SAVANT

SAVANT
Chapture 16


__ADS_3

Aku memasukkan makanan nabati ke dalam air. "Ini adalah awal yang baik." Sebenarnya, ini pertama kalinya ada orang yang memberiku bunga. Aku merasa sedikit gugup kalau siang hari, mengetahui orang tua ku hanya di lantai atas. Aku bisa mengatasi percakapan ini jika dia hanya ingin meminta maaf. 


Tina mungkin akan menganggapnya layak mendapat beritanya sendiri jika dia tahu bahwa Zed Benedict yang agung telah membungkuk untuk merendahkan dirinya kepada seorang gadis.


Zed bermain-main dengan penyaring kopi. "Bagaimana cara kerjanya?"


Aku mengambilnya dan menunjukkan padanya berapa banyak kopi yang harus dimasukkan. "Kamu tidak betah di dapur?"


"Kami semua keluarga laki-laki dan satu wanita," katanya seolah itu menjelaskan. "Kami punya pembuat kopi—menyaring kopi dengan bagus"


"Dan dia disebut ibumu."


Dia tertawa. "Tidak mungkin. Dia adalah raja di rumah kami.


Oke, aku bisa melakukan ini. Kami melakukan percakapan normal tentang hal-hal normal.


Dia mengambil cangkirnya dan duduk di kursi. "Jadi, ceritakan sesuatu tentang dirimu. Aku bermain drum dan gitar. Bagaimana dengan kamu?"


"Piano, saksofon, dan gitar."


"Lihat, kita bisa bicara tanpa kamu takut padaku"


"Ya." Aku tidak sengaja melihatnya, dia memperhatikan ku seperti beruang yang berjongkok di atas lubang es, siap untuk mengait ikan salmon. "Kamu ... kamu suka semua musik, atau hanya jazz?"


"Semua, tapi aku suka kebebasan berimprovisasi." Dia menepuk tempat di sebelahnya bangkunya. Aku duduk, menjaga jarak di antara kami. "Aku suka bermain sendiri. Bagi ku itu semacam terjun bebas dengan parasut."


"Aku juga suka itu."


"Ini musik musisi". Dia menatap ku, meminta ku untuk memahami ada makna lain di bawah kata-kata permukaannya. "Maksud ku, kamu harus benar-benar percaya diri untuk memulai solo tanpa persiapan dan tidak mempermalukan diri sendiri. Setiap orang bisa membuat kesalahan ketika mereka terburu-buru."


"Kamu benar-benar tidak tahu." Lanjutnya.


Ya Tuhan, dia akan mengangkat hal-hal yang aneh itu lagi.


Dia menggelengkan kepalanya. "Dan kamu sama sekali tidak tahu mengapa aku memperingatkan mu hari itu. Kamu pikir aku mencoba menakut-nakuti mu."


"Memang benar kan kamu menakutiku? Semua hal tentang pisau dan darah."


"Aku tidak bermaksud seperti itu." Dia menggosokkan ibu jarinya ke buku-buku jariku yang berada di atas meja. "Lucu duduk denganmu. Aku mendapatkan begitu banyak dari mu, seperti kamu menyiarkan di semua frekuensi."


Aku mengerutkan kening. "Apa artinya?"


Dia meregangkan kakinya yang panjang, dengan lembut menabrak kakiku. "Sulit untuk dijelaskan. Aku minta maaf karena telah bersikap kasar padamu."


"Kasar? Aku hanya berpikir kalau kamu memiliki reaksi alergi yang aneh terhadap gadis-gadis Inggris dengan tinggi yang tidak memadai"


Dia melihatku. "Apakah itu dirimu?" Godanya.


"Um ... ya." Aku menatap kaki ku. "Aku masih menunggu percepatan pertumbuhan yang  Sally janjikan sejak aku berumur empat belas tahun."

__ADS_1


"Tinggimu sempurna. Aku berasal dari keluarga kayu merah raksasa, bonsai membuat perubahan yang menyenangkan."


Bonsai! Jika aku mengenalnya lebih baik, aku akan menyiku dia di tulang rusuk untuk yang satu ini. Tapi aku terlalu malu, jadi aku membiarkannya. "Jadi kamu tidak akan menjelaskan apa yang menjadi masalah dengan ku?" Tanya ku.


"Tidak hari ini. Aku telah mengacaukannya sekali Aku tidak akan mengambil risiko merusaknya untuk kedua kalinya dengan terburu-buru. Ini terlalu penting." Dia meraih tanganku dan meninju dirinya sendiri di bahunya. "Sudah—aku pantas mendapatkannya."


"Kamu gila."


"Ya, itu aku." Tapi tetap saja dia tidak menjelaskan bagaimana dia tahu kalau aku ingin memukulnya.


Zed melepaskan tanganku. "Oke, aku akan keluar sekarang. Aku tidak ingin memaksakan mu. Senang bertemu denganmu, Sky. Sampai jumpa."


   


Aku tidak mempercayai perilaku anak nakal yang telah dikonfirmasi ini, tapi Zed jelas tidak membiarkan ku pergi. Pada hari Senin di akhir sekolah, dia menungguku di dekat mobil Tina.


"Hai, Tina, apa kabar?"


Tina menatapnya, lalu menatap ku, alisnya terangkat. "Baik, Zed. Kau sendiri?"


"Baik. Sky, siap pulang?" Dia menyodorkan helm sepeda motor.


"Tina memberiku tumpangan."


"Aku yakin dia tidak akan keberatan jika aku mengantar mu. Aku ingin memastikan Sky pulang dengan selamat, oke, Tina?"


Tina tampak seolah-olah keberatan, paling tidak karena dia tidak mempercayai Zed lebih dari aku. "Aku bilang aku akan yang mengantar Sky."


Zed Benedict mengatakan 'tolong'. Es terbentuk di Neraka. Dan dia menawarkan untuk memenuhi salah satu fantasi pribadi ku.


"Sky"  tanya Tina, dia hawatir sekarang.


Aku kira kerendahan hati seperti itu harus diberi kesempatan. "Tidak apa-apa. Terima kasih, Tina. Aku akan pergi dengan Zed." Aku mengambil helm yang di tawarkan Zed.


"Kamu yakin?" Dia mengikat rambut gimbalnya ke belakang, gerakan yang aku tahu berarti dia tidak nyaman.


Tidak juga. "Sampai jumpa besok."


"Ya." Tatapan terakhirnya membuatku tidak ragu bahwa aku akan marah tentang apa yang terjadi setelah dia pergi.


Zed membawaku ke sepeda motornya. Kami menarik beberapa tatapan heran dari para siswa yang berkeliaran.


"Aku belum pernah naik motor sebelumnya" aku mengakui saat aku naik di belakangnya.


"Rahasianya adalah berpegangan dengan erat-erat."


Aku tidak bisa melihat wajahnya tapi aku berani bersumpah dia pasti menyeringai. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, kakiku menyentuh pinggulnya. Dengan santai kami keluar dari tempat parkir, dia membelokkan motornya ke atas bukit. Saat dia menaikkan kecepatannya, aku mengencangkan pelukan ku. Aku merasakan belaian singkat tangannya di tanganku—sentuhan yang menenangkan.


"Apa kamu baik-baik saja di sana?"

__ADS_1


"I... Iya"


"Ingin jalan lebih jauh? Aku bisa membawamu ke pegunungan. Ada sekitar tiga puluh menit sebelum malam"


"Mungkin sedikit lebih jauh"


Dia melewati belokan ke rumah ku. Ada banyak pohon dan beberapa kabin berburu juga beberapa pondok terpencil. Dia berhenti di sebuah tanjung dengan pemandangan kembali ke lembah. Matahari terbenam di depan kami, memandikan segalanya dalam cahaya keemasan mentega yang memberikan ilusi kehangatan meskipun dingin.


‌Dia memarkir motornya, lalu membantu ku turun dan membiarkan ku mengagumi pemandangan dengan tenang selama beberapa menit. Embun beku semalaman masih menempel di tempat-tempat teduh, daun-daunnya, bermata putih, renyah di bawah kaki. Aku bisa melihat bermil-mil jauhnya—gunung-gunung yang telah kuabaikan sepanjang hari mendorong diri mereka kembali ke alam sadarku, mengingatkanku akan ketidak berartianku dibandingkan dengan mereka.


"Jadi, Sky, bagaimana harimu?"


Pertanyaan biasa dari Zed mengejutkan ku. Wolfman berubah menjadi seorang yang lembut seperti pecinta kucing? aku pikir tidak. Agak sulit untuk mempercayainya ketika dia bertingkah begitu normal . "Baik. Aku melakukan sedikit komposisi saat makan siang."


"Aku melihatmu di ruang musik"


"Kamu tidak masuk?"


Dia tertawa dan mengangkat tangannya. "Aku sedang berhati-hati. Sangat, sangat berhati-hati dengan mu. Kamu gadis yang menakutkan."


"Aku?"


"Pikirkan saja. Kamu memarahiku ku di tempat parkir di depan teman-teman ku, menangkap tendangan penalti terbaik ku, melemparkan ku keluar dari pohon apel mu—ya, kamu menakutkan."


Aku tersenyum. "Aku suka pujian mu." SuperSky.


Dia menyeringai. Dia tidak menebak pikiranku, kan?


"Tapi yang paling membuatku takut adalah ada begitu banyak hal tentang hubungan kita dan kamu bahkan tidak mengetahuinya."


Aku menghela napas. "Oke, Zed, coba jelaskan padaku lagi. Aku akan mendengarnya kali ini."


Dia mengangguk. "Aku kira kamu tidak tahu apa-apa tentang savant"


"Aku tahu lebih banyak tentang sepak bola."


Dia menertawakan ku. "Aku hanya akan memberi mu sedikit informasi sekarang, hanya untuk memulai. Mari kita duduk di sini sebentar." Dia membawa ku agar aku bisa duduk di batang pohon yang tumbang, menempatkan mataku sejajar dengannya saat dia bersandar. 


Ini adalah jarak terdekat kami satu sama lain sejak rakit dan aku tiba-tiba sangat menyadari matanya seperti melayang di atas wajahku. Hampir terasa seolah-olah jari-jarinya, bukan tatapannya, yang membelai kulitku. "Kamu yakin mau mendengarnya? Karena jika aku memberitahumu, aku harus memintamu untuk merahasiakannya demi keluargaku dan kamu"


"Siapa yang akan aku beri tahu?" Anehnya aku terdengar terengah-engah.


"Aku tidak tahu. Teman mu mungkin. Atau  kucing yang di jalan." Ekspresinya masam.


"Eh, tidak, tidak, dan pasti aku tidak akan memberi tahu siapapun" aku tertawa.


"Baiklah kalau begitu." Dia tersenyum dan menyingkirkan sehelai rambut dari alisku. Ada getaran kuat dalam dirinya, seolah-olah dia menahan diri, takut lepas kendali. Sedikit gugup, aku melakukan salah satu teknik menjaga jarak yang biasa aku lakukan, mencoba menyusun kembali pertemuan ini sebagai salah satu imajinasi komik ku, tetapi ternyata aku tidak bisa. Dia membuat ku tetap di dekatnya dan sekarang, dia sepenuhnya fokus. Warnanya—rambutnya, matanya, pakaiannya—tidak kasar, tapi halus, berkilau, multi-warna. Definisi tinggi telah menyala di kepalaku.


"Savant, aku salah satunya. Semua keluarga ku juga, tapi aku punya dosis yang lebih banyak karena menjadi anak ketujuh. Ibuku juga anak ketujuh."

__ADS_1


"Dan itu membuatnya lebih buruk?" Tanya ku.


Aku bisa menghitung setiap bulu mata membingkai matanya yang spektakuler.


__ADS_2