SAVANT

SAVANT
Chapture 20


__ADS_3

"Maaf soal kejadian tadi." Zed menarik ku pelan dengan canggung. "Bagaimana kalau kita mencari udara segar?"


"Dia seperti kamu." Aku bisa merasakan mulai ada getaran. "Dia juga bisa membaca ku-ibu mu mirip denganmu."


Dia melangkah lebih dekat untuk melindungi ku dari tamu-tamu lainnya. "Jangan pikirkan itu."


"Aku ini apa? Sebuah buku terbuka yang bisa di baca semua orang atau sesuatu?"


"Tidak seperti itu Sky. Bukan hanya kamu yang bisa di baca oleh ibu ku"


"Kurasa aku ingin pulang sekarang."


"Aku akan mengantarmu kembali."


"Tidak usah. Aku akan meminta bantuan Tina untuk mengantarku." Saat ini aku tidak ingin berada di dekat salah satu Benedict mana pun.


"Itu tidak baik. Jika kamu ingin pulang, akulah yang akan mengantar mu. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Aku harus membuatmu tetap aman."


Aman adalah kebalikan dari apa yang dia rasakan padaku. Aku mundur. "Tinggalkan aku sendiri. Tolong."


Tina pasti mengawasi ku sepanjang malam karena dia sudah ada di sebelah ku dalam sekejap. "Ada apa, Sky kau baik baik saja?"


"Aku ...sepertinya aku tidak enak badan."


Zed melangkah di antara kami. "Aku baru saja akan mengantarnya pulang."


"Aku bisa membawanya," kata Tina cepat.


"Tidak apa apa. Dia dengan ku. Aku akan menjaganya." Dia marah karena aku ingin lari darinya, aku tahu itu.


"Sky?" tanya Tina khawatir.


Aku memeluk lenganku sampai pinggang. Lebih mudah untuk tidak berdebat. Aku hanya ingin pulang secepat mungkin, meskipun itu berarti beberapa menit di dalam mobil bersama Zed.


"Zed akan membawaku. Aku akan memberitahu orang tuaku dulu"

__ADS_1


Aku merasa sangat terguncang dan beberapa tanda itu pasti telah meyakinkan orang tua ku kalau aku akan lebih baik di rumah. Simon menilai Zed dengan dingin sebelum menyetujui.


"Ayahmu melakukannya dengan baik" kata Zed, menyalakan mobil jip keluarganya.


"Apa?" Tiba-tiba aku merasa lelah-seperti tenaga ku terkuras. Aku membiarkan kepalaku bersender di jendela mobil.


" Dia memberi tahu ku jika aku meletakkan satu jari pada gadis kecilnya, aku akan di bunuh"


Aku tertawa kecil. "Ya, dia memang agak protektif." Sangat mirip dengan Zed.


Kami meninggalkan gedung dan Zed melaju ke atas bukit. Sebuah kristal menjuntai bergoyang dari cermin.


"Kenapa kamu memanggil orang tua mu dengan nama mereka?" dia bertanya.


"Aku baru bersama mereka sejak aku berumur sepuluh tahun. Kami semua sepakat bahwa kami lebih nyaman memanggil dengan nama. Mereka merasa terlalu tua untuk memulai sebagai Ibu dan Ayah."


"Kamu setuju atau mereka menyarankan?" Dia benar. Aku ingin memanggil mereka Ibu dan Ayah, sangat ingin menjadi seperti anak-anak normal lain, tapi itu bukan gaya mereka.


"Aku baik-baik saja dengan itu."


"Bukan salah mu"


"Aku membawamu ke mereka. Seharusnya aku tidak melakukannya. Jangan biarkan apa yang ibu ku katakan membuatmu kepikiran dan khawatir"


"Hanya saja ... tidak enak rasanya jika seseorang melihat hal-hal tentang mu"


"Kamu tidak perlu memberitahu ku-aku tinggal di rumah yang sama dengannya."


"Dia bisa melihat hal-hal tentangmu juga?" Itu membuatku merasa jauh lebih baik.


"Oh ya. Menjadi seorang Benedict tidak senyaman yang kamu bayangkan"


Kami berhenti di luar rumah. Hanya lampu teras yang menyala. Aku tidak terlalu tertarik untuk masuk sendirian tetapi tidak ingin Zed berpikir aku memberinya jenis undangan yang berbeda.


"Jadi kita akan terus di mobil? kalau begitu. Hanya satu langkah kecil," katanya lembut, lalu membungkuk dan menempelkan bibirnya ke bibirku,ciuman pertama ku.

__ADS_1


Ciuman nya sangat lembut. Aku merasa seolah-olah kami sedang berbaur bersama, penghalang yang ku bangun hancur di bawah bujukan lembutnya.


Terlalu cepat, dia menarik diri dengan enggan. "Di mana ayahmu? Apakah aku sudah mati sekarang?"


"Itu bukan satu jari. Kamu bilang ayahku hanya memikirkan satu jari." Suaraku terdengar jauh dariku. Kepanikan memudar dan aku mulai menikmati berada di sini-bersama Zed. Seperti yang dia katakan, tubuhku bersenandung dengan nada A yang sempurna dan halus.


"Benar." Dia meletakkan tangannya di bahuku dan menyentuh pipiku. "Maaf, aku harusnya tidak melakukannya."


"Hmm." Zed Benedict menciumku-bagaimana mungkin ini nyata?


"Ya, aku sangat, sangat menyukaimu, Sky. Tapi jika aku tidak berhenti sekarang, ayahmu akan membunuhku dan itu akan menjadi akhir dari perjalanan yang indah kita." Dia mengambil ciuman terakhir dan keluar dari mobil, lalu ke sisi mobil untuk membantu ku keluar. "Aku akan menyalakan beberapa lampu lalu kembali ke pesta."


"Terima kasih. Aku tidak suka sendirian kalau rumah gelap."


"Aku tahu" Zed mengambil kunci dariku dan membuka pintu. Aku menunggu di depan pintu saat dia menyalakan lampu dengan singkat.


Dia berjalan ke arah ku sambil memegang kuncinya. "Aku sebenarnya tidak suka meninggalkanmu sendirian. Janji untuk tidak pergi keluar?"


"Aku berjanji"


"Bener kamu akan baik-baik saja?"


"Ya. Aku akan baik-baik saja."


"Dan sekali lagi maaf tentang Ibu. Jika kamu tidak nyamanan, adiknya, Bibi Loretta, lebih buruk."


"Bener kah?"


"Ya. Sulit dibayangkan bukan? Jauhi rumah kami di saat Thanksgiving-mereka kombinasi yang tak terbendung." Dia menarik ku ke dalam pelukannya lalu mencium ujung hidungku. "Selamat malam, Sky."


"Selamat malam"


Tangannya menempel di pipiku lalu melangkah mundur. "Pastikan kamu mengunci pintu setelah aku keluar"


Aku melakukan apa yang dia katakan dan naik ke atas kamar untuk berganti pakaian. Saat melihat ke luar jendela, aku melihat dia belum pergi. Dia duduk di dalam mobil.

__ADS_1


Menjaga ku sampai orang tua ku pulang. Dia menganggap serius ancaman itu-yang mengkhawatirkan sekaligus menghibur. Setidaknya malam ini, aku tidak perlu takut.


__ADS_2