
Ski ku, ku simpan di pundak, kami berjalan dengan susah payah ke antrian lift. Mata Xav melebar saat melihatku sudah ada di depannya untuk membeli tiket. Ia menatap ku dan Tina dengan panik.
"Sky, astaga, tidakkah menurutmu ini terlalu dini untuk berseluncur dari atas?'' Dia bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin mengasah kemampuan permainan ski ku." Aku menahan seringaiku.
''Tina, kau harus membujuknya agar tidak berseluncur di atas sana. Dia bisa bunuh diri.''
''Jangan khawatir, Xav. Dia pikir dia memiliki bakat terpendam yang belum ditemukan.''
Dia menutupi tiket dengan tangannya. "Aku tidak akan menjual satu untukmu, Sky."
Aku memutar mataku. ''Demi Tuhan, Xav, aku tidak sepenuhnya bodoh. Aku hanya akan naik untuk berjalanan jalan. Tina yang akan bermain ski.''
Dia tertawa lega. ''Haah... Gratis untuk mu Sky. Tapi untuk memastikan kalau kau memang tidak berseluncur, aku akan menjaga ski mu.''
Tina menunjukkan tiket nya dan kami naik ke kereta gantung. Pemandangan nya begitu spektakuler. Kami menggantung di atas atap rumah keluarga Benedict sebentar lalu melewatinya, melewati pucuk-pucuk pohon cemara dan kami berayun melintasi ngarai.
Di bawah kami, para pemain ski seperti semut berjalan mondar-mandir, membuat seluruh urusan tampak begitu mudah. Sepuluh menit kemudian kami turun di stasiun di atas. Zed sedang sibuk memuat kereta gantung untuk naik turun—hanya ada beberapa turis sepertiku jadi tidak butuh waktu lama.
"Ambil kopi." Tina menyenggol ku menuju stand konsumsi. "Aku akan menemui mu kembali di bagian bawah kereta gantung setengah jam lagi."
"OKE. Selamat bersenang-senang.'' kata ku.
Tina menempatkan kakinya di ski, lalu mendorong dirinya meluncur ke bawah.
''Tolong coklat susu dan donat,'' aku bertanya pada pria berwajah mengkilap di kios.
''Tidak bermain ski, nona?'' dia bertanya, menyerahkan kue ku dalam tas putih.
''Ini pertamakalinya aku bermain ski. aku seperti sampah.''
Dia tertawa. "Aku juga. Itu sebabnya aku tetap menyajikan kopi."
''Berapa harganya?"
"Karena ini hari pertama mu aku akan menggratiskan nya—untuk merayakan pengalaman pertamamu bermain ski."
''Terima kasih.''
Zed berlari di belakang dan meraih pinggangku, mengangkat ku ke udara, memaksaku untuk mencicit. ''Bagaimana permainan ski nya hmm?"
"Aku payah dalam bermain ski."
''Ya, sudah ku duga'' Dia memutar ku. "Aku hanya punya waktu empat menit sampai kereta berikutnya tiba, cukup untuk mencuri sesuap apa pun yang ada di sana."
"Dia gadismu, Zed?'' tanya pemilik warung.
"Ya, Jose."
''Kenapa semua yang terbaik selalu diambil? Ah baiklah.'' Dia melewati cangkir styrofoam dan mengedipkan mata padaku dan Zed.
__ADS_1
Zed membawaku ke kabinnya di ujung kereta gantung. Kami bisa mendengar derit dan suara roda-roda yang menjalankan lift.
Aku mengamati wajah Zed saat dia memeriksa sesuatu di panel kontrol— bahunya lebar dan sangat sesuai dengan tampilannya, otot-otot di lengannya menekuk.
Dulu aku tidak pernah mengerti mengapa teman-teman ku menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengagumi anak laki-laki di sekolah lama ku dulu, dan sekarang aku benar-benar bergabung dengan partai itu. Apakah pria tampan ini benar-benar milikku? Sulit dipercaya bahwa aku sangat beruntung.
"Bagaimana kamu tahu di mana kereta berikutnya yang akan datang?" Aku bertanya ketika Zed dengan cepat menggigit donat yang sedang ku pegang ''Hei!''
Dia tertawa, mengambil bungkusan donat itu dari jangkauanku, dan menunjuk ke sebuah pajangan. Ada serangkaian lampu yang menghitung mundur saat kereta melewati titik. "Itu menunjukkan aku punya waktu empat menit."
Dia melompat, lalu meraih donat yang ku pegang kembali dan menjilat selainya.
"Manis"
"Kamu memperhatikannya?''
''Cokelat panas dengan segala toppingnya adalah petunjuk.''
Aku menggigit donatnya lalu menawarkannya. "Kamu bisa menghabiskannya."
Dia melahapnya lalu menyeruput coklat ku. ''Ugh! Sedikit Susu. Aku seharusnya sudah menebak. Aku butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa itu.'' Dia mengetuk dagunya, satu matanya tertuju pada monitor.
"Aku tahu!''Dia membungkuk dan menggigit bibirku. Aku merasakan tubuhku bergeser, beban aneh yang mendesak ku untuk berpegangan erat padanya dan ambruk di pangkuannya. Dia bersenandung kesenangan dan memperdalam ciumannya. Lama dengan ciuman kami tapi....
Kami terganggu oleh kedatangan kelompok pemain ski berikutnya. Sayangnya mereka sebagian besar terdiri dari anak-anak sekolah menengah yang menggedor pintu dan bersiul ketika mereka melihat apa yang terjadi di kabin.
"Hei, Zed, berhenti bermesraan dan biarkan kami keluar!'' teriak seorang gadis dari kelas sains ku.
''OK, OK,'' jawab Zed, mendudukkan ku kembali. Dia tampak senang daripada malu saat semua orang melihatnya, wajah ku kemungkinan merah merona.
Begitu para pemain ski pergi ke lintasan pilihan mereka, aku tinggal bersama Zed selama sepuluh menit lagi, lalu mengejar kereta untuk menuruni bukit.
''Terima kasih sudah datang,'' kata Zed, menutup pintu di belakangku. "Kamu masih punya sedikit gula di bibirmu." Dia mengusapkan ciuman lembut di mulutku, lalu menarik kerah jaket ku lurus-lurus.
''Hmm, kurasa aku harus mengunjungimu lagi. Tampaknya kereta gantung lebih cocok untuk ku daripada bermain ski.''
''Hati-hati.'' katanya.
"Ya, aku akan berhati hati. Kamu juga harus hati-hati.''
°°°
Aku bertahan dengan pelajaran yang di ajarkan sampai sampai aku bisa melaju di jalur anak-anak tanpa jatuh sampai aku mencapai dasar.
''Woo hoo!'' Tina melakukan sedikit tarian di tempat saat aku berhenti. "kau hebat Sky"
Aku berjalan ke arahnya ''Kurasa, tapi aku belum terlalu mahir"
''Ini permulaan—jangan sampai gagal.'' Dia mengambil skinya sendiri. Minggu ini jauh lebih mendung dari minggu lalu, bagian atas lift tidak terlihat, cuaca dalam suasana hati yang cemberut. Kami mengantri untuk lift untuk menemukan Saul di meja.
"Hai, Tina, Sky." Ayah Zed membiarkan Tina melewati pintu putar tetapi tidak membiarkan ku masuk. Ayah Zed menahan ku. ''Tidak ada gunanya kau naik hari ini, Sky. Xav sedang bertugas. Aku memberi Zed hari libur.''
__ADS_1
''Oh oke.''
Kereta gantung itu hendak pergi. Tina memberiku lambaian. ''Tunggu disini. Aku tidak akan lama-lama bermain ski. Cuaca agak buruk"
Aku pindah dari jalan antrian dan duduk di bangku terdekat.
''Kami tidak bisa memisahkan mu dan Zed, kan?'' Ayah Zed berkata, datang dan duduk di sampingku di bangku ruang tunggu saat kereta gantung memulai perjalanannya ke atas bukit.
"Sepertinya begitu." Aku membersihkan sedikit salju di pakaian ku. Aku punya firasat aneh bahwa Ayah Zed curiga padaku.
"Kami tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian berdua." Dia merentangkan kakinya yang panjang, gerakan itu mengingatkanku pada putranya.
''Aku tahu. Sudah tenang, kan?''
''Ya, sudah. Kami tidak tahu harus berpikir apa. Aku ingin percaya bahwa ancaman itu telah hilang tapi pikiran ku berkata lain.''
''Mereka bersembunyi?''
''Itu tebakanku. Aku minta maaf, kau sampai ikut dalam masalah ini. Orang-orang itu tahu bahwa jika mereka mendapatkan satu anggota keluarga ku, mereka melemahkan kami semua.'' katanya sambil menatap pegunungan, ekspresi tegas.
"Victor berpikir ,mereka tidak keberatan dengan siapa yang mereka sakiti,mau itu penduduk ataupun diri mu'' lanjutnya, ''asal kami semua lumpuh secara emosional sehingga kami tidak dapat berfungsi sebagai sebuah tim. Aku sengaja membuat semua orang terkunci, bukan hanya Zed. Tapi semua keluarga, kami tidak bisa terus seperti ini. Pekerjaan kami berat dan anak laki-laki kami harus bebas untuk melepaskan emosinya, untuk melupakannya. Mereka tidak bisa jika mereka tidak diizinkan untuk bertindak sendirian karena kita tim" Lanjutnya.
"Aku tahu tentang perisai, Zed memberi tahu dan mengajari ku sedikit. Tapi bukankah dia sedikit terbuka di sini dan pergi bermain seluncur? Dan Xav mendaki gunung sendirian.''
Ayah Zed memukul mukul jahitan kaki celana jinsnya, mengibaskan setitik salju. ''Jangan khawatir tentang mereka. Kami memiliki keamanan di sekitar sini. Sekarang kita tahu musuh adalah seorang savant yang ahli menggunakan perisai dan menghancurkan nya, kita tidak tahu apa yang mereka cari. Waktu itu di hutan, aku kira kau bisa mengatakan kami kurang waspada saat itu dan kejadian itu tidak akan terulang lagi. Dan kau Sky, kau harus berhati-hati?''
"Ak..aku tidak keluar sendiri. Ayah dan Ibu ku memberi tahuku untuk waspada terhadap orang yang tidak kita kenal.''
''Bagus. Jangan lengah.'' Kami duduk diam selama beberapa saat, kata-kata tak terucap menggantung di antara kami.
''Zed sudah memberitahumu?" kata ku.
Dia mengulurkan tangan dan meremas tanganku dengan lembut sambil menatap ku dengan senyuman yang begitu tentram. ''Aku dan Karla sudah tahu. Dan kami sangat senang. Mau tak mau kami menyadari bahwa sesuatu yang penting telah terjadi pada putra kami. Demi kau Sky dan untuk Zed, untuk yang lain juga (saudaranya) , kami pikir dia berhak merahasiakannya sampai masalah ini diselesaikan.''
''Yang lain?''
"Sky, kurasa kau tidak mengerti apa yang kau hadapi di sini. Kau sekarang adalah prioritas nomor satu Zed, sama seperti Karla yang menjadi prioritas ku. Melihat dia menemukan pasangan jiwanya akan sulit bagi yang lain untuk terima. Tampaknya tidak adil, dia sebagai yang termuda, dan pasangan jiwanya baru saja jatuh ke pangkuannya sementara yang lain masih harus mencari milik mereka. Mereka akan senang untuknya, tapi mereka tidak akan menjadi manusia jika mereka tidak cemburu karena Zed sudah mendapatkan pasangan jiwanya"
"Aku tidak ingin membuat masalah bagi keluargamu."
Dia menepuk punggung tanganku. ''Aku tahu. Beri kami waktu untuk melewati ini dan mereka akan menantikan untuk menyambut mu sebagai salah satu dari kami.''
"Tapi aku belum tahu soal kaum savant bahkan aku tidak tau kalau aku seorang savant. Aku juga baru saja mulai terbiasa dengan Zed."
Ayah Zed tersenyum penuh pengertian. "Kau tidak perlu khawatir,Sky, semua akan terbiasa pada waktunya sendiri. Kau belum memperhitungkan bahwa Tuhan dan alamlah yang mengerjakan ini, kau juga akan merasakan apa yang perlu kau rasakan ketika kau sudah siap.''
Aku berharap dia benar. Perasaanku terhadap Zed semakin dalam, tetapi aku belum cukup siap berpikir untuk berkomitmen selamanya yang mereka harapkan.
Aku tahu diri kalau suatu saat aku pasti akan mundur banyak waktu jika ada yang memaksakan tentang hal ini.
Sejauh ini, Zed sepertinya mengerti itu, tapi berapa lama kesabarannya akan bertahan untuk membuat ku menjadi seorang savant, aku masih mempunyai trauma yang mendalam dan sangat susah untuk di hilangkan.
__ADS_1