
Gator meminta maaf saat dia mengikat kaki ku dan meninggalkan ku duduk di tengah gudang kosong.
''Lakukan saja apa yang ku katakan dan kemudian ini akan berakhir,'' katanya padaku, sambil menyelipkan rambut ke belakang telingaku.
Aku menggigil, meskipun mengenakan setelan ski ku. Tubuhku bertingkah seolah-olah sedang demam yang berusaha dihilangkan.
Tidak ada yang terasa benar. Gator mengambil posisi beberapa kaki lebih jauh ke belakang, berlindung di balik penghalang peti. Aku bisa mendengarnya memeriksa isi pistolnya.
Apakah dia di sini untuk membela ku? Aku tidak bisa mengingatnya. Aku bahkan tidak yakin siapa dia. Apa yang salah dengan ku? Otakku terasa seperti kapas.
Setelah beberapa menit berikutnya, ada suara gesekan pintu di ujung sana. Pintu geser itu mundur beberapa inci.
"Ini kami. Kami datang sendiri seperti yang kalian minta.'' Itu adalah Xav Benedict. Musuh ku.
''Apa yang telah kalian lakukan pada Sky? Apakah dia baik-baik saja?'' Saudaranya, Zed. Aku mengenalnya, bukan? Tentu saja, aku mengenalnya. Dia adalah pacarku. Dia bilang dia mencintaiku.
Dia tidak mencintai mu-dia hanya mempermainkan mu. Kata-kata itu melayang di otak ku, tapi aku tidak ingat mengapa aku memikirkannya.
Aku diam, menarik lututku ke dada.
'Sky? Tolong jawab! Aku akan gila di sini. Katakan padaku kamu baik-baik saja.'
Suara Zed juga ada di kepalaku. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Aku tidak bisa menahan diri-aku merintih.
''Xav, itu dia! Dia terluka.'' Katanya ingin berlari ke arah ku.
Xav menahannya. ''Ini jebakan, Zed. Mereka pasti melakukan ini seperti yang kita sepakati.''
Mereka belum terlihat.
"Beri tahu kami apa yang kalian inginkan sebagai ganti Sky" Suara Zed tidak stabil.
Semua ini tidak masuk akal. Aku kan sudah menembak mereka. Mengapa mereka ada di sini? Kenapa aku harus menghidupkan kembali mimpi buruk itu?
''Pergi saja di mana aku bisa melihatmu dan aku akan memberitahumu,'' kata Gator.
''Masalahnya, kami tidak bodoh. Kau dapat memberi tahu kami sekarang " Ujar Zed lantang.
''Kalau kau tidak keluar dengan tangan terangkat, aku akan menembakkan peluru ke pacar kecilmu.''
Ini bukan bagaimana hal yang akan terjadi. Aku punya pistol di tangan ku dan aku akan menembak kedua Benedict. Aku telah melihatnya terjadi di otak ku.
''Zed?'' Suaraku tipis, bergetar dalam kekosongan gudang.
"Sky? tunggu aku, sayang, kami akan mengeluarkan mu dari ini.''
Salah-semua salah. Ingatan ku terasa seperti komik strip dengan bingkai robek. Keluarga Benedict telah menyakiti ku-ya memang begitu. Mengunci ku di bagasi mobil mereka selama berjam-jam.
''Pergi!'' Aku tersedak. Aku melihat gerakan di ujung sana, ujung jari seseorang ketika mereka bangkit dari balik wadah yang mereka sembunyikan di belakang. Itu adalah Zed.
Otak ku sepertinya meledak dengan emosi dan gambaran yang saling bertentangan-kebencian, cinta, tawa, siksaan. Warna di gudang berubah dari datar menjadi multi-warna yang kompleks.
Matanya tertuju padaku. ''Jangan menatapku seperti itu, sayang. aku di sini sekarang. Biarkan aku berbicara dengan orang yang menangkap mu dan kami akan membebaskan mu.''
Dia mengambil langkah lebih dekat.
Berapa banyak dari mereka yang ada? Apa dia menodongkan pistol padaku? Suara Zed bergema di kepalaku lagi.
__ADS_1
aku tidak menembak orang. Gambar tangan ku yang memegang pistol berkedip-kedip seperti lampu neon.
'Ada apa denganmu, Sky? Aku bisa melihat apa yang kamu lihat. Pikiran mu terasa berbeda terhadap ku.' suara Zed bergema di kepala ku.
''Dia punya pistol,'' kataku keras-keras. ''Gator, jangan tembak siapa pun. Aku sudah membunuh mereka tapi mereka tidak mati mereka baru saja kembali.''
''Tenang, Sky,'' kata Gator dari belakangku. ''Dan kau, datanglah ke tempat yang aku bisa melihat mu. Aku yakin kau lebih suka aku melihat mu daripada melihat pacar kecil mu terkena peluru"
Zed melangkah. Mau tak mau aku melahapnya dengan tatapanku, rasanya seolah-olah dia bergantian di antara dua topeng, satu di mana dia baik dan lembut, yang lain ganas dan kejam. Wajahnya tidak jelas dan samar samar.
''Sekarang saudaramu. Aku ingin kalian berdua di mana aku bisa melihatmu. Datang sedikit lebih dekat ke Sky. Tidakkah kau ingin melihat apa yang telah kita lakukan padanya?'' Gator mengejek.
Aku harus memilih. Yang mana yang aku bisa percaya? Jenis Zed yang penuh kasih sayang dan cinta atau Zed yang kejam.
Zed maju dua langkah, tangannya berayun dengan mantap di udara. ''Kau tidak menginginkannya. Pertengkaran keluarga Kelly adalah dengan keluarga Benedict-bukan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan ini.''
Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang harus ku percaya? "Sky punya insting yang bagus" . Ibuku pernah mengatakan itu, bukan? Insting. Lebih dari insting. Aku bisa membaca orang, mengetahui kesalahan mereka, membedakan yang baik dan yang buruk.
Tapi aku telah menguburnya, itu ada di dalam diri ku di bawah semua omong kosong di kepala ku sejak aku berusia enam tahun. Aku sengaja menguncinya. Tapi sekarang aku harus menjangkau kekuatan ku.
Aku memejamkan mata, merasakan di dalam diri ku untuk membuka pintu yang akan melepaskan kekuatanku.
Kekuatan persepsi ku menembus atap. Sensasi yang mengalir di ruangan itu luar biasa. Aku melihat mereka sebagai aliran warna. Merah kegembiraan dan sedikit ketakutan hitam dari belakangku, kilau emas cinta dan semburat hijau rasa bersalah dari Zed.
Belahan/pasangan jiwa.
Pengetahuan itu ada di sana, berakar dalam dalam diri ku seperti DNA. Bagaimana aku tidak melihatnya? Tubuhku kembali ke nada Zed, pasangan yang sempurna, sempurna dalam harmoni.
Lalu kenapa dia merasa bersalah? Aku memeriksa warna hijau, Zed merasa bersalah karena dia membiarkan ku di culik dan bahwa aku telah menderita. Dia ingin dia duduk di sana dengan darah di wajah dan pakaiannya menggantikan ku.
''Zed!'' Aku berteriak. ''Menunduk"
Suara pistolnya meledak. Zed sudah bergerak, diperingatkan oleh ramalannya. Suara kedua. Ada penembak lain-Halloran-di atas, mencoba menembak Xav di dekat pintu.
Alih-alih menghindar untuk berlindung, Zed berlari ke arah ku. Aku berteriak-pikiranku memainkan versi ini di mana dia menyerangku dan aku menembaknya. Tapi tanganku kosong. Tidak ada pistol.
'Kode Merah! Kode Merah!' Xav meninju pesan melalui telepati dan menembus perisai Halloran dengan semua kekuatan yang bisa dikerahkannya, menyiarkan di saluran lebar untuk didengar oleh telepati mana pun.
Zed melemparkan dirinya ke atasku saat aku duduk meringkuk, memegangi lututku. "Tetap di bawah ku, Sky."
''Jangan tembak!'' aku memohon. ''Tolong jangan!''
Aku merasakan agresi dan tekad Gator untuk membunuh dalam banjir warna merah. Punggung Zed menunjukkan target yang jelas, satu-satunya keraguannya bahwa peluru itu mungkin menembus dan mengenai ku juga.
''Tidak!'' Dengan ledakan kekuatan yang disebabkan oleh keputusasaan, aku menggunakan kakiku untuk mendorong Zed. Peluru yang ditujukan untuk punggungnya mengenai tanah di antara kami, memantul liar karena terkena beton.
Kemudian semuanya seperti neraka. Suara tembakan terdengar, agen FBI menerobos pintu, berteriak bahwa mereka adalah FBI. Sesuatu mengenai lengan kananku.
Rasa sakit menembusku. Sirene dan lebih banyak lagi teriakan. Polisi. Aku meringkuk menjadi bola, terisak.
Dalam kebingungan, seseorang merangkak ke sisi ku dan melindungi atas ku. Zed. Dia bersumpah serapah, air mata mengalir di wajahnya. Dia menjepit tangannya di atas luka di lenganku.
Setelah beberapa ledakan suara senjata, suara itu terdiam. Aku merasakan bahwa dua kehadiran telah hilang dari ruangan itu-Halloran dan Gator. Apakah mereka melarikan diri?
''Panggilkan aku petugas medis di sini!' teriak Zed. ''Sky terkena tembakan"
Aku berbaring dengan tenang, menahan keinginan untuk berteriak. Tidak, mereka tidak melarikan diri. Mereka terbunuh dalam baku tembak, energi mereka padam. Halloran dan Gatot mati.
__ADS_1
Seorang wanita paramedis polisi bergegas datang ke kami.
''Aku akan menanganinya,'' katanya pada Zed.
Dia melepaskan cengkeramannya di lenganku, darahku di tangannya. Petugas medis merobek lengan bajuku.
" kelihatannya, hanya tergores. Mungkin dia terkena peluru yang meleset "
"Mereka sudah mati," gumam ku.
Zed membelai rambutku. ''Ya.''
''Apa yang terjadi padaku?''
Petugas medis mendongak dari perawatannya terhadap lenganku. ''Kau terkena pukulan di kepala juga?'' Dia melihat darah di rambutku. ''Kapan ini terjadi.''
"Aku tidak tahu.'' Mataku beralih ke Zed. "Kamu mengunci ku di bagasi mobil mu. Mengapa kamu melakukan itu padaku?''
Zed tampak terkejut.
''Tidak, aku tidak melakukannya, Sky. Itukah yang mereka lakukan padamu? Ya Tuhan, sayang, maafkan aku tidak bisa melindungi mu"
"Sebaiknya kita memeriksakan apa dia terkena benturan di kepalanya atau tidak" kata petugas medis. "Teruslah bicara dengannya." Dia memberi isyarat untuk membawa tandu. Zed melepaskan ikatan kakiku.
"Aku menembak mu," kataku padanya.
''Tidak, kamu tidak melakukannya, Sky. Orang-orang itu menembaki kita, ingat?''
Aku menyerah. "Aku tidak tahu harus berpikir apa."
"Pikirkan saja bahwa kamu aman sekarang."
Aku memiliki gambar seorang pria berkulit oranye dengan setelan jas berjalan ke rumah sakit untuk menyelamatkan ku. Siapa dia?
Kedua petugas medis mengangkat ku ke tandu. Zed terus memegang tangan ku yang tidak terluka saat aku didorong keluar ke ambulans.
"Maaf aku menembak mu," kataku padanya. "Tapi kamu menyerang ku."
Mengapa pasangan jiwa ku menyerang ku?
aku bisa melihat Benedict lain berkumpul di sekitar tandu ku. Mereka jahat, kan?
Zed menyeka darah dari pipiku. "Aku tidak menyerang mu dan kamu tidak menembak ku."
Yang terakhir ku lihat dari seluruh keluarga Benedict adalah Ayah Zed yang tampak frustasi ketika aku dimasukkan ke dalam ambulans. Zed mencoba masuk tapi aku menggelengkan kepalaku.
"Aku menembaknya," kataku pada petugas medis dengan serius. ''Dia tidak bisa ikut denganku, dia pasti membenciku.''
''Maaf,'' kata wanita itu kepada Zed. ''Kehadiranmu membuatnya tidak nyaman, Di mana orang tuanya?''
"Mereka ada di sebuah hotel di luar Strip," kata Ayah Zed. ''Aku akan memberi tahu mereka. Anda membawanya ke rumah sakit mana?''
''The Cedar.''
''Oke, aku akan menjauh, biarkan dia tenang jika menurutmu itu yang terbaik,'' kata Zed dengan enggan melepaskan tanganku. "Ayah dan Ibu mu akan ada di sana. Kamu dengar, Sky?''
Aku tidak menjawab. Sejauh yang ku ingat, salah satu dari kita harus mati. Mungkin itu aku. Aku memejamkan mata, pikiran ku begitu terbebani sehingga aku harus diperiksa sejenak. Lalu aku kembali pingsan.
__ADS_1