
Aku benar-benar kecewa karena aku tidak melihat Zed sore ini, meskipun nongkrong di akhir pertandingan. Tina turun lebih dulu, aku melihat Tina cukup kesal karena seseorang yang seperti nya sengaja hampir menabraknya di lereng.
''Bukan Zed?'' aku bertanya dengan cemas.
''Tidak, hanya seorang idiot dengan ego yang meningkat dan tidak memiliki otak, atau dikenal sebagai seorang Nelson. Dia mencoba membuat ku terkesan.'' Dia melemparkan perlengkapannya ke bagian belakang mobilnya. ''Siap untuk pulang?''
"Ya terima kasih. Nelson tidak membujuk mu?"
Dia berhenti di pintu samping kemudi. ''Dari apa? Bahwa kita cocok satu sama lain?"
OK, itu tidak terdengar penuh harapan tapi aku mengenal Nelson dan dia adalah orang yang baik walau terkadang bersikap konyol dan menjengkelkan.
Aku masuk ke kursi penumpang. Lalu Tina memutar kunci kontak dan mencoba menyalakan mobil beberapa kali tapi tidak kunjung menyala.
"Ya ampun. Terdengar buruk. Padahal tadi pagi baik baik saja?" Dia kembali mencoba menyalakan mobilnya tapi tidak berhasil. "Damn"
''Jadi kita harus mendorong mobilnya?"
"Kau bercanda, tidak lah" Jawabnya.
Kami melaju kembali ke kota setelah beberapa kali mencoba menyalakannya, di setiap jalan kami merasa waswas kalau mobil akan berhenti kapan pun setiap kali melambat di persimpangan.
''Siap untuk keluar dan mendorong?'' dia bercanda dengan muram.
Kami sampai di Main Street ketika mobilnya bener benar tidak bisa menyala.
''Tina, kurasa sebaiknya kau bawa mobil mu ke bengkel"
"Ya, aku juga menerima nasehat itu dari kakak ku." Dia berayun ke halaman depan terminal bensin Wrickenridge. Hanya terminal bensin yang terbuka tapi marketnya ditutup karena akhir pekan. Kingsley sang mekanik sedang bertugas di kasir dan dia keluar ketika mendengar mesin dalam keadaan rusak.
"Buka tutupnya, sayang," katanya pada Tina. Dia mengintip ke dalam dan menggaruk kepalanya. "sepertinya alternator nya hilang.''
Itu membuatnya lebih jelas—iya kan.
Dia pasti memperhatikan ekspresi kosong kami. ''Itu pengisi baterai. Tanpa benda itu daya akan terkuras dan kalian mendapatkan situasi ini.'' Dia menunjuk ke mobil.
"Mobil mati." Tina menendang ban.
"Mobil mati sementara—tidak fatal. Aku akan memperbaikinya untukmu besok.''
"Terima kasih, Pak Kingsley." Kata Tina
''Aku akan mendereknya ke bengkel. Mobil mu akan cukup aman untuk di sini, tinggalkan perlengkapan mu di bagasi.''
Tina menyerahkan mobilnya ke tangan Kingsley yang tau akan mesin.
''Haaah, hari yang sial'' dengus Tina.
Aku tahu obat untuk situasi seperti ini. "Ayo pergi beli muffin dan tiga cokelat?"
Dia langsung bersemangat. ''Hanya itu yang ku butuhkan sekarang. Kau teman yang baik, Sky.''
Kami pun makan sebentar di kafe. Aku berhasil membujuknya keluar dari kemarahannya terhadap Nelson, menunjukkan bahwa dia hanya terlalu bersemangat, tidak jahat, dalam upayanya untuk mendapatkan perhatian Tina.
"Kurasa, tapi terkadang dia bertingkah seperti bayi besar," gerutunya. ''Kenapa dia tidak bisa tumbuh dewasa saja?''
''Mungkin dia sedang dalam proses belajar"
Dia menyeringai. ''Hei, siapa Obi sekarang?''
Aku memasang ekspresi seperti orang tua yang berkeriput terbaik ku. ''Nelson, dia orang yang baik, cobalah untuk memberikan dia kesempatan "
Dia tertawa terbahak-bahak. "Oke,berhenti. Obi tidak memiliki aksen Inggris!''
Aku mengangkat alis. ''Selain itu, kau mengatakan aku seorang peski mati?'
"Jika sepatu itu cocok untuk mu"
''Sheesh, aku benci gadis tinggi.''
__ADS_1
Di luar kafe kami harus berpisah. Hari mulai gelap. Beberapa lampu jalan ada yang berkedip kedip, membuatnya tampak lebih gelap dalam bayangan.
"Terima kasih atas pelajarannya Tina dan maaf tentang mobil mu." Aku menutup ritsleting jaketku.
''Hal ini sering terjadi. Aku harus melihat apakah aku dapat meluangkan waktu ekstra ke toko untuk membayar perbaikan mobil ku. Sampai jumpa lagi.''
Aku merogoh sakuku mencari ponsel untuk memberi tahu Sally dan Simon bahwa aku akan pulang.
''Hai, Selly? Tina mengalami masalah mobil. Aku berjalan kaki dari Main Street.''
Aku bisa mendengar suara musik nyaring di latar belakang saat suara Sally terdengar. ''Kau tidak sendirian kan?''
''Aku sendirian, aku tahu. Terdengar tidak bagus. Bisakah kau datang dan menemui ku di toko dekat kafe? aku tidak ingin berjalan pulang sendirian.''
"Aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa di toko. Tetap di situ yang di mana ada orang lain di sekitar mu.''
''Bagus. Aku akan menunggu di dalam.''
Aku menyelipkan ponsel di saku belakangku. Ada sekitar lima ratus meter antara kafe dan toko, dan aku harus menyeberangi persimpangan dengan lampu lalu lintas.
Aku merasa senang berjalan ke sana karena penerangannya cukup baik dan selalu ada banyak orang berkeliaran.
Aku bertanya-tanya bagaimana keadaan Zed. Dia pasti sudah berhenti naik ke gunung karena hari sudah gelap. Apakah ayahnya memberitahunya bahwa aku sudah terlalu berharap untuk bertemu dengannya?
Aku hampir mencapai persimpangan ketika seorang pria berlari di belakangku. Aku melirik sekilas. Besar, tinggi. Dia hampir sepenuhnya mencukur kepalanya, selain dari rambut keriting panjang di bagian belakang. Aku pindah ke satu sisi untuk membiarkan dia lewat.
"Hei, kupikir kau menjatuhkan ini." Dia menyodorkan sebuah dompet kulit berwarna coklat kepada ku.
"Eh, bukan, itu bukan milikku.'' Aku mencengkeram tas ku lebih dekat. Aku tahu betul bahwa dompet merah ku tersimpan dengan aman jauh di dalamnya.
Dia memberiku seringai ''aw sial, Itu agak aneh—karena ada fotomu di dalamnya.''
''Itu tidak mungkin.'' Bingung, aku mengambil dompet darinya dan membuka bagian depan. Sebuah foto yang baru-baru ini di ambil saat aku dan Zed jalan berdua di halaman sekolah.
Dompet nya penuh dengan uang dolar, jauh lebih banyak daripada yang pernah aku miliki. "Aku tidak mengerti.'' Aku melirik pria berkuncir kuda yang ada di depan ku. Ada sesuatu yang aneh tentang dia. Aku mundur, menyodorkan dompet ke tangannya lagi. "Ini bukan milikku."
Bagaimana dia tahu namaku? ''Tidak, itu benar-benar....''Aku berlari.
''Hei, tidakkah kau menginginkan uangnya?'' dia memanggil sembari mengejar ku.
aku sampai di tikungan tetapi semua mobil berjalan begitu cepat sehingga aku tidak bisa mengambil risiko menyeberang tanpa menyebabkan kecelakaan.Tapi saat aku ingin menyebrang dia sudah ada di belakang ku dan aku merasakan sesuatu mengenai tulang rusukku.
''Kalau begitu biarkan aku menjelaskan semuanya dengan lebih jelas. Kau akan masuk ke mobil dengan ku sekarang tanpa menarik perhatian orang lain''
Aku menarik napas untuk berteriak dan berusaha menarik diri dari tangannya.
"Lakukan itu dan aku akan menembak mu." Dia menusukkan sesuatu di tubuh ku yang sekarang aku sadari adalah pistol.
Tiba tiba sebuah mobil SUV hitam dengan jendela gelap berdecit berhenti di depan kami.
''Masuk.''
Itu terjadi begitu cepat dan begitu lancar, aku tidak punya kesempatan untuk merencanakan pelarian. Dia mendorongku ke kursi belakang, memaksa kepalaku menunduk saat dia menutup pintu. Lalu mobil itu melaju pergi.
'Zed!' Aku berteriak dalam pikiranku.
''Dia menggunakan telepati,'' kata pria di kursi kemudi, yang duduk di kursi pengemudi. Dia seperti nya berusia akhir tiga puluhan, dia memiliki rambut merah pendek dan banyak bintik-bintik di wajahnya.
'Sky? Apa yang salah?' Zed langsung menjawab.
''Itu bagus. Biarkan dia tahu kami menangkap mu, nak. Katakan padanya untuk datang menjemputmu.'' Pengemudi di depan memiliki aksen Irlandia yang kuat.
Segera aku mematikan sambungan telepati ku dengan Zed. Mereka menggunakan ku untuk menarik keluarga Benedict untuk keluar.
''Dia menghalanginya,'' kata pria berambut merah.
Preman di kursi belakang menarik ku dengan tengkuk leher. Sekilas aku melihat ibuku menunggu di luar toko, mengeluarkan ponselnya. Dan ponselku yang ada di saku berdering.
''Apa itu dia yang menelpon mu?'' preman itu bertanya. "Ayo, jawab."
__ADS_1
Dia mungkin tidak akan membiarkan ku berbicara jika aku mengatakan itu adalah ibu ku. Aku melepaskannya dari setelan skiku, tapi dia dengan cepat mengambil ponsel dariku dan menekan tombol terima.
"Kami menculiknya. Kau tahu apa yang kami inginkan. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dua Benedict ganti rugi untuk keluarga kami.'' Dia memutuskan panggilan lalu melemparkan telepon ke luar jendela. ''Siapa yang butuh telepati? Itu harus dilakukan hahaha"
''Itu bukan mereka—itu ... itu ibuku.'' Aku mulai gemetar. Beberapa momen keterkejutan yang tumpul berubah menjadi ketakutan yang mendalam.
''Sama saja" Dia mengangkat bahu. "Biarkan dia memberi tahu keluarga Benedict"
Aku bisa mendengar dengungan suara yang mencoba menghubungiku—bukan hanya Zed tapi juga seluruh keluarganya.
Aku tidak bisa menahan diri untuk menjawab. 'Tolong aku! Tolong!'
Tapi kemudian suara itu menjadi mati dan menghilang.
"Aku membiarkan dia mendapatkan satu permohonan yang menyayat hati mereka." Pria berambut merah itu mengusap dahinya. ''Tapi para Benedict itu menyerang perisai ku. Ayo pergi dari sini secepatnya "
Jadi dia adalah savant yang ahli itu.
"Itu jahat, Halloran. kau membiarkan mereka mendengar kata-kata terakhir gadis kecil ini dan kemudian menghentikan nya?" Preman yang menyuruh ku masuk ke mobil itu tertawa.
''Ya, ku pikir itu adalah sentuhan yang bagus. Membawa air mata, kan?'' Dia berbalik untuk mengedipkan mata padaku. ''Jangan khawatir, Nak, mereka akan datang untukmu. Keluarga Benedict tidak akan tinggal diam jika salah satu dari mereka di culik"
Aku meringkuk menjadi seperti bola, memeluk lututku, menempatkan jarak sejauh mungkin antara aku dan para penjahat. Menutup mataku, aku berkonsentrasi untuk menemukan jalan menembus perisai.
''Hentikan!'' bentak Halloran.
Mataku terbuka lebar karena terkejut. Dia memelototi ku di kaca spion. Aku telah berhasil mengganggu penghalangnya dengan usaha ku, tapi aku terlalu tidak mengerti tentang hal-hal tentang kekuatan untuk mengetahui bagaimana memanfaatkannya.
''Aku akan memberitahu Gator untuk menjatuhkan mu jika kau mencobanya lagi,'' Halloran memperingatkan.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Gator si preman berambut berekor kuda.
Halloran menggosok pelipisnya lagi. Serangan ku dan serangan keluarga Benedict pada perisainya pasti membuatnya kewalahan.
"Kita memiliki seorang bayi Savant di sini. Aku tidak tahu mengapa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kekuatannya tapi dia memiliki beberapa hal yang terkunci di dalam dirinya. Dia hanya bisa bertelepati"
Gator tampak gelisah sekarang. "Apa lagi yang dia bisa lakukan?"
Halloran menatap ku sambil mengangkat bahu. ''Tidak ada, sejauh yang ku tahu. Jangan khawatir, dia tidak akan menyakitimu.''
Gator takut pada para Savant?. Tapi perlu diketahui—bukan berarti aku bisa melakukan apa pun dengannya saat ini. Halloran benar, aku masih bayi dalam istilah mereka. Jika aku ingin membantu diri ku sendiri keluar dari kekacauan ini, aku harus tumbuh dengan sangat cepat.
°°°
Kami telah berkendara selama lebih dari satu jam. Aku sudah melewati teror ketakutan dan sekarang merasakan keputusasaan yang mematikan. Kami terlalu jauh dari Wrickenridge bagi siapa pun untuk mengejar kami.
''Kemana kalian membawaku?'' aku bertanya.
Gator tampak terkejut mendengar ku berbicara. Aku mendapat kesan bahwa aku hanyalah alat untuk mencapai tujuan mereka untuk mendapatkan keluarga Benedict dan tidak ada seorang pun di dalam mobil yang benar-benar menganggap ku.
"Haruskah aku memberitahunya?'' tanyanya pada Halloran.
Halloran mengangguk. Dia diam, pertempurannya dengan keluarga Benedict yang tak terlihat saat para Benedict berusaha mati-matian untuk menghancurkan perisainya.
''Well, kami akan membawamu menemui bos.'' Gator mengambil sebungkus permen karet dari saku dadanya dan menawariku. Aku menggelengkan kepala.
"Siapa bos mu?"
"Kau akan segera tahu."
''Dimana dia?''
"Di ujung lain perjalanan saat selesai menaiki pesawat itu." Dia menunjuk ke arah sebuah pesawat yang menunggu di landasan lapangan terbang provinsi kecil.
"Kalian terbang?''
"Kami yakin tidak akan berjalan ke Vegas."
Kami berhenti di samping jet. Gator menarik ku keluar dari mobil dan mengikatku dengan tali pendek. Dan pesawat segera lepas landas, menuju ke selatan yaitu Las Vegas.
__ADS_1