sebuah kado untuknya. Sebuah mainan dan beberapa makanan yang tidak dijual di kampung kami.


“Mbak masuk dulu ya, mau siap-siap dulu.” ucapku.


Jaka mengacungkan jempolnya lalu melanjutkan tugasnya yaitu menyapu halaman.


Sementara itu, aku melihat Roni yang sedang berada di dapur baru akan memasak nasi. Seingatku, Roni tidak pernah bertanya tentang takaran air dan bagaimana cara memasak nasi.


Tetapi kali ini, aku mencoba untuk diam saja dan membiarkannya melanjutkan hal itu.


Bagiku, untuk kedua adikku mereka sesekali harus mencoba hal baru tanpa ada yang mengganggunya.


Mereka akan mendapatkan pelajaran jika hal itu tidak sesuai dengan harapannya dan akan ingin mencoba hal yang lebih jika berhasil.

__ADS_1


__ADS_2