
"Dan menurutmu aku juga seorang savant?"
"Ya tentu saja.''
"Tapi aku tidak bisa memindahkan barang."
'' Kamu sudah mencobanya?"
''Yah, maksud ku belum. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku pikir aku pernah melihat sesuatu— seperti aura, kamu bisa menyebutnya begitu—tetapi aku tidak melihatnya lagi.'' Bukan berarti aku akan mengakuinya.
Kami duduk sebentar, saling mengaitkan tangan, memandang ke luar jendela. Langit tebal dengan awan abu-abu besi.
Salju mulai turun, tebal dan cepat, hembusan angin mendorongnya secara horizontal sebelum membiarkannya turun kembali ke arah bawah dengan pelan.
''Aku pikir musim ini akan sangat bagus,'' kata Zed. ''Salju pertama yang layak dan itu bersama mu. Aku ingin sekali mengajari mu bermain ski, tapi tidak aman bagi mu untuk bersama ku di luar sana.''
"Kurasa itu bukan ide yang bagus."
'' Kamu harus membuat Tina mengajari mu bermain ski, dia cukup bagus.''
''Aku mungkin melakukannya. Tapi dia akan menertawakan ku.''
"Ya, dia akan menertawai mu." Dia melakukannya lagi—membaca masa depan.
''Kalau begitu lagi, tidak ada yang lebih memalukan seperti setelan kerangka yang ku pakai saat Helloween.''
''Gunakan setelan kerangka itu lagi. Aku menyukainya dan akan memohon pada mu untuk memakainya pada acara-acara khusus nanti"
Aku menendang diriku sendiri. Aku benar-benar tidak boleh jatuh cinta dengan pria ini, tapi aku ingin meringkuk dan menyelipkan diriku di dalam dirinya, tidak pernah meninggalkannya. ''kamu mau mengajari ku untuk membuat perisai? Aku tidak ingin keluarga mu membaca setiap pikiran yang terlintas di benak ku."
Dia melingkarkan lengannya padaku.
" Tidak, aku tidak menginginkan itu. Aku menangkap beberapa pikiran dari mereka kadang-kadang, kamu tahu. Aku suka yang di mana kamu ...'' Dia membisikkan sisanya di telingaku, membuatku ingin meledak karena malu.
''Perisai—aku butuh perisai,'' kataku ketika pipiku berhenti memerah.
Dia tertawa. "OKE. Tekniknya sederhana tapi kamu butuh latihan sesering mungkin. Sebaiknya gunakan visualisasi. Bayangkan membangun seperti tembok, dan menempatkan diri mu di dalamnya, menjaga emosi, ide, pikiran tetap aman di balik penghalang yang kamu buat"
"Penghalang seperti apa?''
''itu perisai mu, kamu yang putuskan.''
Aku memejamkan mata dan mengingat wallpaper kamar tidurku. Pirus.
''Itu bagus.'' Katanya.
" Kamu bisa melihat apa yang aku lihat?''
''Seperti sebuah gema. Ketika seseorang menggunakan perisai kamu hanya akan melihat sesuatu yang samar samar. Aku hanya melihat bayangan, sedikit pudar. Warna nya biru pucat kan? ."
"Dinding kamar tidurku."
__ADS_1
''Ya itu bagus. Aman, akrab. Ketika kamu melontarkan itu di antara kamu dan siapa pun yang ingin melihat pikiran mu, mereka akan merasa sulit untuk masuk. Tapi kalau kamu ingin membuatnya kuat itu butuh usaha—dan kita pasti lupa fokus lagi"
"Apa yang menembak kita waktu itu sangat ahli—atau dia menghancurkan perisai yang mengelilingi sekitar rumah?''
Zed menggelengkan kepalanya. ''Itulah sebabnya kami tahu dia kuat. Entah dia Savant bayaran atau memang kelompok oraganisasi tertentu, tapi kami meragukannya.''
''Mereka akan mencoba lagi?''
''Kami pikir begitu. Kami berharap demikian, karena sekarang kami mengharapkan mereka, agar kami memiliki kesempatan untuk menangkap mereka, dan mereka mungkin akan di jebloskan ke penjara. Tapi mengetahui mereka belum tertangkap, kamu harus ekstra hati-hati, janji?'" Dia menggerakkan jarinya dengan ringan di punggung tanganku, mengirimkan getaran ke tulang punggungku.
"Aku berjanji.''
''Aku merahasiakan mu, bahkan dari keluargaku. Kamu terlalu berharga bagi ku untuk mengambil risiko mendekati kekacauan ini.''l
°°°
Tina tidak mengerti kenapa aku tidak menyuruh Zed mengajariku bermain ski. ''Kau punya pacar yang salah satu pemain ski terbaik di distrik ini—dan aku masih marah padamu karena tidak mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan mu, ngomong-ngomong kau memintaku untuk mengajarimu?''
''Betul sekali.'' Aku mengambil pengikis dan membantunya membersihkan salju dari kaca depan mobilnya di tempat parkir sekolah.
''Mengapa?'' tanya Tina.
''Karena menurut Zed kau sendiri benar-benar hebat bergoyang di lereng. Kau adalah Obi Wan ku dan aku adalah murid setia mu"
Dia bersolek dengan senang atas pujian itu. ''Terima kasih. Aku tidak berpikir dia memperhatikan gadis-gadis seperti ku''
''Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Dia tidak bisa didekati seperti kelihatannya. Dia baru saja mendapatkan sedikit masalah jadi dia bersantai di sekitar orang.'' Dan dia stres sepanjang waktu menyaksikan kejahatan besar untuk di tangani FBI, tapi dia tidak perlu tahu bagian itu. "Dan orang tua kami tidak terlalu suka kalau kami menghabiskan waktu bersama di luar sekolah—tidak sejak kami berakhir di kantor polisi."
''Ya Tuhan, ini seperti film West Side Story !''
''Baiklah, aku akan mengajarimu,'' lanjut Tina. ''Lagi pula, hanya ada beberapa kali seorang gadis ingin jatuh tersungkur di depan pria yang ingin dia buat terkesan.''
Sebenarnya, dia ada benarnya. Mungkin akan lebih baik untuk belajar darinya.
''Anda sangat bijaksana dalam berbicara ya, Obi Tina.''
Dia tertawa. ''Tidak satu pun dari itu—aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
Aku memukul dahiku pelan. ''Kau benar. Jadi aku hanya bisa cemberut dan bertindak buruk ketika kau mencoba dan mengajari ku sesuatu.''
''Cobalah untuk santai saja daripada tegang saat bermain ski—hasilnya akan lebih baik. Aku akan membawa mu Minggu pagi jika kau suka, setelah selesai dari gereja. Kita sudahi sekitar pukul sebelas jadi aku akan menjemputmu jam seperempat lewat.''
"Baiklah"
''Punya peralatan skinya?"
''Tidak. Apa yang ku butuhkan?''
''Jangan khawatir. Aku akan membawakan mu setelan lamaku—bajunya sudah tidak muat di tumbuh ku selama setahun yang lalu. Kau bisa menyewa alat ski di toko olahraga.''
"Aku tidak sabar."
__ADS_1
''Menurutmu kau akan menjadi alami?''
''Um.''
''Tentu saja. Rasakan kenikmatan nya, Sky.''
°°°
Aku bukan pemain ski alami—tidak. Tapi aku berkali kali terjatuh. Spertinya aku membutuhkan banyak latihan keseimbangan.
" kau kadang-kadang melamun" Kata tina. Aku terengah-engah, menyingkirkan salju yang ada wajah ku.
"Bagaimana kau bisa bermain ski dengan lincah? Kau punya bakat menjadi Ski profesional? "
Tina menepuk punggungku sekedar menghibur. " Dulu aku berlatih sepanjang waktu dan yah ini lah hasilnya."
"Itu tidak terjadi pada ku."
Kami masih berada di kaki lereng untuk pemula. Aku bisa melihat kereta gantung bergerak dengan baik membawa pemain ski yang lebih berpengalaman ke puncak, Xav menjaga loket tiket.
Ini adalah hari yang sempurna untuk bermain ski—langit biru pucat, salju berkilau dan membuatnya terlihat menggoda untuk di naiki, tapi ketinggian memberi ku peringatan.
Gunung-gunung berada pada kondisi paling ramah.
Tina menangkap arah pandanganku. "Zed mungkin di atas. Mr Benedict membayar anak laki-laki nya untuk bekerja shift akhir pekan."
Setidaknya dia tidak di sini untuk melihat kegagalan ku lalu tertawa terbahak bahak saat melihat ku terjatuh. Tapi aku menyediakan Xav dengan hiburan yang cukup seperti itu dan mungkin dia akan menceritakan nya ke zed.
''Oke, ayo pergi lagi. Ingat, Sky, ini baru pelajaran pertamamu.'' kata Tina.
Aku menyaksikan dengan perasaan putus asa ketika seorang anak kecil berusia empat tahun meluncur dengan ski mini tanpa terjatuh. Dia bahkan tidak menggunakan tongkat.
" Kau tidak bisa membandingkan diri mu dengan anak itu. Mereka tidak terlalu jauh untuk jatuh dan tidak bisa dihancurkan pada usia itu. Sekali lagi. Ya, itu saja. Jaga agar ski tetap sejajar. Tidak, jangan biarkan kaki mu melebar"
''Aduh.'' Pahaku berteriak protes saat aku hampir melakukan split.
"Itu bagus—lebih baik."
''Lebih baik dari apa?''
''Lebih baik dari waktu sebelumnya. Sudah cukup untuk hari ini"
''Oh ya.''
"Apa kau keberatan jika aku pergi ke atas untuk berseluncur ke bawah?'' kata Tina
''Tentu saja tidak.''
"Kau bisa datang juga."
''Kau sedang bercanda?''
__ADS_1
"Kau bisa menaiki kereta gantung lalu kembali lagi ke bawah. Kau mungkin menyukai pemandangannya dari atas.''
Aku menyeringai, senang sekali rasanya Tina mengijinkan aku datang ke Zed untuk berkencan. Dia telah menjatuhkan peringatan mengerikannya, menurunkan tingkat ancaman menjadi 'waspada kuning' daripada 'krisis'. "Aku mungkin saja melakukan sesuatu."