SAVANT

SAVANT
Chapture 22


__ADS_3

"Masalahnya adalah dia hanya melihat makanan yang sudah hangus dan tidak mau mengangkatnya" Xavier meletakkan kakinya di atas kursi kosong dan menggosok otot betisnya. "Bagaimana kalau yang ini?" dia memanggil Zed.


Apa yang mereka bicarakan?


"Ini akan menjadi yang terbaik yang pernah ada" Zed menjawab dengan percaya diri, mendorong loyang ke dalam kompor.


"Jadi, Sky, bagaimana keseharian mu di sekolah? Pasti kau kesulitan beradaptasi di sekolah baru, aku yakin" Xavier melemparkan pretzel ke Zed.


"Tidak apa-apa. Sedikit berbeda dari sekolah lama ku."


"Ya, tapi Wrickenridge jauh lebih baik daripada banyak sekolah menengah. Kebanyakan murid akan melakukan apa yang mereka inginkan."


Aku mengambil segenggam makanan ringan di atas meja di antara kami. "Bagaimana denganmu? Aku diberitahu kalau kau pandai dalam Olimpiade." Tanya ku.


Dia mengangkat bahunya. "Bisa jadi—tapi kurasa aku tidak akan sejauh itu."


"Apakah karena kau bisa melihat diri mu gagal dan tidak mau diganggu untuk mengubahnya?"


"Aduh!" Dia tertawa. "Hei, Zed, pacarmu sangat kejam. Membalas ku karena mengolok-olok mu tentang kau yang tidak bisa memasak"


"Itu yang ku sukai darinya" Zed memberiku anggukan setuju. "Jangan dengarkan perkataannya, Sky. Aku bisa memasak."


"Ya, seperti Sky bisa bermain ski." Ujar Xavier.


Tiba tiba sebuah lemon keluar dari mangkuk buah dengan sendirinya dan mengenai hidung Xavier. Aku melompat dari tempat dudukku. "Apa yang—!" Terkejut, tentu saja aku terkejut.


"Zed!" kata Saul memperingatkan. "Kita punya tamu."


Aku masih mempertanyakan apa yang baru saja ku lihat. "Kau punya, seperti, Telekinesis atau apa?"


"Ya, atau apalah." Xavier mengusap hidungnya.


"Apa ada yang bisa menjelaskan nya?" Tanya ku.


"Bukan aku. Apa yang kita bicarakan sebelum aku dilempari dengan kasar oleh jeruk terbang?" Dia melemparkan lemon ke arah Zed tapi lemon itu tiba-tiba jatuh ke tengah mangkuk. "Bodoh," gerutu Xavier.


"Umm ... kita sedang membicarakan tentang permainan skimu." Aku melihat ke arah Zed tapi dia bersiul polos saat dia mengelap permukaan meja. Pura pura polos.


"Oh ya. Yah, aku tidak berpikir akan memilih rute pemain ski profesional. Terlalu banyak hal lain yang ingin aku lakukan dengan hidup ku" Kata Xavier.


"Aku bisa membayangkan." Tapi aku tidak yakin dia bersungguh-sungguh. Itu terasa seperti alasan bagiku.


"Aku berhenti sebagai juara junior di Colorado dan pensiun tanpa terkalahkan."


"Dan dia hanya omong kosong" tambah Zed.


Sesuatu yang aneh terjadi pada lemon yang ada di mangkuk.


Dan...


Braaakk


Lemon nya meledak.


"Boys"Saul mengetuk meja.


"Maaf," mereka berdua patuh dengan Tuan Benedict. Xavier bangkit untuk membersihkan kekacauan itu.


"Tidak ada penjelasan, kah?" Aku bertanya. Para Benedict ini membuatku bingung.


"Tidak, bukan dari ku. Dia yang akan memberitahumu." Xavier melemparkan kain lap itu ke Zed. "Sebentar." Dia tiba-tiba berlari ke oven.


"Sheesh, Zed, kau membiarkan pizza nya hangus! Ku pikir saat kau mengatakan pintar memasak ini akan menjadi yang terbaik." Dia meraih sarung tangan oven dan meletakkan pizza yang sedikit menghitam di sampingnya.


Zed medengus. "Itu salah mu, kenapa mengajak orang mengobrol saat memasak"


Xavier memukul kepalanya. "Apa gunanya menjadi orang yang tahu segalanya ketika kau tidak bisa memasak pizza?"


"Aku bertanya pada diriku sendiri setiap hari," Zed menjawab dengan humor, mengeluarkan alat pemotong pizza.


Setelah makan malam, Zed menyarankan agar kami berdua jalan-jalan di hutan di sisi jalur ski untuk membakar semua keju yang meleleh di dalam perut.

__ADS_1


"Xav punya tugas pembersihan saat aku memasak jadi kita bebas," dia menjelaskan dan menyodorkan jaketnya untukku.


"Hangus! Apakah itu yang kamu lakukan saat memasak?"


"OKE. Aku menghanguskan pizza nya." Jawabnya.


Dia menggenggam tanganku dan membawaku keluar dari pintu belakang. Rumah itu hampir tidak memiliki taman, hanya sebuah pagar sebelum ujung jalur ski dan bagian bawah lift.


Aku tidak bisa melihat puncak gunung dari sini, hanya lereng curam dan hutan yang gelap juga stasiun kereta gantung, pohon-pohon cemara berjejal membentuk seperti karpet.


Aku menarik napas, udara dingin dan tenggorokan ku sedikit kering, membuat kulit ku terasa kencang di seluruh wajah. Kepala ku terasa sedikit pening karena oksigen di gunung lumayan tipis.


"Mau ke atas atau bawah?" Zed bertanya, menunjuk ke lereng.


"Naik dulu." Jawab ku.


"Pilihan bagus. Aku punya tempat favorit yang ingin ku tunjukkan padamu."


Kami melewati pohon. Sebagian besar salju dari hujan ringan pada hari sebelumnya telah meleleh dari cabang-cabang.


Udaranya jernih, cemerlang seperti kilau kristal yang membuat bintang-bintang tampak lebih terang di langit, titik-titik cahaya. kami melewati tumpukan salju, menuruni gunung saat musim dingin.


"Salju turun lebih rendah sampai hari Thanksgiving," Zed menjelaskan.


Kami berjalan bergandengan tangan selama perjalanan. Dia dengan lembut menyapu buku-buku jari ku melalui sarung tangan ku.


Anehnya, aku merasa dia sangat manis, bahwa anak laki-laki ini yang terkenal sebagai orang gila paling tangguh di Wrickenridge, tampak puas hanya karena berjalan seperti ini bersama seorang gadis.


Salju sekarang setinggi pergelangan kaki dan sepatu ku tidak berfungsi dengan baik untuk menjaga kaki ku tetap kering.


"Seharusnya aku memikirkannya" gerutu ku, menepis bongkahan es dari topi kanvas ku sebelum meleleh.


"Penglihatanku tidak banyak membantu untuk hal-hal praktis seperti itu Maaf,  Seharusnya aku menyuruhmu membawa sepatu bot." Ujar Zed.


Dia adalah salah satu anak yang aneh kadang-kadang. "Jadi, kekuatan apa yang kamu miliki, selain dari hal telepati?"


"Ada lagi, tapi yang utama aku bisa melihat masa depan." Dia berhenti di tempat yang sangat indah, tempat terbuka di hutan tempat salju terhampar luas. "Mau membuat malaikat salju?"


"Ayo—aku tahu kamu juga mau melakukannya."


"Karena kamu bisa membaca pikiran ku"


"Tidak, karena aku akan melakukan ini."


Dia segera duduk dan menarik ku ke sampingnya sebelum aku sempat menahan diri.


Nah, sekarang aku di sini, aku harus membuat malaikat, tentu saja. Berbaring telentang, menatap sepetak bintang, aku mencoba untuk tidak membiarkan kekhawatiran ku tentang menjadi seorang savant dan kemungkinan bahaya yang datang untuk ku adalah merusak keindahan hutan yang menakjubkan di malam hari. Aku bisa merasakan Zed di sampingku, menungguku melangkah lagi ke arahnya.


"Jadi apa saja yang bisa kamu lihat?" Aku bertanya kepadanya.


"Tidak semuanya dan tidak setiap saat. Aku tidak bisa “melihat” masa depan keluarga ku, atau jarang sekali. Kami terlalu dekat—terlalu banyak gangguan, terlalu banyak variabel."


"Apakah mereka melakukan hal yang sama?"


"Hanya Ibu, untungnya." Dia duduk, menyapu salju dari sikunya. "Sisanya punya kekuatan lain."


"Kamu sudah melihat masa depanku? Dalam firasat itu?"


Dia mengusap wajahnya dengan tangan. "Mungkin. Tetapi jika aku memberi tahu mu dengan tepat apa yang ku lihat, aku mungkin mengubah sesuatu atau menjadi alasan hal itu terjadi—aku tidak dapat mengetahuinya dengan pasti. Penglihatan ku menjadi lebih tepat semakin dekat aku dengan suatu peristiwa. Aku hanya tahu dengan pasti, sesuatu akan terjadi satu atau dua detik sebelum benar benar terjadi. Namun itu juga bisa salah. Itulah yang terjadi di rakit—dengan memeluk mu membantu menyebabkan apa yang aku coba hentikan."


"Jadi, kamu tidak akan memberi tahu ku apakah aku akan menjadi pemain ski yang baik?" Tanya ku.


Dia menggelengkan kepalanya dan menepuk dahi ku. "Tidak, bahkan aku tidak berpikir sampai di situ"


"Bagus, kurasa aku lebih suka tidak tahu."


Angin sepoi-sepoi menggoyang ranting-ranting. Bayangan semakin dalam di bawah pepohonan.


"Bagaimana rasanya? Bagaimana kamu bisa tahan dengan orang yang mengetahui begitu banyak tentang mu?" aku bertanya dengan lembut.


Dia adalah lawan ku dalam banyak hal: aku tahu sedikit tentang diri ku, tentang masa lalu sedangkan dia tahu terlalu banyak tentang masa depan.

__ADS_1


Zed bangkit dan menarik ku berdiri. "Mungkin terdengar seperti kutukan. Aku tahu apa yang akan dikatakan orang—bagaimana suatu film akan berakhir—berapa skornya nanti. Kakak-kakak ku tidak begitu mengerti, atau tidak mau berpikir, seperti apa rasanya."


Tidak heran dia mengalami masalah bergaul di sekolah. Jika dia selalu selangka di depan orang lain, selalu tahu, maka dia akan dibebani oleh rasa kesia-siaan, tidak mampu mengubah hasil, seperti pizza yang terbakar. Itu membuat kepalaku sakit hanya memikirkannya. "Ini semua terlalu aneh."


Dia melingkarkan lengannya di pinggangku, menyelipkan aku di bawah bahunya. "Ya, aku mengerti. Tapi aku ingin kamu mengerti. Sky, bagaimana menjelaskan ya? entahlah, aku agak seperti berada di lift yang berputar. Itu seperti background tapi kamu tidak menyadarinya sampai kamu memperhatikannya. Di mimpiku, aku mendengar bunyi terompet. Orang bermain keluar. Aku tidak mengenal orang-orangnya atau mengerti apa yang mereka maksud. Aku mungkin mencoba atau menghentikan sesuatu, tetapi itu biasanya terjadi begitu saja dengan cara yang tidak ku duga. Aku mencoba untuk memblokirnya— untuk sementara waktu—tetapi begitu aku lupa, itu kembali lagi."


Itu terdengar lebih seperti kutukan daripada kekuatan.


Kemudian aku menyadari sesuatu.


"Kamu penipu!" Aku menyikutnya di tulang rusuk. "Tidak heran kalau kamu tidak terkalahkan ketika kamu memasukkan gol!"


"Ya, mungkin memang memiliki manfaat tambahan seperti itu" Dia menoleh ke arahku dan lagi lagi tersenyum. "Membantumu, kan?"


Aku ingat  saat menangkap tendangannya. "Oh."


"Ya, oh...aku mengorbankan rekor gol ku yang sempurna untuk mu."


"Hampir—kamu mencetak gol sebanyak dua puluh atau lebih."


"Apa yang orang akan ingat tentang pertandingan itu? Aku yang mencetak banyak gol atau kamu yang menangkap tendangan ku?"


"Idiot" Aku memukulnya.


Dia punya nyali untuk menertawakan ku. "Sudah selesai. Aku harus mengalihkan perhatianmu lagi sebelum kamu memukul ku untuk kedua kalinya."


Saat dia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mencium ku, dia tiba-tiba menerjang, menjatuhkanku ke belakang. Batang pohon lima kaki di belakang kami. Secara bersamaan, aku mendengar suara seperti mobil.


Zed menyeretku ke belakang batang pohon yang tumbang dan mendorongku ke bawah, melindungi ku dengan tubuhnya. Dia mengumpat.


"Ini tidak seharusnya terjadi!"


"Lepaskan aku! Apa itu tadi?" Aku mencoba untuk bangun.


"Tetap di bawah, Seseorang menembaki kita. Aku sudah memanggil Ayah dan Xav."


Aku berbaring diam di bawahnya, jantungku berdebar kencang.


Braak! Tembakan kedua mengenai pohon tidak jauh di atas kepala kami.


Zed menjauh dariku. "Kita harus bergerak! Pergi ke sisi lain batang dan lari ke pohon pinus besar di sana." Katanya sambil menunjuk sebuah barang pohon.


"Kenapa kita tidak berteriak saja untuk memberi tahu mereka kalau mereka sedang menembaki manusia?"


"Dia tidak berburu binatang, Sky. Mereka mengejar kita, Pergi!"


Aku meremas jaket yang ku gunakan dan bergegas lalu berlari. Aku bisa mendengar Zed tepat di belakangku—tembakan ketiga—lalu Zed menerjang ku dari belakang, sikunya mengenai mataku saat kami terjatuh. Tembakan keempat mengenai pohon di depan ku sejajar tepat dengan kepalaku berada.


"Berengsek. Maaf," kata Zed dan aku bisa melihat bintang-bintang berputar di sekeliling kepala ku. "Aku hampir terlambat menyelamatkan mu"


Lebih baik mata lebam daripada mati.


"Ya. Tapi tetap saja aku minta maaf. Tetap diam. Ayah dan Xav sedang mencari orang yang menembaki kita sekarang." Jawab Zed membaca pikiran ku.


"Aku pikir penembaknya lebih dari satu."


"Apa?" Dia mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat wajahku. "Bagaimana kamu tahu?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasakannya"


Zed tidak mempertanyakan instingku dan menyampaikan berita itu kepada ayahnya.


"Aku sudah menyuruh mereka untuk berhati-hati." Zed tetap berada di dekatku, menolak membiarkanku mengambil risiko berada di garis tembak. "Itu bisa menjadi jebakan untuk memancingnya keluar. Kita harus kembali ke rumah. Ada sungai di bawah. Jika kita sampai di sana, kita bisa tetap bersembunyi dan berputar kembali ke rumah. OKE?"


"OKE. Bagaimana kita ke sana?"


Zed tersenyum muram. "Kamu luar biasa, Sky. Kebanyakan orang akan panik sekarang tapi kamu tidak. Kita akan merangkak—seperti kadal. Aku akan pergi dulu.'


Dia merayap di atas tanah kemudian jatuh di atas punggung bukit dan menghilang dari pandangan ku. Aku mengikutinya, berusaha untuk tidak memikirkan bagaimana rasanya jika terkena peluru.


Terlalu gelap untuk melihat apa yang ada di bawah sana, jadi aku hanya harus percaya padanya. Kepala ku terpeleset lebih dulu menuruni tepian, berguling dan mendarat di pelukan Zed lalu menurunkan ku.

__ADS_1


"Lewat sini," kata Zed.


__ADS_2