SAVANT

SAVANT
Chapture 1


__ADS_3

Aku terbangun dari mimpi buruk lama ku, ketika mobil berhenti dan mesin menjadi sunyi. Kepalaku menekan bantal, tidur menyeretku seperti jangkar, butuh beberapa saat bagiku untuk mengingat di mana aku berada. Bukan di stasiun layanan jalan raya, tapi di Colorado bersama orang tuaku.


"Bagaimana menurutmu?" Simon.


Begitu ayahku lebih suka dipanggil, keluar dari mobil Ford tua yang dibelinya di Denver dan dia menggerakkan tangannya secara dramatis ke arah rumah yang akan kami tempati.


Rambut cokelat panjangnya yang mulai beruban berkibar saat diterpa angin saat memamerkan rumah baru kami.


Atap runcing, berdinding papan, dan jendela, tidak terlihat menjanjikan. Aku setengah berharap keluarga Addams akan keluar dari pintu depan. Aku duduk dan menggosok mataku, mencoba mengusir rasa takut yang tersisa setelah mengingat salah satu mimpi ku.


"Oh, sayang, ini luar biasa.'' Sally.


Ibuku, si Ratu Es, begitu Simon bercanda memanggilnya.


Dia turun dari mobil. Aku mengikuti, tidak yakin apakah itu jetlag yang aku rasakan atau dreamlag. Kata-kata yang ada di kepalaku adalah 'suram', 'hancur', dan 'busuk'.


"Aku pikir itu akan menjadi brilian. Lihat daun jendela itu! apa itu asli. Dan terasnya! Aku selalu menganggap diriku tipe orang yang suka di teras, duduk di kursi goyangku dan menyaksikan matahari terbenam." Mata cokelatnya berbinar dengan antusias, rambut keritingnya bergoyang saat dia melompat menaiki tangga.


Setelah tinggal bersama mereka sejak aku berusia sepuluh tahun, aku sudah lama menerima bahwa kedua orang tuaku mungkin tidak waras (maybe).


Mereka tinggal di dunia fantasi kecil mereka sendiri, di mana rumah-rumah terlantar 'aneh' dan 'atmosfer' berjamur. Tidak seperti Sally, aku selalu menganggap diriku sebagai tipe orang yang sangat modern, duduk di kursi yang bukan surga bagi pecinta kayu dan kamar tidur yang tidak memiliki gantungan es di bagian dalam jendela di musim dingin.


Tapi lupakan rumah itu, gunung-gunung di belakangnya sangat menakjubkan, menjulang sangat tinggi ke langit musim gugur yang cerah, debu putih di puncaknya.


Salju berguling di sepanjang cakrawala seperti gelombang pasang yang membeku dalam waktu.


Lereng berbatu diwarnai dengan warna merah muda dalam cahaya sore hari, tetapi, dan bayangan jatuh melintasi padang salju berubah menjadi biru batu yang dingin.


Hutan yang memanjat sisi gunung tembus dengan warna emas, dan pohon aspen seakan terbakar di atas pohon cemara Douglas yang gelap. Aku bisa melihat kereta gantung dan tempat terbuka yang menandai jalur ski, yang semuanya tampak hampir vertikal.


Ini pasti Pegunungan Rocky Tinggi yang pernah kubaca ketika orangtua ku mengabarkan bahwa kami pindah dari Richmond ke Colorado. Mereka telah ditawari satu tahun sebagai seniman di Pusat Seni baru di kota kecil bernama Wrickenridge.


Seorang multi jutawan lokal dan pengagum karya mereka telah menyadari bahwa resor ski di sebelah barat Denver membutuhkan suntikan budaya dan orang tuaku, Sally dan Simon adalah orangnya.


Ketika mereka memberiku kabar 'baik', aku memeriksa situs web kota dan menemukan bahwa Wrickenridge dikenal dengan tiga ratus inci salju setiap tahun dan tidak banyak lagi.


Akan ada ski tapi aku tidak pernah mampu membayar biaya perjalanan sekolah ke Pegunungan Alpen sehingga itu akan menempatkanku sekitar satu juta tahun di belakang orang-orang seangkatanku.


Aku sudah membayangkan penghinaan pada akhir pekan pertama yang bersalju ketika aku tersandung di lereng pemula dan remaja lainnya berlari di jalur hitam (profesional).


Tetapi orang tuaku menyukai gagasan melukis di antara Pegunungan Rocky dan aku tidak tega merusak petualangan besar mereka.


Aku berpura-pura baik-baik saja dengan melewatkan kuliah di Richmond dengan semua temanku dan malah mendaftar di Wrickenridge High.


Aku telah membuat tempat untuk diri sendiri di barat daya London dalam enam tahun sejak mereka mengadopsi ku, Aku telah berjuang keluar dari teror dan keheningan, mengatasi rasa malu untuk memiliki lingkaran ku sendiri di mana aku merasa populer.


Aku akan mematikan bagian asing dari karakterku-seperti warna yang ku lihat. Aku tidak lagi mencari aura orang seperti yang aku lakukan saat aku masih anak anak.


Mengabaikannya ketika pikiran ku kemana mana. Aku membuat diriku normal...yah, sebagian besar. Sekarang aku ditempatkan ke tempat yang tidak ku ketahui.


Aku telah melihat banyak film tentang sekolah-sekolah Amerika dan merasa sedikit tidak aman tentang tempat pendidikan baruku.


Tentunya remaja Amerika yang normal mempunyai bintik-bintik dan kadang-kadang mengenakan pakaian jelek? Aku tidak akan pernah cocok jika filmnya ternyata benar.


"OKE" Simon mengusap-usap paha celana jinsnya yang sudah pudar, kebiasaan yang membuat setiap pakaian yang dimilikinya berlumuran minyak.


Dia mengenakan syal Bohemian yang biasa, sementara Sally terlihat cukup pintar dengan celana panjang dan jaket baru yang dibelinya untuk bepergian.


Aku memakai suatu tepat di antara keduanya, agak kusut di Levisku. "Mari kita pergi dan melihat ke dalam. Tuan Rodenheim berkata dia telah mengirim dekorator untuk kita. Dia berjanji mereka akan keluar secepat mungkin." Ujar Simon.


Jadi itu sebabnya pekarangannya tampak seperti tempat sampah.


Simon membuka pintu depan. Pintunya mencicit tetapi tidak jatuh dari engselnya, yang aku anggap sebagai kemenangan kecil bagi kami.


Para dekorator jelas baru saja pergi-memberi kami seprai, tangga, dan cat, dinding setengah jadi. Aku mengedarkan penglihatan ku ke kamar-kamar di lantai atas, menemukan kamar pirus dengan tempat tidur queen dan pemandangan puncak. Kamar ini harus menjadi milikku aku bergegas ke atas. Mungkin ini tidak akan begitu mengerikan.


Aku menggunakan kuku ku untuk membersihkan percikan cat dari cermin tua di atas laci. Gadis pucat dan kusut dalam pantulan melakukan hal yang sama, menatapku dengan mata biru gelapnya.


Dia tampak seperti hantu dalam setengah cahaya, rambut pirang panjangnya menjulur ke kebawah dan tidak teratur di sekitar wajahnya yang oval.


Dia tampak rapuh. Sendiri. Seperti tahanan di kamar melalui cermin; seorang Alice yang tidak pernah berhasil kembali melalui tembok.


Aku menggigil. Mimpi itu masih menghantuiku, menarikku kembali ke masa lalu. Aku harus berhenti berpikir seperti ini.


Orang-orang, guru, teman, apa saja-telah memberi tahuku bahwa aku cenderung hanyut dalam lamunan yang ku buat sendiri.


Tapi mereka tidak mengerti bahwa aku merasa ... Aku tidak tahu ... entah bagaimana menjelaskannya. Aku adalah misteri bagi diriku sendiri, sekumpulan kenangan yang terfragmentasi dan tempat-tempat gelap di dalam pikiran ku.


Kepalaku penuh dengan rahasia, tapi aku kehilangan peta yang menunjukkan di mana aku bisa menemukannya.


Menjatuhkan tanganku dari kaca dingin, aku berbalik dari cermin dan turun. Orang tuaku sedang berdiri di dapur, saling berpelukan seperti biasa.


Mereka memiliki jenis hubungan yang begitu lengkap sehingga aku sering bertanya-tanya bagaimana mereka menemukan ruang untuk ku?


Selly melingkari pinggang Simon dan meletakkan kepalanya di bahu Simon.


"Tidak buruk. Apa kau ingat tempat tinggal pertama kita di Earls Court sayang?" Ujar Selly.


"Ya. Dindingnya berwarna abu-abu dan semuanya bergetar ketika kereta lewat di bawah rumah." Dia mencium puncuk rambut cokelat Selly. "Ini adalah istana." Simon.


Selly mengulurkan tangannya untuk memasukkan ku pada saat itu. Aku telah melatih diriku selama beberapa tahun terakhir untuk mempercayai gerakan penuh kasih sayang mereka, Selly meremas buku-buku jariku, diam-diam mengakui apa yang harus kulakukan untuk tidak menghindar darinya.


"Aku sangat bersemangat. Ini seperti pagi Natal." Selly.


Aku tersenyum. "Aku tidak akan pernah menduganya."

__ADS_1


"Ada orang dirumah" Terdengar ketukan di pintu teras dan seorang wanita tua masuk.


Dia memiliki rambut hitam berbintik-bintik putih, kulit cokelat tua, dan anting-anting segitiga yang menjuntai hampir ke kerah jaket berlapis emasnya. Dan membawa  sepiring casserole, dia dengan efisien menendang pelan pintu hingga tertutup.


"Kalian disana. Aku melihat kalian tiba. Selamat datang di Wrickenridge." Katanya.


Sally dan Simon saling bertukar pandang geli ketika wanita itu membuat dirinya seperti rumah sendiri, dia meletakkan hidangan di meja.


"Aku May Hoffman, tetangga kalian dari seberang jalan. Kalian adalah keluarga Bright dari Inggris."


Tampaknya Nyonya Hoffman tidak membutuhkan orang lain untuk berpartisipasi dalam percakapannya. Energinya sangat kuat.


Aku mendapati diri ku mengharapkan kemampuan seperti kura-kura untuk merayap kembali ke cangkang untuk berlindung.


"Putri kalian tidak mirip dengan kalian berdua?" Nyonya Hoffman memindahkan sekaleng cat ke samping.


"Tahukah kalian bahwa oli mobil kalian bocor? Kau (Simon) pasti ingin memperbaikinya. Kingsley di garasi akan membantu mu jika kau mengatakan kalau aku merekomendasikannya. Dia akan memberi mu harga yang wajar, tapi ingat dia tidak mengenakan biaya untuk layanan valet, itu seharusnya gratis"


Sally meringis meminta maaf padaku. "Anda baik sekali, Nyonya Hoffman."


"Kami berusaha menjadi tetangga yang baik di sini. Tunggu sampai Anda mengalami salah satu musim dingin kami dan Anda akan mengerti" Katanya, Dia mengarahkan perhatiannya ke arahku.


"Terdaftar sebagai siswa kelas sebelas di SMA?"


"Ya ... er ... Nyonya Hoffman" gumamku.


"Semester dimulai dua hari yang lalu, tapi aku harap kau tahu itu. Cucu ku di tahun kedua juga. Aku akan memberitahunya untuk menjagamu"


aku mendapat penglihatan mimpi buruk tentang versi laki-laki Nyonya Hoffman yang menuntunku di sekitar sekolah.


"Aku yakin itu tidak akan-'


Dia memotong perkataan ku, menunjuk ke piring. "Kupikir kau mungkin menghargai beberapa masakan rumah untuk memulai aktivitas dapur baru kalian." Dia mengendus.


"Aku melihat Tuan Rodenheim akhirnya berhasil menata tempat ini. Aku dulu mengatakan kepadanya bahwa rumah ini memalukan bagi lingkungan sekitar dan sekarang dia memperbaiki nya. Sekarang, kalian istirahatlah"


Dia pergi sebelum kami sempat berterima kasih padanya.


"Yaaah," kata Simon. "Itu menarik."


"Tolong perbaiki kebocoran oli besok," Sally memohon. "Aku tidak tahan berada di sini jika dia tahu kau tidak menuruti nasihatnya-dan dia akan kembali."


"Seperti flu biasa," Simon setuju.


"Dia tidak ... um ... sangat Inggris, kankan?" Kataku.


Kami semua tertawa dan melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan rumah ini.


Malam itu aku membongkar koper dan memasukkan pakaian ke dalam laci tua. Sally membantu ku melapisi wallpaper, baunya masih apek dan laci-lacinya sedikit macet, tapi aku suka cat putihnya yang pudar.


Bahkan udara di ketinggian ini terasa tidak cukup dan aku merasakan sakit kepala yang samar-samar. Di balik jendela yang dibingkai oleh cabang-cabang pohon apel yang tumbuh di dekat rumah.


Gunung-gunung berwarna gelap dengan langit abu-abu arang di malam yang mendung. Seperti duduk di atas kota, mengingatkan kita manusia betapa tidak penting dan sementaranya kita.


Aku menghabiskan waktu lama memilih apa yang akan aku kenakan pada hari pertama ku di sekolah, memilih celana jins dan T-shirt Gap, cukup sederhana sehingga aku tidak akan menonjol dengan siswa lain. Berpikir lagi, aku mengeluarkan Hoodie yang pas dengan baju kaos berwarna biru di bagian depan.


Itu adalah sesuatu yang Simon dan Sally ajarkan padaku. Mereka tahu tentang kesulitan ku mengingat masa lalu ku dan tidak memaksa ku mengingat nya, mereka mengatakan "aku akan mengingatnya jika aku siap".


Sudah cukup bagi mereka bahwa aku adalah aku yang sekarang. Aku tidak perlu meminta maaf karena tidak lengkap. Tetap saja, itu tidak menghentikan ku untuk menjadi takut akan hal yang tidak diketahui yang terjadi besok.


Merasa sedikit pengecut, aku menerima tawaran Sally untuk menemani ku ke kantor sekolah untuk mendaftar.


SMA Wrickenridge berjarak sekitar satu mil menuruni bukit dari rumah kami, dekat jalan utama yang menghubungkan kota dengan resor ski lain di daerah itu.


Itu adalah bangunan yang memiliki kebanggaan dalam tujuannya, nama yang diukir di batu di atas pintu ganda, pekarangannya terawat dengan baik. Lorongnya penuh dengan papan pengumuman yang mengiklankan berbagai kegiatan yang terbuka untuk atau mungkin diharapkan para murid.


Aku merasa memiliki bagian besar dari pengalaman Wrickenridge. Aku tidak yakin apa yang ku rasakan tentang itu. Aku kira akan baik-baik saja jika aku berhasil menyesuaikan diri, tetapi buruk jika aku gagal dalam hal berbaur dengan sekolah baru.


Sally tahu kalau aku cemas tapi memilih untuk bertindak seolah-olah aku akan menjadi murid paling sukses yang pernah dikenal.


"Lihat, mereka punya klub seni,'' kata Selly semangat. "Kau bisa mencobanya"


"Aku tidak berguna dalam hal itu" Jawabku.


Dia mengusap dagunya, mengetahui bahwa itu adalah kebenaran.


"Bagaimana kalau klub musik?. Aku melihat ada orkestra. Oh lihat, ada pemandu sorak! Itu mungkin menyenangkan"


"Ya benar."


"Kau akan terlihat manis dengan salah satu pakaian itu."


"Aku terlalu pendek untuk jadi pemandu sorak" kataku sambil menatap gadis-gadis berkaki jerapah yang menjadi tim pemandu sorak untuk tim sekolah.


"Venus seukuran saku, itulah dirimu. Aku berharap aku memiliki sosokmu" Katanya.


"Sally, maukah kau berhenti bersikap begitu, memalukan?" Kenapa aku repot-repot berdebat dengannya? Aku tidak berniat menjadi pemandu sorak meskipun tinggi badan bukanlah masalah.


"Bola basket," lanjut Sally.


Aku memutar mataku.


"Menari."


Itu adalah lelucon sekarang.

__ADS_1


"Klub matematika."


"Kau harus memukul kepalaku untuk membuatku masuk ke dalamnya," gumamku, membuatnya tertawa.


Dia meremas tanganku sebentar. "Kau akan menemukan tempat mu. Ingat, kau istimewa." Katanya menyemangati ku.


Kami membuka pintu kantor. Resepsionis berdiri di belakang lemari, kacamata digantungkan pada rantai di lehernya, memantulkan cahaya di sweter merah mudanya saat dia menumpuk surat-surat. Dia mengaturnya bersamaan dengan minum dari cangkir kopi yang bisa dibawa pulang.


"Ah, kau pasti gadis baru dari Inggris! Masuk, masuk." Dia memberi isyarat agar kami mendekat dan menjabat tangan Sally.


"Nyonya Bright, Joe Delaney. Jika Anda tidak keberatan menandatangani beberapa formulir untuk saya. Sky, kan?"


Aku mengangguk.


"Aku Pak Joe para siswa memanggilku begitu. Aku punya paket selamat datang untuk mu di sini." Dia menyerahkannya.


Aku melihat bahwa aku sudah memiliki kartu gesek sekolah dengan fotoku. Ini yang diambil untuk paspor ku? di mana aku terlihat seperti kelinci yang tertangkap di lampu. Aku mengalungkan rantai di kepalaku dan menyelipkan kartu itu agar tidak terlihat.


Pak Joe mencondongkan tubuh ke depan secara rahasia, memberiku aroma aftershave yang berbunga-bunga. "Aku kira kau tidak akrab dengan kegiatan di sini, bagaimana kalau kau melakukan hal-hal yang kau suka?


"Tidak, aku tidak apa apa" Kataku.


Pak Joe menghabiskan sepuluh menit berikutnya dengan sabar menjelaskan kursus apa yang bisa aku ikuti dan nilai apa yang ku butuhkan untuk lulus.


"Kami telah membuat jadwal di sini berdasarkan pilihan yang kau buat saat mengisi formulir, tetapi, ingat, tidak ada yang pasti. Jika kau ingin merubah sesuatu, beri tahu aku." Dia memeriksa arlojinya. "Kau melewatkan pendaftaran, jadi aku akan membawa mu langsung ke kelas pertama."


Sally memberi ku ciuman dan berharap aku beruntung. Dari sini, aku sendiri.


Pak Joe mengerutkan kening pada kerumunan di dekat kelas, menghamburkan mereka seperti anjing collie yang menggembalakan domba bandel, sebelum menuntunku menuju koridor sejarah.


"Sky, itu nama yang bagus."


Aku tidak ingin mengatakan kepadanya bahwa kami memilihnya bersama enam tahun yang lalu ketika aku diadopsi. Aku tidak ingat nama dan tanggal lahir ku ketika aku ditemukan dan tidak berbicara selama bertahun-tahun setelah itu, jadi Dinas Sosial memanggil ku Janet-'Hanya Janet', seperti yang diolok-olok oleh salah satu saudara angkat.


Itu membuatku membencinya lebih dari sebelumnya. Nama baru dimaksudkan untuk membantu memulai awal yang baru dengan Bright, Janet telah diturunkan ke nama tengah ku.


"Orang tua ku menyukainya." Dan aku belum cukup umur untuk memperkirakan betapa memalukannya nama keluarga ku.


"Itu lucu, imajinatif."


"Um, ya." Jantungku berdebar, telapak tangan ku basah. Aku tidak akan mengacaukan reputasi ku.


Pak Joe membuka pintu.


"Pak Ozawa, ini siswa barunya"


Guru Jepang-Amerika itu mendongak dari laptopnya di mana dia membaca beberapa catatan di papan tulis. Dua puluh kepala melihat ke arahku.


Pak Ozawa melihat dari atas kacamata bulan sabit kecilnya ke arah ku, rambut hitam lurus jatuh di atas satu lensa. Dia tampan dengan cara pria yang lebih tua.


"Sky Bright?" Tanyanya.


Seorang terkikik berlari melewati kelas, tetapi itu bukan salahku, orang tuaku tidak memperingatkanku ketika kami memilih namaku. Seperti biasa, kepala mereka penuh dengan bayangan-bayangan aneh daripada siksaan masa depanku di sekolah.


"Ya pak."


"Saya akan mengambilnya dari sini, Pak Joe."


Pak Joe memberi ku dorongan semangat melewati ambang pintu dan berjalan pergi.


"Teruslah tersenyum, Sky." Katanya sebelum menghilang dari pandanganku.


Itu akan terjadi ketika aku merasa ingin menyelam untuk berlindung di bawah meja terdekat.


Mr Ozawa mengklik slide berikutnya yang berjudul 'Perang saudara Amerika'.


"Duduklah di mana pun kau suka."


Hanya ada satu bangku yang kosong kulihat, di sebelah seorang gadis dengan kulit berwarna karamel dan kuku yang dicat merah, putih, dan biru. Rambutnya luar biasa, surai rambut gimbal cokelat kemerah-merahan jatuh melewati bahunya.


Aku memberinya senyum netral saat aku duduk di sampingnya. Dia mengangguk dan mengetuk-ngetukkan kukunya di atas meja sementara Pak Ozawa membagikan sebuah semlebaran.


"Tina Monterey." Kata gadis yang duduk di samping ku.


"Sky Bright"


"Ya, aku sudah mendengarnya"


Pak Ozawa bertepuk tangan untuk menarik perhatian kami. "Oke, teman-teman, kalian adalah orang-orang yang beruntung yang telah memilih untuk mempelajari sejarah Amerika abad kesembilan belas. Namun, setelah sepuluh tahun mengajar junior aku tidak memiliki ilusi dan aku berharap liburan telah mendorong semua pengetahuan dari otak kalian. Jadi, mari kita mulai dengan yang mudah. Siapa yang bisa memberi tahu ku kapan Perang Saudara dimulai? Dan ya, aku ingin bulan yang tepat." Matanya mengamati kami semua dan berhenti pada ku.


Sial.


"Yaps, Nona Bright"


Setiap sejarah Amerika yang pernah kupelajari lenyap seperti Invisible Man melepas jasnya, sepotong demi sepotong, meninggalkanku. Otak ku kosong.


"Um ... Kalian mengalami perang saudara?" Kata ku.


Seisi kelas mengerang.


Kurasa itu berarti aku seharusnya tahu itu.


Saat istirahat, aku bersyukur bahwa Tina tidak meninggalkan orang Inggris yang tidak tahu apa-apa ini meskipun kinerja ku buruk di kelas.


Dia menawarkan untuk menunjukkan ku lingkungan sekolah. Banyak hal yang aku ungkapkan membuatnya tertawa-bukan karena aku lucu, tetapi karena aku terlalu Inggris, katanya.

__ADS_1


"Aksen mu. Kau terdengar seperti aktris itu-kau tahu, yang ada di film bajak laut"


__ADS_2