SATU HARAPANKU PADAMU

SATU HARAPANKU PADAMU
Chapter 026


__ADS_3

Hujan gerimis turun perlahan membasahi semua yang ada dalam jangkauannya. 


Aku adalah seorang pluviophile. Sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti pecinta hujan. 


Entah mengapa, aku sangat senang sekali ketika hujan turun. Kaki memiliki refleks khusus ketika air mulai bersalaman dengan tanah secara serentak.


Melangkah ke depan dan membuka pintu seolah tidak ada yang memerintahkannya.


Perpaduan aroma tanah dan air hujan menjadi salah satu elemen yang paling aku sukai diantara semua elemen yang ada.


Di dalam rintik hujan, ada air yang mengandung keberkahan dan siap untuk menyemai semua yang ada di bumi.


Ada pula angin yang membantunya untuk memberikan keadilan pada hamparan tanah luas.


Selain itu, ada ornamen lain seperti suara gemuruh awan dan juga terkadang kilatan petir yang menampakkan kegagahannya.


Sejak kecil, aku sudah menyukai hujan. Bahkan, Ibu pernah mengatakan kepadaku jika aku ketika masih duduk di bangku TK selalu memaksa untuk keluar dan bermain hujan.


Hingga akhirnya, mau tidak mau Ayah lah yang menjadi temanku bermain kala itu. 

__ADS_1


Kata Ibu, pada mulanya Ayah merasa terpaksa karena harus menemaniku untuk bermain hujan di depan rumah.


Namun, lama-kelamaan pada akhirnya Ayah lah yang lebih sering bertanya kepada Ibu bolehkah untuk mengajakku bermain hujan di lapangan yang dulu terletak di sebelah rumah Pak Sugeng.


Kini, lapangan itu sudah tidak ada semenjak kepergian Pak Sugeng. Tidak ada lagi orang yang mau merawat dan memotong rumput yang tumbuh di tanah lapang itu.


Pada akhirnya, lapangan itu tertutup oleh rumput yang sangat tinggi dan hanya digunakan sebagai tempat orang melepaskan sapi atau kambing milik mereka untuk membiarkan mencari makanan sendiri.


Cukup disayangkan jika dipikir-pikir, karena lapangan itu cukup luas dan jika bisa dirawat dengan baik maka pasti akan menjadi tempat untuk berkumpulnya para warga jika ada acara hajat milik desa ini.


Aku teringat bahwa ketika kecil sering bermain lompat tali disana. Dahulu di lapangan itu masih ada dua buah gawang yang terbuat dari kayu dan biasa digunakan anak laki-laki untuk bermain bola. 


Tetapi pada kenyataannya saat ini, status kepemilikan tanah yang tidak jelas membuat semua warga yang rumahnya ada di sekitar lapangan itu ogah-ogahan untuk mengurus tanah lapangan.


Dari beberapa berita yang aku dengar, kebanyakan dari mereka terlalu takut jika dituduh melakukan pengambilalihan tanah secara halus.


Karena sebelumnya, ada satu orang warga yang rumahnya tepat di sebelah rumah Pak Sugeng memiliki inisiatif untuk merawat tanah lapan itu ketika Pak Sugeng sudah wafat.


Bukannya rasa terima kasih yang didapatkan, namun malah ada seseorang yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Pak Sugeng menuduh jika warga itu ingin mengambil tanah miliknya.

__ADS_1


Kejadian yang singkat itu sangat cepat menyebar ke seluruh warga desa, hingga akhirnya membuat warga desa lebih memilih untuk membiarkannya begitu saja.


Ketua RT setempat pun juga merasa bahwa kerabat yang dimiliki oleh Pak Sugeng hanya mengharapkan hal-hal materiil yang dimiliki oleh almarhum.


Memang Pak Sugeng sudah hidup sendiri sejak umur 40 tahun, karena istrinya meninggal dunia di usia yang terbilang cukup muda, yaitu 30 tahun. 


Dan beliau lebih memilih menduda daripada untuk menikah lagi. Waktunya pun menjadi semakin mengerucut hanya untuk kerja.


Banyak sekali hektar sawah yang sudah berhasil Pak Sugeng beli, dan juga masih banyak lagi kekayaan yang dimiliki oleh Pak Sugeng. 


Warga disini mengetahui karena memang seringkali Pak Sugeng berbagi kepada warga sekitar. Meskipun rumahnya sederhana, tidak seperti rumah bertingkat dengan gerbang mewah yang mengintimidasi para tamunya.


Rumah beliau sederhana, sedikit lebih besar daripada rumah warga disini pada umumnya, namun jika dilihat dari luar nampak biasa saja.


Kesederhanaan beliau juga terlihat dari pakaiannya sehari-hari, yang lebih memilih untuk memakai kaos oblong dengan bawahan sarung berwarna tanpa motif yang biasa dipakai untuk berkeliling desa dan menyapa warga yang ditemuinya.


Tidak ada sedikitpun menunjukkan keangkuhan ataupun kesombongan karena harta yang dimilikinya.


Hingga pada akhir usianya pun, beliau masih sempat untuk memberi mandat kepada Pak RT yang kali itu menemani di rumah sakit agar membagikan sembako kepada warga di RT ini.

__ADS_1


Kenangan baik Pak Sugeng akan selalu diingat oleh semua warga desa ini.


__ADS_2