
Suasana menjadi tenang setelah sarapan. Ayah Zed keluar sebentar untuk memeriksa apakah semua asistennya terkendali di lift ski, lalu kembali, mengibaskan salju dari sepatu botnya.
"Kita sudah siap," dia mengumumkan. "Ayo kita lakukan di ruang keluarga."
Zed membawa ku ke sebuah ruang di ujung rumah yang berfungsi ganda sebagai ruang permainan. Trace dan Victor memindahkan meja tenis ke belakang sementara Uriel dan Yves menaruh bantal duduk di lantai membentuk lingkaran.
''Kami hanya ingin kau duduk bersama Zed,'' kata Ayah Zed mengambil tempat di seberang ku.
"Apa yang akan kalian lakukan?'' Aku sudah merasa gugup. Untuk apa aku membiarkan diri ku masuk?
"Kami menyebutnya seperti penyelidikan." Trace duduk di sebelah kanan ku. ''Tepatnya karena kami percaya sesuatu terjadi pada mu akibat dari kejadian penculikan itu.''
"Aku memang merasa seperti otak ku sudah di rampok" aku mengakui.
"Masing-masing dari kami akan menggunakan kekuatan kami untuk membaca mu-tidak ada yang invasif, hanya sentuhan untuk merasakan mana yang merupakan petunjuk terkuat." Trace mengedipkan matanya ke Zed.
''Aku perlu memegang tanganmu jika Zed akan melepaskannya-aku harus menyentuh subjek ku agar kekuatan ku bisa berfungsi. Aku seharusnya bisa tahu di mana saja kau baru-baru ini, sebelum di gudang.kau tidak perlu mengingat, jika kau secara fisik ada di sana, aku dapat melacak mu. Anak ajaib di sini, sebagai putra ketujuh, dia bisa menyalurkan semuanya karena dia yang paling kuat di antara kami.'' lanjutnya.
Aku berputar untuk menatap Zed. ''Benarkah?''
''Ya, aku seperti layar untuk menampilkan informasi. Memperlihatkan kan hasilnya. Aku bisa melihat apa yang orang lain lihat.''
''Dan dia bahkan tidak membutuhkan baterai,'' canda Will, merosot di sisiku yang lain.
Mereka mengolok-olok Zed, tetapi sekarang aku bisa memahami sebagian dari kegelapan yang kulihat dari Zed, ketegangan kejahatan yang terpaksa dia saksikan.
Bukan hanya wawasannya sendiri tetapi semua orang yang tersalurkan melalui dia, artinya dia melihatnya dengan segala cara dan lebih mendalam daripada yang lain. Tidak heran dia merasa tergelincir dalam keburukan sampai dia menemukan jangkar. Yaitu aku, pasangan jiwanya.
Putra kedua, Uriel, mahasiswa pascasarjana, mendorong Will ke samping.
''Hai, Sky, kita belum bertemu dengan baik. Aku satu-satunya yang masuk akal dalam keluarga.''
"Aku bisa melihat itu." jawab ku.
"Kekuatan ku adalah membaca masa lalu atau kenangan , pokoknya apa pun yang berkaitan dengan masa lalu. Aku tahu kau takut pada ku karena akan mengungkapkan rahasia mu, kau tidak perlu khawatir, aku tidak bisa memaksa mu untuk menunjukkan kepada ku masa lalu mu, aku hanya bisa membuka pintu yang kau buka.''
"Aku mengerti.'' Aku mendapatkan kekuatan dari merasakan kehangatan dari dada Zed di punggungku saat aku duduk di pangkuannya. "Dan jika aku ingin pintunya tetap tertutup?"
__ADS_1
"Kalau begitu aku tidak akan bisa melihat apa yang kau tidak ingin buka. Tapi kami pikir kau perlu mulai membangun gambaran lengkap tentang segala sesuatu yang terjadi pada mu untuk memahami apa yang nyata dan apa yang palsu.''
Aku mengerutkan kening. Aku tidak terlalu suka gagasan itu.
''Ini seperti musik, Sky,'' kata Zed. ''Mengatur nada satu instrumen pada satu waktu. Kamu telah memainkan melodi untuk sementara waktu sekarang."
''Maksudmu, tentang apa yang terjadi ketika aku masih kecil?''
"Ya. Itu ada di sana.''
Ruang gelap. Jahitan rasa sakit dan pengabaian yang luar biasa. Siapa yang menggambarkan aku seperti itu?
''Kami pikir ketika kau telah melihat apa yang ada di balik semua pintu mu, kau akan merasa lebih mudah untuk menutupnya pada orang lain, menghentikan orang membaca mu dengan mudah. Pada saat bersamaan, itu akan memberi mu kendali penuh atas ingatan yang lebih baru, seperti menemukan potongan-potongan kunci dalam teka-teki.'' ujar Uriel.
Itu pasti sesuatu yang aku butuhkan, tidak peduli seberapa takut aku dengan prosesnya. ''Oke, mari kita bereskan.''
Ibu Zed menutup tirai sementara Yves menyalakan lilin di sekeliling ruangan dengan menjentikkan jarinya-inilah orang yang bisa membuat segalanya meledak.
Aku lega melihat bukti bahwa bakatnya terkendali dengan baik. Lilin berbau vanilla dan kayu manis. Rumah terasa sangat sepi.
Aku bisa merasakan kekuatan yang berbeda dari setiap Benedict menyentuh ku-seperti belaian lembut, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Zed terus melingkarkan lengannya di pinggang ku, santai, tidak khawatir.
Xav sang penyembuh adalah yang pertama berbicara. ''Sky, secara medis tidak ada yang salah denganmu-aku tidak melihat tanda-tanda penyakit mental, meskipun aku bisa merasakan keanehan dalam diri mu.''
Zed mengusap tengkukku. ''Lagi pula kamu tidak gila.''
"Aku tidak bisa membaca masa depan dengan jelas," ujar Ibu Zed. ''Ada banyak kemungkinan jalan keluar."
"Tapi aku tahu di mana dia baru-baru ini," kata Trace. ''Dia berada di sebuah kamar di hotel kelas atas-seprai satin, banyak kaca, kau menyentuh sesuatu yang terbuat dari kulit putih dan karpet tebal. Aman untuk mengatakan bahwa kau ditahan di suatu tempat sebelum kau berakhir di gudang. Jika kami mendapatkan pakaian yang kau kenakan saat itu, aku mungkin bisa memberi tahu mu lebih banyak.''
'' Ancamannya belum menghilang,'' kata Ayah Zed, menggunakan bakatnya untuk merasakan musuh yang mengikuti ku.
Will mengangguk. ''Aku merasakan lebih dari satu orang mencarimu, Sky.''
Aku menoleh ke Zed. ''Apakah kamu melihat semua itu juga?''
"Yaps. Aku juga meelihat kalau dua orang di gudang adalah dua orang yang menembaki kita di hutan hari itu. Halloran adalah seorang savant yang kuat, sangat pandai dalam membuat pelindung. Aku bertanya-tanya apakah itu sebabnya aku bisa merasakan lapisan dalam pikiran mu-sesuatu yang asing. Apakah kau melihat itu, Uriel?'' ujar Zed.
__ADS_1
Uriel menyentuh lututku dengan nyaman. ''Ya, dan ku pikir aku tahu apa itu, bahkan jika aku tidak tahu bagaimana itu sampai di pikiran mu. Sky, orang tuamu seniman, kan?''
Aku mengangguk.
"Kau tahu apa yang terkadang terjadi pada seorang seniman? Seseorang mengambil karya seninya lalu melukis di atas permukaan dan kau harus menanggalkan lapisan yang di buat oleh pencuri itu untuk melihat aslinya? Yah, seseorang telah melakukan sesuatu yang mirip dengan ingatanmu.''
Itu terasa masuk akal. ''Jadi yang mana asli dan yang mana palsu?"
''Di situlah kita perlu membawanya kembali ke pikiran mu."
''Apakah semua orang akan melihatnya?'' Sudah cukup buruk mengungkap masa lalu ku untuk mataku sendiri, aku tidak ingin mempertontonkan nya.
''Tidak, hanya Zed, aku, dan kau,'' kata Uriel, warnanya berdenyut dengan merah muda lembut belas kasih. "Dan kami tidak akan memberi tahu siapa pun kecuali kau menginginkannya."
Aku benar-benar tidak ingin melakukan ini, tapi aku tahu aku harus melakukannya.
''Jangan takut,'' bisik Zed. "Aku akan berada di sana bersamamu."
''Oke. Jadi apa yang harus aku lakukan?''
Uriel tersenyum meyakinkan. "Tenang saja dan biarkan aku masuk."
Ini dimulai dengan baik. Aku merasakan dia memeriksa ingatan ku-kenangan di mana aku bertemu orang tua angkat ku dan bagaimana musik membantu menyembuhkan ku.
Aku tidak mengubur itu. Saat dia mendorong pintu yang mengarah ke belakang, aku merasa takut.
'Tenanga, jangan melawan' , kata Zed lewat telepati. 'Dia tidak akan menyakitimu.'
'Tapi bukan Uriel yang kutakuti ku, tapi yang ada di balik pintu.'
'Tidak ada yang kami lihat di sana yang akan membuat kami berubah sikap tentang mu.' dia meyakinkan ku.
Aku menarik napas dalam-dalam.
'Oke .'
Uriel mendorong pintu itu ke samping dan gambar-gambar mulai mengalir seperti kerumunan orang yang bergegas masuk ke mall.
__ADS_1