
Ayah Zed mendekati kami tetapi tidak tega memisahkan ku dari putranya. ''Tidak apa-apa, sampai kita tahu mengapa dia ada di sini. Dia berjalan melewati batas keamanan kita. Dia tidak bisa melakukannya tanpa bantuan. Kekuatannya tidak begitu kuat.''
Victor menjauhkanku dari Zed membuat pelukan kami terlepas dan menahan mataku dengan tatapan tajamnya. ''Beri tahu aku mengapa kau ada di sini. Apakah seseorang mengirim mu?'' Dia menggunakan bakatnya, melapisi kata-katanya dengan paksaan untuk menjawab. Aku bisa mendengarnya seperti harmoni yang berjalan di bawah melodi. Itu sakit. "Sky, kau harus memberitahuku."
"Hentikan, hentikan!'' Aku terisak, menarik diri dari nya, tersandung ke belakang. ''Keluar dari otakku, kalian semua!'' Aku tersandung, berakhir duduk di salju, kepala terjepit di antara kedua tanganku.
Zed mendorong lalu memukul Victor agar menyingkir dan menarikku ke dalam pelukannya lagi. Dia sangat marah. "Aku akan membawanya ke dalam dan aku tidak peduli apa yang kalian katakan. Dia milikku, pasangan jiwaku dan sebaiknya kau (Victor) tidak mencoba menghentikanku.'' kedua mata Zed memandang kakaknya dengan penuh amarah.
Pengumuman ini disambut dengan keterkejutan dari saudara-saudaranya, kecuali dari Ayah Zed.
''Lihat dia, di....dia membiru karena kedinginan.'' Zed berjalan melewati keluarganya dan membawaku ke dapur. Xav ada di sana, bersama Will, salah satu saudara yang belum pernah kutemui dengan baik, mereka sedang memeriksa monitor yang telah dipasang di meja dapur.
"Dia masuk sendiri," kata Will. Dia menjalankan beberapa liputan CCTV dari gerbang ke kompleks kereta gantung. "Tidak ada tanda-tanda orang lain."
''Sky, kenapa kau ke sini malam malam?'' Xav bergerak ke arahku, lalu melihat kakiku. ''Sheesh, Zed, tidakkah kau memperhatikan kakinya berdarah? Taruh dia di kursi."
Zed memeluk ku saat Xav melepaskan apa yang tersisa dari sepatuku. Dia menutup matanya dan meletakkan telapak tangannya di telapak kaki ku. Aku segera merasakan sensasi kesemutan seperti ditusuk jarum dan kemudian rasa sakit saat Xav menyembuhkan ku perlahan menghilang.
Victor menjatuhkan pistolnya ke meja dan mengeluarkan berita yang baru dia dengar dari Zed. ''Will, Xav, ada sesuatu yang adik laki-laki kita lupa sebutkan.''
Trace menggelengkan kepalanya. ''Ya, dia pasangan jiwanya.''
Sentuhan Xav terjepit sesaat, sentakan aliran energi sedikit kacau, seperti nya Xav kaget lalu dia kembali menyembuhkan.
Will bersiul. '' dia tidak sedang bercanda kan?"
"Itu yang dia katakan." Trace melirik ayahnya, mencari konfirmasi. tapi Ayah nya hanya mengangguk.
''Yah, mana kau tahu.'' Will menyeringai padaku, kebahagiaannya tulus. ''Punya kakak perempuan, Sky?''
Zed tersenyum padanya dengan rasa terima kasih. "Bukannya dia tahu-tapi kami akan mencoba mencari tahu untukmu." Lalu dengan lembut mengusap kepala ku.
"Jangan lupakan kita semua," kata Trace, senyumnya sedikit dipaksakan. "Beberapa dari kami kehabisan waktu."
Ayah Zed menepuk bahu putranya sebentar. ''Sabar, Nak. Kau akan menemukannya.''
''Kamu berjalan di sini sendirian?'' Zed bertanya dengan lembut saat penyembuhan sedang berlangsung. "Kenapa?"
''Aku butuh bantuan,'' bisik ku, berharap aku bisa bersembunyi di dadanya dan menghilang. Dia begitu hangat dan aku begitu dingin. ''Aku membutuhkanmu.''
Trace dan Victor masih curiga dengan kedatanganku yang aneh. Aku bisa merasakan gelombang emosi mengalir dari mereka. Ya Tuhan, kekuatan ku telah diaktifkan lagi. Di sini, di rumah para Savant ini, kemampuan untuk melihat orang dari perasaan mereka muncul kembali.
"Aku ingin saudara-saudara mu tahu kalau aku mengatakan yang sebenarnya." Sekarang aku tidak perlu membuka mata untuk menyadari di mana semua orang berada.
Kedua Benedict yang lebih tua berdiri dengan protektif di dekat pintu ke bagian lain rumah. Emosi ayah mereka campur aduk-takut, khawatir padaku, dan bingung. Will bersandar di konter, bersinar dengan warna hijau musim semi yang ceria.
Xav sedang berkonsentrasi untuk menyembuhkan kakiku, kehadirannya memberikan konsentrasi berwarna biru yang sejuk. Dan Zed, dia bersinar berwarna emas dengan perasaan cinta dan ungu menandakan keputusasaan untuk melakukan sesuatu agar dia bisa membantuku.
"Kamu tidak berpikir aku di sini karena seseorang mengirim ku untuk menyakiti mu, kan?'' Aku bergumam, menggosok pipiku ke kausnya.... Hehehe, aromanya enak dan memenangkan.
__ADS_1
"Tidak, sayang," jawabnya, membelai rambutku.
"Ayahmu bilang aku bisa datang."
''Aku tahu.''
Ayah Zed mengangkat telepon yang tergeletak di atas meja. "Berapa nomor teleponnya?" Dia bertanya.
Aku tersadar sudah melupakan semua tentang orang tuaku. "Mereka tidak tahu aku pergi."
''Lebih baik membangunkan mereka untuk memberi tahu mereka kalau anak gadisnya aman daripada membiarkan mereka menemukan tempat tidur mu yang kosong dan khawatir lalu uring uringan mencarimu.''
Zed memutar nomor itu dan Ayah Zed melakukan percakapan singkat dengan Simon. Aku tahu mereka ingin melompat ke dalam mobil dan menjemput ku sekarang juga, tapi aku tidak menginginkan itu setelah datang jauh-jauh ke sini.
"Aku ingin tinggal," bisikku. Kemudian aku menemukan suara yang lebih kuat. ''Aku ingin tinggal di sini.''
Ayah Zed melirik ku dan mengangguk. ''Ya, Simon, dia baik-baik saja, sedikit kedinginan tapi kami menjaganya. Dia yakin dia ingin tinggal. Mengapa tidak datang dan menjemputnya setelah sarapan? Tidak ada gunanya keluar di tengah malam ketika tidak perlu..... Ya, akan aku lakukan.'' Dia meletakkan telepon kembali. ''Dia akan mengemudi di pagi hari. Dia mengatakan kalau kau harus beristirahat dan tidak khawatir.''
''Apakah aku akan dihukum lagi?"
Zed mengacak-acak rambut di belakang leherku.
"Ayah mu tidak menyebutkan itu." Ayah Zed tersenyum.
''Aku tidak yakin" Ujar ku.
''Sampai usiamu lima puluh,'' kata Zed.
Xav melepaskan kaki ku. ''Aku telah melakukan apa yang aku bisa untuk pasangan jiwa mu Zed.'' Dia menggunakan istilah itu dengan senang hati. ''Dia perlu tetap hangat dan tidur sekarang. Lukanya sudah cukup sembuh.''
''Terima kasih.'' Zed mengangkat ku ala bridal style. "Aku akan meletakkannya di tempat tidur ku untuk malam ini. Ibu akan meminjamkan mu beberapa baju tidur kering.''
°°°
Nyaman dan hangat di bawah selimut Zed, aku tidak merasa mengantuk. Dia sedang duduk di kursi dekat jendela, gitar di tangannya, memainkan beberapa lagu yang menenangkan ku.
Karla Ibu Zed sedikit mengoceh tentang aku berada di kamar Zed tapi ketika jelas dia tidak akan membiarkan ku hilang dari pandangan Zed, Ibu nya menyerah, dia mempercayai kami untuk berperilaku baik. Ibu Zed sangan khawatir dengan ku karena berdua dengan anaknya Zed yang begitu.....kalian tau lah liar.
Zed menyandarkan dahinya ke dahi ibunya, sebuah gerakan yang begitu menyentuh menurutku melihat betapa Zed lebih tinggi dari Ibunya. ''Katakan apa yang ibu lihat?. Aku telah menjatuhkan perisaiku.''
Ibu Zed menghela napas. ''Ibu melihat mu berdiri menjaga Sky dan berperilaku seperti pria sejati dan sempurna."
''Betul sekali.'' Dia mengedipkan mata padaku. ''Terkadang memiliki ibu yang melihat masa depan adalah berkah.'' katanya Setelah Ibu Zed keluar.
Sekarang aku menatapnya dibingkai oleh langit malam, ku pikir aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih sempurna.
"Aku mencintaimu, Zed," kataku lembut. "A...aku tidak perlu menunggu untuk memilah ingatan ku."
Dia berhenti bermain. ''Baik sekarang.'' Dia membersihkan tenggorokannya. ''Ini pertama kalinya kamu mengatakannya kepadaku secara langsung seperti ini.''
__ADS_1
''Aku sudah memberitahumu sebelumnya aku yakin sudah."
''Tidak, kamu sudah mengisyaratkan tapi kamu tidak pernah mengatakannya begitu saja.''
''Aku tahu, A...aku-mencintaimu, maksudku. aku sedikit pemalu jadi aku tidak mengatakannya dengan mudah.''
''Sedikit pemalu? Sky, kamu mungkin orang paling pemalu yang pernah kutemui di dunia."
''Maafkan aku.''
Dia datang dan duduk di tepi tempat tidur. ''Jangan. Itu bagian dari apa yang aku suka darimu. Kamu tidak pernah berpikir ada orang yang akan menyukai mu dan memiliki ekspresi terkejut yang samar-samar ketika kita semua peduli pada mu. Itu lucu dan manis.'' Dia menepuk ujung hidungku.
"Aku tidak ingin menjadi manis."
"Aku tahu, kamu ingin dianggap serius." Ekspresinya serius tapi matanya tertawa. "Dan aku-aku bersumpah."
"Kamu berbohong."
"Kamu tidak percaya padaku?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Aku bisa membaca emosi, tahu."
Dia menyingkirkan rambut dari dahiku. ''Aku mungkin tidak memiliki wajah poker tapi aku tidak percaya aku segampang itu untuk di tebak."
''Kamu tidak mengerti. Ini kekuatan ku, aku benar benar bisa membaca apa yang kamu rasakan. Kekuatan ku sudah terbuka.''
Dia duduk kembali, warnanya berubah menjadi ungu muda kebingungan. Aku bisa melihatnya memproses apa yang ku katakan, emosinya bergerak ke warna hangat cintanya kepada ku saat dia menerimanya. ''Tidak apa-apa kalau begitu, jadi kamu tahu bahwa ketika aku mengatakan aku mencintaimu, aku benar benar bersungguh sungguh. Kamu tahu bahwa kamu adalah pasangan jiwa ku.''
"Ya. Tapi aku juga tahu jika kamu berbohong kepada ku, juga tentang hal-hal lain. Orang orang memiliki aura berwarna kuning yang licik ketika mereka mengatakan sebuah kebohongan.''
''Oh, well, itu tidak adil.''
"Kamu bisa melihat masa depan."
"Tidak sepanjang waktu dan tidak begitu banyak denganmu sekarang."
Aku tersenyum mengantuk. "Kalau begitu sebaiknya kamu perhatikan langkahmu saat bersamaku."
Dia mengusap punggung tangannya di pipiku. ''Kamu sedang menikmati keuntungan saat aku tidak bisa apa apa di hadapan mu ya?"
''Ya, aku berada di depan mu sekarang, apa pun yang kamu katakan di sini aku tahu."
"Astaga, ini tidak adil sama sekali." Dia mendorong ku pelan dan berbaring di sampingku. ''Kapan kamu menemukan kekuatan mu?''
"Di gudang. Begitulah cara ku tahu kalau kamu tidak menyakiti ku meskipun otak ku mengatakan bahwa kamu telah menyakiti ku.'' aku berhenti sejenak, gambarnya masih sangat jelas. ''Apakah kamu yakin aku tidak pernah menembak mu bahkan dengan berpura pura seperti pisau palsu itu?''
Dia mengerang. ''Jangan ingatkan aku tentang itu. Dan ya, aku yakin. Itu bukan sesuatu yang mungkin aku lupakan sekarang, kan?''
"Aku gila, Zed." Di sana, aku mengakuinya.
__ADS_1
''He e. Dan aku juga gila.....karena mu." Lalu Zed memeluk ku dan mencium kening ku dengan lembut lalu berkata waktunya untuk tidur dan dia mengusap rambut sampai aku terlalap tidur sambil menyembunyikan wajahku di dadanya.